Part 14

1275 Kata
Mischa menahan nafasnya, mama dan papa telah berangkat ke Banjarmasin. Bisa satu minggu atau lebih. Tangan Mischa yang berada di genggaman Alvito berkeringat. Mereka mengantar mama dan papa ke bandara. Bukan baru kali ini mereka ditinggalkan berdua, hanya saja kali ini jelas berbeda. Mischa seketika memikirkan hal-hal yang akan di lakukan oleh Alvito padanya, juga yang akan dia lakukan. "Ayo pulang," kata Alvito kepada Mischa. Mischa mengikuti langkah Alvito. Di perjalanan pulang Mischa lebih banyak diam, memandang melalui kaca mobil. Alvito juga demikian. Dia beberapa kali melirik pada Mischa. Mischa mendahului Alvito masuk ke rumah. Menuju meja makan untuk makan siang. Mischa menyiapkan makan untuk dirinya dan juga Alvito. "Wah udang saos." Mischa terpekik. "Jangan banyak-banyak nanti alergimu kumat," tegur Alvito. Mereka menikmati makan siang berdua. Alvito memandang wajah Mischa yang kepedasan, bibirnya memerah. Spontan Alvito menciumnya. "Bang." Mischa terpana, dengan mulut terbuka. Mischa menoleh ke sekeliling mencari keberadaan Bibi Teti. Alvito pun terperangah, "Maaf." Mischa seketika berhenti makan. Duduk dengan gelisah. Alvito melanjutkan makan, sambil terdiam. Tak percaya dengan apa yang dia lakukan tadi. "Bagaimana mas, mbak, enak?" Bibi Teti datang mencairkan suasana. Bibi Teti duduk bergabung dengan mereka. "Bibi sudah makan?" tanya Mischa. Bibi Teti mengangguk. "Oh iya bi, mulai besokkan mama dan papa ke banjar seminggu, bibi liburan aja," kata Alvito, semakin membuat Mischa kehabisan nafas. "Serius mas?" "Iya. Tenang aja gaji tetap full sebulan. Soalnya aku sibuk di kantor, Mischa juga menginap di rumah temannya. Sayang nanti makanan mubajir." "Asyik deh kalau begitu." Bibi Teti gembira mendengar itu. Mischa merasa panas di wajahnya, dadanya berdetak cepat dan semakin cepat. Alvito meliburkan Bibi Teti, padahal Bibi Teti biasanya pulang menjelang magrib. Alvito juga meliburkan Tukang Kebun mereka. Alvito selalu terlihat tenang, Mischa melihatnya melanjutkan makan dengan santai. Bahkan di depan mama dan papa, Alvito selalu pandai menyembunyikan perasaannya. Alvito kembali ke kantor siang itu, meninggalkan Mischa di rumah. Mischa menyelesaikan tugas kuliahnya, jangan sampai nanti dia kelupaan. Menjelang sore Bibi Teti pamit pulang, tinggal Mischa sendirian di rumah. Mischa mengunci pintu rumah kemudian ke kamar. Mengunci pintu kamar. Rumah mereka besar dan luas, sendirian lebih baik di kamar. "Bang Alvito." Mischa membisikkan namanya. Mischa sudah sangat merindukan Alvito. Mischa memandangi wajah Alvito di smartphone-nya. Tampan. Mischa beringsut dari tempat tidur dan mandi. Sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer Mischa mengoleskan lotion ke tubuhnya. Mama mengabari kalau mereka telah sampai di Banjarmasin. Mischa merasa tubuhnya merinding, kenapa Bang Alvito belum pulang? Lama sekali menunggu waktu berlalu, mata Mischa mulai mengantuk, sampai dia tertidur Alvito tidak muncul. Mischa membuka matanya, merasakan kepalanya berbaring di sesuatu yang liat. "Bang Alvito," bisik Mischa. "Sudah bangun?" Kapan lelaki itu pulang dan kenapa pagi ini sudah berada di atas tempat tidurnya? Lagipula, kenapa Alvito selalu bangun lebih dulu dari dia? Padahal Mischa ingin memandang wajah Alvito yang terlelap. "Abang semalam pulang jam berapa?" "Sudah malam." "Kenapa nggak bangunin Mischa? Mischa nungguin abang." "Soalnya Mischa nyenyak sekali. Abang lembur semalam menyelesaikan pekerjaan." Jari telunjuk Mischa menari di bibir Alvito. "Takut sendirian." "Hari ini abang jadinya tidak ke kantor," bisik Alvito pelan. Alvito akhir-akhir ini jarang mengucapkan kata m***m dan vulgar. Dia bahkan selalu mengucapkan kata-katanya dengan lembut. "Abang mau nungguin Mischa di kampus." Mischa tertawa. "Lamaa ... Mischa kuliah dari jam delapan sampai jam dua belas." "Nggak apa, abang cuci mata sama cewek-cewek di kampus." "Silahkan." "Serius?" Alvito berkata kaget. Dia menatap wajah Mischa, biasa saja. Mischa mengangguk. "Memangnya kamu nggak cemburu?" "Nggak." "Kamu nggak cinta sama abang kalau kamu nggak cemburu." Alvito mulai kesal. "Kata Olive, Mischa yang paling cantik di kampus." Alvito tertawa. "Mungkin saja Olive berbohong." "Makanya liat aja, biar Mischa bisa tau kata-kata Olive benar atau tidak." "Sejak kapan kamu sombong begini?" "Bukan Mischa yang bilang, tapi Olive. Abang juga pernah bilang, Mischa perempuan yang paling cantik yang pernah abang kenal." Alvito menatap Mischa, baru bangun tidur saja dia begitu cantik. Ya benar itu. Mischa yang paling cantik dari semua wanita. "Aduh, harus siap-siap nanti telat." Mischa bergegas bangun. "Hei pembicaraan kita belum selesai," kata Alvito. "Abang buruan mandi kalau mau anterin Mischa." Mischa segera masuk ke kamar mandi. Alvito terkikik geli, kemudian terdiam. *** Mischa mengecup pipi Alvito saat masuk mobil seusai kuliah. "Abang nungguin di mana dari tadi?" "Di rumah teman," jawab Alvito. "Abang punya teman di dekat kampus Mischa?" "Banyak." "Teman cewek apa teman cowok?" "Cowok." Mischa mengangguk-angguk. "Eh jangan pergi dulu, temen-temen Mischa mau nebeng. Mischa ajak mereka makan siang." "Oh okey," jawab Alvito. Tiga orang teman sebaya Mischa datang dan masuk mobil. "Hai Bang Alv," sapa Olive. "Hai Olive. Jadi mau makan di mana?" tanya Alvito. "Di restoran yang di jalan besar itu aja, ya?" tanya Mischa ke belakang, diiyakan oleh teman-temannya. Alvito menurunkan Mischa dan teman-temannya di depan restoran lalu mencari parkiran. Alvito tersenyum senang saat melihat Mischa menunggunya di pintu masuk, rambutnya tertiup angin membelai pipi mulusnya. Alvito menyodorkan lengannya untuk dipeluk oleh Mischa. Mischa melihatnya dengan cemberut. "Kenapa lagi?" Kening Alvito berkerut. "Abang sengaja berpenampilan keren biar bisa tebar pesona ya?" "Kamu serius dengan ucapan itu?" jawab Alvito geli. Bagaimana tidak, dia berpakaian sangat biasa, kaus putih dengan outer gelap juga celana gelap. "Abang terlalu ganteng," bisik Mischa di telinganya seraya berjinjit. Alvito mencubit hidung Mischa. Mereka memasuki restoran, menuju arah Olive dan teman-temannya di meja pinggir restoran. Mischa menggandeng erat tangan Alvito. "Alvito." Alvito dan Mischa menoleh, "Mama." Mata Alvito memandang terkejut. Mamanya tengah makan juga di restoran itu bersama dua orang temannya. Mischa memucat. "S-siang tante." Mischa jarang bertemu dengan ibu kandung Alvito, tapi saat bertemu Mischa mengetahui kalau mama Alvito tidak menyukainya. "Ini Alvito? Sudah jadi pemuda gagah dan ganteng ya." Teman Sessy tertawa. "Pacarnya? Cantik ya." "Itu adik tirinya," sahut Sessy. Kedua teman Sessy tampak terbelalak. Kemudian memandangi Mischa lekat. "Kami makan dulu, Ma." Alvito harus segera membawa Mischa menjauh dari mamanya. "Sudah bertemu, makan di sini saja." Kata Sessy. Dia memanggil pelayan untuk menggabungkan meja mereka. "Tapi, Ma, ada teman-teman Mischa juga." Jawab Alvito. "Sekalian saja ajak gabung." "Ma---," "Bagaimana Mischa kalian mau gabung dengan ibu-ibu ini nggak?" Sessy bertanya pada Mischa. "Eh iya tante." Mischa memanggil Olive dan teman-temannya. Alvito berharap mamanya tidak berkata yang bukan-bukan. Mischa dan teman-temannya memilih menu, sementara Sessy dengan berisik membangga-banggakan Alvito pada kedua temannya sambil tertawa-tawa. Mischa sesekali melirik dan mencuri dengar. Sessy terlihat mendominasi percakapan, yang membuat Mischa kesal adalah Sessy berkata ingin menjodohkan Alvito dengan anak temannya. Walaupun Alvito dengan jelas menolak kata-kata mamanya. Makan siang itu jadi terasa menyiksa. Mischa juga tidak bisa fokus kepada obrolan Olive, juga teman-temannya. Alvito melihat wajah Mischa yang gelisah, kenapa mereka harus terjebak dalam suasana kaku seperti ini kalau mereka bisa berduaan dan bermesraan? "Ma, kami duluan ya, aku mau balik ke kantor." Alvito menyudahi pembicaraan itu. Membuat Mischa menghela nafas lega. Alvito membayar semua tagihan makan siang dan berlalu bersama Mischa dan teman-temannya. Mischa berpamitan dengan gugup. *** "Mama abang nggak menyukai Mischa." Mischa mendesah saat mereka sampai di rumah. Sepanjang perjalanan tadi Mischa larut dalam lamunan. "Itu karena mama tidak mengenal kamu sayang, mana ada orang yang tidak menyukai Mischa." "Abang." Mischa melingkarkan tangannya di leher Alvito. Posisi yang sangat dia sukai saat berpelukan dengan Alvito. Alvito mendekap pinggang Mischa. "Mischa ...." "Apa?" "Mischa sangat ... mencintai Bang Alv." d**a Alvito bergemuruh mendengar ucapan Mischa itu. "Mischa ingin bersama Bang Alv." Alvito mengetatkan pelukannya. Kemana dirinya yang selalu liar dan berhasrat saat bersentuhan dengan Mischa? Yang tertawa licik saat melihat Mischa terjerat dalam perangkap yang dia berikan? Ke mana dirinya yang tanpa peduli perasaan Mischa ingin mendapatkan kepuasan hasratnya? Yang bertekad menghancurkan hati juga tubuh Mischa? Alvito bungkam. "Abang ... Mischa ingin bercinta," kata-kata Mischa yang serupa desahan menghancurkan tembok yang dia bangun bertahun-tahun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN