Eris terbangun dan mendapati langit sudah gelap di luar gorden tipis jendelanya. Ia tidak menemukan Lazuardi di sebelahnya dan sisi ranjang itu jelas sudah ditinggali entah sudah berapa lama. Eris kembali menghempaskan diri ke bantal dan menutup matanya dengan lengan…
Ketika ris mengira Lazuardi tidak bisa lebih lembut dan lebih manis dari sebelumnya. Ia salah besar.
Eris tiba-tiba merasa lapar sekali. Sudah jelas ia yang terbiasa makan dengan porsi besar itu tidak akan kuat hanya dengan steak dan mashed potato. Apalagi setelah apa yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu. Ia juga harus meminum obatnya. Jadwal buka benang jahitnya sekitar tiga hari lalu. Selama itu ia akan berada di rumah. Entah melakukan apa. Karena jelas Lazuardi terlalu sibuk untuk menemaninya.
Jadi Eris bangkit. Memunguti pakaiannya yang ada di lantai dan memakainya. Setelah itu menggulung diri dalam bedcover dan keluar kamar. Ia mendapati Lazuardi dengan rambut basah dan gelas wine kosong di ruang tamu sedang berkutat dengan laptop-nya. Entah kenapa terlihat lebih tampan dari biasanya. Jadi Eris berbalik masuk kamar lagi untuk mengambil ponselnya. Mengambil gambar Lazuardi yang sangat serius itu dari segala arah.
Tapi Eris tahu ia tidak cukup bodoh untuk membuatnya menjadi status sosial medianya.
Eris memutari sofa (ujung bedcover-nya sempat tersangkut di sela sofa. Tapi ia berhasil tidak mempermalukan dirinya.) dan duduk di sebelah Lazuardi yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda menyadari kehadiran dirinya. Jadi Eris bergeser lebih dekat dan Lazuardi masih juga tidak bergerak…
Hingga bibirnya mencebik…
“Kau sudah mengalihkan perhatianku terlalu banyak, carino.” Lazuardi akhirnya berkata dengan mata yang masih tertuu pada layar laptop, namun dengan salah satu sudut bibir yang terangkat. “Jangan sampai aku marah padamu.”
Bibir Eris makin mencebik dan ia menghela napas panjang.
Lzuardi memencet tombol “enter” lebih dulu sebelum lengannya menjangkau Eris, membawa wanita itu berbaring berbantalkan pahanya yang keras. Eris tentu saja tidak keberatan. Setelah itu Lazuardi kembali mengetik sesuatu dan Eris membaca apa yang ada di layar sana dengan dahi mengerut.
“Hasil audit internal. Wow, merahnya banyak sekali.” Eris mengomentari ringan.
“You have no idea, carino,” erang Lazuardi sambil mengusap kepala Eris. “Dan besok adalah pengumuman hasilnya. Aku harus hadir dan mungkin akan semalaman. Apa kau tidak apa-apa kutinggal?”
Eris memutar tubuhnya, berhati-hati pada luka jahitannya yang ada di sebelah kanan. Lazuardi juga menatapnya dari atas. “Tidak masalah!” Ia kemudian teringat. “Aku belum mengembalikan kartumu!”
Lazuardi mendengus. “Si, dan tagihan rumah sakit dari si pemilik warung mie ayam masih berjalan sepertinya.”
Eris mengerjap. “Kau tidak marah?”
Lazuardi menghela napas dengan gaya. “Anggap saja dengan begitu aku akan mendapatkan hadiah pengganti dari tempat lain.”
Mereka saling tatap sebelum Lazuardi menunduk mencium dahi Eris dan berkata, “Aku lapar. Apa kau lapar?”
Lazuardi membantu Eris duduk sebelum wanita itu menyahut dari atas bahunya dengan, “Risotto. Aku mau risotto. Kau masih punya berasnya di sini atau sesuatu dengan beras, pokoknya. Sesuatu yang mengenyangkan. Aku tidak bisa makan makanan ringan seperti itu!”
Mendengar rengekan Eris, Lazuardi tertawa. “Dios mio, Eris. Aku jadi penasaran apa yang kau makan setelah pulang dari makan malam pertama kita itu.”
“Mie goreng instan dan telur ceplok. Di rumah setelah membuka gaunku, tentu saja.”
Lazuardi menggeleng-geleng. “Akan aku pastikan kau tidak lagi makan seperti itu, carino.” Jadi Lazuardi bangkit dan langsung menuju ke dapur.
“Kalau begitu aku mau mandi.” Eris juga bangkit tidak lupa membawa ponselnya bersamanya. Tidak menyahut ketika Lazuardi meneriakkannya untuk berhati-hati dengan lukanya.
Eris mandi dengan cukup cepat karena ia sudah keramas siang tadi. Setelah itu ia menghabsikan waktu untuk mengganti seprei ranjangnya dengan yang baru. Ternyata ia tidak butuh berhati-hati seperti yang ditakutkan oleh Lazuardi. Mengumpulkannya pada keranjang pakaia kotornya. Untuk seprei ia bisa mencucinya sendiri tanpa harus dibawa ke laundry.
Sekarang setelah ia cukup tidur, bahagia, dan seseorang tengah memasakkannya makan malam. Ia merasa tidak ingin ke mana-mana.
Jadi ia menghabiskan waktu untuk memeriksa pesan w******p-nya. Pertama, dari anak perempuan si pemilik warung mie ayam yang memberinya selamat sudah keluar dari rumah sakit dan berharap ayahnya jug akan segera menyusul. Eris langsung membalasnya dengan ucapan terimakasih dan ia juga berdoa yang sama untuk ayah gadis itu.
Kedua, dari manager hotel-nya yang berkata telah menerima surat keterangan dokternya dan “berterimakasih” karena amplop itu tidak menyertakan tagihan rumah sakit untuk diganti. Eris membalasnya dengan “semoga berhasil dengan even-even yang sudah ter-booking selama ia tidak ada.
Ketiga, dari temannya di laundry room yang berkata sudah mendengar tentang berita kalau sura keterangan dokter miliknya di antar oleh seseorang yang terlihat seperti “berpendidikan tinggi” dan jelas tidak seperti saudaranya itu. Untuk ini Eris hanya menjawab dengan nanti ia akan ceritakan detailnya. Tapi ia tidak berjanji akan sedetail apa dan meminta wanita itu untuk menjaga dua setelan jasnya baik-baik hingga ia masuk kerja kembali.
Keempat, adalah pesan dari Andaru yang berisi doa agar ia cepat sembuh. Eris hanya menjawab singkat dengan “terimakasih.”
Ia kemudian meninggalkan ponselnya di nakas. Berharap ia diberi kesempatan untuk membantu Lazuardi memasak, tapi ternyata ketika ia berada di dapur. Eris sudah mendapati pesanannya sudah jadi. Ia mengenali hidangan itu dengan creamy tomato risotto. Satu piring porsi besar dan piring yang lain dengan porsi setengahnya.
“Parmesan!” seru Eris dan ia mengambil botol parmesan dari dalam kulkas. “AStaga, kapan terakhir kau membuat ini untukku.” Eris mengambil piring berisi porsi besar yang jelas untuknya itu ke kursinya yang biasa. Menabur banyak parmsan di sana.
“Aku memang tidak ingat.” Lazuardi berdecak. “Perlahan makannya, carino. Aku tidak ingin menambah lebih banyak masalah pada tubuhmu.”
Eris yang tengah mengunyah banyak-banyak itu menjawab, “Oh, jangan khawatir. Aku rasa yang kau berikan padaku sepenuhnya adalah kebahagiaan.”
***
Kapal bergerak sangat lambat dan katanya hanya butuh sekitar tiga jam untuk sampai di lokasi. Tapi hari sudah cukup gelap ketika mereka sampai di titik kapal bisa bersandar. Hanya ada lampu penunjuk berwarna merah dari kejauhan sebagai tanda sumur akan itu berada. Mereka sudah melihatnya dari navigasi.
Andaru sedang bersandar di pagar terjauh gelangan utama- tentu saja masih dengan wearpack dan helm karena ia tidak mau dimarahi di hari peramaya bekrja – menikmati semilir angin dan sisa-sisa matahari terbenam di kejauhan. Sebentar lagi waktu makan malam dan setelah itu mereka akan memasang crane untuk membantu menurunkan pipa besok pagi. Seorang signalman sedang mengawasi operator crane menaiki tangga menuju ruang operatornya.
Semua pekerjaan butuh fondasi yang baik.
Andaru menghela napas. Sebungkus rokok ada dalam saku celana wearpack-nya dan ia ingin seklai menyesapnya. Namun ia – sekali lagi – tidak ingin brulah di hari pertama ia bekerja. Jadi ia berharap angin laut bisa menghilangkan keinginannya untuk merokok…
Ia kemudian mengambil ponselnya. Tidak begitu berharap mendapatkan sinyal dan ternyata benar. Tapi beberapa pesan masih sempat masuk dalam w******p-nya. Salah sau dari Eris yang hanya berisi dengan ucapan “terimakasih.”
Andaru tahu, jika seorang wanita sudah membalas pesan dengan singkat seperti itu. Berarti ia harus mundur sejenak. Dan untungnya ini adalah waktu yang pas untuk melakukannya.
Signalman dengan benderanya itu sudah memberi aba-aba kepada sang operator crane dan mesinnya sudah menyala ketika Andaru berbalik masuk ke galley untuk ikut makan malam yang ternyata belum jadi. Di ruang penerangan terang dan cukup sejuk itu berkumpul seluruh pria dengan percakapan mereka masing-masing. Di tengah-tengah meja diver terdapat salinan gambar kerja mereka yang terbuka sibuk dengan diskusi tertutup mereka.
Sedangkan dua meja lain sedang ribut entah mengobrol tentang apa. Tapi sudah pasti bukan karena pekerjaan karena mereka sedang tertawa-tawa. Lary berada di tengah-tengah. Dengan laptop menyala dan dahi mengerut. Buku catatannya terbuka di sebelahnya. Dan karena perasaan jail entah datang dari mana. Andaru memilih duduk di dekatnya. Mendorong pria muda itu untuk memberinya ruang untuk duduk. Meletakkan helm-nya bersebelahan dengan helm Lary
Andaru membaca apa yang tengah Lary kerjakan di layar laptopnya. “Daily Report sekarang? Rajin amat.”
Lary menoleh, memberinya tatapan mematikan. “Lebih baik dikerjakan sekarang daripada bertumpuk nanti.”
“Wow, anak teladan.” Andaru terkekeh dan sepertinya didengar oleh yang lain karena mereka tertawa saat itu juga.
Lary tidak mengubris olok-olokan itu dan terus mengetik. Andaru hanya bisa menggeleng-geleng.
Jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Andaru mendengar serentak para pria itu berdiri dan makan malam sudah terhidang di dalam etalase buffet itu. Menu malam ini penuh dengan masakan lokal yang membuat dahi mengerut.
“Jadi Site Manager makan apa?” tanya Andaru kepada kenalannya orang katering yang ada dibalik etalase. Belum sempat pemuda itu menjawab, seseorang sudah menjawab pertanyaan Andaru.
“Saya makan apa saja. Tidak apa-apa.”
Andaru berjengit dan berbalik ke arah suara. Dan menyadari sang Site Manager sendirilah yang menjawab dengan senyum mengembang. “But, terimakasih sudah mengkhawatirkan… saya,” sambungnya lagi dengan Bahasa Indonesia yang terbata.
“Astaga, Anda bisa berbahasa Indonesia!” seru Andaru dan sepertinya ia sudah menyebabkan kemacetan dan tidak ada yang protes karena terlalu tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.
“Sedikit. But, saya tidak terlalu confident untuk urusan bussiness. Soalnya terlalu banyak istilah pekerjaan yang tidak bisa saya translate.”
“Tidak masalah, Mister! Lebih baik seperti ini. Soalnya bahasa Inggris kami jelek sekali!” sahut salah satu Rigger di belakang barisan. “Sama seperti Mister, tahunya hanya untuk bussiness saja!”
Kalimat itu disusul dengan gelak tawa. Setelah itu – walau banyak yang memberi izin untuk Site Manager untuk memotong barisan – ia tidak menginginkannya dan berjalan santai ke bagian belakang barisan. Dengan senang hati meladeni setiap jaba tangan yang disorongkan ke hadapannya ketika Andaru menoleh ke belakang.
Andaru yang memang tidak banyak makan itu, mengambil seperlunya dan kembali ke meja Lary. Pria muda itu bahkan masiih tidak bergerak dari tempat duduknya.
“Kalau kau tidak bergerak sekarang. Kau tidak akan mendapatkan yang enak.” Andaru menyodok lengan Lary dengan sikunya sebelum menyuap.
Tapi Lary tidak mengindahkannya.
Satu-persatu para personel kembali ke meja mereka. Para diver juga akhirnya bangkit setelah Site Manager selesai mengambil makanannya. Bule itu tampak kebingungan, namun ia disambut baik di meja para rigger dan fitter yang norak tapi berhati lapang itu.
“Oi, mana Manager dan HSE Officer-mu mana?” Andaru bertanya langsung ke telinga Lary.
“Mungkin mengawasi pemasangan crane di luar.” Ia lalu mendongak untuk memelototi Andaru. “Bisa tidak kau tidak menggangguku sebentar?”
Andaru langsung memutar tubuhnya. Menjauh dari Lary yang jelas bisa melemparkannya ke laut jika ia terus mengganggu pria muda itu.
Namun ia tidak bisa memunggungi Lary cukup lama karena tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru menyebut namanya. Ia mencari asal suara dan mendapati salah seorang rigger melambai ke arahnya.
“Mister Site Manager menanyakan soal kau!”
Alis Andaru naik. “Sir?” tanyanya sopan.
“I was wondering. Siapa yang diceritakan padaku tentang seorang scaffolder yang dangerous? So, it’s you?” Site Manager malah berbinar-binar. Bahkan terlihat seperti baru saja melihat artis
Dan sekarang Andaru tidak tahu apakah ia harus merasa tersanjung atau tidak. “Kalau Anda mendengarnya dari HSE Officer Lary. Itu benar, Sir.”
“Oh, Andaru, right? Saya akan ingat kau.”
“Sir, maafkan saya. Itu terdengar seperti ancaman.” Andaru menggeleng.
Lary yang berada di tengah-tengah percakapan itu tiba-tiba berdiri mengejutkan Andaru. “You should be. Right, Sir?”
Andaru harus memberi ruang kepada Lary yang memaksakan dirinya lewat antara kaki Andaru dan meja…
***