Mari kita sedikit menceritakan masalah lalu, ya?
Eris Rahmadi sudah berda di tingkat terakhir sekolah menengah kejuruannya ketika ibunya memutuskan menikah lagi detngan seorang pria yang ia tidak tahu entah muncul di mana. Ia hanya tahu ibunya sering menelepon seseorang dan tertawa-tawa. Setelah itu tiba-tiba ia membawa seorang pria ke rumah dan mengenalkannya pada Eris. Pria berumur juga – Eris mendesah lega dalam diam karena mereka bukan berasal dari keluarga berada – memperkenalkan dirinya dengan menjabat tangan Eris. Namun ketika mereka melakukannya, ibu jari pria itu mengelus bagian punggung tangannya. Membuat Eris cepat-cepat menarik tangannya.
Tentu saja kejadian itu tidak luput dari pengawasan ibunya. Ia dimarahi ketika pria itu pulang, berkata jika Eris sudah tidak sopan…
Pernikahan terjadi hanya berselang dua pekan setelah perkenalan itu. Ibu Eris terlihat sangat bahagia di acara sederhana yang dilakukan di rumah mereka itu. Eris hanya tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Tapi ia selalu merasakan tatapan tajam ayah tirinya itu menembus dirinya, membuatnya merinding.
Eris bersyukur itu tahun terakhirnya sehingga I menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Bukn hanya karena pengantin baru berada di sana, karena ia berusaha kers menjauh dari ayah tirinya yang mengambil bnyak kesempatan unuk menyentuhnya. Ketika ia cuci piring, mengelus pinggangnya hingga membuat berjengit dan memecahkan piring.
“Oh, Eris. Ibumu bilang kau sangat ceroboh,” kata pria itu sambil berdecak. Berdiri sangat dekat dengan Eris hingga gadis itu bisa mencium bau parfum murahan yang menyengat dari tubuh pria itu. Membantu Eris mengumpulkan pecah pirin di wastafel, namun sesekali berusaha untuk meraih tangannya.
Eris muda cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Mengunci pintu kamarnya dengan d**a berdebar ketakutan.
Sekali waktu Eris pulang sekolah dan mendapati hanya ada pria itu di sana. Berkata ibunya pergi arisan dan belum pulang. Eris langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia tidak jadi mandi dan mengurung diri di sana, memerhatikan gerendel pintunya bergerak-gerak karena ditekan dari luar dengan terduduk di kaki ranjang sambil memeluk kakinya.
“Kau tahu, aku bisa membuka kuncinya dengan mudah sayang. Ayolah, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi denganmu di sekolah hari ini,” pujuk pria itu dari luar dengan suara lembut.
Ia tidak bisa memasang kunci tambahan di pintu kamarnya karena akan mengundang kecurigaan ibunya. Pria itu dengan mudah membuat ibunya terlihat bahagia dan dipenuhi cinta. Karena sudah bertahun-tahun ayah Eris meninggal, menyisakan ibunya sendirian membesarkan Eris.
Bahkan sebelum ibunya memutuskan menikah lagi, Eris sudah sangat ingin meninggalkan rumah secepat yang ia bisa. Ibunya selalu menyebut masalah uang yang harus ia keluarkan untuk membiayai sekolah kejuruan Eris,
“Study tour? Untuk apa? Hanya jalan-jalan saja, kan? Kenapa tidak kau lakukan dengan membaca buku saja?”
Eris mengambil Jurusan Perhotelan dan sudah pernah magang di hotel. Ia sudah bisa mengenali dengan baik jenis pria seperti ayah tirinya itu. Sebelumnya sudah banyak tips yang ia dapatkan dari para seniornya. Diam-diam ia juga membeli portable lock door yang membuat pintunya tetap terkunci walau sang ayah tiri berhasil membuka kunci kamarnya dari.
“Kau gadis penggoda licik,” bisik pria itu pada Eris di suatu pagi ketika malamnya pria itu sekali lagi tidak berhasil membuka pintu kamarnya.
Kala itu Eris tidak pernah berpikir untuk pacaran. Ia fokus mengejar beasiswa S1 Perhotelan di kota sebelah yang akan memberinya asrama selama tahun pertama perkuliahan. Toh, sekolahnya tidak memberinya tipe pemuda yang ia idamkan.
Di hari naas itu. Ketika Eris sekali pulang dalam keadaan ibunya sedang tidak di rumah. (Ayah tirinya berkata kalau ia bekerja melalui online dan tidak ada satu bukti untuk menunjukkan kalau pria itu berbohong.) Ia mengejar Eris masuk ke kamar. Eris tidak sempat menutup pintunya. Mencengkeram kedua pergelangan tangan Eris dan menindih gadis itu ke ranjang.
Seandainya kalau ia tidak pernah belajar. Ia mungkin sudah kehilangan segalanya. Ia berhasil menendang s**********n pria itu. Berhasil meraih tas sekolahnya sebelum berlari keluar.
Ia pulang cukup malam agar ibunya sudah berada di rumah dan si ayah tiri sedang keluar untuk membeli rokok. Eris memang menunggu tidak jauh dari rumah, menunggu pria itu keluar dari sana agar ia menceritakan apa yang baru saja terjadi dengannya.
“Kenapa kau membiarkan kamarmu berantakan begitu, Eris. Kau bahkan memecahkan lampu tidurmu lagi…”
“Ma, ada yang ingin aku ceritakan padamu.”
Maka berceritalah Eris muda pada ibunya yang langsung mendelik tidak percaya itu.
“Jangan bercanda! Kau tahu ia tidak mungkin melakukannya!”
Eris baru saja akan mengangkat pergelangan tangannya yang memar Ketika ayah tirinya tiba-tiba pulang dan berkata cepat kalau ia hanya membantu Eris bangun setelah gadis itu terselip dengan selimut ranjangnya sendiri dan membentur meja nakasnya, menjatuhkan lampu tidurnya.
“Tapi ia panik dan kabur begitu saja. Tidak tahu terimakasih.”
Ibunya yang dimabuk cinta tentu saja mempercayai sang suami daripda putrinya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian Eris mendapatkan besiswa yang ia inginkan. Beasiswa penuh jika ia tetap menjaga nilainya tetap bagus hingga kelulusan. Namun ia harus menunggu selama dua bulan lagi sebelum ia resmi meninggalkan rumah yang semakin berubah menjadi neraka itu.
Sang ayah tiri membisikkan kalimat ancaman setiap kali ada kesempatan. Berkata kalau ia coba-coba membuka mulut lagi, ia tidak segan-segan menghancurkan hati sang ibu dengan berkata kalau Eris-lah yang mendatanginya dan menggodanya…
Dan Eris bertahan. Ia lulus. Mengepak barang-barangnya. Meninggalkan ibunya yang jelas tidak memperayainya itu dengan pria yang ia cintai dengan mata tertutup itu. Ibunya datang mengambil rapor terakhirnya, hanya mengucapkan selamat sekali.
“Jelas ini yang selama ini kau inginkan, kan? Keluar dari rumah.”
Eris memberanikan diri untuk menjawab, “Karena Ibu selalu berkata kalau aku membuang-buang uang. Jadi sekarang aku tidak akan menjadi bebanmu lagi.”
Jadi ia pindah tanpa diantar seperti anak-anak baru lainnya. Mencoba membiasakan diri dengan kehidupan kuliah sebelum mencoba mencari pekerjaan. Lama baru Eris tahu kalau ia tidak akan pernah bisa bekerja di ranah restoran akibat kecerobohannya. Biasanya ia hanya bertahan selama tiga bulan bekerja sebelum akhirnya dinyatakan tidak lulus masa percobaan akibat terlalu banyak memecahkan piring. Selama mencari pekerjaan sampingan dari satu dan lainnya, ia bergantung pada uang saku beasiswanya...
Hingga akhirnya ia menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Menjadi tour guide sampingan di beberapa agen perjalanan. Bahasa Inggris-nya sangat bagus dan Bahasa Korea-nya yang lumayan (karena saat itu ia sudah menyukai BTS) untuk ukuran seseorang yang baru keluar dari sekolah menengah. Perlahan ia dipercaya untuk membawa turis berusia lanjut yang memberi tip sangat banyak…
Lalu ketika satu malam ia pulang setelah membawa sepasang turis Kroasia yang sangat menuntut, ia melihat teman satu kamarnya pulang dengan begitu banyak belanjaan bermerek, pakaian tipis mahal, dan senyum mengembang…
“Kau tau, Eris. Ada banyak hal mudah yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan uang!” Teman satu kamarnya itu berdecak melihat Eris yang berbaring di ranjangnya masih dengan seragam tour guide-nya. “Kau punya potensi, kau tahu.”
Eris tidak pernah benar-benar memikirkannya. Namun teman sekamarnya itu berbaik hati untuk paling tidak mengajarinya merawat diri lebih baik. Sesuatu yang ibunya dulu menyuruhya melakukannya, tapi tidak pernah benar-benar mengajarkan padanya. Ia belajar memakai beberapa produk yang membuat kulitnya lembut. Rambutnya mengembang dan harum. Pulasan make-up tipis terbaik. Parfum yang cocok dengannya yang tidak suka dengan aroma menyengat.
“Aku selalu iri dengan kulit gelap dan rambut hitammu ini. Banyak bule yang menyukainya!”
Bukannya tanpa alasan Eris menjadi malas untuk belajar berdandan. Dengan ia yang biasa saja itu, ayah tirinya mengejar-ngejarnya. Apalagi kalau ia keluar dengan berdandan. Sudah pasti ia akan dituduh berusaha menggoda pria itu.
Dengan pulasan baru itu, Eris juga berubah menjadi versi terbarunya. Ia memasang tampang keras dan tidak bersahabat kepada lawan jenis yang tidak ada hubungan dengan pekerjaannya. Apalagi kepada orang-orang yang hanya mengejar tubuhnya. Karena – entah bagaimana – di asrama itu orang-orang tahu kalau Eris belum pernah mendapatkan cerita miring tentang dirinya…
Dan ia bertemu seorang pemuda yang ia serahkan dirinya sepenuhnya padanya.
Pria itu sangat lembut dan pengertian. Salah satu tour leader yang sering membawa turis domestik di tempat Eris bekerja. Pria itu hanya tertawa ketika Eris berjalan dan tiba-tiba nyaris terjatuh akibat kakinya sendiri. Ia mengenali kekikukan Eris dibalik topeng keras yang berusaha gadis itu pakai. Mereka berpacaran jarak jauh dan hanya bertemu ketika si pria membawa tamu ke Kota Kembang itu.
Suatu malam ketika mereka disibukkan dengan hilangnya seorang tamu dan baru menemukannya di salah satu klub. Keduanya dipaksa minum orang tamu tersebut. Mereka kembali ke hotel dalam keadaan setengah sadar. Keesokan harinya Eris menyadari ia sudah tidak berpakaian, di dalam pelukan pria itu…
Eris tidak pernah menyesalinya (walau hari itu Eris bersumpah ia hanya minum jika diperlukan) Eris melakukannya karena ia menyukai pria itu dan melakukannya lagi setiap kali pria itu datang dengan tamunya. Eris merasa bahagia dengan pria itu…
Di masa depa nanti, sebutan “jalang perawan tua” yang Eris dapatkan dari koleganya di hotel menjadi semacam lelucon untuk dirinya sendiri.
Hingga suatu hari. Di tamu terakhir pria itu dan dirinya. Pria itu berkata ia akan menikah dengan orang lain.
“Kita hanya bersenang-senang, Eris. Itu adalah bagian terbaik dari pergi meloncong!”
Pada saat itu Eris tahu, bukan hanya ia ceroboh. Ia juga payah dalam mempercayai pria…
***