Furious (3)

1246 Kata
Lima tahun berlalu ketika Eris baru saja keluar dari rumah sakit setelah menjalani operasi usus buntu. Di apartemen tempat pria itu belikan untuknya, sekarang Eris tengah mengawasi pria itu memasak dengan segelas wine di sebelahnya dan juga lagu jazz Berbahasa Spanyol yang tidak dimengerti Eris.  Setelah ia berganti pakaian tadi, Eris berencana untuk bersih-bersih dan sudah memasang mesin penyedot debunya ketika Lazuardi yang tengah sibuk menuang wine ke dalam gelas berteriak menyuruhnya berhenti. Karena Eris tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa mengindahkan teriakan Lazuardi. Pria itu menghampirinya, melepaskan tangannya dari mesin itu. Menyeretnya dan mendudukkannya di konter dapur. Tidak lupa mencium puncak kepala Eris sebelum berkata tenang, “Duduk di sana dan temani aku memasak.” Eris suka melihat Lazuardi memasak. Ada binar bahagia ketika pria itu melakukannya. Lazuardi sekarang menggumam mengikuti irama lagu dengan pinggulnya yang bergerak-gerak juga. Eris sekarang bertopang dagu di atas konter ketika Lazuardi sedang menghabiskan isi gelas wine. Eris sama sekali tidak berbicara selama Lazuardi mengaduk mashed potato yang sedang ia bumbui dengan garam dan lada ketika steak sedang dimasak di pan. Lazuardi sekarang ikut menyanyikan lagu tersebut sesuai dengan liriknya. Masih sambil memunggungi Eris, membagi masheed potato ke dua piring berbeda. Dengan cepat berpindah ke pan untuk memasukkan steak ke dalam panggangan. Pada saat itulah akhirnya Lazuardi berbalik untuk mengambil asparagus dari atas konter. Eris melempar senyum padanya. Lalu terkekeh geli karena baru segelas wine yang sudah pria itu minum, namun sudah ada semburat merah di pipi pria itu yang membuatnya terlihat sangat manis. Harum steak matang memenuhi ruangan dan Lazuardi entah kenapa terlihat malu-malu sekarang. Jadi ia menundukkan kepala ketika mengambil asparagus. Menaruh steak di atas kedua piring sebelum menumis aspragaus di pan bekas memanggang steak… Eris duduk tegak ketika masakan pria itu selesai dan ia mematikan album berbahasa Spanyol itu. Eris mengucap terimakasih setelah menerima garpu dan pisau. Ketika ia mengira merka akan makan saling berhadapan, Lazuardi malah menarik kursi dan duduk berdampingan dengannya. Pria itu menuang wine untuk dirinya sendiri lagi. Eris merasa kembali ke makan malam pertama mereka hari itu. Tapi kali ini tidak ada percakapan. Hanya Lazuardi yang sesekali merapikan rambutnya, meraih tangannya untuk digenggam lembut atau bangkit untuk mengambilkannya gelas air putih. Setelah itu meninggalkan gelasnya begitu saja.   Eris menyelesaikan makannya dengan sangat cepat, membuat Lazuardi memberinya senyum lembut. Eris menunggu Lazuardi selesai  makan sambil kembali bertopang dagu. Menikmati setiap semburat merah di pipi pria itu. Ini kali pertama mereka makan tanpa berbincang apapun. Lazuardi menegak wine-nya lagi sebelum mengumpulkan piring mereka ke bak cuci. Lazuardi menggumamkan lagu yang sama lagi sambil meraih spon ccuci piring ketika Eris mengendap-endap di belakangnya. Memeluk Lazuardi dari belakang dengan erat, sebelum memaksa Lazuardi berbalik ke arahnya agar ia bisa berjinjit dan mencium pria itu dalam. Tangan Eris menggenggam erat kerah pakaian Lazuardi dan tangan pria itu berbusa di kedua sisi tubuhnya ketika ciuman itu semakin dalam dan melibatkan lidah… “Seharusnya aku melakukan ini ketika di hari pertama kali kau membawaku makan malam itu,” Eris bisa menyecap asam wine dalam mulutnya sendiri. “Aku rasa takdir punya rencana yang lebih baik. Aku memperlihatkanmu sisi terburukku sejak awal.” Mata Lazuardi berkabut dengan sesuatu. Eris menyeringai. Kembali membenturkan bibirnya pada bibir hangat Lazuardi. Kali ini tubuh mereka saling merapat. Secara main-main satu kaki Eris bertaut pada betis Lazuardi. Ia merasakan senyum pria itu dalam ciuman mereka…   “Aku harus menyelesaikan ini.” Lazuardi berkata srak dengan bibirnya yang masih menyapu bibir Eris lembut. Tangan Eris sekarang bertaut di belakang lehernya. “Tinggalkan saja. Ada hal menyenangkan yang bisa dilakukan…” *** Lary sangat ketat soal pembagian kamar. Melihat betapa tegasnya ia, seluruh personel tidak berani membantah. Para diver tentu saja mendapatkan kamar terbagus yang ada dan sama sekali tidak banyak bicara. Langsung menghilang ke kamar masing-masing. Ada sekitar enam diver yang ada dan hanya atau yang bersusah-payah untuk bertegur sapa dengan mereka semua sebelum memasuki kamar. “Ingat, ada kegiatan safety drill! Jangan tidur!” teriak Lary yang hanya disahuti dengan gumaman dalam lorong sempit ruang kamar itu. Sebagai Scaffolder II, Andaru berakhir satu kamar dengan Abah Tambun. Abah Tambun punya kebiasaan mendengkur kencang ketika ia kelelahan dan satu-satunya yang tidak pernah mengeluh soal itu hanya Andaru. Soalnya menurut pria muda itu, suara dengkur Abah Tambun tidak ada bedanya dengan suara dengung mesin kapal sepanjang hari. “Ayo, Andaru. Pakai wearpack-mu. Sebelum Lary kembali meneriaki kita semua lagi.” Abah Tambun terkekeh sambil menarik wearpack-nya dari dalam koper mininya. Andaru sendiri berganti pakaian di dalam kamar mandi. Itu enaknya ketika satu kamar dengan seseorang yang dianggap senior. Mereka mendapatkan kamar mandi sendiri. Bukannya di luar kamar. Lengkap dengan meja kerja sempit dan penerangan. Walau tempat tidurnya adalah tempat tidur tingkat. Wearpack bewarna jingga terang dengan nama dan pangkatnya di d**a itu selalu tampak sangat norak di mata Andaru walau berapa kalipun ia memakainya. Ia meminta izin untuk duduk di atas ranjang Abah Tambun ketika ia memakai kaos kakinya berdampingan dengannya. ‘Logo klien itu membuatmu tampak lebih tampan, Andaru.” Abah Tambun berdecak, mengomentari penampilannya. Andaru hanya mengedipkan sebelah matanya, membuat Abah Tambun makin tertawa geli. Lorong kamar berhubungan dengan mess room (tempat kamar-kamar berada) dan galley (dapur). Sebagain personel dengan wearpack-nya menunggu di meja-meja makan yang dipaku ke lantai itu. Andaru malah berbelok ke arah food marmer yang masih kosong untuk menegur seseorang di belik etalase itu. “Bang Andaru, hai!” Mereka saling berjabat tangan di atas etalase dengan seyum lebar. “Hei, kamu.” Andaru sama sekali tidak menutup-nutupi kelegaannya. “Kalau kalian aku tidak akan takut dimasakkan mie instan tengah malam.” Pria muda itu terkekeh. “Astaga, tentu tidak. Selama mie instannya dibeli sendiri.” Pria muda itu mengedipkan sebelah matanya. Setelah mereka bertukar kabar sejenak, mereka mendengar seseorang berbicara melalui pengeras suara meminta mereka berkumpul di geladak utama untuk latihan safety drill. Semua orang  setengah hati untuk melakukannya. Karena sebagian besar apa yang akan disampaikan itu sudah mereka hapal di luar kepala. Mungkin kecuali tempat di mana mereka harus berkumpul ketika emergency benar terjadi. Apalagi jika safety drill mereka memakai pengantar Bahasa Inggris. Andaru memilih untuk berada di belakang kerumunan. Sebagian besar kapal memiliki denah yang sama sehingga tidak sulit untuk menemukan geladak utama yang disebutkan. Project Manager, Site Manager Bule, dan Lary dengan wearpack-nya yang tampak kebesaran di tubuhnya itu juga tenggelam dalam helm-nya. HSE Officer perusahaan Lary berdiri disudut. Menunggu dengan helm merahnya, membagikan helm putih kepada sebagian besar personel dan putih kepada yang berpangkat lebih tinggi di struktur organisasi. Andaru mendapat kuning sedangkan Abah Tambun – sebagai “mandor” untuk para Welder dan Scaffolder – memakai kuning, begitu juga dengan Project Manager dan Site Manager.   Andaru merasakan pelototan tajam dari Sang HSE Officer itu yang ia malas dengan senyum tanpa dosa. Setelah itu mereka berbaris rapat dengan sikap istirahat di tempat. Sudah pasti yang memimpin acara itu adalah Sang HSE Officer sendiri yang sekarang tengah memeriksa arlojinya. Tepat setelah itu terdengar suara klakson kapal dan besi besar mengapung itu mulai bergerak. “Selama siang, Bapak-bapak sekalian…” Kapal bergerak perlahan meninggalkan tempat bersandarnya. Andaru mencuri pandang ke arah langit dan burung-burung yang berterbangan selama Sang HSE Officer itu berbicara… “…Dan tolong untuk para perokok. Kalian tahu apa yang akan kalian hadapi jika ketahuan melakukannya di tempat terlarang. Dan tolong pakai salah alat safety kalian.” Andaru berdiri tepat di belakang Abah Tambun dan sudah dipastikan – entah bagaimana – peringatan itu ditunjukkan lurus-lurus ke arahnya.   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN