Mischa masih tidur dengan tubuh tertutup selimut saat Alvito terbangun, Alvito memandangi Mischa. Wajahnya lucu, menarik, cantik. Bibir mungil Mischa bergerak-gerak. Seandainya ... seandainya saja ... Alvito mengeluh.
Alvito suka mendengar suara Mischa, apalagi kemanjaan Mischa padanya. Mischa harusnya gadis yang pintar, lincah, periang, dia membuat orang-orang di sekitarnya merasakan kegembiraaan. Termasuk Alvito dulunya.
Tapi, tidak boleh! Alvito bercinta dengannya karna kebencian. Alvito terus terus mengusir pikiran yang menyusup ke kepalanya, belakangan kerap membuatnya pusing. Mischa membuka matanya.
"Bang Alv ..."
Alvito menatap Mischa. "Sudah bangun?"
"Kaki Mischa pegal," bisiknya. Masih dengan posisi wajah tertutup setengah oleh bantal.
"Mau ditambah pegal lagi?" goda Alvito.
"Uuhh abang."
Alvito memeluknya. "Mischa sayang abang?"
"Sayang."
"Beneran?"
"Iya."
Alvito memandang wajah Mischa. Wajah yang tulus dan berbinar. Mischa telah jatuh sepenuhnya.
"Mischa kepengen bubur ayam yang di sudut jalan itu," kata Mischa. Itu bubur ayam langganan mereka, Alvito kerap membelinya untuk sarapan.
"Abang pesankan, ya?"
Mischa mengangguk. "Makan yang banyak. Biar nanti kita bisa ronde kedua." Alvito melanjutkan.
Apa? Mischa melirik Alvito. Apa tidak capek abangnya ini? Mischa saja sudah lemas.
Alvito berjalan ke kamar mandi dan bersiul-siul. Mischa memandangi punggungnya yang terekspos.
Alvito tidak tahu malu, berjalan-jalan polos seperti itu, keluh Mischa.
"Mischa." Alvito memanggilnya.
"Apa?"
"Sini sayang. Bantuin abang."
"Uhhh." Mischa menarik selimut menutupi kepalanya, kali ini, dia tidak akan peduli. Namun tiba-tiba, Alvito datang. Menggendongnya, dia seolah tidak peduli apapun.
***
Alvito melilitkan handuk ke tubuh Mischa dan tubuhnya. Lalu dia menggendong Mischa lagi, membawanya kembali ke kamar.
"Uhhh Mischa capee abaang ...." Mischa meringkuk di atas tempat tidur Alvito.
"Istirahat sayang. Abang pesankan bubur."
Alvito tersenyum sangat manis. Mischa tidak mengantuk tapi seluruh tubuhnya lelah, hanya saja Mischa merasa...merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya merasa aneh.
"Abaanngg." Mischa memanggil Alvito lirih.
"Ya sayang."
"Haus, mau minum."
"Oke, baby."
Mischa tersenyum. Alvito memanggilnya dengan kata-kata mesra, melayaninya, menggendongnya. Mischa rasanya rela Alvito melakukan apapun padanya, lagipula Mischa menyukainya. Menyukai percintaan.
Mischa mencintai Bang Alv, desah Mischa.
Mischa melihat Alvito masih saja aktif bergerak. Sedangkan dia sudah lemas dan lelah. Untuk mengangkat tangan saja Mischa malas. Mischa beringsut duduk, minum dengan kalap. Dia kehausan.
Alvito telah memakai kaus dan celana pendek sementara dia masih berbalut handuk.
"Abang nggak capek?"
"Malah makin semangat," goda Alvito.
Oh, ya ampun.
"Mischa sangat lelah."
"Itu wajar sayang." Alvito tersenyum, dia kemudian berkata saat melihat Mischa menatapnya lekat. "Abang, kan, sering olahraga." Seolah Alvito mengetahui apa yang ada dalam pikirannya.
Oh, Mischa memang malas olahraga. Tangan Mischa meraih tangan Alvito. Merangkai jemarinya di sana.
"Kenapa?"
"Bibir Mischa kaya bengkak." Mischa meraba bibirnya. Alvito terkekeh.
"Itu perasaan kamu aja, karena abang sering menciumnya. Makanya harus sering-sering dicium biar biasa."
"Abang keenakan." Mischa merengut. Bel rumah berbunyi.
"Itu sarapan kita datang." Alvito cepat menuju pintu.
Sarapan apa? Sudah jam sepuluh sekarang. Mischa berusaha bangkit dari tempat tidur. Uh ... badannya gemetar, dia membuka tasnya. Memakai pakaian. Atasan juga rok. Dia menyisir rambutnya yang basah.
Mischa berjalan pelan menuju dapur. Alvito sedang menyiapkan buburnya.
Suami idaman. Mischa terkikik geli. Dia tak menduga Alvito yang selalu santai dan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, mau melakukan hal-hal sepele seperti itu. Untuknya.
Alvito membawa mangkuk itu ke depan televisi mereka makan di karpet.
"Kenapa abang nggak beli sofa?"
"Untuk apa?"
"Iya juga, sih." Walau demikian Mischa merasa nyaman berada di sana. Mungkin, karena dia bersama Alvito. "Eh memangnya kapan abang di rumah ini?"
"Jarang, sih."
"Tapi rumah ini kayak rapi dibersihkan terus."
"Seminggu sekali ada yang membersihkan dan membereskannya." Alvito menjelaskan.
Mischa mengangguk-angguk.
"Kenapa Mischa nggak tau abang punya rumah lain?" Mata Mischa menatap penuh selidik.
"Kan tidak pernah tanya." Alvito selalu memiliki jawaban.
Alvito telah selesai menghabiskan buburnya. Sementara Mischa? Belum ada setengahnya.
"Udah kenyang," keluh Mischa. "Abang abisin."
Alvito memakan bubur milik Mischa. Laki-laki selalu makannya banyak tapi tidak gendut, pikir Mischa. Mischa berbaring di atas karpet lembut itu. Ada bantalan besar di atasnya, semakin membuat Mischa tergoda untuk bersantai.
"Lho malah tidur," tegur Alvito, biasanya kalau sudah berpakaian rapi Mischa tidak mau tidur-tiduran, nanti bajunya jadi kusut.
"Mmhh." Mischa bergumam malas.
Alvito membereskan bungkus sarapan mereka dan membuangnya ke tempat sampah. Dia bersenandung menyanyikan lagu yang disukai Mischa. Mischa tersenyum.
Alvito duduk bersila di sebelah Mischa. Mischa beringsut manja meletakkan kepalanya di paha Alvito.
Dada Alvito bergemuruh, gaya tidur Mischa memamerkan kakinya yang indah. Entah disengaja atau tidak.
"Rok itu kependekan," desis Alvito.
"Ih abang, mana ada ya."
"Abang nggak suka." Alvito berkata, dia tak menyadari tekanan pada suaranya seperti posesif.
"Ya udah, nanti Mischa pake sarung sekalian."
Alvito tertawa, dia lalu membelai rambut Mischa.
"Mischa mau tidur sebentar."
"Oke."
"Kita pulang jam berapa?"
"Terserah saja."
"Abang nggak packing? Katanya besok mau berangkat."
"Soal mudah itu."
"Mau pergi berapa hari?"
"Cuma tiga hari."
"Uuh lama."
"Biasanya juga semingguan." Tak terdengar lagi suara jawaban dari Mischa, dia telah tertidur.
Alvito mengangkat kepala Mischa dan meletakkannya pelan di atas bantal. Dia menuju teras samping, menyulut sebatang rokok. Duduk termenung di sana. Setelah menghabiskan sebatang rokok, Alvito masuk ke dalam lagi.
Dia duduk menatap Mischa, tertidur. Alvito bergumam pelan, saat Mischa bergerak. Blouse-nya tersingkap mempertontonkan perut yang rata. Darah Alvito mengalir cepat naik ke kepala. d**a Mischa yang naik turun memacu adrenalinnya.
Sial!
Alvito melakukannya lagi, menggagahi adiknya di atas karpet.
***
"Abaang merokok?" tanya Mischa lemah. Tercium bau nikotin dari bibirnya tadi.
"Cuma sebatang."
"Mischa nggak sanggup berdiri."
"Kalau begitu nggak usah berdiri," bisik Alvito.
"Abang napsuan!" erang Mischa. "Alvito gila."
"Gila karena Mischa."
Mischa masih tidur di atas karpet saat Alvito membereskan tas Mischa, bersiap pulang ke rumah. Alvito membawa tas Mischa ke dalam mobil. Merapikan blouse dan rok Mischa. Kemudian Alvito menggendongnya, Mischa terpana. Serius? Mischa gembira dan melingkarkan tangan di leher Alvito. Alvito merebahkannya di kursi mobil. Kemudian Alvito mengunci pintu rumah.
Mischa masih merengek lemas belum mau turun saat mereka telah sampai ke rumah, kakinya benar-benar lemas. Nanti mama curiga kalau Mischa berjalan tertatih. Mischa mulai mengamuk pada Alvito. Alvito membuka pintu penumpang dan berjongkok membelakangi Mischa.
"Ayo naik ke punggung abang."
Bibir Mischa bergetar, seketika kemarahannya lenyap. Alvito dengan tenang menggendong Mischa di punggungnya masuk ke dalam rumah.
"Lhoo! Kenapa ini?" Mama berdiri panik saat melihat Mischa di gendongan Alvito.
"Aku habis jemput Mischa dari rumah Olive, ma, katanya dia kurang enak badan."
Mischa pura-pura tidur biar tidak menatap mata mamanya, ih dasar pinter banget sandiwaranya, batin Mischa.
"Ya ampun, Mischa." Arisa menggelengkan kepala melihat kemanjaan putrinya pada Alvito.
***