Hurts (3-2)

2290 Kata
Berbeda dari Andaru yang sama sekali tidak tahu penyebab kenapa Eris tidak menjawab pesannya itu karena Eris sudah tidak memegang ponselnya sejak ia berada di rumah sakit. Dan sekarang wanita itu nyaris frustrasi akibat bosan. Dokter sudah mengunjunginya beberapa saat lalu. Tentu saat dengan Lazuardi yang sangat dekat dan mendengarkan penjelasan dokter lebih serius darinya. Kata dokter, jika ia baik-baik saja. Ia sudah boleh pulang besok atau lusa. Operasinya memang bukan sebesar yang ia sangka. Tapi bukan berarti ia sudah bisa langsung berkegiatan seperti biasa setelah keluar. Butuh sekitar 4-6 pekan untuk Eris bisa bekerja secara maksimal lagi. “Tidur, Eris.” Pria yang duduk di sofa penerima tamu dengan laptop dipangkuan itu berkata tanpa mengangkat pandangannya dari layar. “Sudah! Terlalu banyak malah. Aku ingin ponselku.” “Tidur.” Pria itu lagi - Lazuardi Moreno, masih sama sama datarnya. “Aku harus mengabari manager-ku di hotel di mana keberadaanku sekarang. Karena aku tidak ingin wanita mengerikan itu memecatku!” Eris merengek sambil menghempaskan kepalanya ke bantal lagi. “Lebih mengerikan dari kau?” Eris yang dalam keadaan setengah terbaring itu ia masih bisa melihat ada senyum yang menari di sudut bibir Lazuardi ketika pria itu mengatakannya. Membuat Eris memutar bola mata. “Ayolah, aku sedang tidak bercanda.” “Biarkan saja ia memecatmu kalau begitu.” Eris mengerang tidak terima. “Yah! Jangan. Aku tidak ingin menjadi tidak berguna dengan beralas-malasna dengan uangmu.” Perkataan itu membuat Lazuardi berhenti mengetik, membuat Eris menggigit bibirnya. Menyesali apa yang baru saja ia katakan. Mereka tetap hening seperti itu hingga Lazuardi tiba-tiba bangkit dan berjalan ke arah ranjangnya. Eris memberinya senyum lebar ketika Lazuardi perlahan membungkuk di depan lemari nakas untuk mengeluarkan tas yang sangat dikenali Eris. “Sebelum membopongmu keluar dari apartemen sekretarisku dengan cepat mengumpulkan beberapa barang pribadimu. Aku yang memintanya melakukannya dan tahu tas ini sudah pasti memuat sebagian besar barang-barang yang kau perlukan. Ia juga menyambar ponselmu.” Lazuardi menekan itu semua tanpa memutuskan pandangan pada Eris yang malah menatap tasnya dengan penuh rindu. Lazuardi mengeluarkan ponsel Eris dan ia menariknya ke atas pundak ketika wanita itu berusaha merampoknya dengan satu tangan. “Lima belas menit. Setelah itu makan siang, tidur, dan minum obat. Mengerti?” Eris mengangguk-angguk bersemangat. Menadahkan tangannya dengan bibir mencebik. Mencoba seimut mungkin. Ia akhirnya membuat Lazuardi menghela napas panjang. “Lima belas menit. Tidak peduli seimut apapun kau sekarang.” Lazuardi menyerahkan ponsel itu di atas telapak tangan Eris dan mencium puncak kepala wanita itu. Tangannya yang besar dan hangat mengelus pipi Eris sebelum pergi. Eris berseru riang namun begitu ia menghidupkan lampu ponselnya ia mengerang pelan. Baterai ponselnya hanya tinggal 20%. Ia tidak menyangka ia punya beberapa telepon tidak terjawab dan pesan w******p yang menumpuk. Pertama-tama ia harus mengabari sang manager-nya yang juga meneleponnya beberapa kali pagi ini. (Eris selalu memasang mode “senyap” pada ponselnya kalau ia berada di rumah.) Ia mengirimkan pesan permohonan maaf dan juga mengirim beberapa foto. Foto tangannya yang diinfus dan bekas operasinya sebagai penegasan. Karena jika tidak seperti itu, sang manager akan mengirimkan pesan panjang berupa ancaman berupa Surat Peringatan 1 dan sudah merepotkan banyak orang. Dan untuk terakhir itu memang benar. Kedua, pesan dari temannya di laundry room yang memberitahunya kalau setelan jasnya sudah selesai dicuci dan kenapa ia tidak kunjung mengambilnya. Lengkap dengan pesan susulan tentang orang-orang yang mencari keberadaannya. Dalam rentetan pesan itu terdapat tulisan: Orang-orang mengira kau sudah kabur dengan sugar dady-mu. Eris ingin tertawa. Karena memang bisa saja seperti itu. Lazuardi mungkin akan melakukannya kalau ia tidak mengikuti apa yang pria itu perintahkan padanya… Tidak. Hanya tiba-tiba butuh dioperasi saja. Tidak lupa Eris juga memberikan foto ang sama pada wanita itu. Ketiga, dari si anak perempuan pemilik warung mie ayam itu. Memberinya kabar tentang keadaan ayahnya yang membaik dengan sangat cepat dan mungkin akan pulang setelah genap sepekan di rumah sakit. Namun karena Eris tidak kunjung menjawab. Si anak perempuan menanyakan keadaannya lagi. Jadi Eris memberitahunya yang sebenarnya. Tidak buuh lama si anak perempuan langsung membalas pesannya dan menanyakan di mana ia dirawat… Keempat, dari nomor yang tidak dikenalnya. Ketika ia membaca pesannya akhirnya ia tahu dari siapa. Dari Andaru. Pria yang juga ikut menyelamatkan si pemilik warung mie ayam hari itu. Butuh waktu lama ia sadar kalau ia memang memberikan nomornya pada pria itu malam itu. Berkata kalau acara makan malam mereka hari itu menyenangkan, berharap kalau Eris sampai di rumah dengan baik, dan pria itu berharap ia masih bisa mendapatkan info tentang keadaan si pemilik warung mie ayam darinya. Untuk yang satu ini Eris tidak tahu harus menjawab apa. Setelah berpikir ukup lama, akhirnya Eris meminta maaf karena butuh waktu untuk membalas pesannya dan memberitahu keadaannya (kali ini tanpa foto) dan Eris akan memberitahunya info tentang si pemilik warung mie ayam sesering ia bisa. Tidak lupa ia memberitahu Andaru tentang informasi terakhir itu. Baru saja ia memencet tombol “kirim”, ponselnya berdering. Dahinya mengerut dalam melihat nama sang manager hotel tempatnya bekerja itu langsung meneleponnya. Eris mengangkat telepon itu dan ragu-ragu menguap salam. “Kau… Bagaimana keadaanmu sekarang?” Eris melirik Lazuardi yang sedang menulis sesuatu dalam jurnalnya itu sebelum menjawab. “Sudah bisa pulang sekitar dua-tiga hari lagi.” “Seseorang akan datang untuk mengurus administrasi…” Eris nyaris duduk tegak, kalau bukan karena selang infus mungkin ia sudah melakukannya. “Saya… Seseorang sudah melakukannya.” Hening sejenak. “Jangan katakan itu adalah sugar dady yang semua orang tahu keberadaannya itu? Yang setelan jasnya sering kau bawa cuci di laundry hotel?” “Miss, Anda bergosip juga?” Eris meringis. “Lagipula itu setelan jas mahal. Saya tidak mungkin membawanya ke sembarang laundry.” “Hanya karena itu alasannya?” “Itu dan untuk menghentikan julukan “jalang perawan tua” yang sering diam-diam aku dengar itu.” Ada helaian napas di seberang sana. “Itulah alasan kau tidak disukai, Eris.” “Lha, bukannya seharusnya aku yang tersinggung dengan julukan itu?” “Bukan. Karena kau jelas membuat mereka makin iri denganmu. Dengan sengaja.” Eris menghela napas panjang. Mengedarkan pandangannya ke kamar rawat VIP-nya dan juga pria berkartu kredit hitam yang sama sekali tidak masalah membayar dua perawatan rumah sakit yang tidak murah dalam satu waktu yang sekarang tengah duduk bekerja dengan buku jurnalnya itu. Seorang COO perusahaan tambang batu bara berdarah Spanyol. Sangat tampan walau di usia lima puluhan. “Kalau mereka menginginkan hal yang sama. Sudah jelas mereka harus bekerja sama kerasnya dengan saya.” Sedangkan di pulau seberang sana. Seseorang tengah menyantap hidangan enganin dengan piring di tangan pada pesta pernikahan yang digelar di rumah lengkap dengan keyboard yang memutar lagu dangdut dan lagu daerah. Bahlawan dengan seragam polisinyasedang menyup nsi banyak-banyak di salah satu kursi plastik dengan sndaran itu sambil memerhatikan para tamu undangan yang terus datang. Hanya ada sedikti tamu yang datang dengan pakaian pesta. Sebagian datang dengan pakaian kerja, safety