Jadi setelah sambungan telepon itu, Bahlawan cepat-cepat pulang. Tiba-tiba hidungnya sudah tidak berair lagi ketika ia memarkirkan motornya di halaman rumah orangtuanya. Ia mengucap salam sambil berjinjit-jinjit melepas tali sepatunya di depan pintu rumahnya. “Ada apa? Apa kau tidak dapat izin istirahat?” Ibunya menghampirinya, tapi Bahlawan hanya meremas lembut lengan ibunya ketika ia berjalan melewatinya untuk masuk ke kamar. “Dapat. Tapi aku harus pergi, Bu.” Bahlawan sambil membuka kemeja seragam dan menggantungnya di hanger. “Ke mana?” Ayahnya tiba-tiba muncul dibalik tubuh ibunya, menatap Bahlawan dengan mata menyipit. “Ke kota. Menemui seorang teman.” Tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya jujur. Bahlawan sangat jarang berbohong dengan orangruanya. Ia sengaja mengatakannya sa

