Satu hal yang Eris percayai dengan sepenuh hati setelah diputuskan sepihak dari pacar pertamanya adalah perkataan teman sekamarnya:
Kalau ia selalu menarik perhatian pria lebih tua.
Bukan karena penampilannya, tapi kerena ia juga pintar. Eris dengan mudah melebur dengan segala jenis percakapan. Lebih karena tuntutan pekerjaan sampingannya itu. Eris membaca lebih banyak, menonton atau membaca berita di setiap koran. Mengisi otaknya dengan segala topik yang terjadi di dunia. Ia menjadi kesayangan para dosen lalu perlahan dipercaya untuk mendampingi tamu penting dari luar negeri…
Banyak pria yang mendekatinya. Lokal maupun mancanegara. Dari yang mengajaknya serius atau yang hanya bebagi cinta selama beberapa hari. Tapi Eris bisa menahan dirinya dengan baik dibantu dengan kesukaannya pada BTS dan lockscreen ketujuh pria di ponselnya itu adalah cara yang mudah untuk menjauhkan pria yang tidak ia inginkan.
Caranya? Setiap kali ada pria yang mencoba menggodanya. Ia hanya butuh berpura-pura membuka pesan di ponselnya dan menunjukkan dengan jelas lockscreen-nya pada mereka. Mereka akan pergi saat itu juga. Teman sekamarnya tertawa terbahak-bahak dengan triknya itu.
“Untungnya kau tidak memperlihatkan mereka sisi kamarmu di sini. Mereka sudah pasti tidak jadi h***y!”
Karena pada tahun tersebut menjadi K-Popers berarti harus kebal menjadi bahan olok-olok dan tercap sebagai “calon perawan tua.”
Eris tetap sendiri hingga ia lulus kuliah agar menjaga beasiswanya tetap penuh. Ia sudah punya cukup tabungan jadi ia tidak perlu banyak bekerja di dua semester akhir dan hanya fokus pada tugas akhirnya…
Ibunya? Ia nyaris tidak pernah datang mengunjunginya, kecuali satu waktu ketika Eris mnerima penghargaan di semester empat dan ditelepon oleh dosennya. Hanya sangat sebentar. Mereka nyaris tidak berbicara satu sama lain. Eris tidak mau membual karena bisa bertahan tanpa ibunya.
Ada kemauan, pasti ada jalan. Motto dari teman sekamarnya itu.
Ia lulus tepat waktu (ia tidak mampu untuk cume laude akibat pekerjaannya) Sedangkan sang teman sekamar memilih untuk menikah dengan pria yang menghamilinya tanpa menyelesaikan tugas akhirnya dan memang tidak berniat untuk melakukannya.
Eris tanpa berusah-payah ditawari pekerjaan di hotel bintang empat di ibukota untuk posisi asisten supervisor. Ia menerimanya dengan senang hati…
***
Lokasi hotel tempat Eris diterima bekerja di tengah kota membuat pilihan kontrakan murah yang bisa ia bayar terbatas. Ditambah ia tidak punya kendaraan. Jadi ia mendapatkan kontrakan di daerah sempit yang berdiri tepat di belakang gedung apartemen tempatnya tinggal sekarang. Itulah alasan kenapa ia mengenal banyak penjual makanan murah di daerah tersebut.
Hari itu tepat tiga tahun Eris bekerja di hotel tersebut. Persiapan acara rapat besar Ruiz Tbk memakan waktu tiga hari. Karena sebagian pesertanya juga akan tinggal di hotel tersebut selama acara itu berlangsung. Eris baru saja terangkat sebagai supervisor. Sangat cepat dan membuat beberapa orang iri. Ia mengepalai panitia acara rapat itu menjadi salah satu supervisor yang disegani dan ditakuti dan tentu saja mendapatkan julukannya dengan cepat sendiri.
Sebenarnya sebelum Lazuardi menghampirinya sendiri hari itu, Eris sudah memerhatikan pria itu dari kejauhan. Pembawaan Lazuardi yang tenang dan berwibawa. Tawanya, astaga tawanya. Matanya yang abu-abu bisa dikenali dari kejauhan. Dengan setelan jas tanpa dasi dengan kancing kerah yang terbuka. Seperti keluar dari sampul buku Harlequin. Dan luuny abukan hanya ia yang berpikir seperti itu. Seluruh petugas hotel yang bertugas pada hari itu mengomentari hal yang sama.
Eris sempat berpapasan dengan Lazuardi. Kebiasaannya selama menjadi tour guide adalah membaca nama belakang lebih dulu. Moreno, COO Tenu saja ia orang luar. Ruiz Tbk. adalah perusahaan Spanyol yang mengelola tambang batu bara di Kalimantan sana. Eris yakin paling tidak ada satu orang yang berasal dari luar negeri dalam perusahaan tersebut.
Tapi Eris kesulitan untuk menebak usianya. Ia tampak sehat dan tubuh yang kokoh. Dari bisik-bisik yang Eris dengar tidak ada cincin kawin di jemarinya.
Lalu ia berusha untuk tetap sadar. Ia tidak pernah tertarik dengan tamunya sebelumnya. Satu-satunya adalah abang-abang BTS-nya. Jadi ia keluar dari ruang rapat itu sebentar, menjernihkan kepalanya dengan menonton salah satu encore performance BTS di SBS Inkigayo melalui ponsel di lorong yang sepi dekat toilet. Tertawa dari aksi kocak para idol-nya itu. Terlalu menghayati sehingga tidak sadar seseorang telah berdiri di hadapannya.
Lazuardi Moreno. Pria yang berusaha untuk tidak ia pikirkan terlalu jauhu sekarang mengajaknya makan malam! Ia tidak lupa berkata itu kali pertama ia menerima ajakan dari seorang tamu. (Karena memang benar) Lazuardi tampak senang karena ia berkata seperti itu.
Eris hanya punya satu gaun (ia hanya punya firasat ia harus memakai sesuatu seperti gaun dan frasatnya benar.) Dan entah kenapa ia tidak terkejut jika pilihan tempat kencan pria itu adalah restoran di rooftop dengan lilin-lilin. Seakan-akan pria itu hidup dalam “tipikal” yang dipikirkan orang-orang padanya. Eris menyadari pria itu menegak tiga perempat botol win seorang diri pada acara makan malam itu. Eris mnebak mungkin kali itu pria itu merasa bisa menjadi dirinya sendiri.
Tapi ia tidak pernah mengira ia juga harus memapah pria itu keluar dari restoran dlam keadaan mabuk berat.
Keesokan hari setelah acara makan malam yang “aneh” itu, Lazuardi meneleponnya untuk meminta maaf dan berjanji untuk menebus kesalahannya. Jadi kali ini Eris memutuskan ialah yang memilih dia akan makan malam.
Kenapa Eris bersedia untuk melakukannya untuk kedua kalinya? Karena percakapannya dengan Lazuardi sebelum pria itu mabuk adalah sesuatu yang selama ia idam-idamkan. Seseorang yang terdengar masuk akal dan dewasa. Aura lembut menguar dari tubuh pria itu. Ditambah Lazuardi bukan tipe alpha male yang membuatnya jijik selama ini…
***
Beberapa kali kencan makan malam dan sekali pergi menemani Lazuardi pergi berbelanja di libur akhir pekannya yang sangat jarang itu, Eris akhirnya menyerah dari desakan Lazuardi yang memintanya menunjukkan di mana ia tinggal selama ini.
“Kau tidak bisa memarkirkan mobilmu d sana,’ jelas Eris berusaha tertawa. Orang-orang jelas akan bertanya-tanya dengan adanya mobil mewah terparkir di pinggir jalan sebelum mereka melewati lorong menuju kontrakan Eris.
“Kau tinggal di sini?” Lazuardi bertanya lamat-lamat pada kontrakan Eris yang menempel dengan empat rumah lainnya. Teras ketiga tetangganya yang lain sedang penuh dengan jemuran pakaian atau motor yang diparkir.
“Ya, cukup murah dan sangat dekat dari hotel dengan membayar beberapa rupiah untuk ojek online.”
Hanya butuh tiga hari setelah kunjungan Lazuardi itu, Eris mendapatkan kado sebuah apartemen yang letaknya hanya sejengkal dari kontrakan lamanya. Apartemen dua kamar lengkap dengan perabotnya yang mahal. Terlebih dengan dapurnya, Lazuardi berkata ia ingin memasak untuk Eris yang tidak bisa memasak sama sekali itu dan sudah pasti tidak mungkin ia lakukan di apartemen milik perusahaan yang pria itu tinggali selama ini.
Ketika melihat apartemen itu pertama kali, Eris teringat dengan salah satu mimpi dari teman sekamarnya di asrama dulu. Sebelum gadis itu dihamili oleh seorang pacar satu angkatan mereka dari jurusan Food Bevarage yang bermimpi menjadi bartender terkenal di Bali. Kalau mimpi gadis itu adalah menjadi istri simpanan dari seorang pengusaha kaya raya.
“Agar jadi tidak perlu bersusah-payah bekerja. Tinggal merawat diri setiap hari. Menyambutnya dengan tubuh lembut dan harum. Lalu bercinta seharian. Breakfast in bed! Belanja sepuas hati!”
Tapi Eris-lah yang hidup dalam mimpi teman sekamarnya itu. Karena Lazuardi memang mimpi. Ia bisa membeli banyak merchandise BTS tanpa takut besok ia masih bisa membeli makan apa tidak. Pakaiannya akan berganti ketika si pria merasa ia sudah memakai pakaian yang sama terlalu lama. Menggesek kartu hitamnya ke manapun ia pergi. Mengendarai mobil hitam impor yang mengilat yang sama sekali tidak marah jika dipanggil dengan sebutan cute...
***