Affectionate (3)

2586 Kata
Keesokan paginya dua orang terlibat dalam pertengkaran konyol yang melibatkan air juga. Eris bersikeras ia butuh mandi sebelum ia keluar dari rumah sakit. Sedangkan Lazuardi meminta untuk tidak melakukannya karena bekas operasinya yang masih diperban. Sedangkan Sang Sekretaris berdiri di sana sambil menata mereka bergantian. “Saya akan membantu Eris mandi.” Sang Sekretaris akhirnya setelah menutup mata seakan-akan ia butuh waktu untuk tetap berkepala dingin dalam keadaan itu. Ia bahkan tidak bereaksi banyak ketika Lazuardi memelototinya.. “Lihatlah rambunya yang lepak itu. Tidak ada wanita yang mau keluar dalam keadaan rambut seperti itu.” Eris mengucapkan terimakasih, namun Sang Sekretaris hanya menanggapinya dengan menyiapkan handuk dari lemari kamar rawat VIP itu dan membantunya masuk kamar mandi. Eris membuka piyama rumah sakitnya di depan Sang Sekretaris yang sibuk dengan peralatan mandinya. Eris masih terkesima dengan adanya bak mandi di kamar mandi VIP itu. Setelah itu Sang Sekretaris menaruh handuk kecil di lehernya. “Masuk ke bak mandi dan bersandarlah di tepi dinding bak.” Sang Sekretaris berdiri di luar bak mandi dengan shower mencuci rambut Eris dengan telaten. Ia bahkan memijiat sedikit kepala Eris hingga wanita itu menutup matanya. “Bagaimana kau bisa sangat hebat seperti ini?” “Aku punya anak perempuan yang manjanya setara denganmu.” Eris langsung membuka matanya. “Tapi aku seingatku aku tidak pernah mendengarmu sudah menikah.” “Memang belum,” jawab Sang Sekretaris santai. Mata Eris bergerak-gerak gelisah. “Jika kau mengira aku punya rencana untuk mengambil Senor Lazuardi darimu. Kau salah besar. Pria berumur bukan tipeku.” Sang Sekretaris sambil membersihkan sisa sabun dari kepalanya. Eris menghela napas lega, tanpa tutup-tutupi. Setelah selesai dan rambut basah Eris dalam balutan handuk dari lehernya. Eris duduk tegak. Ia sebenarnya ingin sekali mengguyur tubuhnya dengan air. Dan sepertinya Sang Sekretaris juga menyadari itu. “Sebenarnya kau bisa saja mengguyur tubuhnya sedikit dengan air. Toh, perbanmu itu tipe tahan air.” Sang Sekretaris menyeringai sambil memadang ke arah bekas operasinya “Tapi aku tidak ingin bertengkar dengan pria menyebalkan di luar sana itu.” “Kalau begitu gunakan waslap dan basahi sekedarnya. Aku akan keluar untuk memeriksa apakah administrasinya sudah selesai apa belum.” Sang Sekretaris langsung berbalik pergi. Eris menuruti saran itu. Jadi ia masuk kembali ke bak mandi. (Ia sudah merasa bersalah telah membuat lantai kamar mandi kering itu becek.) Mengelap tubuhnya dengan waslap sebasah mungkin. Sang Sekretaris benar. Perban tahan air itu tampak baik-baik saja terkena air. Eris merasa lebih baik setelah tubuhnya terkena air dan rambutnya sudah dicuci. Ia memakai pakaian yang di bawa Sang Sekretaris untuknya. (Membayangkan wanita itu di dalam kamarnya dan mengaduk-aduk lemarinya membuatnya merinding.) Ia bahkan tidak lupa mengambilkan peralatan make-up Eris. Jadi Eris memulas diri sedemikian rupa di cermin. Lazuardi pernah berkata ia memang tipe wanita yang tidak memerlukan banyak make-up. Dengan kulitnya yang kecokelatan dan mata yang cokelat madu sudah memberi banyak efek untuk penampilannya. Ia menyemprotkan sedikit parfum pada lehernya dan lengkap sudah. Tapi ternyata Lazuardi sama sekali tidak terkesan. Eris lupa kalau ada hair dryer di meja rias di dalam kamar mandi dan Lzuardi benci sekali kalau ia berpergian dengan rambut yan masih basah seperti itu. Eris menghela napas karena pria itu masuk ke kamar mandi dan muncul dengn hair dryer dari kamar mandi. Eris duduk di pinggir ranjang dan dengan kaki yang tergantung, membirkan Lazuadi berdiri di depannya sambil mengeringkan rambut Eris dengan tangannya sendiri. Eris mengulum senyum sebelum ia melingkarkan tangannya ke pinggang Lazuardi dan membiarkan pria itu bekerja dngan dahi Eris menempel di dadanya. “Sudah selesai.” Lazuardi berkata dan membiarkan rambut Eris yang sebahu itu mengembang dengan sempurna. Lazuardi merapikan rambut Eris dengan sela-sela jemarinya. Eris malah mempererat pelukannya, membuat Lazuardi menunduk untuk membalas pelukan itu sama eratnya. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam kepala Eris sekarang. Ia tahu Lazuardi punya anak perempuan yang usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih muda darinya. Apa Lazuardi pernah melakukan ini pada putrinya itu? Atau mungkin istrinya? Tapi ia tidak ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya itu. Tidak berapa lama kemudian Eris mendengar suara dehaman sangat keras. Dari balik tubuh Lazuardi Eris melihat Sang Sekretaris muncul dengan ekspresi datarnya yang biasa dengan sopir Lazuardi yang berdiri gelisah di belakangnya. “Administrasinya sudah selesai. Kalian sudah boleh pulang.” Butuh dua detik untuk Lazuardi akhirnya melepaskan pelukannya dari Eris lalu menghela napas. Sang Sekretaris sudah mengambil tas-tas kerja Lazuardi, sedangkan sang sopir mengambil tas-tas milik Eris. Namun Sang Sekretaris dan sopir Lazuardi sudah berjalan lebih dulu dengan barang-barang itu dan menghilang di balik pintu. Eris yang baru saja turun dari tas ranjang berjengit ketika Lazuardi tiba-tiba berseru, “Kau perlu kursi roda!” Eris memutar bola matanya. “Aku bisa berjalan sendiri. Terimakasih.” Lazuardi menatapnya tajam namun Eris berjalan dengan penuh percaya diri meninggalkan kamar rawatnya. Sang Sekretaris memberinya pakaian berupa rok dengan karet yang longgar di atas pinggang dan kemeja besar. Ia hanya berharap roknya tidak tersingkap ketika ia berjalan. Itu saja. Ketika keduanya berada dalam lift, Lazuardi mendorongnya ke sudut belakang agar dan memepetnya. Eris menebak agar tidak ada orang yang bisa menyenggolnya secara tidak sengaja. Dan untuk membalas itu, Eris meraih tangan Lazuardi dan menggenggamnya. “Jadi kita akan makan apa? Aku lapar sekali,” tanya Eris begitu mereka keluar dari lift. “Tidak ada jajan. Aku akan memasak.” Mata ris melebar. “Tidak ada apa-apa di rumah.” Eris merasakan tangan Lazuardi menyentuh lekuk pinggangnya ringan. Menuntunnya untuk mempercepat langkah di lobi rumah sakit yang sibuk. Mobil Lazuardi telah menunggu di depan pintu rumah sakit. Sang Sekretaris duduk di depan di sebelah sopir, sedangkan Eris masuk di kursi belakang disusul oleh Lazuardi di belakangnya. “Pemberhentian pertama adalah hotel tempat Eris bekerja.” Sang Sekretaris berkata dari depan dengan nada datarnya yang biasa. Eris menegangguk. Itu untuk mengantar surat keterangan dokter miliknya. Jarak hotel dan rumah sakit cukup dekat sehingga tidak berapa lama kemudian mereka sudah berada di lobi yang lain. Lazuardi tiba-tiba menadahkan tangan ke celah antara kursi penumpang dan kursi sopir. “Sini, biar aku saja yang menyerahkannya.” Eris langsung berseru nyaring, begitu juga dengan Sang Sekretaris yang memutar tubuh untuk mendelik ke arah pria itu. Seruan protes juga dilakukan oleh sang sopir walau sebagian besar waktu ia memilih untuk diam. Lazuardi sampai harus menghempaskan diri kembali ke kursinya dengan bibir mencebik. “Si! Si! Aku tidak jadi melakukannya!” Sang Sekrearis masih menggerutu ketika turun dengan membawa amplop besar berlogo rumah sakit. Ia berlari masuk ke meja resepsionis , berbicara dengan sangat cepat kepada siapapun yang berada di balik sana. Setelah si resepsionis mengangguk barulah Sang Sekretaris berlari kembali keluar dan melompat masuk kembali ke kursinya. Eris yang tadi memberi Lazuardi tatapan tidak percaya itu, sekarang malah terkekeh geli. Wanita itu bersandr menyamping, menikmati setip raut kesal dari pria itu belum akhirnya Lazuardi juga melakukan hal yang sama. Mereka saling tatap seperti itu hingga Sang Sekretaris kembali berseru, “Pemberhentian kedua, supermarket.” Sang Sekretaris menoleh ke belakang, menatap keduanya bergantian. “Apa harus supermarket makanan impor?” Lazuardi menyahut sambil memperbaiki duduknya menghadap ke depan. “Si, aku ingin membeli wine yang bagus.” Karena ia tahu Eris akan protes, ia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. “Please, hanya untuk hari ini. Aku benar-benar membutuhkannya.” Eris hanya bisa mengerang pelan. Ia tahu Lazuardi telaah menekan kebiasaan minumnya selama mereka bersama. “Hanya satu botol. Tidak lebih.” Lazuardi menggumam mengiyakan. Sang Sekretaris menggumam mengiyakan. Menyebut nama sebuah supermarket yang terletak dalam sebuah mall elit itu. Ketika mobil sudah terparkir dalam basement mall, Sang Sekretaris memberi arahan kepada sopir sebelum ikut turun bersama keduanya. Eris dengan tangannya melingkar di lengan Lazuardi dengan Sang Sekretaris dua meter di belakang mereka. Menuju supermarket yang menjual bahan makanan impor. Sang Sekretaris langsung menghilang begitu mereka masuk ke supermarket. Eris baru saja akan mengambil troli, ketika ia merasa Lazuardi mendorong ke samping dan mengambil-alih troli dari tangannya. Sama-sama mereka berjalan dari satu lorong ke lorong lain. Hanya di bagian daging Lazuardi berlama-lama. “Apa menu malam ini, Senor Chef?” tanya Eris setelah akhirnya Lazuardi memutuskan potongan daging seperti apa yang ia inginkan. “Steak and mashed potato,” jawabnya singkat. “Apa kita perlu lilin juga?” Padahal Eris bertanya dengan serius, namun Lazuardi malah memelototinya. Eris selalu membiarkan Lazuardi memilih bahan makanan dan tidak bisa banyak protes ketika Lazuardi mengembalikan sebagian besar cemilan yang ia pilih. Mereka tidak sengaja bertemu dengan Sang Sekretaris dengan trolinya sendiri yang nyaris penuh dengan kebutuhan rumah tangga. “Senor yang akan bayar.” Sang Sekretaris penuh percaya diri. Eris nyaris tertawa, sedangkan Lazuardi hanya bisa pasrah. Setelah itu mreka kembali berpisah jalan. Eris memerhatikan Lazuardi memilih wine dari balik troli. Pria itu memakan banyak waktu di sana sebelum berkata sambil melambaikan sebotol wine dari kejauhan terdapat tulisan berbahasa Prancis. “Ini punya kadar alkohol terendah. Jadi jangan khawatir.” Eris hanya mengangguk sebagai jawaban. Lazuardi memastikan Eris tidak memerlukan apapun lagi dengan menanyainya sebanyak tiga kali sebelum mereka sampai di kasir. Sekali lagi Sang Sekretaris muncul dengan lebih banyak dalam trolinya, mengantri dengan sabar di belakang mereka. Eris mengawasi belanjaan Sang Sekretaris yang lebih banyak dari mereka itu dengan takjub. Lazuardi bahkan tidak berkedip ketika membayar belanjaan itu juga. Dengan sang sekretaris memimpin jalan mobil mereka sudah siap di pintu depan. Sang Sekretaris dengan tegas memisah belanjaan mereka di bagasi belakang ketika sang sopir mengangkatnya dengan Eris yang mengawasi dari kursinya. “Aku rasa kalau aku dewasa nanti aku ingin seperti sekretarismu.” Eris berkata pada Lazuardi yang duduk di sebelahnya sambil memeriksa ponsel. “Please, jangan. Aku tidak akan tahan.” Eris terkekeh kembali duduk pada posisi yang seharusnya setelah Lazuardi menarik lengannya turun “Pemberhentian berikutnya, apartemen Eris.” Sang Sekretaris setelah ia menutup pintu mobil. Eris yang kekelelahan dan karena obat yang ia minum sebelum keluar dari rumah sakit itu kemudian memejamkan matanya. Ia merasa ia hanya tidur sangat sedikit ketika ia merasakan seseorang menepuk pipinya pelan, membangunkannya. “Hey, kita sudah sampai.” Kali ini Lazuardi yang membawa tas milik Eris agar sang sopir bisa membawa belanjaan mereka. Diikuti oleh Sang Sekretaris dengan tas-tas milik Lazuardi. Eris baru sadar kalau Lazuardi tidak pernah meninggalkannya selama ia berada di rumah sakit. Jadi sudah pasti ia juga tidak pernah kembali ke salah satu apartemen miliknya. “Jangan terkejut dengan keadaan di dalam, ya? Please.” Eris melempar pandangan penuh permohonan maaf kepada semua orang yang ada di belakangnya itu sebelum mendorong pintu terbuka. Eris tidak pernah meninggalkan bekas makan di meja makan, Namun entah kenapa kadar kebersihannya tidak pernah sama dengan Lazuardi. Begitu telah meletakkan belanjaan di atas konter di dapur, Sang Sopir langsung memohon diri dan pergi. Sedangkan Lazuardi dan Sang Sekretaris sedang mendiskusikan sesuatu dengan suara rendah selama Eris mengambil tasnya dari tangan wanita itu dan menaruhnya sendiri di kamar. “Kalau begitu selamat bertemu besok, Senor.” Sang Sekretaris melambai ke arah Eris sebelum menutup pintu. Sekarang tinggal mereka berdua. “Aku ingin ganti baju.” Eris berkata dan belum sempat ia berjalan menuju kamar. Lazuardi meraih pinggangnya dan punggungnya menubruk d**a pria itu yang bidang. Pelukan itu cukup erat hingga ia merasakan detak jantung Lazuardi di punggungnya. Eris membeku dalam pelukanitu hingga Lazuardi menaruh dahinya di pundak Eris dan kedua lengan kokoh pria itu melingkar di perutnya, tepat di atas jahitan bekas operasinya. “Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku ketika mendengar suara rintihan kesakitanmu di telepon hari itu,” gumam pria itu dalam posisi yang sama. Eris mendesah panjang. Mengusap-usap lengan Lazuardi tanpa bicara. Karena ia tahu ia tidak punya apapn untuk membela dirinya. Mereka berdiri cukup lama seperti itu sebelum Lazuardi melepaskan drinya dengan amat enggan. “Pergilah berganti baju. Aku perlu marinasi daging itu lebih dulu.” *** Andaru yang pelit cukup lama menimbang apakah ia akan berangkat ke pelabuhan yang berada di utara kota itu dengan angkutan umum atau taksi. Karna pasti biayanya banyak sekali. Namun karena ia sendiri tidak ingin berganti angkutan umum berulang-kali. Jadi dengan enggan ia memesan taksi online dan menggerutu dengan biaya yang harus ia keluarkan untuk itu. Jika ia tinggal di luar kota. Manager Lary akan berbaik hati membiayai ongkosnya hngga ia siap onboard di pelabuhan. Lary hanya tertawa mendengar Andaru yang merengek dengan kalimat betapa tidak adilnya itu… Satu lagi yang Andaru harapkan dalam perjalanan itu. Ia tidak menemui sopir taksi yang banyak bicara karena ia memang sedang tidak selera. Dan sepertiya Tuhan cukup adil dengannya karena Dia mengabukan permintaan Andaru. Tidak banyak percakapan selain, “Selamat siang.” “Jalur sesuai map, kan Pak?” yang dikatakan oleh sang sopir selama perjalanan panjang k utara itu dan Andaru cpat-cepa mengucap syukur sebelum Tuhan berubah pikiran. Setelah menunggu cukup lama akhirnya ia bisa melihat foto profil Eris. Itu bearti wanita itu sudah memasukkan nomornya dalam kontak w******p wanita itu. Tapi Eris tidak memasang foto wajahnya melainkan foto sebuah bunga berwarna ungu yang tidak ia kenali jenisnya. Namun kekecewaannya itu sedikit terobati dengan Eris yang membuat status di sana. Gambar punggung tangan kanannya yang diperban kecil dengan penjelasan. Pulang. Andaru lega karenanya. Ingin sekali ia mengomentari status itu tapi sekali lagi ia menahan dirinya. Jadi ia hanya memandangi foto status itu lebih lama dari seharusnya selama perjalanannya menuju pelabuhan. Sebenarnya ia bisa saja ikut rombongan dari para personel yang ditempatkan pada satu hotel melati itu agar ia menghemat biaya perjalanannya. Tapi karena ia menginginkan waktu sedikit lebih lama untuk dirinya sendiri (yang sudah jelas akan ia susah dapatkan setelah berada di kapal.) Jadi ia memilih untuk bertemu mereka di sana saja. Bahkan ia menolak ajakan Abah Tambun. Andaru menikmati perjalanan tanpa suara itu dengan tenang sambil mencui tidur sejenak. Ketika ia sampai dan tidak lupa mmberi tip yang banyak kepada sopir taksi yang tidak banyak bicara itu ia harus berjalan masuk ke pintu gerbang sendiri. Di sana ia bertemu dengan Lary dan rombongannya. Pria muda itu dengan papan klip di tangan, mengabsen personelnya satu persatu. “Masih ada dua rombongan lagi. Karena salah seorang helper sakit perut, katanya. Jadi mereka berhenti di salah satu rest area.” Karena mereka masuk dari terminal industrial. Mereka tidak punya akses sebebas jika melewati pintu masuk penumpang sipil. Jadi Lary ada di sana sebagai perwakilan. Andaru berjalan mnemus para personel yang mengobrol sambil berdiri itu agar ia bisa berbicra pada Lary. “Jadi pukul berapa barang-barang selesai masuk semua?” “Subuh tadi karena kapal bersandar sejak tengah malam tadi.” Andaru mengangguk-angguk, kemudian menambahkan. “Belum apa-apa kau sudah brkantung mata.” Lary menatap Andaru dengan pandangan tidak percaya. “Kau berkata seperti tidak pernah tahu betapa panjangnya proses proyek bahkan sebelum berjalan!” Andaru mengangkat tangannya, mengisyaratkan permohonan maaf. “Jadi kau akan mengambil shift apa?” “Pagi. Karena rekanku penderita insomnia berat.” Lary menunjuk seorang yang ada di antara kumpulan personel itu, tapi Andaru tidak begitu memerhatikan. Tidak berapa lama sebuah L300 datang dan semuanya bersorak. Turunlah para personel yang ditunggu-tunggu. Salah satunya adalah Abah Tambun. Ia menepuk pundak Andaru sangat kuat sebagai sapaan. Dengan sabar Lary mengabsen mereka sebelum sama-sama mereka memasuki pinu gerbang terminal II itu. Andaru mengerutkan dahi melihat kapal yan menunggu mreka terlihat amat baru dari luar. Dan ternyata yang berpikiran sama dengannya bukan dirinya saja. “Ya, itu kapal baru dari tempat penyewaan kami yang biasa. Langsung dipesan oleh sang manager.” Lary menjelaskan ntah kenapa terdengar bangga. “Kalian memang tidak main-main soal service.” Andaru menimpali.           “Yah, untuk klien, iya. Personel mah nanti saja,” timpal entah siapa yang membuat senyum Lary menghilang saat itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN