Hasitant (2)

1007 Kata
Sedangkan seorang pria tengah berdiri di depan pagar geladak sambil bersandar. Rambutnya yang tumbuh cukup sangat sekarang bergerak-gerak ditiup angin. Sesekali mengenai matanya, membuatnya menyugar rambutnya. Menyaksikan sebuah speedboat yang melaju ke arah kapal. Membawa para diver kembali dari lokasi sumur dengan pakaian selam mereka yang tampak cemerlang akibat air asin yang masih menetes. Sekarang sudah lewat tengah hari dan sebagian besar dari mereka memang sengaja mengundur makan siang karena ombak yang cukup tinggi tadi pagi.Membuat sebagian besar pekerjaan terhambat. “Tiang-tiang scaffolding sudah siap dipasang sekitar tengah hari besok,” Andaru memberitahu Lary yang sekarang berdiri di sebelahnya dengan papan klip nya seperti biasa. Sekarang pandangan Andaru jatuh kepada para diver yang tengah dibantu naik ke atas kapal dan tengah melepaskan tabung oksigen mereka. “Setelah para diver mengizinkan, tentu saja.” Lary tanpa mengangkat wajah dari atas papannya. Andaru mengeram. “Aku tahu kau ingin pekerjaan ini cepat selesai…” “…Dengan begitu bonusnya lebih banyak…” Andaru cepat. “…Tapi kau harus belajar bersabar.” Lary akhirnya mengangkat wajahnya, menyeringai. Andaru melirik ke arah tiang-tiang scaffolding yang sekarang sudah ditata rapi di sudut terjauh deck. Andaru juga sudah tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua itu besok. Setelah - seperti yang dikatakan Lary tadi– para diver memberi mereka izin untuk melakukannya. “Kalau begitu ayo kita makan siang. Aku sudah benar-benar lapar,” ajak Andaru kepada Lary dengan alis naik-turun. Pria muda itu mengangguk. Sama-sama mereka berjalan menuju pintu yang menghubungkan deck dengan ruang makan. Namun sebelum kaki Andaru menyentuh melangkah ke tangga. Ia merasakan ponselnya berbunyi bergetar di saku coverall. Ia ingat terakhir kali ia mendapatkan pesan dari ponsel itu pagi tadi. Sebelum ia harus pergi membantu Abah Tambun dengan pekerjaannya. “Oh, bagaimana kau bisa mendapat signal sedangkan aku tidak?” Lary yang satu tangga di bawahya itu memberungut sambil memeriksa ponselnya sendiri dan dengan marah menjejalkannya kembali ke saku coverall-nya. Lary masih tinggal untuk mengawasi Andaru yang tengah memandangi layar ponselnya dengan mata yang perlahan melebar. Sekarang alis mata pria muda naik sangat tinggi karena sekarang Andaru sampai harus menutup mulutnya akibat suatu pesan yang secara harfiah telah dibawa oleh angin itu. “Jadi kau masih mau makan siang apa tidak?” Lary tidak sabar. “Pergilah lebih dulu. Aku harus membalas pesan penting ini.” Lary masih sempat memberinya cibiran sebelum berbalik badan meninggalkannya. Sedangkan Andaru berbelok menjauh. Masih membaca pesan yang masuk dalam w******p-nya itu berulang-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri. Maaf, Mas Andaru. Tapi pemandangnnya sangat cantik. Di mana itu? Boleh aku mendapatkan foto aslinya? Eris. Wanita itu tiba-tiba mengomentari status w******p-nya yang berupa pemandangan matahari terbit yang tadi pagi. Status yang ia sendiri butuh beberapa kali kirim akibat sinyal terus hilang dan timbul. Andaru sebenarnya sangat jarang memperbaharui statusnya. Dan selain dari Eris, ia juga mendapatkan komentar dari orang lain tentang foto yang sama. Termasuk dari ibu pemilik kontrakannya. Itu dan lengkap denga mendoakan kesehatannya. Brgitu juga dengan beberapa teman lama menanyakan di mana keberadaanya. Tentu saja Andaru memberi foto yang ia ambil itu lengkap dengan beberapa pertanyaan sopan tentang bagaimana keadaan wanita tersebut setelah menjalani operasi. Namun bar sinyalnya kosong dan ia mulai mengocok ponselnya sambil berjalan tidak tentu arah. Sesekali mengangkat ponselnya ke atas kepala. Kalau dilihat dari kejauhan seseorang pasti mengira ia sedang melakukan tarian meminta hujan… Setelah melakukan semua hal yang bisa Andaru pikirkan untuk mendapatkan sinyal dan entah sudah berapa lama. Tanpa suara seseorang menghampirinya dari belakang. Ia terlonjak dan mengumpat di saat yang bersamaan. Ia kemudian berbalik. Ingin memarahi siapapun yang telah berani mengganggunya, tapi langsung menelan kalimatnya itu begitu pandangan jatuh ke wajah si pengganggu. “Andaru, kita punya Wi-Fi di bawah.” Itu Sang Site Manager yang sudah jelas sambil menahan tawa. Andaru hanya bisa menggaruk belakang kelapanya dengan tanga yang masih memegang ponsel. "Saya tahu, Sir. Tapi tidak ada yang mau memberitahu saya apa password-nya." Sang Site Manager sekarang benar-benar tertawa. Lalu menyebutkan password dengan Andaru yang mendengar dengan seksama. Bahkan ketika suara angin sedang cukup kencang sehingga membuat keduanya menyipit menahan pedihnya angin yang meniup mata mereka. "And now, kau bisa menghentikan tarianmu itu. I bet you really dont have any idea kalau dari tadi para diver sedang memperhatikan kelakuanmu dari kejauhan?" Andaru makin salah tingkah. Melirik ke arah gedikan dagu Sang Site Manager dan menyadari para diver itu cepat-cepat memunggunginya ketika mereka sedang sibuk melepas baju selam mereka di pinggir kapal. "C'mon, let's gab some lunch." Sang Site Manager menepuk pundaknya sekali dan sama-sama mereka menuruni tangga menuju ruang makan. Suara dengung percakapan menyambut kedatangan keduanya dengan Andaru yang berjalan mengikuti Sang Site Manager sangat rapat sehingga sekali lagi nyaris menabrak punggung si bule tersebut ketika mengantri menunggu giliran mengambil makanan. Akhirnya pesannya terkirim. Walau masih tetap membutuhkan waktu akibat sinyal Wi-Fi yang sama lemahnya. Sang Site Manager bahkan berbaik hati mengambilkan food tray untuknya ketika Andaru baru saja menyelipkan kembali ponselnya ke saku coverall. Tapi sekarang lengkap dengan cengiran lebar dan Sang Site Manager tentu saja menyadarinya. Tapi memilih untuk tidak mengatakan apapun. Makanan yang disajikan bakan tampak lebih menggoda sekarang. Andaru mengambil lebih banyak dari biasanya. Dan ketika ia baru saja ingin duduk di sebelah Lary lagi. Sang Site Manager malah memberinya isyarat untuk ia bergabung dengan meja yang sama dengannya. Andaru mengedarkan pandangan ia bertemu mata dengan beberapa. Bahkan dengan Abah Tambun. Namun ia hanya menghela napas dan mengikuti takdir... "So, maukah kau beritahu siapa yang kau ingin kirim pesan itu? Sampai-sampai kau bersikap seperti di atas tadi?" Sang Site Manager setelah dengan berbaik hati untuk membiarkan Andaru untuk menyuap lebih dulu. "Saya tidak tahu harus menyebutnya sebagai apa. Tapi... saya harap suatu saat nanti saya bisa mempunyai hak untuk menyebutnya sebagai seseorang yang berharga." Andaru sambil menunduk dan menusuk-nusuk ayam bakarnya dengan garpu. "Begitu. Jadi kamu masih dalam tahap - apa benar Bahasa Indonesia-nya seperti ini? - "pendekatan"?" Andaru sekarang mengangkat wajahnya. Menyadari jika Sang Site Manager mengatakan kalimat itu dengan wajah mengernyit. "Benar, Sir. Saya masih dalam tahap "pendekatan" sekarang." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN