Sedangkan dalam ruang meeting hotel yang sejuk dan dingin sekarang Andaru tengah memandang ponselnya dan membaca cepat pesan yang sudah ama ia tunggu-tunggu itu dengan perasaan kalut.
Eris meminta maaf padanya baru bisa menjawab pesannya sekarang karena ia sedang berada di rumah sakit sekarang pasca operasi usus buntu. Dan wanita itu berjanji akan tetap mengabarinya perkembangan kesembuhan si pemilik warung mie ayam…
Andaru mendengar seseorang mengatakan sesuatu tapi butuh waktu lama untuk ia bereaksi. Itu Abah Tambun yang berdiri di hadapannya dengan wajah mengerut khawatir. “Maaf, Abah. Tdi Abah bilang apa?”
“Aku bertanya tadi apa kau baik-baik saja? Wajahmu seperti kau baru saja mendapatkan berita buruk.”
Andaru menggosok tengkuknya. “Tidak juga. Hanya berita mengejutkan.”
Abah Tambun menatap wajahnya cukup lama. Sudah pasti sedang mencari jejak kebohongan, tai Andaru sudah bangkit sambil menyelipkan ponselnya kembali ke sling bag. “Ayo, Abah. Kita makan.”
Di luar ruang meeting terdapat meja prasmanan yang disiapkan untuk menjamu ke-dua puluh personel lainnya. Menu lokal itu membuat banyak orang menghela napas lega. Sudah jelas mereka mengira akan disuguhkan menu internasional karena kehadiran Sang Site Manager.
“Alah, mereka tahu kalian semua dari kampung. Tidak mungkin ada spaghetti untuk kalian!” seru Abah Tambun yang diiringi gelak tawa.
Andaru berada tepat di belakang Bah Tambun menyadari pria itu tidak makan sebanyak yang biasa ia lakukan sebelumnya. Andaru sendiri juga makan secukupnya, melihat dari para personel yang menyendok makanan hingga menggunung itu malah membuatnya mual.
Atau mungkin karena ia baru saja mendapatkan pesan mengejutkan itu?
Para personel menarik kursi mereka dar ruang meeting untuk duduk di sekitar meja prasmanan. Sedangkan Sang Site Manager dan Sang Manager mendapatkan menu lain di dalam ruang meeting. Andaru duduk bersama Aba Tambun yang makan sambil mengobrol dengan para personel lainnya.
“Pekerjaan ini akan cukup rumit. Mengingat kita tidak hanya memasang scaffolding di sumur itu Kita juga akan memasang pipa sambungannya di bawah laut.” Abah Tambun memulai sebelum menyuap.
“Itulah kenapa ada diver di tim ini.” Sang Welder itu membuat mereka melirik ke arah kelompok kedua yang makan sambil mengobrol itu juga.
“Kenapa saya merasa kalau para diver merasa diri mereka sangat elit?” Seorang rigger muda menyahut di belakang Andaru.
“Karena mereka memang elit. Hanya sedikit yang aku kenal rendah hati.” Abah Tambun menimpali.
“Jadi ini sumur baru, kan kalau saya tidak salah mengartikan penjelasan Berbahasa Inggris Site Manager Bule tadi.” Andaru menimpali.
“Ya, karena perusahaan minyak negeri meminta bantuan mereka untuk mengurusinya. Nah, yang aku tahu perusahaan Sang Site Manager bule itu sangat pemilih. Jadi bagaimana perusahaan Lary bisa mendapatkan proyek ini?”Abah Tambun lagi.
“Karena mereka punya banyak koneksi personel, saya rasa. Apalagi di bulan seperti ini ketika semua personel kebanyakan sudah dikontrak oleh peerusahaan lain.” Andaru mengedikkan bahu
Mereka serentak menggumam mengiyakan.
“Karena main contractor kita orang luar. Itu berarti HSE Offier dari pihak mereka akan jauh lebih ketat.” Sang Welder sambil menggigit kerupuk.
“Lebih ketat dari punya Lary?” Rigger lain menimpali.
“Yah, lebih dekat dari punyaku.”
Kelompok Andaru mendongak dan mendapati Lary sudah berdiri di dekat mereka dengan satu tangan memegang piring makannya dan tangan yang lain menyeret kursi. “Jadi kalian para anak nakal harus berhati-hati. Karena mereka akan onboard bersama.” Lary menghempaskan diri dan mulai makan di dekat Andaru.
“Aku kira kau akan ikut makan di prasmanan spesial di dalam sana.” Andaru, menyeringai.
Lary memutar bola matanya. “Porsinya sudah dihitung. Aku jelas tidak masuk hitungan.”
Mereka – selain Lary – saling pandang.
“Aku melihat namamu di struktur organisasi tadi. Jadi kau ikut onboard?” Abah Tambun sambil mengunyah.
“Ya, karena aku saya genap punya pengalaman tiga tahun mengurus dokumen. Seperti yang main contactor persyaratkan.” Lary tenang, menyuap lagi.
“Berarti kau sudah ambil sertifikat sea survival?” Andaru dengan alis mata yang naik.
Lary mengangguk karena ia sibuk mengunyah.
“Tapi bukan sertifikat “tembak”, kan?” Abah Tambun menimpali, mengundang gelak tawa. Tapi Lary tetap tenang. Ia sudah terbiasa digoda seperti itu. Risiko menjadi yang termuda dalam tim.
Setela itu mereka membiarkan anggota termuda tim mereka makan dengan tenang. Satu-persatu para perokok mengembalikan kursi mereka masuk sebelum keluar. Begitu juga dengan Andaru.
Tapi ketika Andaru-lah yang baru akan pergi. Lary berseru keras. “Kembali setengah jam lagi!”
Andaru menanggapi dengan lambaian di atas kepala.
Setelah Andaru bertanya kepada petugas hotel yang menjaga meja prasmanan mereka. Tempat terdekat untuk merokok adalah melalui pintu belakang hotel. Ketika ia sampai di sana, ia menemui personel lain. Mereka hanya mengangguk sekali sebagai salam satu sama lain. Setelah rokoknya menyala dan terjepit di bibirnya. Andaru mengeluarkan ponsel untuk membalas pesan yang sempat tidak jadi tadi.
Bagaimana caranya ia mengetahui keadaan Eris tanpa harus berlari mengejar ke rumah sakit seperti orang gila?
Pertama-tama, ia harus berkata kalau ia berterimakasih kepada Eris akan janjinya dan berharap kalau wanita itu segera sembuh (Walau sebenarnya banyak sekali yang ia ingin katakan.)
Kedua, mau tidak mau ia memakan perkataannya sendiri. Menghubungi si anak perempuan pemilik warung mie ayam yang ayahnya ia selamatkannya hari itu bersama Eris. Ia harus secara tidak terang-terangan untuk meminta informasi tentang keadaan Eris darinya. Jadi Andaru menulis:
Apa Mbak Eris masih datang menjenguk juga hari ini?
Setelah itu Andaru tidak berharap untuk mendapatkan balasan segera.
Ia bahkan tidak begitu bersemangat ketika pesan yang masuk malah pemberitahuan gajinya dari Dane sudah masuk ke rekeningnya.
Andaru menghirup rokoknya lagi. Kali ini memilih untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri, alih-alih ikut dalam percakapan. Matanya awas mengamati para pekerja hotel yang juga berlalu-lalang. Ada sesuatu pada seragam mereka yan menarik perhatiannya.
Hingga ia teringat dan mencegat salah satu petugas untuk menanyakan pertanyaannya.
“Maaf, apakah kau kenal dengan salah satu pegawai di sini yang bernama Eris?”
Pria muda itu mengerutkan dahi sejenak, sebelum berseru lengkap dengan telunjuk menuding. “Ah, Ibu Eris. Beliau salah satu supervisor kami, Pak. Ada apa, ya?”
Andaru menggeleng. “Beliau teman saya. Hanya memastikan.”
Pria muda menatapnya bingung sebelum berlalu dengan membungkuk. Andaru melambai ke arahnya.
Sekarang ia tahu Dane tidak berbohong dan ia harus tahu kapan kapan jadwal bersih jendela gedung hotel ini nanti.
Setelah ia mendapatkan informasi yang ia inginkan, cepat-cepat Andaru menghabiskan rokoknya itu. Ia menjadi yang pertama dari para personel perokok yang kembali dengan langkah ringan dan senyum mengembang. Lary juga baru selesai menyerahkan piring kotornya pada si penjaga prasmanan ketika Andaru melempar seringaian padanya.
“Aku memilih untuk tidak bertanya.” Lary mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Membuat Andaru terkekeh. Keduanya sama-sama memasuki ruang meeting yang sekarang penuh dengan para personel yang kekenyangan.
“Habis ini kita akan melakukan apa lagi?” tanya Andaru pada Lary sebelum pria muda itu kembali ke mejanya.
“Habis ini kita akan menandatangani kontrak, mengumumkan rencana keberangkatan dan pembagian personal safety tools.”
Andaru mengangguk kemudian menambahkan “Apa paket itu termasuk dengan sepatu?” tanyanya penuh harap.
“Yah, sayangnya begitu…” Lary memutar bola matanya.
Lazuardi Moreno memandangi Eris Rahmadi meminum obatnya seperti elang mengawasi mangsanya. Eris bahkan memutar bola matanya setelah ia selesai menelan.
“Habis ini kau…”
“…Tidur. Oke, mengerti.” Eris memotong perkataannya saat itu juga lalu memejamkan matanya. Walau jelas ia tengah menahan senyumnya dengan susah payah.
Lazuardi menghela napas ketika ia menyadari isi kantung infus wanita itu nyaris habis. Ia baru saja akan memencet tombol bantuan ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu. Lazuardi heran luar biasa, tapi karena siapapun yang mengetuk itu tidak kunjung masuk. Lazuardi bangkit dan membuka pintu tersebut.
Seorang wanita dengan pakaian biasa, ditemani oleh seorang anak perempuan remaja tampak menciut begitu berhadapan dengannya.
“Astaga, kalian tidak perlu datang!”
Lazuardi menoleh ke belakang. Menyadari Eris sepertinya mengenali siapa tamunya itu. Jadi Lazuardi mempersilahkan mereka masuk. Keduanya masuk dengan tubuh membungkuk dan sikap ragu-ragu.
“Apa tidak apa-apa membiarkan Bapak sendirian?” Wajah Eris bersinar setelah kedatangan mereka berdua. Lazuardi menyadarinya bahkan dari kejauhan seperti itu.
“Bapak sudah cukup kuat untuk ditinggal sebentar,” sahut si anak perempuan menjawab. “Kami tidak tahu harus membawa apa. Tapi Ibu bilang kami tidak boleh tidak membawa apa-apa.”
“Jadi kalian membawa sesuatu yang bisa dimakan oleh sang penjaga pasien?” Mata Eris mengikuti langkah Lazuardi menuju sisi lain ranjangnya.
“Iya, tapi sekali lagi kami tidak tahu apa yang harus kami bawa. Jadi kami bawa ini.” Si anak mengangkat sebuah tas plastik dengan logo kincir angin itu.
Eris anehnya tampak khawatir, tapi Lazuardi berbaik hati mengambil oleh-oleh itu dengan senyum bisnisnya yang biasa. “Terimakasih, saya pastikan saya makan ini sendirian.”
Eris mencibir dan Lazuardi dengan sengaja menghiraukannya.
“…Jadi apa suami Anda yang dibantu oleh Eris beberapa hari yang lalu?”
Sang ibu mengagguk, menatap Eris dengan pandangan sayang. “Benar. Dan kami tidak akan pernah melupakan kebaikannya – dan Anda – telah membiayai perawatan suami saya.”
Lazuardi sengaja melirik ke arah si anak ketika berkata, “Tidak perlu dipikirkan. Saya senang membantu.”
Hanya bersama Eris-lah, Lazuardi belajar untuk mulai menghormati orang-orang yang berada di bawahnya. Ia tidak lagi marah jika pesanannya salah jika berada di rumah makan atau restoran. Ia akan mengoreksinya dengan perkataan lembut. Alasan kenapa ia bisa sangat nyaman berada di rumah Galuh diluar dari kekesalannya pada para petinggi kantor tambang hari itu.
Tapi bukan berarti Lazuardi akan menurunkan standar pekerjaan karena itu.
Setelah itu Lazuardi membiarkan mereka bercakap-cakap dengan ia menaruh oleh-oleh itu di dekat laptop-nya. Apalagi ketika Eris tampak senang seseorang mau datang menjenguknya. Lazuardi selalu tercengang setiap kali Eris mau berusah-payah beramah-tamah dengan semua pegawai atau pemilik warung tempat mereka makan selama ini. Kata Eris itu lebih dari sekedar mendapatkan porsi yang lebih banyak.
Pertemuan itu berlangsung singkat. Lazuardi dengan ramah kembali bangkit untuk membukakan mereka pintu.
“Kau tampak senang mendapatkan tamu,” Lazuardi berkomentar dengan wajah Eris yang masih tersenyum lebar itu.
“Tentu saja. Sekali-sekali mendapatkan tamu tidak ada salahnya.” Eris dengan mata yang berbinar satu tangannya terjulur. “Apa kau mau tidur siang bersamaku?”
Cukup lama Lazuardi hanya berdiri di sana, menimbang ajakan menggiurkan itu sebelum ia akhirnya menyerah dan berjalan ke arah ranjang Eris. Eris bersorak kecil sambil memberi ruang kepada Lazuardi agar ia bisa menyelip masuk ke selimut Eris. Kepala wanita itu berbantalkan bagian lekuk pundaknya. Satu lengan Lazuardi melingkar pada tubuh Eris. Napas Lazuardi meniup-niup rambut di puncak kepala Eris.
Lazuardi menggosok-gosok lengan atas Eris sambil sesekali membenamkan wajahnya di puncak kepala wanita itu. Eris yang tidak mandi selama tiga hari itu sama sekali tidak berbau apapun. Lazuardi menggumamkan sebuah lagu Spanyol yang dikenalnya ketika masih muda dan perlahan tubuh Eris merileks dan tertidur dalam pelukannya. Lazuardi mengambil banyak waktu untuk memastikan kalau wanita itu sudah cukup terlelap baru melepaskan diri – dengn enggan – darinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Pra itu berjinjit kembali ke sofa. Ia duduk dan menghidupkan kembali laptop-nya untuk membaca laporan ang dikirimkan oleh kantor tambang di Kalimantan sana dan yang dikirim oleh sang sekretaris. Ia meringis melihat namanya terpampang pada spanduk dimulainya perbaikan bangunan sekolah dasar, namun ternyata yang datang adalah manager operasional. Melihat banyaknya ibu-ibu yang hadir, ia merasa mudah-mudahan mereka tidak “kecewa” dengan ketidak-hadirannya.
Lalu ia berpindah dengan laporan dari sang sekretaris. Untuk ini ia membutuhkan waktu lama untuk memprosesnya. Ada laporan serangan bajing loncat kisaran tiga tahun terakhir dari bebrapa sopir truk pengangkut batu bara yang berbeda. Namun hanya beberapa yang dilaporkan polisi karena jumlah yang dicuri tidak seberapa.
Jika terjadi terus-menurus. Jumlahnya tidak akan seberapa. Begitu tulis Sang Sekretaris sebagai pengantar laporannya.
Lazuardi meringis sambil memijat kedua pelipisnya.
Biasanya perusahaan memilih untuk tidak memproses kejadian tersebut ke polisi karena betapa rumitnya mengikuti proses hukum di negara ini. Apalagi jika terjadi di daerah kecil. Selama tidak ada yang terluka, maka kasus tersebut akan dibiarkan begitu saja. Lalu sang sopir akan memilih rute lain (yang biasanya juga tidak dilakukan karena membuat perjalanan dari tambang ke pelabuhan mejadi lebih jauh.)
Bajing loncat bukan barang baru bagi area pelaku industri. Lazuardi sudah tahu itu.
Tentu saja tingkatan tertinggi perusahaan tidak diberitahu soal ini.
Ponsel Lazuardi mendadak berbunyi. Ia mendapatkan telepon dari Sang CEO lagi. LAzuardi menimbang-nimbang telepon itu sambil melirik Eris yang tertidur pulas. Sebelum akhirnya mengangkat telepon dan mengucap salam,
“Kudenngar kau sudah kembali ke ibukota, Lazy? Apa semua sudah beres di sana?”
Jadi Lazuardi menceeritakan temuannya sejauh ini pada Sang CEO. Ada suara terkesiap diujung sana ketika ia menceritakan soal kehadiran polisi pada saat Sang Chief diantar ke rumah sakit.
“Menurutmu ini sama sekali bukan kecelakaan?” Sang CEO lamat-lamat.
“Saya tidak mau berspekulasi, Sir.”
Diam sejenak. “Baiklah. Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya sebelum kau berani untuk menunjuk seseorang. By the way, jika kau memang ada di ibukota. Datanglah sebentar untuk menghadiri rapat hasil audit internal, oke?”
Lazuardi sekali lagi melirik ke arah wajah Eris. “Maaf, Sir. Tapi saya… sedang menunggui sseorang di rumah sakit sekarang.”
“Siapa?” Sang CEO diam sejenak. “Oh, baiklah kalau begitu. Kabari aku lagi jika kau sudah selesai dengan urusanmu.”
Lazuardi mengucap salam lagi lalu sambungan teleponpun ditutup. Mendengar Sang CEO begitu pengertian membuatnya yakin itu karena selama ini ia memang sangat jarang mengambil cuti untuk apapun. Walau sikap Eris manja luar biasa, ia juga tidak menuntut Lazuardi selalu ada. Mereka menjalani hidup mereka masing-masing dan bertemu ketika waktu mereka mengizinkan.
Dan setelah audit internal selesai. Lazuardi akan mengambil cuti lagi untuk memenuhi janjinya pada Eris…
Jadi Lazuardi membalas pesan Sang Sekretaris dengan cepat. Sebelum ia merangkak nak ke ranjang Eris lagi. Kali ini membiarkan detak jantung lembut wanita itu membuainya hingga ia juga terlelap.