Ternyata penandatanganan kontrak mengambil banyak waktu. Walau Lary berkata seluruh personel sudah mendiskusikan kontrak mereka via telepon sebelumnya. Andaru baru sampai di kontrakannya ketika hari nyaris gelap. Ia menggerutu sepanjang jalan akibat terjebak macet untuk kedua kalinya. Ia melemparkan goodie bag berisi barang-barangnya di atas ranjangnya yang ada di lantai itu sebelum ia menghempaskan diri di sebelahnya.
Mereka sudah harus berangkat besok jika kapal yang akan membawa mereka sudah merapat di pelabuhan. Mereka akan naik melalui Pintu Terminal II, tempat perusahaan Lary menyewa tempat untuk kapal bersandar. Namun sebelum Andaru dan rekan-rekannya naik, barang-barang kebutuhan mereka akan naik lebih dulu. Begitu juga cadangan air tawar dan bahan bakar.
“Mari berharap tidak ada delay. Jika tidak berarti kalian baru onboard sehari setelahnya.” Site Manager dengan Bahasa Inggris yang terbata.
Mau tidak mau Andaru harus mengepak malam ini juga.
Andaru mengambil banyak waktu untuk membawa tubuhnya bangkit berdiri. Untuk menjernihkan kepalanya, ia harus mandi. Ia melakukannya dengan sangat singkat. Tidak lupa ia menyambar bakwan dingin kirimannya pagi tadi dari dalam tudung saji dan mengunyahnya sambil memakai pakaian. Tidak lupa ia juga mengeluarkan tas berpergiannya dari dalam lemari dan melemparkannya keluar.
Andaru tidak perlu pakaian bagus untuk dibawa onboard. Toh, pakaiannya akan dicuci dengan air laut. Karena mereka jelas tidak akan mau membuang-bunga air tawar tampungan hanya untuk mencuci. Jadi ia hanya membawa dua pasang pakaian layak, sisanya adalah kaos buluk dan celana pendek untuk dipakai dibalik wearpack. Andaru menyumpah kecil ketika ia menyadari ia juga belum belanja bulanan untuk perlengkapan mandinya.
Minimal hanya dua pekan sekali kapal akan merapat ke pelabuhan terdekat untuk menyuplai bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Di sana para personel juga diberi kesempatan untuk “meluruskan kaki.” Andaru – jika ia sedang tidak mood untuk ikut berulah – akan mengambil kesempatan untuk jajan kuliner setempat atau mencari makanan yan tidak sama dengan menu yang disuguhkan katering kapal. Hanya satu pesan yang sama dibagikan oleh Project Manager yang berbeda ketika mereka melakukanya.
Jangan memakai seragam perusahaan ketika turun dari kapal dan tetap saling mengabari. Itu sama saja dengan perintah “jangan main-main jauh-jauh” dari orangtua ketika mereka masih kecil.
Maka dar itu Andaru harus tetap keluar untuk berbelanja.
Ia selesai berpakaian dan juga sebagian besar barangnya sudah masuk ke tas. Hari sudah gelap ketika ia membuka pintu kontrakannya lagi. Tidak ada angin berembus ketika ia berjalan menuju mini market terdekat, membuatnya dengan cepat berkeringat lagi. Andaru menghela napas lega begitu dingin AC mini market menerpa kulitnya. Ia mengambil keranjang belanja dan mulai mengumpulkan barang-barang yang dibutuhkannya. Tidak lupa ia juga mengambil beberapa cemilan. Karena ia tidak pernah tahu katering kapal seperti apa yang manager Lary pilih untuk mereka.
Kalau catering pilihan mereka pelit, mereka bahkan memberikan charge hanya ketika mereka diminta untuk membuat mie instan yang dibawa pribadi ke atas kapal.
Dan itu berarti potongan gaji yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan untuk semangkuk mie instan sekalipun.
Keranjangnya penuh dengan cepat. Andaru yang masih ogah-ogahan itu mendapatkan kejutan di meja kasir. Si anak perempuan pemilik kontrakannya sedang membayar sesuatu di sana.
“Well, well. Kita bertemu lagi.” Andaru menyeringai.
“Jangan berkata begitu Mas Andaru. Kau terdengar seperti p*****l,” kata si anak bahkan tanpa memandang wajahnya sama sekali.
“Ouch, pedih sekali.” Andaru terkekeh.
Si anak perempuan itu membayar sesuatu yang sepertinya dari salah satu perusahaan e-commerce terbesar di negeri dengan jumlah yang lumayan. Setelah selesai ia minggir agar Andaru bisa menaruh keranjang belajaannya ke atas meja kasir untuk dipindai.
Si anak perempuan pergi begitu saja tanpa mengucap apa-apa lagi. Membuat Andaru berdecak sambil menggeleng-geleng kepala. Setelah barangnya selesai dipindai, Andaru yang lupa mengambil uang tunai itu membayar dengan katu debitnya. Ia tidak mengira ia berbelanja sebanyak itu hingga ia harus mengangkatnya dengan dua tangan. Untungnya ia masih punya cukup uang tunai untuk membeli makan malam berupa mie kuah di pinggir jalan.
Sambil mengantri menunggu pesanannya dibuat, ia memutuskan untuk menelepon Dane.
“Aku kira kau sudah lupa sama sekali denganku.” Dane bahkan tanpa menjawab salam Andaru.
“Tidak mungkin. Kau mak comblangku. Aku harus berbaik hati padamu. Jadi terimakasih dengan gajinya, ya? Kau baik sekali.”
“Kau bahkan tidak bersusah-susah menghitungnya, ya? Dasar lajang.”
Andaru terkekeh. “Bukannya kau juga?”
“Tidak sebentar lagi.”
Andaru menjadi lebih semangat. “Sejak kapan?”’
Diam sejenak. “Aku bukan kau yang senang mengumbar cerita pribadi ke mana-mana.” Dane sangat datar.
“Ayolah, hibur aku. Ceritakan padaku bagaimana kau bertemu dengannya.”
Terdengar helaian napas panjang di seberang sana dan Andaru dengan sabar mendengar Dane menceritakan bagaimana ia bertemu dengan pacarnya yang membuatnya langsung berniat untuk menikahinya. Mendengar betapa tenang dan penuh kasih sayang itu entah kenapa menikam Andaru dengan kecemburuan.
“Cinta tenang-lah yang kita perlukan ketika kita sudah dewasa, Andaru. Bukan yang menggebu-gebu dan membuatmu merasa ada kupu-kupu dalam perutmu. Itu sudah bukan zamanmu lagi.” Dane mengakhiri ceritanya.
“Kau tidak perlu memberitahuku. Aku sudah tahu.”
“Dan aku tidak akan menghakimimu karenanya. Toh, itu hidupmu. Pilihanmu untuk mngikuti mana yang kata hatimu katakan padamu. Tapi untuk seseorang yang katanya makhluk yang penuh logika, seharusnya kau mencari seseorang yang jelas sedang tidak bersama siapa-siapa sekarang.”
Andaru mengerang kecil. “Aku tadi berniat meneleponmu untuk menanyakan kapan jadwal pembersihan jendela hotel tempat Eris bekerja. Bukan untuk diceramahi.”
“Oh, itu. Tenang saja. Biasanya hotel meminta untuk dibersihkan jendelanya setiap dua pekan sekali. Kalau kau memang berminat. Aku akan memanggilmu.” Dane lalu melanjutkan dengan cepat. “Lho, bukannya kau akan onboard sebentar lagi?”
Andaru ingat ia memberitahu Dane soal pekerjaannya yang lain itu. “Ya, aku hanya memastikan aku masih punya pekerjaan lain setelah mendarat. Itu saja.”
