How They Met

2443 Kata
Lazuardi mengawasi Eris di ambang pintu kamar yang sedang menata rambutnya menjadi sanggul di depan cermin dengan sangat lihai. Tidak lupa wanita itu menjepit rambutnya dengan penjepit pita besar. Lalu melakukan make-up dengan lihai, mengoles bibirnya dengan sesuatu yang Lazuardi sampai saat ini tidak tahu yang mana, yang disebut apa. Lipgloss atau liptin? Setelah selesai Erin mengedip sebelah mata ke arahnya melalui cermin. Membuat Lazuardi memutar bola matanya. “Tidak pernah bosan, ya?” Erin bertanya sambil bangkit berdiri. Ia melompat-lompat kecil ke dalam pelukan Lazuardi. Mengulurkan kedua tangan ke leher Lazuardi, memeluk pri aitu erat. “Tidak akan pernah, cariño.” Lazuardi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eris. Ingin mencium puncak kepala wanita itu tapi mengurungkan niat. Ia mungkin akan merusak riasan Eris jika melakukannya. Dan sekarang Eris malah memeluk Lazuardi makin erat. “Aku tidak ingin pergi,” rengeknya dengan bibir mencebik. Lazuardi tergelak sekali. Akhirnya mencium ringan dahi Eris. “Ayo, kau punya orang yang bergantung padamu.” Lazuardi menunggu hingga Eris-lah yang melepaskan pelukan lebih dulu. Sebelum ia mengatakan, “Aku akan menjemputmu setelah kau selesai. Apa itu bisa membuatmu senang?” Eris langsung tersenyum lebar. “Dan makan malam?” Lazuardi memutar bola matanya lagi. “Dan makan malam.” Eris berjingkat-jingkat lagi. Kemudian ia mengambil jaket dan tasnya. Masih dengan senyum mengembang, memesan taksi online dengan ponselnya. Lazuardi harus maju untuk memperbaiki kerah jaket hoodie-nya yang tidak beraturan. Lazuardi mengikuti wanita hingga keluar apartemen. Eris yang telah menunggu cukup lama untuk lift utama datang. Akhirnya berpindah ke lift khusus karyawan setelah meminta seseorang akses seorang petugas kebersihan. Eris melambai dengan senyum mengembang sampai pintu lift membuka. Eris tampak ragu-ragu sebelum masuk sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya. Setelah itu barulah Lazuardi merasakan tubuhnya melemas. Jadi dengan langkah terseret ia kembali ke dapur. Ia merasa ia butuh minum. Jadi ia mengeluarkan bir non-alkoholnya dari dalam kulkas dan menegaknya saat itu juga. Lima tahun. Ia sudah bersama Eris selama lima tahun. Ia bertemu dengan Eris secara tidak sengaja ketika ia mengadakan sebuah rapat besar di hotel tempat Eris bekerja dan wanita itu menarik perhatiannya saat itu juga. Lebih tepatnya ketika para anggotanya itu sedang istirahat makan siang. Percakapan dan komentar mysoginy pada setiap pegawai hotel wanita yang lewat di dekat mereka.  Saat itu Eris tengah berkeliling ke setiap meja bundar yang disediakan. Memeriksa setiap gelas dan piring dengan wajah sangat serius kepada para bawahannya yang mengerut mendengarkan. Namun tersenyum kepada para anggota rapat yang memiliki pertanyaan dengannya dan Eris cukup serius dengan mereka. Tidak menanggapi sikap menggoda dari sebagian pria yang menanyainya atau dengan sengaja menghindar dari mereka. Lazuardi sendiri selalu merasa ia tidak membutuhkan lebih banyak masalah lagi di negara orang. Selain pekerjaan yang sudah membuatnya pusing kepala dan orang-orang disekitarnya. “Lha, Pak Lazuardi sendiri bagaimana? Betah sekali selama bertahun--tahun tinggal jauh dari rumah