Eris memandang jam yang ada di dinding setelah seharian menghabiskan waktu membersihkan apartemennya. Ia mengerang setelah berhasil menghitung berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk itu. Karena disela-sela pekerjaan tersebut ia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat setiap kali ia merasa lemas. Akhirnya setelah Eris merasa ia telah bekerja cukup banyak, barulah ia memutuskan untuk benar-benar beristirahat.
Menghela napas panjang, Eris mematikan stereo dan TV yang memutar BTS Live at Wimbley yang sebenarnya telah sampai penghujung performance itu. Namun wanita itu sempat berdiri terpaku sejenak untuk memandang ketujuh member BTS dengan desahan panjang dan pandangan penuh sayang. Setelah suasana apartemen itu telah benar-benar senyap. Eris menghempaskan diri – secara perlahan – berbaring di sofa ruang tengah sambil menatap langit-langit sambil mengelap keringat yang tersisa dahi dengn ujung keliman kaosnya.
Setelah entah sudah berapa lama berbaring seperti itu. Eris mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia sangat merasa bersalah dengan Lazuardi yang berangkat bekerja hanya dengan pakaian santai tadi pagi. Jadi ia tadi meminta temannya yang bekerja di laundry hotel untuk mengirim dua setelan jas milik Lazuardi yang telah dicuci itu. Sekarang ia tengah melacak kiriman itu untuk mencaritahu sudah sampai di mana. Dalam hati berdoa agar kedua setelan itu tidak remuk selama di jalan. Kalau tidak mau tidak mau ia harus menyeterikanya lagi. Karena Lazuardi sama sekali tidak ingin ada kerutan di kemejanya.
Dan seperti semua orang yang sedang bersantai, ia juga menyempatkan diri memeriksa setiap status w******p yang dibagi oleh kontak di ponselnya. Ia juga harus membelas beberapa pesan dari koleganya di hotel yang menanyakan kabarnya. Pesan-pesan itu berisi bahasa yang sangat sopan, mengingat Eris hanya dekat dengan satu orang di sana. Hubungannya dengan sang manager tidak bisa ia sebut dekat juga. Ia membalas satu-persatu pesan itu dengan sama sopannya
Tidak ada status yang menarik perhatiannya. Hingga ia melihat sebuah foto pemandangan matahari terbit namun tidak memerhatikan siapa yang membagikan foto status tersebut.
“Mengabadikan momen.” Begitu keterangan di bawah foto tersebut. Terlihat seperti diambil dari deck kapal. Karena terasa seperti diambil sangat dekat. Puncak matahari berada di atas lautan. Terlihat seperti lukisan, alih-alih diambil dengan kamera ponsel. Eris memandangi foto itu lama sekali. Bahkan sampai mendekatkan layarnya ke depan wajah….
Eris selalu suka dengan laut. Tapi ia hanya berhasil berada di dekat laut beberapa kali selama hidupnya. Itupun karena tuntutan pekerjaannya sebelum ia harus terkurung di hotel nyaris setiap hari. Sedangkan Lazuardi lebih menyukai suasana dingin pegunungan dan ke sanalah merka setiap kali Eris mendapatkan libur panjang dan pekerjaan Lazuardi membolehkan…
Foto itu cantik sekai sehingga Eris sekarang tengah menyusun kata-kata di dalam kepalanya bagaimana cara ia bisa mendapatkan foto itu tanpa harus screenshoot.
Karena yang si empunya foto adalah Andaru. Dan ia belum mengenal pria itu cukup lama untuk tiba-tiba mengiriminya pesan dan meminta foto yang menjadi status seseorang…
Jadi tanpa pikir panjang Eris mulai mengetik pesannya dan tanpa pikir panjang. Bahkan ia sendiri menolak untuk membacanya kembali. Langsung kirim dan mematikan layar ponselnya…
Ketika ponsel itu tiba-tiba berbunyi, Eris sangat terkejut sampai-sampai ponselnya nyaris terlempar dari tangannya sendiri.
“Hai!” sapa Eris dan suaranya terengah.
“Ada apa dengan suaramu itu? Apa kau merasa sakit?” Lazaurdi di seberang sana. Terdengar sangat khawatir.
“Tidak, astaga. Hanya baru saja selesai bersih-bersih….”
“…Kau baru saja selesai bersih-bersih?” Suara Lazuardi malah meninggi.
“Tidak. Aku sedang beristirahat sekarang.” Eris sendiri bingung kenapa ia bisa begitu tegang hanya karena mengirim sebuah pesan singkat ke orang lain. Padahal ia sering sekali melakukannya selama ia bekerja di hotel. Jadi Eris menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, menarik napas panjang berulang kali untuk menenangkan diri sebelum bertanya, “Ada apa? Apa rapatnya sudah selesai? Jadi berapa banyak orang yang kau buat menangis hari ini?” Cepat-cepat ia mengalihkan topik pembicaraan.
“Kami sedang istirahat makan siang. Dan benar. Ada beberapa yang menangis. Tapi aku berani jamin itu bukan karena ulahku.” Lazuardi sudah terdengar lebih tenang. “Tapi bisa ceritakan padaku kenapa kau bisa terengah-engah seperti tadi?”
“Hanya membalas pesan beberapa orang yang selama ini tidak pernah aku ajak bicara sebelumnya. Mereka menanyakan kabarku.”
Terdengar kekehan ringan dari seberang sana. “Ey, Dios, Eris. Setelah bertahun-tahun bekerja di hotel? Tapi kau baik sekali telah membalas pesan-pesan itu.” Lazuadi tidak terdengar seperti sedang menggodanya.
Eris menarik napas panjang tanpa suara. “Anxiety tidak bisa hilang begitu saja. Dan paling tidak mereka tahu kalau aku masih hidup.” Lalu wania itu melempar kakinya ke samping duduk dengan punggung menempel di punggung kursi. “Jadi apa makan malam kita hari ini?”
Lazuardi mengerang. “Aku tidak yakin bisa pulang tepat waktu untuk makan malam denganmu. Tapi akan aku usahakan untuk membawa sesuatu untukmu sebagai gantinya.”
Eris menahan diri untuk tidak terdengar kecewa lalu berseru, “Kalau begitu aku mau cokelat!”
Lama sekali baru Lazuardi baru menanggapi, “Si, istirahatlah kalau begitu.”
Eris menjerit kecil kegirangan sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon…
***
Di seberang sambungan telepon itu Lazuardi sedang mengulum senyum sambil menurunkan ponselnya dari telinga. Ia berdiri di depan jendela yang menampakkan sebagian besar pencakar langit di pusat kota itu. Langit tampak berawan dengan awan-awan putih yang berbentuk seperti asap-asap kelabu. Kendaraan berbagai bentuk di bawah sana yang terus berlalu-lalang…
Pekerjaan hari ini benar-benar menguras tenaganya, lebih tepatnya secara emsional. Lazuardi selalu berpikir entah kenapa audit internal selalu lebih ke arah menjatuhkan sesama karyawan. Daripada mencari jalan keluar dari masalah tersebut…
Tiba-tiba seseorang berdeham di belakangnya, membuatnya Lazuardi berbalik badan. Sang Sekretaris berdiri dengan sebuah binder dokumen di pelukannya. Ia tahu Sang Sekretaris sedang membaca ekspresinya sebelum melemparkan pertanyaan dengan nada datarnya seperti biasa,
“Senor mau makan siang apa?”
Lazuard menyeringai. “Jujur saja. Aku sama sekali tidak tahu. Walau apa yang terjadi di ruang rapat tadi benar-benar menguras tenaga.”
Lazuardi tahu Sang Sekretasi mengangguk sangat samar. Sehingga Lazuardi tidak yakin jika ia benar melihatnya apa tidak.
“Kalau begitu sesuatu yang manis?”
“Dan cukup pahit untuk mengingatkanku pada kenyataan.” Lazuardi sambil menyelipkan ponselnya kembai ke saku jas.
Sang Sekretaris memutar bola mata. “Large Ice Mocca, kalau begitu. Dan sandwich daging asap dan double cheese untukmu, Senor. Agar kau tidak berubah galak.”
Dan ketika Sang Sekretaris sudah berbalik meninggalkannya, Lazuardi malah berseru,“Hey aku tidak galak!”
Lazuardi terkekeh lalu mengecek arlojinya. Ia masih punya cukup waktu untuk bersantai sejenak di ruangannya sambil menunggu makan siangnya datang. Ruanganya terletak dua lantai di atas lantai tempatnya berada saat ini jadi sekarang ia sudah berdiri menunggu di depan pintu lift hingga membuka.
Lazuardi menghentikan langkah ketika ia menyadari hanya ada seorang dalam lift itu. Salah seorang yang sama sekali tidak ingin ia temui. Apalagi ketika ia baru saja menghadapi banyak hal…
Sang CFO tersenyum lebar sambil memberinya ruang di dalam lift yang lengang itu dengan sikap berlebihan. Lazuardi melirik penunjuk lantai di atas lift lain di sebelahnya dan dalam hati mengumpat karena lift itu masih berada di ground floor. Jadi mau tidak mau ia masuk. Ke sudut terjauh dengan punggungnya menempel di sudut belakang lift.
“Kenapa jauh begitu? Hanya dua lantai dan tidak banyak orang yang berkantor d sana.” Sang CFO tergelak sekali sambil memencet tombol tutup.
Ketika Sang CFO meliriknya melewati atas bahu, Lazuardi hanya memberinya senyum tipis.
Lift mendengung dan Lazuardi benar-benar menahan diri untuk tidak menggoyang-goyangkan kakinya….
“Jadi Anda baru saja kembali dari Kalimantan sana untuk melakukan pekerjaan rahasia dari Sang CEO, ya?”
“Tidak bisa disebut sebagai “pekerjaan rahasia”, saya rasa. Ada karyawan kita yang baru saja kecelakaan di sana.” Lazuardi sangat dingin.
“Begitu? Bukannya selalu ada karyawan yang terluka selama ini?”
Lazuardi berubah lebih defensif. “Tapi bukan berarti kecelakaan yang bisa saja menyebabkan kehilangan nyawa selalu terjadi setiap saat!”
Sejak awal kepindahannya ke Indonesia, Lazuardi tidak pernah menyukai Sang CFO. Sekarang pria tebal muka itu akhirnya berkata, “Wow, tenanglah. Anda juga tidak tahu bagaimana rasanya merasa bingung ketika harga batu bara sedang anjlok seperti saat ini.”
Lazuardi memilih untuk tidak menanggapi.
Akhirnya pintu lift itu membuka. Entah kenapa terasa begitu lama untuk perjalanan hanya dua lantai. Sang CFO memberinya anggukan dan berjalan menuju ruangannya sendiri. Setelah yakin mereka sudah benar-benar berpisah, Lazuardi mempercepat langkahnya. Ruangannya selalu terasa seperti pelarian yang terbaik…
Lazuardi tidak lupa mengambil ponselnya dari saku jasnya sebelum melempar setelan jasnya ke punggung kursi.
Hal yang selalu mengganggu adalah pertemuan tidak sengaja dengan orang yang paling dibenci disaat yang tidak terduga. Belum lagi ketika perasaannya sudah kalut dengan pekerjaan. Lazuardi ingin mengumpat. Namun baru saja mulutnya membuka untuk membentuk kalimat yang ia inginkan. Pintu ruangannya diketuk dan masuklah sang Sekretaris dengan segelas besar Ice Mocca dan kantung kertas…
Namun wanita itu diikuti oleh seseorang yang membuat Lazuardi yang orang-orang sebut sebagai “sensasi jantung jatuh ke dasar perut.”
“Sasha!” Lazuardi mengerjap. Tanpa ia biasa sadari ia sudah berdiri di depan seorang wanita muda dengan kacamata hitam berdiri dengan bertumpu dengan satu kaki. Salah satu bibirnya terangkat sebelum nyengir lebar.
“Tentu saja. Ketika saya mendapatinya hanya berdiri memandangi pintu lobby dengan pakaian dan kacamata hitam buatan desainer. Saya langsung tahu kalau kalian berhubungan darah.” Sang Sekretaris ringan – dengan Bahasa Indonesia – sambil menaruh belanjaan di atas meja kerja Lazuardi. “Saya akan meninggalkan kalian berdua.” Pada kalimat terakhir itu Sang Skeretaris menggunakan Bahasa Inggris sebelum meninggalkan keduanya saling pandang.
“Aku tahu aku memang tidak akan pernah suka negara ini,” ucap Sasha diikuti dengan tarikan napas panjang setelah pintu menutup dengan Bahasa Spanyol.
Kapan terakhir kali Lazuardi melihat putrinya secara langsung setelah keduanya berpisah bertahun-tahun yang lalu. Begitu putrinya melepas kacamata hitamnya Lazuardi menyadari – dengan amat sedih – kalau wanita muda itu sangat mirip dengan ibunya ketika muda. Satu-satunya jejak Lazuardi pada Sasha hanya warna mata mereka.
“Apa itu karena ibumu yang memberitamu?” Lazuardi sekarang menyugar rambutnya ke belakang. Masih menatap putrinya dengan pandangan tidak percaya, menggunakan bahasa yang sama.
Sasha Moreno menggeleng sambil merapikan rambutnya ke atas bahunya. “Tidak. Itu juga berasal dariku sendiri.” Sasha lalu menatap ayahnya dari atas hingga bawah. “Papa, kau tampak… terawat. Jadi kau punya pacar juga di sini?”
Lazuardi memutar tubuh dan menghempaskan diri di atas sofa penerima tamunya.
“Jadi benar? Siapa? Mama sekarang sedang bersama seorang pria berusia tiga puluh tahun yang ia temui dalam sebuah pesta. Tapi aku tidak tahu apa ia bekerja apa tidak. Mama juga sepertinya tidak begitu memedulikan itu selama… kau tahu…” Sasha sekarang duduk di sebelah Lazuardi wajahnya tampak penasaran. “Lupakan. Apa dia cantik?”
“Tentu saja.” Lazuardi dengan senyum yang sama sekali tidak bisa ia tahan. Lalu ia berubah serius. “Aku memang tidak mengharapkan kemarahan atau apa. Tapi kenapa kau bisa menerima semua ini dengan begitu tenang?”
Sasha mengerjap-ngerjap beberapa kali lalu tampak tidak terima. “Lalu kau mengharapkan apa, Papa? Aku mengamuk di sini? Menuntutmu dengan berbagai macam pertanyaan yang membuatmu terpaksa berbohong dengan berkata kalau kau masih,” Sasha membuat tanda kutip dengan kedua tangannya lalu memutar bola mata. “Menunggu Mama entah mama berubah pikiran lalu menyusulmu ke sini? Ey, Dios. Aku tahu aku tidak sejahat itu.”
Lazuardi menghela napas panjang. Sekarang kepalanya bersandar di atas punggung kursi mereka saling pandang. “Seandainya dulu kau ikut denganku..” Lazuardi mengulurkan tangan untuk membelai wajah putrinya
Senyum kecil bermain di sudut bibir Sasha ketika wanita muda itu berseru, “Apa kau tadi tidak dengar? Aku tidak akan pernah bisa betah tinggal di sini.” Ia tiba-tiba menarik napas kemudian bangkit berdiri. Lazuardi menarik tangannya “Apa itu makan siangmu? Apa kau belum makan siang?” Sasha mengambil gelas kopi dan bungkusan kertas dari atas meja kerja lalu duduk kembali di hadapan Lazuardi.
Walau mereka berdua berusaha namun tetap masih ada perasaan canggung di antara mereka.. Walau wajah dan cara berpakaiannya sangat mirip dengan ibunya, Sasha tampak malu-malu menyuapkan sandwich ke mulut ayahnya…
***