Dane berdecak diujung sana. “Biasanya kau mengambil waktu sebulan penuh “untuk pemulihan’ setelah onboard. Atau begitu setiap kali kau kupanggil bekerja.”
“Well, kali ini tidak.”
Pesanan Andaru akhirnya sudah jadi ketika sambungan teleponnya dengan Dane berakhir dan ia membayar dengan sisa uang tunai yang ia punya. Dengan bawaan yang begitu banyak, ia merasa malas untuk memutar sejenak mencari ATM. Jadi ia memutuskan untuk pulang dan sesegera mungkin memakan makanannya.
Andaru melempar begitu saja belanjaannya di lantai dengan ia yang cepat-cepat ke dapur untuk menyalin mie kuahnya ke mangkuk. Ia makan dengan bakwan dingin yang masukkan ke dalam kuah agar lebih kenyang. Pada saat itulah ia menerima pesan balasan dari si anak perempuan pemilik warung mie ayam masuk. Membuatnya nyaris tersedak.
Isinya kurang lebih sama dengan apa yang Eris sudah beritahu padanya. Namun si anak perempuan katakan kalau ia barus saja menjenguk Eris di rumah sakit dan keadaan wanita itu baik-baik saja setelah menjalani operasi usus buntu dan akan keluar rumah sakit sebentar lagi.
Andaru menghela napas panjang. Karena untuk bagian yang terakhir itu Eris tidak memberitahunya. Jadi besok ia bisa onboard dengan hati ringan dan harapan ia bisa lebih dekat dengan Eris setelah kepulangannya.
***
Shift malam Bahlawan tidak hanya duduk di polsek dan tidak melakukan apapun. Terkadang ia dan beberapa rekannya bergantian untuk melakukan patroli keliling desa. Tidak semua anak muda di desanya dan desa sekelilingnya adalah anak baik. Terkadang mereka harus berurusan dengan pesta minuman keras oplosan atau pesta ganja tengah malam dan itu sudah menjadi semacam penyakit menular.
Jadi kalau bukan anak muda desa sini, akan dilakukan oleh anak desa sana.
Bahlawan bersama seorang rekannya berboncengan dengan motor, menyusuri setiap jalan tergelap desa. Sebagian besar masyarakat sudah berada di dalam rumah setelah pukul sembilan malam. Penerangan lampu yang terbatas (setelah Sang COO bule datang baru akan ditambahkan) membuat desa menjadi senyap dalam sekejap.
Bahlawan menggigil di kursi belakang akibat angin malam yang menusuk tulang itu dan sepertinya disadari oleh rekannya. Mereka menyusuri jalanan berbatu dan berlumpur ketika tiba-tiba ia merasakan rintik hujan yang tiba-tiba datang. Ia mendengar rekannya itu memaki, sebelum memutar motor. Tentu saja mencari tempat untuk berteduh. Dari kejauhan ia melihat pos tempat truk batu bara berhenti untuk ditimbang sebelum truk tersebut menuju pelabuhan.
Bangunan itu tampak seperti mini pom bensin dengan dua jembatan timbang disetiap sisinya. Setahu Bahlawan ada sekitar tiga pria yang bekerja di sana dan sudah pasti tetap buka sepanjang malam.
Hujan menderas ketika mereka tinggal beberapa meter lagi dari pos tersebut. Bahlawan dan rekannya sempat basah dulu sebelum bisa mencapai pos timbang.
“Dari patroli, Pak Polisi?” sapa seorang pria dengan kepala plontos keluar dari dalam ruangan dengan lampu yang sangat terang.
“Ya dan kami kehujanan.” Rekan Bahlawan mengusap rambutnya yang basah.
“Hujan seperti ini akan sangat panjang. Apa kalian mau kopi?” Pria lain muncul yang langsung dikenali Bahlawan sebagai salah satu junior ayahnya di tambang. “Astaga, kau itu Bahlawan?”
Bahlawan menyahut sambil menundukkan kepala.
“Ayo, hangatkan tubuh kalian di dalam ruangan sini. Ada kopi sebanyak kalian mau dan mie cup instan.” Pria itu memanggil keduanya dengan isyarat tangan dengan amat semangat sekarang.
Ruangan itu cukup tua dengan dinding yang entah kapan terakhir kali dicat lagi. Semua barang-barang di dalamnya tampak tua. Ruangan itu terlihat memiliki dua ruangan dan satu kamar mandi. Di ruang depan terdapat sebuah meja kerja dengan beberapa buku nota, laptop, dan printer. Sebuah sofa ganda reyot menempel di dinding. Sedangkan di samping meja kerja tada meja lebih kecil tempat dispenser, kotak gula, gelas, beberapa piring dan sendok dalam gelas, dan sekardus cup mie instan.
Bahlawan dan rekannya saling pandang sebelum memasuki ruangan. Ruang itu untungnya memang hangat. Kedua polisi muda itu sekarang duduk saling berimpitan di sofa. Memerhatikan pria itu membuatkan mereka kopi dengan air panas dispenser.
“Apakah akan ada truk yang datang dalam keadaan hujan deras seperti ini?” tanya Bahlawan yang duduk di dekat pintu sambil melirik keluar.
“Tentu saja. Pekerjaan tetap berjalan dalam cuaca apapun. Kita semua punya kuota yang harus dikejar.” Pria berumur itu tergelak lalu menyerahkan gelas kopi yang beruap kepada keduanya.
Hujan makin kencang. Lengkap dengan angin yang ribut. Bahlawan sedang menyesap minumannya dalam dia ketika pria itu sudah duduk di balik meja kerja dan berkata,
“Bagaimana kabar ayahmu, Bahlawan? Apa ia menikmati masa pensiunnya?” Pria itu sambil mengaduk kopinya sendiri.
“Ya, tidak butuh bangun pagi atau mendapatkan telepon di tengah malam.” Bahlawan mengulang kalimat ibunya itu.
Pria itu tergelak. “Aku sendiri sudah tidak sabar. Tiga tahun lagi, kau tahu. Cepat-cepat ingin brmain dengan cucu.”
Terdengar dehaman sangat dari rekan Bahlawan, embuat Bahlwan melempar pandangan menyipit ke arahnya.
Ketika kopi Bahlawan tinggal setengah, barulah sebuah truk dengan boksnya ditutup terpal datang. Bahlawan melihat truk itu perlahan menaiki timbangan dan sebuah bunyi “bip” terdengar dari laptop di hadapan pria berumur itu. Setelah itu dua pria naik, membuka terpal untuk melihat isi dari dalam terpal. Sang pria mengetik sesuatu diikuti dua kertas muncul dari printer. Sang sopir truk tiba-tiba melompat turun dan berdiri di ambang pintu.
“Benar-benar maaf. Apa aku bisa pakai kamar mandi sebentar?”
Pria dibalik meja hanya memberi isyarat tangan. Si sopir mengucap terimakasih dan berjinjit-jinjit melewati Bahlawan dan rekannya menuju kamar mandi. Bahkan dengan lebatnya hujan di luar, Bahlawan massih bisa mendengar suara sangat ribut dari dalam kamar mandi.
“Jadi begitulah. Kehidupan di sini.” Si pria menulis sesuatu pada dua kertas yang dicetak itu, menjepitnya di papan klip, sepertinya menunggu tandatangan sang sopir. “Penuh kejutan pada setiap detiknya, benar?”
“Bukannya pada setiap kehidupan juga seperti itu?” Rekan Bahlawan menimpali sambil memamerkan pakainnya yang basah.
Lalu kata-kata itu diikuti suara erangan lega dari dalam kamar mandi, membuat ketiganya tertawa saat itu juga.
***