tanpa siapapun yang menemani?” salah satu direktur itu disusul oleh gelak tawa para pria paruh baya itu. Lazuardi hanya tersenyum masam. Walau memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan secara langsung. Ia tahu sebagian pria yang duduk bersamanya ini masing-masing memiliki wanita selain istri mereka di rumah dan entah bagaomana masih saja membicarakan tentang gadis-gadis muda yang abru saja mereka lihat. Setelah Lazuardi menghabiskan sangat sedikit makanan yang ada di hadapannya dan sudah sangat lelah dengan basa-basi yang terjadi di meja makan bersama para direktur Ruiz Tbk itu, Lazuardi memohon diri untuk ke toilet sebentar. Ia merasakan ketenangan begitu keluar dari  ballroom walau hanya sebentar. Ia juga tidak sengaja bertemu dengan salah satu karyawan Ruiz di toilet dan pemuda malang itu langsung membungkuk dalam dan kabur secepat yang ia bisa. Lazuardi yang sudah terbiasa dengan adat orang Asia yang selalu membungkuk itu jadi ia membalasnya sebelum menyelesaikan niatnya. Ketika ia selesai langkahnya berhenti begitu ia mendengar suara tawa di koridor dengan lantai belapis karpet tebal ini. Lazuardi mencari asal suara dan mendapati Eris-lah yang tengah tertawa sambil memandangi layar ponselnya. Sebuah lagu terdengar di latar dengan bahasa yang Lazuardi yakin bukan bahasa yang dikuasainya. Lazuardi yang mengintip dari depan pintu toilet itu mengamati ekspresi Eris dengan takjub. Bagaimana wanita yang tadi sangat serius dengan pekerjaannya. Sekarang tertawa sampai terbungkuk memegang perut untuk apapun yang baru saja ia lihat pada ponsel di koridor saat ini. Setelah tawa itu mereda barulah Lazuardi keluar dengan kedua tangan di saku celana. Eris saat itu juga langsung berdiri tegak. Mengubah eksrpresinya menjadi datang saat itu juga. Kedua tangannya di belakang tubuh dengan punggung menempel di dinding. Eris membungku ketika Lazuardi berada di hadapannya. “Apa yang kau tertawakan itu?” tanya Lazuardi dengan aksennya yang masih terbata. Eris mengerjap beberapa kali sebelum berkata, “Maaf?” Lazuardi mengeluarkan tangan dari saku celana untuk menunjuk ponsel yang disembuyikan Eris di balik tubuh. “Itu. Cellphone. Laugh.” Mata Eris saat itu juga melebar. “Anda mendengarnya?” Lazuardi mengulum senyum. “Of course. Kau keras sekali.” Saat itu juga Eris menunduk dalam. Mulutnya komat-kamit dengan sesuatu. “Well, kalau kau mau secrets-mu save with me. Bagaimana kalau makan malam denganku malam ini?” Eris mengangkat wajahnya. Ia menggeleng-geleng. “Kalau begitu aku akan memberitahu that poor server yang kau marahi di dalam tadi.” Lazuardi memiringkan kepalanya ke satu sisi. “I remember now. Itu Korean tadi, kan?” Lauzardi menikmati ekspresi horor Eris dan ia tahu wanita itu panik. Jadi ia menunggu. Setelah wanita itu cukup tenang dan berlama-lama memandangi name-tag nya. “Anda tidak mungkin serius.” Lazuardi mengedikkan bahu. “Try me.” Ketika waniat itu mendongak ke arahnya. Barulah Lazuardi punya kesempatan untuk memerhatikan setiap lekuk wajahnya. Eris jelas wanita asli Indonesia. Kulit sawo matang, alis dan bulu mata yang tebal. Rambut hitam yang tersanggul rapi dengan jepitan. Seragam dan jasnya menampilkan lekuk tubuhnya. Hidungnya kecil menggemaskan. Tulang dagu tegas dan bibir tebal.  “Just a dinner. Wouldn’t hurt anybody,” ajak Lazuardi lagi. Dan akhirnya Eris menyetujuinya. Akhirnya mereka makan malam disebuah restoran mewah yang tidak jauh dari apartemen yang Ruiz Tbk. belikan untuk Lazuardi. Eris sempat bertanya pakaian seperti apa yang harus wanita itu kenakan dan sekarang ia tampak cantik dengan dress satin panjang berwarna biru navy dan rambutnya yang digerai. Make-up nya sangat tipis hanya agar membuat wajahnya tidak tampak pucat di bawah cahaya temaram di sky-dining dengan pemandangan pencakar langit ibukota. Lazuardi menarik kursi untuk Eris dan wanita itu mengucap terimakasih. Ketika Lazuardi duduk di kurisnya dengan penuh kesadaran betapa tidak nyaman Eris. Ia masih juga terkejut dengan hal pertama yang wanita itu katakan malah: “Saya benar-benar melakukan hal yang dulu tidak pernah terpikir akan saya lakukan.” “Apa?” “Menerima ajakan kencan dari seorang costumer.” Eris menggeleng-geleng. “Mungkin karena kau hanya tidak ingin orang-orang tau kalau kau suka Korea.” Eris mengedikkan bahu dengan kepala dimiringkan. “Mereka hanya tahu kalau saya tidak punya hati.” Setelah itu ia terus mengajak Eris bercakap-cakap hingga wanita itu tampak santai. Namun ketika mereka memesan makanan. Eris menolak sebotol wine darinya. “Aku tidak suka sensasi setelahnya. Maaf.” “Tapi kau bekerja di hospitality.” Lazuardi sambil menyesap minumannya. “Tapi bukan berarti aku juga suka minum. Hanya untuk lulus ujian saja, terimakasih.” Lazuardi mendapati dirinya menyukai bercakap-cakap dengan Eris. Karena Eris memiliki pengetahuan yang luar biasa. Ia sepertinya tahu semua apa yang terjadi dalam dan luar negeri. Terutama politik dan entertainment. “Karena costumer,” kilah Eris ketika Lazuardi tanya alasannya. Entah karena minumannya atau apa. Tapi pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Lazuardi. “Kau jelas punya pengalaman untuk semua ini. Bukan tentang keluar dengan costumer, tentu saja.” katanya dengan Bahasa Inggris. Senyum Eris menghilang saat itu juga. Pada saat itulah Lazuardi menyadari warna mata Eris yang cokelat madu. “Tidak. Ini yang pertama.” Lazuardi langsung meminta maaf saat itu juga. “Maaf, aku juga bersenang-senang di sini. Tapi kalau kau mau... Kau tahu, sesekali aku bawa makan malam lagi...” “Oke.” Jawaban yang sangat cepat itu membuat Lazuardi terpana. Karena pada hari itu Lazuardi untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada di negara asing akhirnya ia bisa merasakan rileks. Entah berapa banyak gelas wine yang sudah ia tegak malam itu. Karena Lazuardi tahu malam itu pergi dengan sopir. Lazuardi bisa seperti itu karena tidak sekalipun terdengar keluhan sedikitpun dari Eris. Bahkan setelah makan malam mereka berakhir. Tubuh Eris yang ramping itu dengan mudah menyokong tubuh besar Lazuardi agar pria itu bisa berdiri tegak untuk meninggalkan restoran. Disela-sela itu Lazuardi yang setengah sadar mencuri kesempatan untuk menghirup aroma Eris dari atas telinga wanita itu. Namun Eris sama sekali tidak memakai parfum dan tidak bereaksi bahkan ketika ujung bibir bawahnya menyentuh puncak telinga wanita itu. Lazuardi ingat Eris-lah yang menarik lengannya untuk dilingkarkan di pinggang gadis itu agar ia bisa berjalan dengan lurus. Dan bagaimana mereka tetap berdiri seperti itu hingga di lobby dan selama menunggu sopir Lazuardi datang menjemputnya. Ia juga ingat desakan kuat untuk mencium wanita itu saat itu juga. Bahkan ketika Eris sama sekali tidak canggung dengan kedekatan mereka itu. Bahkan dalam ingatan Lazuardi yang kabur itu ia tahu tidak ada sedikitpun ekspresi yang tergambar di wajah Eris. Tapi Eris malah melepaskannya duduk sendirian di kursi belakang mobilnya. Wanita itu juga menolak – dengan penuh penekanan – dengan alasan “malam itu sangat berkesan baginya dan ia tidak sabar menunggu undangan makan malam selanjutnya”. “Kali ini biar saya yang pilih restorannya. “ Lalu Eris mengucap salam dan membanting pintu di depan wajah Lazuardi.   Keesokan harinya Lazuardi baru menyadari betapa kacaunya ia hari itu. Belum lagi sang sopir dengan sangat tenang mengomentari kencannya keesokan harinya. “Anda mengacaukan segalanya semalam, Sir.” “Tidak perlu kau beritahu. Aku sudah tahu.” Lazuardi sambil memijat pelipisnya dengan jemari akibat pengar semalam. Untungnya Lazuardi bisa menyelesaikan pekerjaannya di kantor barunya itu tanpa membuat semacam kehebohan. Tapi bukan berarti ia bisa mengelabui sang sekretaris yang terus memberinya pandangan menyipit sebelum menghilang dan kembali dengan sepapan obat dengan merek yag tidak dikenalnya. “Aspirin lokal,” jelas wanita mungil berkacamata tebal itu sambil menyodorkan segelas air putih. Ketika Lazuardi cukup pulih setelah meminum obat, ia akhirnya memutuskan untuk menelpon Eris. Tapi Eris tidak mengangkat teleponnya sebelum lewat tengah hari. Selama menunggu wanita itu mengangkat teleponnya ia telah membuat Lazuardi bertanya-tanya apakah pria itu sudah benar-benar mempermalukan dirinya sendiri apa tidak. “Saya tidak menyangka Pak Lazuardi bisa tetap bekerja setelah minum begitu banyak semalam.” Eris dengan Bahasa Inggris. “Percayalah. Aku tidak pernah minum sebanyak itu selama beberapa tahun terakhir.” Lazuardi menanggapi dengan bahasa yang sama. Sekarang tengah duduk melorot di kursi kerjanya. Mencoba menghilangkan sisa peningnya dengan memijat pelipis dengan ibu jari dan telunjuk. “Maafkan aku. Ini karena kau sudah membuatku begitu nyaman.” Tidak ada jawaban. “Jadi apa yang harus aku lakukan untuk kau mau memafkanku?” Lazuardi menunggu dengan sabar hingga akhirnya Eris menjawab. “Pak Lazuardi bisa mengajak saya makan malam lagi. Tapi kali ini saya yang pilih tempatnya.” Pada saat itulah Lazuardi tahu Eris akan banyak memberinya kejutan. Lazuardi tersenyum dengan semua kenangan itu dan dengan kaaleng bir yang tinggal separuh di tangan. Ia memutuskan untuk bersantai di ruang tengah. Setelah semalaman menghadapi audit internal yang melelahkan dan tidak lupa penuh dengan drama. Lazuardi merasa ia layak untuk mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri dan melupakan apa yang sudah terjadi semalam. Beberapa tahun yang lalu ia masih bekerja di tanah kelahirannya, Madrid. Karirnya menanjak dengan stabil karena kelihaiannya dalam bertutur-kata dan betapa menyenangkan dirinya. Sehingga entah bagaimana ia bisa mendapatkan tawaran untuk pindah ke sisi lain bumi ketika menginjak usia lima puluh tahun. Ke alah satu anak perusahaan yang bergerak dibidang tambang batu bara yang dimiliki turun-temurun oleh keluarga berdarah Spanyol di Pulau Kalimantan, Indonesia. Tapi walau telah dipandang seperti itu bukan berarti semua orang menyukai Lazuardi. Apalagi ia datang dari jauh dan tiba-tiba menduduki posisi tinggi di perusahaan tersebut. Tentu saja  kedatangannya itu mengundang banyak kebencian yang dipulas dengan senyum munafik yang hingga saat ini masih harus diterimanya. Lazuardi lalu menghela napas panjang. Ia menghidupkan TV dengan kaki bertumpu di atas meja kopi. Sesekali masih menyesap bir non-alkoholnya sambil terus mengganti channel TV yang sama sekali tidak menarik pada jam segini. Ia meneguk tetes terakhir minumannya dan berniat untuk mulai rebahan di satas sofa ketika ia mendengar suara ponselnya dikejauhan. Mengumpat, ia menyeret dirinya bangun untuk mengambil ponsel yang masih terselip di dalam saku jasnya di kamar. Nama sang sekretaris terpampang di layar. Membuat Lazuardi mengerutkan dahi. “Ini sebaiknya kabar buruk.” “Memang,” sambar di sana tanpa memperhalus kalimatnya sama sekali. “Kalau ini masalah audit internal...” “Sama sekali bukan. Ini jauh lebih parah.” Jadi sang sekretaris akhirnya menjelaskan dengan suara datar dan sedetail mungkin. Semakin lama penjelasan itu, semakin mengerut dahi Lazuardi. “Dan kenapa harus aku? Apa mereka tidak punya  tim humas di sana?” “Nyalakan TV sekarang, Senor Moreno. Saya rasa salah satu channel sedang membahasnya sekarang.” Dengan remote ditangan Lazuardi memindahkan channel TV hingga ia menemukan berita yang dimaksud oleh sekretarisnya. Sebuah demo besar-besaran di depan kantor cabang Ruiz Tbk di Kalimantan. Berkata perusahaan mereka hanya membawa kematian bagi penduduk setempat dan ketimpangan sosial lainnya. Belum lagi janji-janji perbaikan jalan yang tidak kunjung dikerjakan dan bagaimana mereka tidak peduli dengan safety para pekerjaannya. Lazuardi mengumpat dalam Bahasa Spanyol lalu mematikan TV. “Baiklah.” Ia kemudian mendongak ke dinding untuk melihat pukul berapa sekarang. “Setahuku tiket untuk ke sana tidak ada setiap saat?” “Ada satu. Lewat tengah malam. Jika Senor tidak masalah berangkat dengan kelas ekonomi.” Lazuardi memutar bola matanya. “Urusan ini jauh lebih serius daripada harus duduk di kelas ekonomi.” Tapi ia lebih lega karena ia tidak perlu membatalkan janjinya dengan Eris. Hening sejenak. “Kenapa tidak semua bos seperti Anda, Senor?” Lalu sang sekretaris mengucap salam lalu menutup sambungan telepon. Lazuardi mendengus geli. Jelas memang tidak ada bos seperti dirinya di perusahaan itu. Walau sangat lelah Lazuardi hanya mengambil setelan jasnya dan meninggalkan apartemen itu untuk kembali ke apartemen milik perusahaan untuk mengambil barang-barang pribadi yang dibutuhkan. Ia juga menelpon sopirnya untuk membuat janji agar bersedia datang menjemputnya di tempat makan manapun yang akan dipilih Eris nantinya. Di sana Lazuardi mengambil sisa waktu dengan tidur sebanyak yang ia bisa. Walau kepalanya penuh dengan banyak spekulasi... Lazuardi akhirnya menyeret dirinya bangun untuk mandi begitu langit sudah menggelap. (Ia merasa harus menyiram kepalanya lagi) Tidak lupa membawa dua tas kecil berisi barang- barang kebutuhannya. Ia butuh menemui Eris untuk membuat dirinya cukup waras untuk menghadapi apapun yang harus ia hadapi nantinya... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN