Setelah urusan sekolah sarah selesai arga mengantar sarah pulang ke apartment.
" sayang kamu masuk dulu an ya. Papah ada urusan mendadak. Nanti papah gak bisa janji pulang jam berapa. Tapi papah janji besok kita jalan jalan. Besok papah ambil cuti buat temenin kamu cari barang barang keperluan kamu buat kuliah."
" emang papa ada urusan apa sih? Penting banget kaya nya. Tadi juga pas acara pemotretan papa celingukan mulu. Papa nyariin siapa tadi? " tanya sarah pada papa nya.
Saat dalam antrian untuk pengambilan foto tadi arga selalu celingukan seperti mencari seseorang.
Namun Sarah tak banyak bertanya karna suasana yang riuh di dalam ruangan.
" oh, tadi papa kaya lihat temen papa di sana. Tapi kaya nya papah slah lihat. Ya sudah ya papah pergi dulu." arga bebohong. karna tidak mungkin arga mengakui pad a sarah bahwa ia sedang mencari keberadaan raya saat di dalam ruangan foto tadi.
" ya sudah papah hati hati. "
****
Ding dong ding dong.
Berulang kali arga menekan bell pada pintu apartemen yang tinggali raya, namun tak ada jawaban.
Sebenar nya arga tau sandi apartemen itu, karna memang itu apartemen, milik nya.
Hanya saja arga takut raya mersa tidak nyaman kalau arga keluar masuk se enak nya.
Tiga puluh menit sudah arga, menunggu di depan pintu. Namun pintu itu tak kunjung terbuka.
Arga memutuskan untuk masuk tanpa menunggu raya membuka kan pintu.
Tapi belum sempat arga menekan password di gagang pintu itu, tiba tiba raya memanggil nama nya.
" om. Om sedang apa?" raya menatap heran pada arga yang berdiri di depan pintu.
" saya udah pencet Bell berkali kali, aku pikir kamu di dalam. Kamu dari mana?."
" aku baru pulang dari sekolah om. Ambil ijazah tadi. Tapi sekalian Mampir ke pasar beli amplop. " ucap raya sambil menunjukan plastik kresek berisi amplop.
" masuk dulu om. Nanti aku buat in makanan. Tadi aku Mampir beli sayuran di mini Market sana."
Arga mengekor di belakang raya.
Arga duduk di kursi meja makan.
Sedangkan raya kini mulai sibuk dengan kegiatan nya di dapur.
Arga memandangi raya dari tempat duduk nya.
Menatap gadis seumuran anak nya yang kini terlihat semakin glowing karna sudah tak lagi menjadi kuli di pasar.
" emang kamu bisa masak?" tanya arga yang kini melangkah mendekati raya yang tengah mengiris bawang.
" bisa donk om. Dulu kan pas masih di panti aku udah di ajarin masak sama ibu panti dan pengurus panti lain nya." jawab raya.
" ksmu mau masak apa?" tanya arga lagi.
" aku mau masak nasi goreng aja om yang ceepet. Tadi sebelum aku pergi ke sekolah aku udah masak nasi. Lagi an om ke sini gak bilang bilang. "
" emang kalau aku bilang mau ke sini, kamu mau masak in apa buat aku?."
" ya terserah om, kalo aku bisa bikinin yang om mau pasti aku bikinin. "
" baik lah lain kali aku akan bilang dulu kalau mau ke sini biar di masak in. " jawab arga lalu ia kembali ke tempat duduk nya.
Setelah beberapa menit raya selesai memasak nasi goreng dan telur dadar.
Lalu raya membuat teh hangat untuk arga.
Setelah semua tertata di meja makan, raya inisiatif mengambil kan nasi goreng itu untuk arga.
Sedangkan arga yang di perlakukan seperti itu merasa tersanjung.
" di makan om. Maaf ya cuma masak ini."
" terima kasih. Ini aja aku udah seneng. Apa lagi makan nya di ambil lin kayak gini, berasa makin special meskipun hanya makan nasi sama garam." gombal arga.
Sebenar nya arga tidak berniat gombal.
Tapi nya tanya sudah lama arga tidak merasakan hal hal manis seperti ini.
Setelah selesai makan. Arga dan raya duduk di sofa depan TV.
Sebenar nya raya sedikit heran dengan arga yang tak kunjung pulang.
Tapi raya tak berani bertanya pada arga, karna ini kan apartment arga.
Raya melihat arga yang tengah memijat tengkuk nya.
Raya pikir Mungkin arga lelah karna seharian ini bekerja di depan laptop.
" om mau aku pijit?" tawar raya pada arga.
" kamu bisa mijit?."
" enggak jago si om, cuma kalo pijit pijin pundak kaya nya bisa lah hehe he he."
Tanpadi suruh arga langsung me mbalik badan nya memunggungi raya.
Raya pun langsung mengulur kan tangan nya me mulai memijat pundak arga.
" kamu beli amplop untuk apa?" tanya arga sembari menikmati pijat an raya.
" aku mau siapin bekas bekas buat nyari kerjaan om. Kan ijazah aku udah aku ambil. O, ya om. Makasih ya udah bantu aku buat nglunasin tunggak an aku di sekolah."
" kamu serius gak mau kuliah? " tanya arga lagi
" enggak om. Aku mau cari kerja aja. Kalau emang suatu saat nanti ada uang lebih baru lah aku mikirin mau kuliah atau enggak. "
" kamu mau gak aku kenal in ke anak ku? tapi aku bingung mau kenal in kamu sebagai apa?. "
" om ini ada ada aja. Ya sebagai penumpang yang tinggal di rumah om lah. Masa sebagai calon istri nya om, kan gak mungkin. " ucap raya yang seketika membuat arga memutar tubuh nya menghadap raya.
" kenapa gak mungkin? " tanya arga dengan menatap raya yang kini nampak kebingungan.
" maksud om apa? "