Matahari masih malu-malu memancarkan sinar, masih pukul enam pagi. Suara langkah berat mengisi keheningan di rumah itu. Bastian melangkah menuju halaman belakang. Betapa kagetnya dia saat melihat putranya, Alvito keluar dari kamar Mischa.
"Alv!" Panggilnya.
"Oh papa." Alvito menjawab panggilan kaget papanya dengan nada biasa. Membuat kening Bastian berkenyit.
"Kenapa kamu keluar dari kamar Mischa?"
"Semalam Mischa mimpi buruk, jadi minta di temenin, Pa," jawab Alvito santai.
"Alv, kamu sadarkan kalau kalian sudah dewasa. Masa kamu tidur sekamar dengan Mischa?"
"Kenapa memangnya? Nggak ngapa-ngapain juga."
Bastian menghela nafas, memang sejak awal dia menikah dengan Arisa, mereka selalu mengatakan agar Alvito dan Mischa bisa dekat layaknya saudara.
"Ya sudah. Sebaiknya kamu berhati-hati," kata Bastian akhirnya.
Alvito bersiul menuju kamarnya.
Ya mungkin memang dia yang terlalu khawatir, pikir Bastian saat melihat tingkah Alvito yang santai.
Bastian akhirnya mengurungkan niat pergi ke halaman belakang dan menuju dapur. Melihat istrinya dan ART mereka masak untuk sarapan.
"Kenapa, Pa?" tanya Arisa. Bastian menggeleng.
"Kopi papa mana, Ma?"
"Sebentar, ya." Arisa tertawa. Betapa indahnya tawa Arisa di pagi hari, ketika dua perempuan itu menjadi keluarganya, kehidupan Bastian menjadi lengkap. Keluarganya sempurna, kecil dan bahagia. Bastian tersenyum, kemudian dia melihat Mischa menuju ke meja sambil melompat-lompat kecil.
"Papa." Mischa mencium pipinya. Bahkan Mischa telah menganggap dia sebagai papanya. Dia begitu gembira memiliki putri yang cantik, menggemaskan.
"Halo si cantik. Kamu nggak ke mana-mana hari ini?" Ini hari Sabtu, tapi Bastian harus berangkat ke kantor.
"Mau jalan sama Bang Alv," kata Mischa. Alv, merupakan panggilan Mischa untuk Alvito, sehingga saat ini Bastian dan Arisa ikut memenggal panggilan Alvito menjadi Alv.
"Mau ke mana?"
"Nonton sama makan palingan."
"Kenapa pergi dengan Alvito? Memangnya Mischa nggak punya pacar? Oh iya, si Lando yang dulu sering datang kemana, ya?"
Mischa tertawa. "Ih papa, Lando itu cuma temen Mischa."
"Memang kenapa kalau Mischa pergi denganku, Pa?" Suara Alvito pun terdengar sedikit serak. Alvito duduk di sebelah Mischa sambil menyesap kopi yang sudah tersedia. Mischa menempelkan pungung tangan di kening Alvito.
"Suara abang serak."
Alvito menggenggam tangan itu dan menurunkannya.
"Kamu kapan mengenalkan calon istrimu ke papa? Sudah tua tapi kerjanya masih main-main saja," kata Bastian.
"Nanti ada saatnya," sahut Alvito. Mischa menoleh ke arahnya. Jantungnya berdegup cepat sekali.
Arisa duduk dan bergabung bersama mereka. "Wah, cantik sekali kalungnya," kata Arisa saat melihat kilauan di leher Mischa.
"Eh in-ini dari Bang Alv," kata Mischa sambil memegang bandul kalung. Bastian melihat ke arah Alvito, wajah anaknya itu bahkan tidak berubah sedikitpun.
"Alvito. Kamu terlalu memanjakan Mischa," leluh Arisa.
"Nggak apa, Ma, kemarin dapat proyek yang lumayan," jawab Alvito.
"Tuh, kan, Ma. Bang Alv lagi banyak duit." Mischa tertawa.
Bibi Teti menghidangkan sarapan mereka. Mischa suka sekali omelet untuk sarapan. Mischa menyuapi Alvito sambil sesekali terkikik geli karena cerita Alvito tentang karyawan di workshop.
Bastian memandangi keakraban mereka dengan mata awas, memang tidak ada yang berubah. Mischa manja dan lengket dengan Alvito, tapi kenapa ya? Seperti ada yang mengganjal.
***
Mischa sudah sangat sering pergi berjalan-jalan dengan Alvito. Tapi hari ini, dia berdandan secantik-cantiknya. Memulas lipstik tipis, memakai blush on, memberi eyeliner pada mata bahkan menata rambutnya yang memang sudah indah.
Mischa mengerjapkan mata, dia memakai dress di atas lutut berbahan sifon. Mischa segera menuju mobil Alvito. Bang Alv-nya telah menunggu. Mischa memandanginya dengan tatapan kagum, Alvito mengenakan kaus katun lengan panjang bewarna abu-abu dan celana jeans.
"Berangkat?" tanya Alvito saat melihat Mischa duduk di kursi. Mischa mengangguk.
Alvito mencium pipi Mischa dan menjalankan mobil.
"Cantik sekali hari ini," puji Alvito.
"Heem."
Sepanjang perjalanan Alvito sering menggenggam tangan Mischa. Mereka masuk ke kawasan mall.
Di bioskop Mischa tidak konsentrasi, karena Alvito selalu menciumnya. Mischa melirik-lirik ke samping takut ada yang melihat kelakuan mereka, berbanding dengan sikap Alvito yang parahnya terlihat sangat santai.
"B-Bang Alv. Nanti ada yang lihat," kata Mischa terbata.
"Biarkan saja, paling mereka iri atau mereka juga ingin."
Huh! Mischa melengos, semakin pervert saja Alvito. Alvito terus membelai Mischa, membuat tubuh Mischa merinding. Uh, andaikan tadi Mischa memakai celana jeans saja. Mungkin sentuhan itu tidak terasa begitu intens.
"Abang...." Mischa merengek. "Mischa nggak bisa fokus ke filmnya."
Alvito hanya tertawa. Mischa ragu orang pacaran akan melakukan hal-hal seperti ini. Dasar otak Bang Alv kotor perlu dibersihkan! Omel Mischa dalam hati.
Alvito melirik ke arah Mischa yang gelisah, kenapa dia manis sekali? d**a Alvito berdetak. Sebenarnya Alvito juga awam melakukan hal-hal yang sering dilakukannya pada Mischa. Tapi dasar imajinasinya liar, dia cepat belajar.
Mischa menggigiti bibirnya yang basah, membuat otak Alvito memikirkan hal-hal yang gila. Mischa menghela nafas saat film berakhir. Dia menggandeng lengan Alvito.
Mischa terus melingkarkan tangannya di lengan Alvito. Mischa membeli baju, sepatu dan barang-barang yang menarik matanya. Sejak dulu Mischa kerap berbelanja dengan Alvito tapi kali ini terasa begitu berbeda. Tubuh Mischa menegang saat Alvito menyeretnya ke toko piyama.
Aw! Mischa merasakan pipinya memerah.
"Abangg ...apa sih? Mischa malu."
"Ssttt...bilang saja kita suami istri," goda Alvito. Pipi merah Mischa, semakin melonjakkan hasratnya. Alvito akan menghisap inti tubuh Mischa sepuas-puas yang dia inginkan sebelum akhirnya membuangnya. Anggap saja itu bayaran atas penderitaan dan sakit hati mamanya.
"Pilih yang paling sexy," bisik Alvito. Mischa menggeleng.
"Malu."
Karyawan butik mendatangi mereka. Alvito segera meminta untuk menunjukkan koleksi new arrival. Mischa terkaget-kaget, Bang Alv tidak malu sama sekali mengatakan hal itu. Tampaknya karyawan butik mengira mereka memang pasangan suami istri muda.
Jantung Mischa mau copot saat mereka keluar dari butik itu. Sedangkan Alvito tertawa sumringah. Mischa mencubitnya.
"Kantong yang ini mau dibawa pulang?" tanya Alvito.
"Eh janganlaaahh..." Mama sering melihat-lihat belanjaan Mischa. Bisa terkejut nanti mama saat melihat Mischa membeli beberapa piyama yang modelnya begitu.
"Simpan di bagasi saja nanti abang bawa ke rumah kita."
Rumah kita? Bang Alv menyebut rumah kita membuat Mischa melayang. Mischa menempelkan kepalanya di lengan Alvito.
"Alvito."
Mischa dan Alvito menoleh ke arah suara.
"Oh, hei Shinta." Alvito tersenyum. Seorang wanita mendekati mereka. Wanita itu memandangi Mischa yang menggelayuti lengan Alvito.
"Pacarmu?" Dia bertanya.
"Adikku," kata Alvito.
"Oh iya. Aku lupa papamu menikah lagi. Aku sampai kaget, Alvito yang dingin terhadap wanita berjalan bermesraan seperti ini."
"Bisa saja kamu," sahut Alvito seraya tertawa.
"Eh bagaimana kalau kita ngopi bareng? Kebetulan aku memang ingin menghubungimu," ajak Shinta.
Alvito menoleh ke arah Mischa, "Mau?"
Sebenarnya Mischa malas, tapi dia mengangguk. Mischa akhirnya tahu dari percakapan kalau wanita itu teman kuliah Alvito. Mereka duduk santai di salah satu coffeeshop. Kantong-kantong belanjaan Mischa diletakkan di bawah karena tidak muat di kursi.
"Tidak kusangka kamu penyayang, Vito," kata Shinta lagi.
"Berhenti menggodaku Shin." Alvito tertawa. Shinta memesan kopi.
"Mischa tidak minum kopi. Pesankan jus apel saja."
"Aku mau kopi," kata Mischa cepat. Alvito menggeleng.
"Jus apel."
Mischa merengut. Shinta tertawa melihat tingkah mereka. Mischa mendengarkan pembicaraan Alvito dan Shinta, dia cukup cerdas untuk bisa memahami pembicaraan itu. Intinya Shinta memiliki usaha souvenir dan ingin menawarkan kerja sama dengan Alvito.
Mischa memainkan smartphone -nya, membalas pesan-pesan Olive. Juga beberapa pesan dari Orlando. Lelaki itu masih berusaha karena dia jelas tahu Mischa masih available.
Mischa selfie dan meng-upload foto itu di akun medsosnya, seketika banjir komentar dan pujian. Mischa tersenyum sendiri membaca komentar-komentar.
"Adikmu cantik sekali Vit." Perkataan itu mengalihkan perhatian Mischa.
"Tentu saja, aku abangnya." Alvito tertawa.
"Makasih, Kak," kata Mischa.
"Kalau berjalan berdua seperti itu kalian sangat serasi lho," goda Shinta lagi.
"Aku tau," ujar Alvito.
"Jadi masih kuliah, ya?" Obrolan itu akhirnya melibatkan Mischa.
"Iya, Kak. Semester lima," jawab Mischa.
"Itu saat-saat yang membosankan," kata Shinta.
"Benar sekali," sahut Alvito.
"Kamu serius, Vit? Bukannya kamu nggak pernah merasa bosan?"
"Manusiawilah merasa bosan."
"Karena setauku, kamu sudah merintis bisnismu saat itu. Kamu jadi pembicaraan di kalangan kami semua, semacam motivasi."
"Kalian membuatku besar kepala."
"Tentu saja sudah berapa orang yang mengatakannya."
Mischa menoleh, dia hadir dalam kehidupan Alvito saat pria itu masih berkuliah juga bukan? Tapi Mischa tidak mengetahui bagaimana abangnya saat menjadi mahasiswa. Mischa jadi semakin bangga pada Alvito.
"Bang Alvito harus bekerja keras. Soalnya sering diporotin sama aku," kata Mischa. Alvito mencubit hidung Mischa. Shinta tertawa.
"Sebenarnya dulu kakak menyukai abangmu ini," ujar Shinta. Membuat Mischa terkejut. "Jangan salah, banyak yang menyukai dia. Tapi begitulah dia sangat sibuk."
"Stop memujiku, Shinta, lama-lama aku terbang." Alvito tertawa lagi.
"Tapi aku masih mending. Kau ingat Elena? Sampai sekarang dia masih menguntitmu."
"Siapa itu?" tanya Mischa penasaran.
"Penggemar abangmu. Dia padahal wanita tercantik di kampus. Abangmu mengabaikannya."
"Oh Bang Alv suka tebar pesona," kata Mischa.
"Sudah-sudah berhenti menggosipkan aku." Alvito tertawa.
Mischa diam saja saat perjalanan pulang di mobil.
"Kenapa jadi diam begitu?" tanya Alvito sambil tertawa.
"Malas ngomong aja," sahut Mischa sekenanya.
"Itu bukannya ngomong?" Lagi-lagi Alvito terkekeh.
"Jangan ketawa-ketawa terus, Mischa nggak suka."
"Jadi gimana? Nangis?"
Mischa menggeleng.
"Lusa abang mau berangkat ke luar kota."
"Pergi saja, biar Mischa tenang."
"Jadi bilang mama kalau malam ini Mischa mau menginap di rumah teman." Suara Alvito berubah menjadi berat. Mischa menoleh, dadanya berdebar-debar kencang.
"Mm-mau ngapain?" Desah Mischa.
Alvito diam memandangi jalan. "Abang mau sama Mischa."
Lidah Mischa kelu, dia paham apa yang dimaksud oleh Alvito, "M-males... memangnya orang pacaran harus melakukan itu? Bisa saja cuma nonton sama pegangan tangan."
"Kalau sudah pernah mencoba mau terus."
"Mischa nggak."
"Yakin?"
"Iya."
Alvito menoleh ke arah Mischa. Pipinya sudah memerah.
"Nanti abang pergi duluan, abang akan bilang mama ada event kantor, terus Mischa nyusul."
Alvito tampaknya tidak peduli penolakan Mischa. Malam ini dia harus menguasai Mischa. Mischa terdiam kaku.