Part 1
"Aaaahhhh!!" Jeritan itu memecah keheningan malam di sebuah villa.
Sosok lelaki bertubuh tinggi dan atletis mendorong tubuh gadis mungil yang terlihat lunglai.
"Hh-hentikan." Air mata mulai mengalir di pipi mulus gadis itu, ketika melihat lelaki di depannya membuka tali pinggang dan celana jeansnya, melemparnya sembarang ke sudut kamar. Sedangkan blouse gadis itu telah dirobek sejak tadi, mempertontonkan bahu dan dadanya yang mulus.
Senyum sang gadis yang sejak pagi sangat sumringah telah hilang digantikan dengan wajah kebingungan.
Lelaki di hadapannya menahan kedua tangan gadis itu dengan keras, gadis itu meronta, seluruh tubuhnya digerakkan.
"T-tolongg ... Ba-bang Alv ... jangan ...."
"Nikmati saja, Mischa." Alvito berbisik tanpa mempedulikan rintih adiknya.
"B-bang Alv."
Mischa, gadis itu memucat, ah, dia bukan lagi gadis sekarang. Kesuciannya yang dia jaga untuk diserahkan pada suaminya kelak direnggut abangnya sendiri. Ya! Abangnya sejak lima tahun yang lalu, ketika mama Mischa menikah dengan papanya.
Alvito tersenyum, menyeringai jahat, wajah yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Alvito selalu menjadi sosok abang yang baik, perhatian dan penuh kasih sayang. Mischa gemetar saat tubuh atletis Alvito jatuh ke tubuhnya. Air mata Mischa mengalir lagi, menangisi nasibnya, menangisi kenapa dia begitu lemah karena tak bisa melawan abangnya itu saat dia merenggut miliknya yang berharga.
"Kamu suka sayang?" ejek Alvito saat melihat air mata Mischa mulai mengering, lelah teramat sangat karena terus menangis.
"Kau gila! b******k! Aku akan membunuhmu. Le---" Mischa menjerit dengan sisa kekuatannya.
Tapi, mulut Alvito membungkam bibir mungil pink milik Mischa, tangannya mencengkeram lengan Mischa keras. Mischa berusaha untuk menolak.
"Nikmati saja Mischa, kamu akan menyukainya." Kalimat itu lagi. Alvito sangat percaya diri.
Aroma maskulin lelaki itu yang biasanya dia sukai tercium, aroma woody, tubuh lelaki itu berkeringat, licin menempel pada Mischa. Sementara Alvito terus membujuk Mischa melakukan hubungan terlarang.
Mischa merasakan sekelilingnya gelap, sakit ... sangat sakit memang tubuhnya saat ini, tapi hatinya lebih sakit, karena pengkhianatan abangnya itu. Abang lemah lembut dan selalu menyayanginya berubah menjadi iblis malam ini.
Oh ... bagaimana Mischa bisa tahu kalau Alvito mengajaknya pergi ke villa orang tua mereka berdua untuk melakukan hal ini padanya?
Mischa begitu gembira karena Alvito mengajaknya liburan di sela-sela libur kuliahnya.
Alvito mengusap pipi Mischa yang basah, sedetik ada perasaan bersalah di hatinya karena apa yang telah dia lakukan.
Tidak! Aku tidak boleh merasa bersalah, batin Alvito.
Ini hukuman buat jalang kecil ini dan mamanya yang telah membuat orang tuanya bercerai.
Alvito membersihkan sisa-sisa dosanya dengan kaos yang tadi dia lemparkan ke lantai. Tubuh Mischa terbaring tak berdaya. Ah, dia memang cantik, tubuhnya secara menyeluruh baru kali ini Alvito lihat, sangat indah.
Alvito berdiri, dia meraih smartphone-nya. Menjauh dari kamar.
"Ya mama, aku telah membalaskan dendam mama. Aku akan menghancurkan orang itu dan anaknya," desis Alvito kejam.
Wanita di seberang yang dia panggil mama itu terdengar menangis, tapi Alvito tahu itu adalah tangis kepuasan.
Ya, Alvito telah berencana sejak tiga tahun yang lalu untuk melancarkan aksi bejatnya. Semua dimulai dari pernikahan papa Alvito dengan wanita lain, seorang janda beranak satu.
Gadis mungil itu bersembunyi di balik tubuh mamanya, menatap malu-malu pada Alvito yang juga sedang menatapnya dengan mata hitam pekat, Alvito tersenyum, dia sangat gembira mendapat adik perempuan sebagai saudara. Apalagi gadis itu terlihat manis dan penurut.
Semuanya berubah saat mama Alvito mengatakan bahwa perceraian mama Alvito dan papanya karena orang ketiga. Perasaan Alvito yang mulai menyayangi kedua wanita yang baru masuk ke kehidupannya itu berubah jadi benci. Dia juga membenci papanya yang berselingkuh, meninggalkan mamanya dalam isak tangis.
"Aaaa!!!" Mischa menjerit lagi dia telah sadarkan diri. Mischa merasakan sakit pada tubuhnya. Di seluruh dadanya banyak bekas merah hasil jejak perlakuan Alvito tadi malam. Misha menggapai-gapai nakas mencari handphone-nya.
Mischa meringis saat tidak menemukan apapun di sana, bahkan tasnya tidak ada. Dengan susah payah Mischa berdiri dari atas tempat tidur menuju pintu. Menggapai handle pintu, terkunci.
"Bang Alv ...." Mischa mengerang. "Alv! Buka pintunya b******k!!!" Suara Mischa mulai mengeras, tak sudi dia memanggil lelaki itu dengan sebutan abang lagi. Mischa terus menggedor-gedor pintu hingga dia lemas dan lunglai ke lantai.
***
Alvito memerintahkan penjaga untuk berjaga di pintu masuk villa agar Mischa tidak kabur, dia tak akan berani. Alvito tahu, Mischa gadis penurut dan mudah dipengaruhi, apalagi selama ini Mischa selalu mengikuti dirinya.
Dia akan mengurung Mischa sekitar seminggu agar Mischa tidak mengadu tentang apa yang telah dia lakukan.
Alvito merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kebenciannya terhadap mama gadis itu semakin lama semakin besar.
Apalagi mama kandungnya tiap bertemu dia selalu menangis dan terpuruk, membuat Alvito tak tega. Alvito terbayang wajah Mischa yang kesakitan karena paksaannya.
Ironis. Bukan hanya keperawanan Mischa yang hilang semalam, tapi, juga keperjakaannya. Ya, di usia yang ke 25, Alvito sekalipun bertubuh hot dan berwajah tampan belum pernah mencicipi tubuh seorang wanita pun.
Alvito tadinya lelaki yang baik, dia tidak akan melakukan hubungan seksual sebelum menikah, sayang, kebencian membutakan dirinya. Terlebih dia melakukannya pada adiknya sendiri, orang yang harusnya dia sayangi dan diperlakukan lembut.
Alvito mengisap dalam rokok dengan bibirnya yang menarik, memenuhi dadanya dengan nikotin. Kepalanya sakit mengingat suara parau Mischa, rintihan itu bahkan seperti menggema di pikirannya.
Dia berharap percintaan semalam menumbuhkan bayi di rahim Mischa, setelah itu Alvito akan mencampakkannya. Itu akan membuat mamanya bahagia dari penderitaan yang dia rasakan selama ini.
Alvito melihat ponselnya berdering.
Incoming Call, Papa.
"Oh hai, Pa." Alvito menjawab panggilan telepon dengan suara sangat tenang. Papa dan mama tirinya sudah tiga hari berangkat ke Medan untuk urusan bisnis. Karena itu, Alvito mengatakan akan mengajak Mischa menginap di villa mereka agar tidak bosan di rumah.
Papa dan mama tirinya percaya begitu saja mereka pergi berduaan walaupun mereka tidak sedarah. Karena selama ini, Alvito adalah putra kebanggaan keluarga. Setiap yang dia lakukan membuat orang tuanya kagum sejak masih sekolah dulu. Terutama perlakuan Alvito terhadap Mischa selama ini begitu baik.
"Mischa sedang tidur, dia kecapean, semalam kami begadang," kata Alvito ketika papanya menanyakan Mischa, hal itu memang benar Alvito membuat Mischa terjaga sampai larut.
"Baiklah, tidak apa serahkan urusan di sini denganku, Pa," lanjut Alvito.
Alvito menutup ponselnya. Dia mengambil bungkusan makanan yang tadi telah dipesan melalui kurir, kemudian berjalan ke arah kamar tempat Mischa dikurung, terdengar erangan lemah dari sana.
Mischa terbaring di lantai dengan tubuh lemas, rambutnya yang hitam terurai di lantai. Alvito menahan diri saat melihat lekuk tubuh menggoda.
"Ba---" Suaranya terdengar lemah saat melihat Alvito muncul, tapi matanya mengilat marah.
Tanpa suara Alvito meletakkan makanan di sana dan mengunci pintu kamar itu lagi. Mischa terisak. Mischa berdiri dengan kepayahan masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Masih berharap terbangun dari mimpi.
***