" asalamualaikum bu. Ini raya"
Ucap raya pada ibu panti.
" wa'alaikum salam raya. Kenapa nomor ponsel nya ganti? Ibu juga dari kemaren kemaren telfon kamu gak aktif. Kamu baik baik aja kan raya?"
Ibu panti sebenar nya sudah mencoba menghubungi raya dari beberapa hari lalu.
Tapi ponsel raya selalu tak aktif.
" maaf bu baru semowt kasih kabar, ponsel raya rusak bu belum sempet di benerin. "
" oh begitu? Terus ini nomor baru kamu? "
" bukan bu ini nomor tetangga raya di sini. O, ya ibu gimana kabar nya?" "
" ibu baik raya. Tapi apa ibu boleh minta tolong ray? Ada sesuatu yang mendesak."
Senyum raya luntur.
Raya menghubungi ibu panti berniat memberi kabar bahagia kelulusan nya.
Namun belum sempat itu terucap dari mulut raya, ibu panti sudah mengganti topik dengan keadaan yang menurut nya mendesak.
Sedikit banyak nya raya tau yang di maksud mendesak yang di katakan ibu panti.
" minta tolong apa bu? Kalau raya bisa bantu, pasti raya bantu."
Raya berusaha berbicara se normal mungkin
Meski sebenar nya ia tak baik baik saja sekarang.
" safira dan eka mau masuk SD dan kemarin reni dan sari dapat teguran dari guru nya karna nunggak spp tiga bulan. Apa kamu punya simpan nan uang ray? Bisa bantu ibu?" "
Tebakan raya benar. uang.
Semua yang mendesak biasa nya adalah karna uang.
Panti dimana raya tinggal dulu terletak di pedesaan.
Tak banyak donatur yang membantu.
Namun entah kenapa banyak sekali orang tua yang membuang anak nya di daerah sana.
Terbukti panti itubtak pernah sepi.
" raya akan usaha kan bu. Hari ini raya belum punya uang. Tapi raya akan usahakan secepat nya" "
" iya ray terimakasih ya. Jadi kalau ibu mau hubungi kamu kemana? Apa ke nomor ini? "
" jangan bu. Jangan ke nomor ini gak enak sama mbok sur. Pemilik ponsel ini sudah tua. Takut ngrepotin. Tunggu aja kabar dari raya bu. "
" akh begitu? Baik lah. Ibu tutup telfon nya ya. Ibu mau mengurus anak anak dulu. "
" iya bu"
Panggilan terputus. Bahkan tujuan nya untuk memberi tahu kelulusan nya oun tidak sempat.
Raya mengembali kan ponsel nya pada mbok sur.
Dan merogoh kantong meraih uang yang dia bawa.
" mbok, ini ponsel nya. Makasih ya udah di pinjemin."
" iya raya. Kok mbok gak denger kamu ngasih tau kabar kelulusan kamu?" "
Mbok sur menatap raya sendu.
Mbok sur sempat mendengar cerita raya tentang kehidupan nya di panti.
" gak apa apa mbok. Cukup tau kabar mereka baik baik aja, raya juga udah seneng. "
" kamu mau raya in kelulusan mu sama mbok? Kita makan pecel lele di depan gang sana. Mau? Kita makan ramai ramai sama mang pardi juga. Nanti si mbok yang traktir. Kita beli somay juga di tempat bang somat. Bisa beli gorengan faforit kamu juga. "
" gak usah mbok makasih. Mbok sur udah baik banget sama raya. Makasih ya mbok."
Raya berusaha menahan air mata yang sudah siap meluncur membasahi pipi nya.
Raya mengulur kan uang dua puluh ribuan kepada mbok sur.
" ini mbok. Tadi mungkin pulsa nya habis di pake telfon sama raya. Raya ganti ya mbok. "
" eeehhh.. Kamu gak usah begitu sama mbok. Udah ambil aja uang nya buat beli gorengan besok. Kamu tuh kayak sama siapa aja."
" jangan gitu mbok. Kalo mbok gak mau ambil unang nya raya gak mau ke sini lagi besok besok. "
" ya sudah sini mbok ambil uang nya. Tapi mbok mau kasih kamu lagi uang nya. Mbok gak mau uang ini. Mbok masih punya uang lebih banyak dari ini. Nih sana bawa pulang uang nya. "
Mbok sur menerima uang raya namun mengembali kan lagi pada raya.
Yang penting sudah di terima. Begitu lah pikir mbok sur.
Tapi lain hal nya dengan raya yang tidak ingin merepot kan siapa pun
Apa lagi mbok sur bukan siapa siapa nya.
Raya memasuk kan uang dua puluh ribuan itu ke sela sela baju yang di sudah di lipat mbok sur lalu raya pamit sambil berlari supaya mbok sur tidak mengembali kan uang nya lagi.
" raya pulang mbok. Dadah." teriak raya sambil ber lari.
" dasar anak nakal." mbok sur bangkit ingin rasa nya memukul gemas p****t anak gadis itu.
" semoga masa depan mu nanti baik ray. Ketemu sama orang yang bisa nolong kamu dari susah nya hidup kamu. "
Gumam mbok sur yang masih menatap penggung raya dari kejauhan.
Selepas kembali dari rumah mbok sur, raya duduk termenung di kos san nya.
Memikir kan bagai mana cara untuk memebantu ibu panti.
Raya sudah lulus dari sekolah. Itu arti nya kebutuhan sedikit ber kurang. Meski sebenar nnya raya masih ada tunggakan di sekolah.
Namun raya merasa lega. Pihak sekolah memeberi kan kelonggaran waktu sampai penerimaan ijazah.
Tapi yang jadi masalah sekarang ibu oanti juga membutuh kan banyak uang.
Dari mana raya harus menutup semua kebutuhan itu secara ber samaan?
Sedang kan untuk makan saja, raya harus ke pasar menjadi kuli panggul dan lain lain.
Raya menatap motor satu satu nya harta yang dia punya.
Motor yang di beli nya secara kredit.
Motor matic yang dudah cukup tua itu pun adalah motor second saat raya membeli nya.
" apa aku harus menjual motor ini? Tapi kalo aku jual aku benar benar gak bisa narik ojol lagi. Dan itu arti nya aku harus cari pekerjaan lain selain kuli di pasar. Aku tidak punya pilihan lain."
Akhir nya raya memutus kan untuk menjual motor nya.