Cengiran di wajah Andaru sangat berbeda dengan eksprsi yang ada di wajah Bahlawan petang itu. Lubang hidungnya sudah terasa pedas akibat ia yang terus menyisih hidungnya yang berair. Matanya terasa pedas dan ia merasakan tubuhnya mulai menggigil bersamaan dengan hari yang semakin gelap.
Polisi muda itu sebenarnya masih terganggu dengan kemarahan ayahnya akibat pertanyaannya tadi siang. Kenapa pula ayahnya harus semarah itu untuk sebuah pertanyaan yang cukup dijawab dengan “iya” atau “tidak”.
Jadi Bahlawan sekarang duduk di atas ranjang dan tumpukan tisu yang mulai menggunung di sebelahnya. Mencoret-coret buku jurnalnya dengan kejadian demi kejadian yang terjadi setelah Sang Chief ditemukan tidak sadarkan diri di tambang batu bara pada malam hari yang dirundung hujan deras dan ia tidak lupa memasukkan “temuan-temuanya” dan juga cerita dari orang yang menemukan Sang Chief pertama kali.
Setelah menulis nama temannya itu, Bahlawan mulai berpikir keras. Temannya itu tampak terlalu santai untuk seseorang yang baru menyaksikan sesuatu yang untuk orang lain mungkin akan membuat trauma. Tapi pria itu juga terkenal sebagai – seperti yang Bahlawan baru katakan tadi – sangat santai sehingga ia sudah pasti tidak terlalu memikirkan kejadian itu sejauh Bahlawan.
Sambil menggigit ujung penanya, Bahlawan akhirnya memutuskan untuk menelpon temannya itu saat itu juga. Ia yakin pria tersebut belum masuk bekerja…
“Ada apa? Kalau kau ingin mengajakku main. Aku…” sambar pria itu begitu ia mengangkat telepon Bahlawan. Membuat Bahlawan menarik napas panjang.
“Aku tidak ingin mengajakmu main. Hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan.”
“Lagi?” Hening sejenak. “Tapi tunggu dulu. Ada apa dengan suaramu itu? Apa kau terserang flu?”
Secara bersamaan Bahlawan kembali menyisih hidungnya dengan sangat kras. “Aku tidak apa-apa. Jadi dengarkan saja…”
“Astaga, Bahlawan,” potong temannya itu lalu berdecak. “Kalau ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Sang Chief lagi. Aku…”
“Benar. Ini tentang Sang Chief. Jadi tolong dengarkan aku dulu, oke?” Bahlawan berusaha menenangkan dirinya. “Aku hanya ingin tahu selain menemukan Sang Chief Apa saja yang kau lihat di sana pada malam itu?”
“Kau tahu lampu penerangan di tambang selalu buruk. Apalagi malam itu hujan turun dengan sangat deras.” Lalu suara terkesiap. “Sang Chief tertinggal sendirian karena ia bersikeras untuk memperbaiki loader yang mogok. Dan… sebenarnya aku menemukannya keadaan masih sadar.”
“Apa?!” Bahlawan berteriak, namun terbatuk-batuk setelah itu.
“Well, aku mungkin lupa memberitahu Sang COO bule itu informasi yang terakhir itu. Karena, toh tidak ada bedanya…” kata temannya itu dengan suara sangat pelan.
“Sialan kau! Tentu ada bedanya!” Bahlawan dengan suara yang lebih serak sekarang. “Itu membuat kemungkinan kejadian yang menimpa Sang Chief bukan murni kecelakaan bisa lebih besar!”
“Kau dan kecintaanmu dengan drama kriminal. Itukah alasan kenapa kau bersikeras ingin menjadi polisi? Temannya itu berdecak.
Tapi setelah mendengar itu membuat Bahlawan malah makin lemas. Ia malah melemparkan buku jurnalnya ke belakang tubuhnya. Sepertinya obat yang ia minum tadi mulai bekerja. “Terimakasih atas informasinya. Aku akan menelponmu lagi kalau obat flu sialan ini sudah menghilang sepenuhnya dari tubuhku…” Dan Bahlawan kemudian menutup sambungan telepon dan memejamkan mata…
***
Walau Eris sudah tahu Lazuadi tidak akan pulang pada saat makan malam. Ia tetap saja berharap mendengar suara kunci pintu apartemennya ditekan dan Lazuardi muncul dengan sekantung besar cokelat pesanannya. Aneh saja rasanya makan malam sendirian lagi setelah berhari-hari ada yang menemani. Namun Eris memaksakan dirinya untuk kembali membiasakan diri…
Eris mencuci bekas makan malamnya dengan sangat lambat dan bibir memberengut. Tidak henti-hentinya ia melirik ke arah jam di dinding atau penunjuk yang ada di ponselnya. Bahkan ketika ia sedang berbaring menonton video kompilasi lucu BTS di youtube dengan piyama putihnya yang bergambar si alpaka RJ di kamar tidurnya. Eris masih belum berani untuk tertawa keras-keras dengan plester yang masih menempel di perut bagian bawahnya. Jadi dibeberapa kesempatan ia harus menutup mulutnya rapat-rapat, namun tetap saja tidak berhasil…
BTS sudah bisa dibilang penyelamat pertamanya. Lebih berjasa daripada Lazuardi dan telah menemaninya di saat-saat terburuk dalam hidupnya. Eris hanya bersyukur – walau masih terus memberengut ketika Eris terkadang lebih memilih menonton siaran langsung V-Live – daripada meladeni obrolan Lazuardi. Pria itu tidak begitu memusingkan dengan kamarnya yang penuh dengan pernak-pernik BT21 dan satu lemari penuh yang berisi merchandise.
Setelah entah berapa banyak video BTS yang ia tonton dan ia baru teringat ia lupa meminum obat malamnya. Jadi ia menuju ke dapur di mana ia meletakkan obat-obatannya di dalam keranjang kecil di atas konter. Sambil menegak air, sebelah tangannya mengotak-atik ponselnya. Setelah menegak obat terakhir akhirnya Eris mendengar suara tombol kunci pintu ditekan dan ia langsung berlari ke depan saat itu juga. Akibat terburu-buru Eris meringis pedih. Lupa kalau ia masih harus terus berhati-hati.
Lazuardi dan sekantung besar belanjaan adalah hal pertama yang ia lihat sebelum seseorang lain yang berdiri di belakangnya.
Hal pertama yang terlintas di dalam kepala Eris adalah Lazuardi – entah bagaimana – ingin memperkenalkan Eris pada istrinya. Karena walau hari sudah gelap sedari tadi – wanita itu masuk ke apartemennya menggunakan kacamata hitam buatan desainer dan jelas tampak sangat mahal. Eris membeku dan matanya melebar, bahkan ketika Lazuardi mendekatinya dan memberinya kecupan ringan di puncak kepala. Sesuatu yang dilakukan pria itu dengan sangat santai dan langsung melewatinya begitu saja.
“So, are you Eris?” tanya wanita itu lalu membuka kacamata hitamnya. Sekarang mata Eris malah makin menyipit. Wanita itu jelas terlalu muda untuk jadi istri Lazuardi dengan aksen kental yang khas.
“Yes, I am. And you are?”
Wanita itu mendekat mengulurkan tangannya ke arah Eris. “Sasha Moreno. That guy that kissed you earlier. It’s my Papa.”
Eris mengerjap beberapa kali sebelum menoleh dengan cepat ke belakang. Ke arah Lazuardi yang menghilang entah ke mana. Mungkin ke kamar mandi di kamarnya. Jadi ia berbalik lagi ke arah tangan yang masih terulur itu sebelum menjabatnya dengan ragu-ragu.
“I beg you perdon?"
"Pria itu. Pria yang membelikanmu sekantung besar cokelat itu. Papaku." Wanita muda itu melepaskan jabat tangannya dan sekarang memiringkan kepala. Sebuah senyum bermain di bibirnya yang tipis dan merah. "Dios, apa kau mengira aku adalah Mama-ku?"
Eris mengedikkan bahu. Merasakan tubuhnya merileks saat itu juga. "Oh, oke. Aneh sekali rasanya. Aku masih tetap tidak tahu harus merespon seperti apa untuk... kedatanganmu yang tiba-tiba ini."
"Biasa saja, tidak apa-apa." Sasha lalu menjatuhkan pandangan pada piyamanya. "Jadi kau menemani Papa dengan piyama itu?!" serunya sambil menunjuk pakaian Eris dengan ujung tangkai kacamata hitamnya.
"Si, setiap malam." Lazuardi muncul kembali. kali ini terlihat lebih segar dengan wajah yang jelas sudah dicuci. "Tapi Eris manis, kan?"
Sasha berdecak. "Senora, kau jelas telah menyia-nyiakan kartu hitam Papa kalau begitu."
***