Tangan Mischa gemetar saat memulas blush on di pipinya. Mischa teringat pada kata-kata abangnya, sedikitpun tidak mau hilang dari pikirannya.
"Kamu yakin mau meminumnya?" tanya Alvito saat itu. "Kalau calon bayi bertumbuh di sana, kita akan jadi papa dan mama sayang."
Alvito berbisik di telinganya lembut, tapi kenapa Mischa seperti mendengar bisikan iblis. Ya! Iblis yang membuatnya tenggelam dalam perasaan bimbang. Di satu sisi, dia benci dengan kelakuan abangnya, di sisi lain dia membenci dirinya sendiri, dia yang menolak kemudian pasrah. Apa sebenarnya dia menikmati? Mischa malu pada dirinya sendiri.
Menjadi mama dan papa, apa abangnya itu masih waras? Mischa tidak mengerti apa yang membuat lelaki yang tadinya penyayang berubah menjadi seperti itu.
Setelah merenung berkali-kali, Mischa akhirnya memutuskan. Dia mengangguk saat melihat bayangannya sendiri di depan cermin, tidak mungkin untuk saat ini. Mischa akan mencari cara untuk menolak Alvito. Tapi ... kenapa rasanya sulit?
Arisa melongok ke kamar Mischa, "Mischa, ayo turun sayang, Bang Alvito mau mengantar kamu ke kampus."
Nggak mau! Mischa tidak akan mau ikut abangnya. Mischa merapatkan jemarinya, hatinya sesak. Dia seorang yang kuat, ya-ya! Dia meyakinkan hatinya. Bang Alvito tidak benar-benar menyayangi dia, kalau memang demikian, bukankah seharusnya dia justru menjaga Mischa? Bukan malah ... Mischa menggeleng, berusaha lagi menghilangkan kejadian malam itu dari ingatannya.
Mischa telah kehilangan papanya sejak kecil, dia selalu sendirian. Mama juga kerap sibuk bekerja, saat Mischa bertemu dengan papa Bastian dan Alvito, dia barulah merasa kehadiran seorang laki-laki di hidupnya, terutama abangnya, begitu sempurna. Mischa mencintai Alvito seperti seorang abang yang luar biasa, sosok pengayom yang didambakannya selama ini.
Mischa diperlakukan bak seorang putri, dimanja, dihujani kasih sayang, Alvito selalu mengantar jemput ke mana-mana. Bahkan hampir tidak ada permintaan Mischa yang ditolak oleh Alvito. Dia langsung menempel pada Alvito. Dia sangat menyayangi Alvito. Bang Alv-nya yang dulu. Sebelum....
Bang Alv mencintai dia? Bagaimana bisa membedakan antara perasaan sayang dan cinta antar saudara dan pasangan?
"Mischa." Suara mamanya terdengar lagi.
Mischa tersentak dari lamunan. Dia buru-buru meraih tasnya. Saat keluar menuju ruang tengah, dia melihat Alvito. Pria itu telah duduk menunggu di sofa, melihatnya dan mengurai senyum yang sangat menawan, d**a Mischa tersentak. Dia segera mengalihkan pandang.
"Aku nggak mau berangkat sama Bang Alv," sahut Mischa ketus. Kata-kata Mischa membuat kening Alvito berkerut.
"Mischa?" Arisa pun sampai keheranan. "Kalian berantem?"
Mischa segera berlari keluar rumah. Dia akan naik taxi saja, Mischa belum tahu apa yang harus dia lakukan seandainya berduaan dengan abangnya saat ini.
"Kenapa adikmu, Alv?" Arisa bertanya.
"Mischa ngambek karena kemarin minta dibeliin tas, Ma," jawab Alvito cepat.
"Ya ampun anak itu." Iya ... Arisa ingat Mischa kemarin minta dibelikan tas, tapi Arisa mengatakan tasnya sudah sangat banyak. Pastilah dia merengek pada Alvito.
Alvito mengejar Mischa. Dia kemudian menarik tangan Mischa, Mischa berteriak, "Lepasin!"
"Kalau kamu berisik, abang cium kamu di sini."
Mischa tercekat, segera berhenti meronta mendengar kalimar itu. Alvito menatapnya. "Kenapa marah lagi?"
Mischa diam saja. Alvito menyeretnya, kemudian mendorong masuk ke dalam mobil. Alvito menyeringai saat melihat Mischa akhirnya menurut.
"Lucu ya, mungkin begini kalau sepasang kekasih bertengkar." Alvito menoleh ke arah Mischa. "Dulu, kita saja tidak pernah bertengkar seperti ini."
"Bang Alv bukan kekasih Mischa." Mischa menjawab datar.
"Kekasih dong sayang, kita sudah melakukan sesuatu yang sangat 'intim'."
Ah. Mischa tak ingin melihat wajah Alvito saat dia mengucapkan kata-kata itu. Intim?
"Semalam enak? Lagi, yuk." Alvito menggenggam tangan Mischa. Mischa meringis, menarik tangannya pelan.
Alvito menatapnya, dia akan menjadikan Mischa budaknya. Alvito menyeringai.
"Ke mana ini?" Mischa melihat tujuan mereka bukanlah kampusnya.
Alvito mengendarai mobilnya memasuki wilayah perumahan, setelah melewati security mereka berhenti di sebuah rumah yang bernuansa minimalis modern.
"Di mana ini?" tanya Mischa bingung.
"Rumah abang."
Mischa terbelalak. Kenapa dia baru tahu kalau Bang Alv memiliki rumah sendiri? Alvito cepat keluar mobil dan menarik tangan Mischa.
"Mau ngapain, Bang Alv?" Misha hampir menangis. Alvito membuka pintu. Rumah itu terlihat mungil tapi interiornya sangat bagus, dengan perabotan bergaya rustic.
Ini pasti dari workshop-nya Bang Alv, pikir Mischa. Belum sempat Mischa bertanya lagi, Alvito menggendongnya. "Aaa ...!" Mischa berteriak.
"Abang mau berduaan," bisik Alvito di telinga Mischa. Alvito menggendong Mischa menuju kamar.
"A-abang jangan." Mischa terengah.
Alvito menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Mischa menatap sekilas kamar itu. Apa Bang Alv sering kemari? Rumah ini tampak terawat.
"Di sini kita bebas. Mau bermesraan bagaimanapun juga."
"Tapi Mischa nggak mau." Mischa menggeleng. "Mischa harus ke kampus." Mischa menggigil. Tubuhnya bereaksi berbeda dari ucapannya.
Tubuh berat Alvito menindihnya, nafasnya terasa di wajah Mischa. Aroma tubuh Alvito menerpa Mischa, membuatnya dilema dan tak berdaya.
"Sekali-kali bolos tidak apa." Alvito mencium bibir Mischa. Mischa mengelak, Alvito mengejar ke mana arah bibir Mischa bergerak.
"B-bang Alv. Mischa nggak mau." Lagi-lagi Bang Alv mengabaikan ucapannya.
"Nikmati sayang, lebih baik kalau Mischa membalas."
"Nggak. Mischa nggak mau."
Alvito terkekeh. "Mischa penasaran kan dengan percintaan dewasa, abang sudah mengajarkannya."
"Nggak! Siapa bilang?" Mischa menjadi shock.
"Jangan bohong. Abang tau Mischa sering membaca cerita dewasa di smartphone."
A-ahhh ... itukan. Itu, kan ... Mischa memerah. Kenapa Bang Alvito bisa tau? Itu sesuatu yang berbeda.
"Bagaimana kalau kita nonton film dewasa. Setelah itu kita praktekan apa yang kita lihat." Bisa-bisanya Alvito menawarkan hal semacam itu.
Mischa diam lidahnya kelu. Mischa berbaring pasrah di atas ranjang saat Alvito melakukan yang keinginannya.
Alvito menarik Mischa mendudukkan di pangkuannya. Mereka sangat dekat, Mischa malu sekali dengan posisi ini. Alvito membuatnya membuatnya merasakan lagi pengalaman baru.
Alvito meninggalkan Mischa yang terbaring di atas tempat tidur menuju kamar mandi.
Begitu saja? Bang Alv tidak mengajaknya bercinta? Tidak melakukan apapun? pikir Mischa.
Alvito keluar dari kamar mandi, Mischa telah memakai pakaiannya kembali. Rambutnya berantakan, karena sentuhannya tadi, Alvito membuatnya sedikit terbuai. Adiknya bahkan terlihat menarik seperti itu.
"Sudah terlalu terlambat ke kampus, kita jalan-jalan, yuk?" ajak Alvito dengan senyum manis di wajahnya. Dia menyukai Mischa yang penurut, sebagai balasan atas perlakuannya, dia akan memberikan apa yang diinginkan oleh Mischa.
Mischa mengangguk lemah. Alvito mendekatkan kepala Mischa dan mengecup pipinya. Alvito terlalu lihai untuk Mischa lawan.
"Katanya Mischa kepengen beli tas. Ayo abang beliin."
Mischa menggangguk.Dia sendiri bingung kenapa bisa begitu saja menerima ajakan abangnya.
***