Dua hari berlalu, Mischa masih terkurung di kamar. Alvito hanya membuka pintu saat memberikan makanan. Mischa berusaha memakannya, ya, dia bukan wanita lemah yang pasrah akan keadaan. Dia harus kuat kemudian dia akan menghajar abang gilanya itu.
Ceklek. Pintu terbuka lagi. Mischa menatap nanar tubuh tegap lelaki itu, yang dua hari ini ada dalam pikirannya. Kali ini Alvito memasuki ruangan itu, kemudian mengunci pintu dengan cepat.
"Mischa." Panggilnya lembut seraya tangan menjambak rambut seolah frustasi.
"Apa maumu?!" teriak Mischa dengan kemarahan, air menitik di ujung matanya. Alvito mendekatinya, kemudian duduk di samping Mischa.
"Maafkan abang, sayang," bujuk Alvito lembut.
Mischa menepis tangan yang berusaha memeluknya itu dengan kasar.
Maaf? batin Mischa. Setelah semuanya?
"Abang mencintai Mischa, abang khilaf." Alvito menggenggam tangan Mischa.
Apa? Maksudnya? Mischa tercekat. Mischa ingin menarik lagi tangannya tapi genggaman Alvito terlalu kuat. Alvito yang melihat keterdiaman Mischa langsung mendekapnya erat.
Mischa meronta.
"Kalau terjadi apa-apa abang akan tanggung jawab," bisiknya.
"b******k! b******k! Alvito penjahat!" jerit Mischa.
"Itu juga pertama buat abang, karena abang ingin Mischa menerima abang. Makanya itu terjadi. Kamu mau kan maafin abang?"
"Nggak ..." Mischa menangis, tapi rontaannya mulai melemah."Mischa sangat sakit."
"Mischa nggak sayang abang?" tangan Alvito mengusap pipinya halus.
Mischa menatap wajah di hadapannya, kembali seperti biasa. Tidak seperti dua hari yang lalu di mana dia berubah menjadi begitu liar.
"Se-sekarang nggak." Air mata mengalir di kedua mata Mischa. Mischa sangat menyayangi abangnya, sangat ....
Alvito mencium bibir gadis itu pelan, tubuh Mischa bergetar. Ingin dia meronta tapi kedua tangannya ditahan oleh satu tangan abangnya. Perasaan aneh menelusup d**a Mischa.
"Abang akan lakukan apapun, apapun supaya kamu maafin abang. Mischa sayang abang?"
Mischa bingung, namun, dia kemudian mengangguk pelan.
"Maaf, abang kasar sama kamu." Permintaan maaf dari abangnya terdengar tulus. Apa yang membuat abangnya bersikap begitu? selama ini Alvito sangat penyayang dan baik.
"Kenapa abang mengurung Mischa?" Mischa bertanya lirih.
Alvito tersenyum, suara Mischa mulai lunak dan memanggilnya dengan sebutan abang lagi.
"Soalnya abang tau kamu marah. Jadi abang menunggu. Masih sakit?"
Mischa mengangguk terisak. Dia bukannya sakit, hanya merasakan perasaan yang berbeda.
Alvito mengambil sesuatu dari saku celananya seperti berbentuk salep.
"Kemarin abang menyesal, jadi abang menemui Tante Rika."
Tante Rika, dokter keluarga mereka. Adik Papa Vito.
"Apa itu?"
"Gel untuk mengurangi sakitnya." Alvito bersikap sangat lembut.
Mischa menggeleng, Nggak mau! I-itu berarti Bang Alv akan menyentuhnya lagi.
"Abang janji nggak akan macam-macam."
Mischa mengusap pipinya yang basah, wajah Mischa memerah, tersipu.
"Ng-nggak jadi saja," erang Mischa.
"Nggak usah malu." Senyum Alvito tipis.
Wajah Mischa semakin memerah. Mischa memalingkan wajahnya, dadanya berdetak kencang. Tubuhnya meremang.
Mischa menarik nafas, tangan Alvito membelai pipinya lembut, se-seandainya kemarin Bang Alv membujuknya dengan lembut, mungkin Mischa tidak semarah itu. Apa yang kamu pikiran Mischa?! Mischa buru-buru menghardik pikirannya yang jadi aneh. Bang Alv jelas salah, sekalipun mereka sangat dekat, ini tidak boleh dilakukan.
"Sudah." Alvito berbisik, suaranya terdengar pelan menahan gejolak karena keindahan tubuh Mischa.
"Bang Alv."
"Ya, sayang." Alvito membaringkan tubuhnya di sebelah Mischa.
"Jangan panggil sayang, Mischa malu."
"Kenapa? Abang, kan, dulu selalu memanggil dengan sebutan itu."
"Sekarang berbeda." Mischa berbisik lirih.
"Tidak ada yang berubah, selain perasaan abang kepada Mischa yang berubah."
Mischa hanya terdiam, dia masih bingung harus bersikap bagaimana.
"Bukan seperti abang kepada adik, tapi seorang pria kepada wanita." Alvito memainkan poni rambut Mischa yang menutupi mata indahnya.
"M-Mischa ngantuk." Mischa berkata dengan sangat lirih. Dia memutskan untuk tidak membahas kejadian tersebut.
Ya, tentu saja, dia sangat mengantuk karena dua hari terakhir, dia tidak bisa tidur memikirkan peristiwa itu. Setelah mendengar pernyataan cinta dari Alvito hati Mischa sedikit membaik, walau dia masih kecewa.
"Tidurlah." Alvito mengecup kening Mischa. Pelan mata Mischa tertutup. Alvito memandangi wajahnya yang bulat oval, bibirnya mungil merah muda seperti basah, bulu mata lentik di bawah alis hitam yang belum terbentuk. Mischa sangat cantik.
Tidurlah saat bangun lagi, kau akan menjadi milikku. Alvito tersenyum picik.
***
Mischa menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, Alvito membuatkannya. Hari ini hari terakhir mereka di villa karena nanti siang mereka akan pulang.
Beberapa hari terakhir, Alvito sangat lembut dan perhatian, memang Alvito selalu lembut tapi semakin bertambah-tambah. Alvito juga selalu mencium Mischa di bibir sekarang. Mischa awalnya menolak, tapi lama kelamaan dia menikmati juga. Hei, Mischa sangat menyayangi abangnya. Hubungan mereka ... Mischa saat ini tak mampu menjelaskannya.
Alvito, abangnya sudah selama lima tahun. Mischa merasa aneh dan berdosa, terlebih, bagaimana mereka akan menjelaskannya pada mama dan papa. Tadinya Mischa ingin langsung melaporkan perbuatan Alvito ke mama, tapi saat ini? Abangnya yang selalu bersikap manis menjaganya, abangnya yang tampan dengan rahang keras, hidung mancung, berkulit kecoklatan dan bertubuh liat dengan otot bisep samar muncul dari lengannya. Teman-teman Mischa saat ke rumah selalu memuji-muji Alvito, belum lagi abangnya kerap disebut sebagai enterpreuner muda berbakat karena memiliki workshop kayu yang terkenal karena kualitas dan keunikannya.
"Mau tambah?" Alvito bertanya mengakhiri keterdiaman mereka.
Sudahlah, Mischa tidak akan mengadukan Bang Alvito. Tampaknya Bang Alvito juga menyesal, tapi bagaimana dengannya? Air mata Mischa menetes lagi. Bagaimana seandainya dia menikah? Bagaimana suaminya nanti melihat dia? Bang Alvito bilang, dia juga pertama kali, siapa yang peduli itu? Bagi lelaki tak akan ada yang tahu pertama atau tidak.
Alvito segera mendatangi Mischa dan berlutut di hadapan Mischa, membelai-belai tangannya.
"Kenapa menangis lagi?" Alvito bertanya dengan perhatian.
"Mischa takut."
Alvito mengecup pipi Mischa, "Nanti abang yang akan bilang sama papa dan mama."
"Bilang soal apa?"
"Soal hubungan kita, kalau abang mencintai Mischa."
"Tapi ..."
"Sudah, sekarang jangan pikirkan itu lagi, ya. Abang jadi merasa sedih. Malam itu abang kalap karena melihat Mischa sangat cantik."
Mischa memandangi abangnya, yang umurnya terpaut empat tahun dengan dia. Memandangi matanya yang pekat dan tajam. Mischa sangat menyayangi Alvito sekalipun mereka tidak memiliki ikatan darah, begitu juga yang dia tahu selama ini. Alvito sangat menyayanginya. Mischa melanjutkan sarapan.
***
Mama Mischa, Arisa, memeluk mereka erat saat mereka sampai di rumah. Mama Arisa berumur empat puluhan-an tapi masih sangat cantik, modis dan bergaya.
"Kamu rada pucat sayang?" tanya Arisa sambil membelai pipi Mischa. Mischa yang selalu memiliki cerita tiba-tiba diam, tentu Arisa sedikit heran.
"Mungkin kecapean, Ma," timpal Alvito. Mischa melirik sedikit ke arah Alvito, tak ada tanda-tanda kecemasan dalam diri abangnya itu. Padahal perasaan Mischa sangat tidak karuan saat ini.
"Nanti malam, kita makan di luar bersama, papa sudah rindu, seminggu tidak bertemu." Papa tirinya, Bastian berkata dengan sumringah.
"Mungkin Mischa masih capek, Pa," sahut Alvito lagi.
Bastian melirik Alvito, kenapa sedari tadi Alvito yang menjawab? Bastian mengomel, putranya itu memang sedikit protektif kepada Mischa.
"Ya udah, kita makan rame-rame saja di rumah." Arisa tersenyum.
***