vest, dan sepatu booth. Orang-orang pekerja tambang batu bara yang menyempatkan datang disela-sela shift mereka. Memberi selamat kepada mempelai pria yang juga adalah seorang sopir truk pembawa batu bara itu. Bahlawan dan sang mempelai pria adalah teman satu SMA. Jadi ia datang sebelum shift-nya di mulai dan ia tidak mau bersusah-payah pulang mengganti pakaian lagi. Jadi ia langsung datang dengan seragam dinasnya. Desa Bahlawan cukup luas, namun semuanya saling mengenal. Untuk seorang lajang yang tidak pernah keluar daerah sama sekali. Mereka akan mencari pasangan dari desa sebelah atau seorang yang mereka temui di sekolah atau di tempat kerja. Untuk alasan yang sama jugalah kenapa kejadian Sang Chief masih menjadi perbincangan hangat di manapun. Bahkan saat Bahlawan sedang makan saat ini. Ia harus menggeser kursinya cukup dekat agar bisa mencuri dengar sambil terus makan. “Masih belum sadar, katanya.” “Istrinya sudah mulai putus asa. Menangis kepada siapapun yang mau dengar.” “Kasihan mereka baru saja kehilangan putri mereka satu-satunya.” Memang benar. Putri mereka yang usianya hanya terpaut tiga tahun lebih muda dari Bahlawan menderita leukimia selama bertahun-tahun. Semua orang di desa tahu itu. Mereka hanya mampu membawa sang anak berobat ke rumah sakit umum provinsi dan lebih parahnya lagi mereka harus mengeluarkan biaya sendiri karena usia anak perempuan itu sudah lewat dari batas usia tanggungan anak Ruiz Tbk. Sang Chief tidak bisa berbuat banyak. Pangkatnya tidak cukup tinggi dan gajinya tentu saja tidak bisa menopang pembiayaan berobat yang sangat bahkan dengan sedikit bantuan jaminan kesehatan pemerintah yang ia pegang. Jadi beberapa bulan sebelum ia meninggal. Sang anak hanya terbaring lemah di rumah. Menunggu ajal menjemput… Bahlawan dan ayahnya mendapatkan laporan berkala dari ibu mereka setiap hari ketika keejadian itu terjadi. Walau begitu sang ibu adalah salah satu dari banyak yang bergantian mengirim makanan ke rumah Sang Chief. Karena ibunya tahu Sang Chief dan istrinya tidak sempat untuk mengurus hal-hal semacam itu. Bahlawan menghela napas. “Hey, kata orang tua tidak baik menghela napas di depan makanan.” Bahlawan mendongak dan mendapati teman satu SMA yang laindan juga pekerja tambang itu muncul di hadapannya. Sangat kebetulan mengingat ia juga yang menjadi saksi dari kejadian yang menimpa Sang Chief. Pria itu sekarang memegang piring yang penuh dengan makanan itu. Menyuruh Bahlawan geser dengan lututnya agar ia bisa menarik kursi yang ada di belakang pria itu. Hari ini pria itu memakai pakaian resmi batik dan sangat rapi. Berbeda dari rekan kerjanya yang lain. “Jangan melihatku seperti itu. Aku juga ingin sekali-sekali memakai pakaian bagus dan tanpa serbuk batu bara di tanganku.” Si Teman Bahlawan berkata dengan mulut penuh karena Bahlawan masih terus saja menatapnya. “Karena aku memang tidak pernah melihatmu selain dengan kemeja flannel selama beberapa tahun belakangan ini.” Bahlawan menyeringai. Menyesap air gelasnya dari sedotan. Si Teman Bahlawan mneyeringai sambil terus mengunyah. “Aku harus terus seperti itu mungkin sampai rambutku beruban. Sedangkan kau mungkin bisa saja berakhir menjadi Kaporles atau apa.” Pria itu menghentikan pembicaranannya untuk menelan. “Tapi bisa saja tidak, sih. Soalnya kau tidak pandai merayu atau menjilat.” Bahlawan melempar tisu kertas yang ia pakai mengelap mulutnya tadi ke wajah temannya itu. Tapi pria itu mengelak dengan mudah. “Bukannya kita harus bisa seperti itu jika ingin naik pangkat dengan cepat?” Si Teman Bahlawan membela diri. Bahlawan hanya menggeleng-geleng, tidak percaya. Kemudian Bahlawan memilih diam untuk menyelesaikan makannnya. Begitu juga dengan si teman. Selama itu ia masih mendengar nama Sang Chief disebut-sebut dan sepertinya si teman juga menyadarinya. Pada saat itulah ia menyadari setiap kali ia mendengar nama Sang Chief di dalam banyak cerita, ia tidak pernah mendengr nama temannya itu disebut. Jadi Bahlawan menarik kursi plastiknya ke arah pria itu agar ia bisa berbisik. “Aku bar sadar kalau aku tidak pernah mndengar namamu disebut-sebut dalam kecelakaan itu.” Si Teman Bahlawan itu membeku sejenak. “Aku tidak tahu. Seharusnya, sih iya. Petugas puskesmas di sana itu sebagian besar berasal dari luar daerah ini. Jadi bisa saja mereka tidak tahu namaku. Karena mereka juga tidak pernah bertanya.” “Bagaimana dengan orangtuamu?” Bahlawan dengan dahi mengerut. “Aku tidak pernah membahas soal pekerjaan dengan orangtuaku dan mereka tidak pernh bertanya apapun. Selama aku bisa membiayai hidup mereka.” Bahlawan menyipitkan mata. “Bahlawan, aku tidak pernah ingin berada dalam lampu sorot apapun. Masih segar diingatanku bagaimana keadaan Sang Chief ketika ditemukan hari itu. Jadi kumohon, jangan menghakimiku.” Bahlawan sekarang duduk bersandar di punggung kursinya. “Seharsnya yang patut dicurigai itu kau. Kau yang seorang polisi menemani seorang pekerja tambang yang terluka dan pangkat cukup rendah.” Bahlawan meletakkan piringnya di tumpukan piring kotor di bawah salah satu kursi plastic sebelum membalas, “Aku hanya menuruti perintah. Tidak lebih.” “Kalau begitu kutarik kata-kataku tadi. Kau bisa saja mendapatkan kesempatan untuk menjadi Kapolres dengan sikap seperti itu. Dan kalau benar tolong jangan lupakan aku.” Bahlawan tahu seharusnya ia memang mempertanyakannya. Tapi melihat wajah Kapolsek hari itu ia mengurungkan niatnya… Ketika organ tunggal memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dengung bisik-bisik terdengar lagi. Kali ini Bahlawan mencari asal suara. Muncul Pak Galuh dan istrinya dengan pakaian pesta mereka yang sederhana. Mereka adalah pasangan yang sedang “naik daun” karena menjadi tuan rumah untuk Sang COO, Lazuardi Moreno. Tapi pasangan tersebut – menurut ibu Bahlawan – tidak banyak memberi informasi seperti apa Sang COO tersebut ketika semua orang berusaha mengorek informasi. Terutama sang istri karena ia memang terkenal tidak banyak berkumpul dan bercerita seperti ibu Bahlawan. Para ibu-ibu terlihat menjulurkan leher ke belakang. Sepertinya berharap Sang COO juga muncul di belakang pasangan itu. Api nyatanya tidak. Mereka datang hanya berdua dan jelas tidak menghiraukan bberapa pasang mata yang menatap tajam ke arah mereka dan langsung naik ke panggung untuk mengucap selamat kepada kedua mempelai. Si Teman Bahlawan berdecak dan mulai mengomenari, “Melihat bagaimana ia terburu-buru pergi setelah mewawanaraiku hari itu aku yakin ada hubungannya dengan orang yang dicintai.” Bahlawan ada di sana ketika Sang COO dengan wajah kalut naik ke mobil dinas Pak Galuh dan mobil itu langsung menancap gas seperti tidak ada hari esok. “Ya, seharusnya Pak Galuh memberitahuna orang-orang tentang itu.” Bahlaan menimpali dengan mereka yang sama-sama memutar kursinya ke arah panggung kedua mempelai. Memrhatikan ekspresi Pak Galuh yang berubah seperti permohonan maaf. Ibu pengantin wanitaa sepertinya baru saja menanyakan keberadaan Sang COO. “Aku rasa ia tercabik dengan ingin melakukannya kemudian berhadapan dengan pertanyaan baru “Seperti apa wanita yang menjadi pasangan Mr. Lazuardi Moreno?” Aku rasa lebih baik jika oang-orang mengira pria itu masih lajang. Karena lebih mudah jika tetap seperti itu.” Bahlawan menoleh kea rah pria yang sekali lagi tengah mengunyah makanan hingga satu pipinya menggembung itu. “Apa itu tadi bukan alasan yang kau berikan kepada orang-orang selama ini?” Pria mud aitu menegdikkan bahu. “Kata orang pria membagi satu sel otak yang sama. Aku rasa itu benar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN