Keesokan paginya di pulau yang dijuluki sebagai Paru-paru Dunia itu seorang polisi muda terbangun dan langsung bersin hebat. Setelah kehujanan semalam dan lupa menyimpan pakaian ganti di polsek. Ia kedinginan selama sisa shift-nya dan hanya berbalut jaket dan sarung. Itu semua karena rekan patrolinya memaksa untuk kembali ke polsek ketika hujan masih turun.
“Dari pada kita terjebak di sini entah untuk berapa lama!” Rekannya berkata ketika Bahlawan jelas tidak menginginkannya.
“Kalian bisa tetap tinggal di sini selama yang kalian mau.” Pria petugas timbang batu bara itu berkata. Tapi ditolak mentah-mentah oleh sang rekan. Akhirnya Bahlawan yang mengalah dan mereka berkendara menuembus hujan…
Dan di sinilah ia. Di dalam kamarnya. Kembali bersin dengan hebat. Hidungnya sudah mulai berair sejak ia mencoba tidur semalam. Walau ia merasa sangat bersalah ibunya tetap bangun untuk memberinya parasetamol dan air ketika ia sampai di rumah. Bahlawan merasakan tenggorokannya kering karena ia harus bernapas melalui mulut karena pagi ini jelas hidungnya sudah mulai tersumbat.
Sinar matahari perlahan merambat ke jendelanya dan ia sama sekali tidak ingin beranjak dari ranjangnya.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Itu ibunya dengan raut khawatir. Bahlawan berusaha bangkit, tapi kepalanya terasa sangat berat. Jadi ia menghempaskan diri ke ranjang lagi. Menutup matanya dengan lengan.
“Bagaimana keadaanmu?” Ia merasakan ibunya duduk di dekat kakinya. Merasakan tangan dingin ibunya memeriksa suhunya dari lehernya.
“Beringus dan pening.” Sebagai penegasan Bahlawan menarik napas dengan berisik.
“Siapa rekanmu patroli semalam? Biar Ibu yang marahi dia…”
Cepat-cepat Bahlawan melepas lengannya untuk menatap ibunya denan kesal. “Ibu!”
“Karena ia egois, tentu saja.” Ibunya terdengar membela diri. “Dan kau juga! Kau bisavsaja tinggal di tempat timbang.”
“Tapi sampai kapan, Ibu? Akan sangat canggung juga berlama-lama di sana. Mana lagi yang menjaga semalam adalah salah satu dari junior Ayah di tambang.”
“Justru karena yang menjaga adalah junior ayahmu makanya kau bisa tinggal lebih lama.” Ibunya melepaskan tangannya dari leher Bahlawan. “Apa tenggorokanmu sakit juga? Ibu isa membuatkanmu bubur…”
Bahlawan menggeleng dengan cepat.. “Tidak. Aku sarapan dengan apa yang ada saja. Tidak perlu repot.” Lalu ia menyadari kalau ibunya tidak memakai pakaian rumahnya yang biasa. Ia tampak lebih rapi. “Ngomong-ngomong, Ibu mau ke mana?”
Ibunya menunduk memandangi pakaiannya sebelum menjawab, “Ada pertemuan panitia pernikahan lagi akhir pekan ini. Ibu jadi tukang masak lagi.” Ibunya kemudian memandang Bahlawan tajam. “Jadi kapan Ibu tidak jadi tukang amsak dan hanya berdiri di panggung. Menyalami tamu?”
Hidung Bahlawan terlalu tersumbat untuk meladeni pertanyaan ibunya itu. “Ibu, sebaiknya Ibu pergi sekarang.” Bahlawan sambil memberi ibunya senyum terbaiknya.
Ibunya kemudian bangkit sambil menghela napas kasar. “Kalau begitu bangun, sarapan, dan minum obatmu lagi. Ibu rasa kau tidak akan sanggup untuk mengisi shift-mu malam ini.”
Bahlawan menutup matanya dengan lengannya lagi. “Terimakasih, Ibu. Untungnya hari ini adalah hari liburku. Aku bisa pakai untuk istirahat.”
Bahlawan baru melepas lengan dari matanya lagi begitu ibunya menutup pintu. Bahlawan ingin sekali tidur karena jelas hanya itu yang ia butuhkan sekarang… Tapi ada sesuatu yang mengganggu dalam pikirannya sejak semalam…
Ia lalu keluar kamar – dengan susah payah. Menemukan ayahnya sekali lagi berada di depan TV dan menonton acara berita dengan wajah serius. Ia duduk di dekat ayahnya, napas terengah. Ayahnya tidak bergerak sama sekali ketika ia berada di sana.
“Ayah, aku punya pertanyaan.”
Ayahnya tidak menanggapi. Jadi Bahlawan menganggap itu sebagai persetujuan.
“Jadi bagaimana rasanya pensiun?” Suaranya serak ketika ia melakukannya.
“Bahagia dan tenang. Apalagi dengan seorang anak seorang polisi yang saat ini terlihat seperti ingin menikah.”
Bahlawan menyeringai. “Aku sudah cukup sakit sekarang, Ayah. Tidak perlu ditambah lagi.” Bahlawan merasakan kepalanya berkabut dengan sakitnya sekarang, tapi ia tetap melanjutkan, “Ketika Ayah masih bekerja di tambang apa Ayah tidak pernah berpikir… untuk menambah uang saku.”
“Apa maksudmu?”
“Ayah pernah bekerja di pos timbang juga, kan?”
Ayahnya diam sejenak sebelum berkata, “Kau mabuk dengan obat flu. Dan jangan berkata yang macam-macam.”
“Aku hanya bertanya.”
“Sesuatu yang tidak pantas untuk kau tanyakan!”
Bahlawan menoleh ke arah waah ayahnya yang memerah itu. “Jadi apa pernah terlintas di kepala? Apa timbangan itu bisa diakali?”
“Bahlawan demi Tuhan pergi istirahat di kmarmu sana atau pergi sarapan. Apapun agar kau bisa menutup mulutmu itu.”
***
Tidak seperti kejadian di rumah Bahlawan. Lazuardi mengawali harinya dengan tenang. Karena -sekali lagi – tidak seperti di rumah Bahlawan – Lazuardi tahu ia masih punya cadangans setelan jas di ruanganya di kantor karen Eris belum mengambil setelan jasnya dari laundry hotel tempat wanita itu bekerja. Jadi ia meminta sopirnya untuk datang menjemputnya lebih pagi.
Sebenarnya ia ingin pergi tanpa membuat suara apapun, tapi Eris terbangun bersamaan dengan dirinya. Dengan senyuman wanita itu Lazuardi merasa apapun yang terjadi di kantor hari ini bisa ia lalui dengan baik…
Eris dengan baik hati membuatkannya kopi dan french toast selama ia mandi. Walau Eris memang manja – ternyata ia juga tidak ingin diperlakukan seperti itu terlalu lama. Wanita it jelas cukup enerjik untuk melakukan pekerjaan rumah ringan sperti meneyedot debu dan menuiapkanya sarapan. Mungkin karena ia saja yang terlalu paranoid…
Atau perasaan takut kehilangannya itu lagi…
Semalam ketika Eris menggodanya. Ia tercabik dengan logika dan keinginan purba dalam tubuhnya yang nyaris tidak bisa ia kendalikan jika tidak melihat jahitan bekas operasi Eris yang diperban dengan perban bening anti air itu. Jadi Lazuardi berhati-hati. Bahkan ketika ia bisa saja tidak harus seperti itu…
Setelah menghabiskan sarapannya ia tidak lupa mencium Eris dalam-dalam sebelum berangkat bekerja.
“Aku akan menemanimu lagi, carino. Jangan rindukan aku.” Ia mengedipkan sebelah mata yang dibalas Eris dengan memutar bola mata. Kemudian ia baru turun setelah sang sopir mengatakan kalau ia sudah dekat…
Lazuardi sudah menyalin semua pekerjaan yang ia lakukan semalam di IPad-nya dan sekarang tngah membacanya selama perjalanan menuju kantor. Ketika ia turun di lobi dengan pakaian kasual dan celana jins. Banyak pasang mata yang memerhatikannya dengan pandangan bertanya setelah memberinya ucapan selamat pagi seperti biasa.
Sang Sekretaris yang bisa diandalkan itu telah menunggu di ruangannya dengan setelan jas lengkap dengan kemeja dan sepatu di ruangannya.
Ketika ia membatu Lzuardi memakai jasnya, pria itu menyadari Sang Sekretari tengah menahan sebuah komentar. Jadi ia langsung berkata, “Aku tahu ada yang ingin kau katakan.”
“Anda tersenyum seperti orang bodoh, Senor. Semua orang bisa menebak apa yang baru saja terjadi dengan Anda semalam kalau Anda terus tersenyum seperti itu.” Sang Sekretaris dibalik kacamata tebalnya itu.
“Oh, ya? Kalau begitu biarkan. Karena jelas akan ada yang menangis setelah rapat hasil audit internal ini keluar…”
***