Percakapan penuh perasaan itu berbanding terbalik dengan seseorang yang tengah mengaduk-aduk isi lemari untuk mencari ke mana perginya pakaian-pakaian resminya. Tidak seperti ketika ia bekerja dengan Dane. Ia bisa memakai kaos dan dan celana pendek di dalam wearpack yang ia pakai selama empat hari berturut-turut itu.
Kenapa pula perusahaan si pria muda yang merekrutnya itu – namanya Lary, tiba-tiba membuat acara itu di hotel?
Ketika Andaru mempertanyakan kenapa mereka bersusah-susah seperti itu, Lary hanya berkata dengan nada lelah:
“Main Contractor proyek ini berasal dari luar negeri. Seorang dari anggota mereka akan menjadi Site Manager di kapal nanti. Kita hanya bisa ikut saja.”
“Mereka Site Manager dengan Manager kalian sebagai Project Manager? Menarik.” Andaru mendengus. “Lalu perusahaan kalian yang bayar biaya pertemuan itu?”
Lary menggumam mengiyakan dari sambungan telepon itu. “Tentu saja. Menjamu tamu, benar?”
Andaru tahu ranah pekerjaan seperti ini jua membutuhkan banyak entertainment dan lelucon garing yang haru ditertawai dengan sepenuh hati. Namun itu itu bukan urusannya. Ia hanya dipanggil untuk bekerja sesuai dengan ketentuan keamanan yang selalu berubah pada setiap HSE Site yang bertugas pada saat itu dan selama ia tidak menimbulkan kecelakaan. Ia tidak akan apa-apa.
Andaru meringis, mematut dirinya di cermin dengan kemeja berkerah berwarna hijau toska dan celana cargo berwarna cokelat. Ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Jadi ia cepat-cepat menjauh dari cermin agar ia tidak berubah pikiran dengan pakaiannya lagi. Selain itu hanya membawa sling bag berisi ponsel, dompet, dan kunci kontrakannya dan sebuah pena bertinta hitam harga seribuan (orang-orang selalu punya kertas untuk menulis, tapi tidak dengan pena. Andaru tahu itu sudah menjadi kebiasaan di manapun.)
Ketika ia keluar dari rumahnya kontrakannya ia kembali dikejutkan oleh tamu yang tidak diundang. Anak perempuan ibu pemilik kontrakannya muncul dengan sepiring makanan yang entah apa karena ditutup ole kertas nasi. Andaru terkekeh dengan ekspresi si anak perempuan yang jelas kesal luar biasa. Jelas ingin berangkat sekolah, tapi tiba-tiba diberi pekerjaan yang tidak diinginkan.
“Seharusnya Mas Andaru sudah pergi dari tadi,” katanya sambil menyodorkan piring itu ke tangan Andaru.
“Memang. Agar kita tidak bertemu, kan? Tapi dengan begitu kau membuat ibumu kecewa.” Andaru mengambil piring itu kemudian melanjutkan, “Aku akan salin ini dan kau bisa mengembalikan piringnya sekarang. Agar beliau tidak punya alasan untuk menyuruhmu datang lagi.”
Andaru kembali ke dalam untuk menyalin makanan yang ternyata pisang goreng dan bakwan yang masih panas itu. Andaru mencomot satu sebelum menyorongkannnya masuk ke dalam tudung saji. Tidak lupa ia menyambar botol air di meja makannya yang ia jepit antara tulang rusuk dan lengan dalamnya.
Si anak perempuan menunggu di depan kontrakannya sambil berjinjit-jinjit, pandangan matanya menyapu ke seluruh bagian depan kontrakan Andaru. Begitu pia itu menyorongkan piring kosong itu ke arahnya, si anak perempuan berkomentar, “Untuk ukuran pria lajang tanpa istri. Mas Andaru ternyata cukup bersih.” Ia mengambil piring itu dai tangan Andaru.
Andaru tekekeh dengan mulut penuh. “Kau kira aku bar-bar atau apa?” Andaru memanggil si anak perempuan itu lagi ketika ia teringat sesuatu “Aku mungkin akan berangkat 2-3 hari. Tolong beritahu ibumu.”
Si anak perempuan mengangguk. Ia melambai dari atas kepalanya ke arah Andaru yang masih sibuk menegak air putihnya sampai habis dan melemparkan ke tong bekas cat yang menjadi tempat sampahnya selama bertahun-tahun.
Andaru juga merutuki kenapa pertemuan itu harus dilakukan pagi-pagi seperti berangkat kantor. Karena sudah jelas ia akan menderita dengan kemacetan lagi. Untungnya letak hotel itu tidak sampai di tengah kota. Jadi ia tidak harus menderita terlalu lama.
Hotel bintang empat itu tampak cukup sibuk di hari kerja seperti sekarang ini. Ketika berada di lobi ia melihat stand banner yang berlogo perusahaan Lary dan perusahaan asing pemilik proyek yang sekaligus memberi petunjuk ke mana ia harus pergi ke mana.
Andaru baru akan mendorong pintu ganda rapat yang besar itu ketika ia merasa seorang menepuk pundaknya dengaan sangat keras hingga membuatnya mengaduh.
“Astaga, Andaru! Aku tidak menyangka kau di sini!”
Andaru yang masih menggosok-gosok pundaknya yang masih pedih itu berusaha tersenyum. I kenal dengan pria dengan suara menggelegar dan berperut tambun itu. Salah satu yang Sudah lama bekerja di bidang onshore/offshore. Biasanya menjabat sebagai foreman atau scaffolder utama dari proyek-proyek besar. Andaru – kalau ia tidak salah ingat – pernah tiga kali menjadi anggota pria itu dan sekali bersama di salah satu proyek perusahaan Lary ini. Ketika insiden itu terjadi. Pria menyenangkan dan semua memanggilnya dengan Abah Tambun.
“Selamat pagi, Abah. Selalu ceria, ya?” sapa Andaru, lalu menyorongkan tangannya. Mereka berjabat tangan dengan kencang.
Abah terkekeh, menepuk punggungnya lagi. Untungnya Andaru sudah mengantisipsinya, tapi tetap saja masih pedih. Andaru meringis. “Sudah seharusnya. Apalagi setelah apa yang terjadi denganku.”
Sama-sama mereka memasuki ruang rapat dengan Abah Tambun menceritakan kalau ia baru saja kehilangan ibunya yang berusia delapan puluh tahun beberapa pekan lalu. “Itulah alasan kenapa aku baru bekerja lagi sekarang. Dan lihatlah, kita bertemu lagi.”
Andaru duduk di sebelah Abah Tambun dan menyadari kursi-kursi sudah ditata seerti mereka akan menghidiri seminar. Satu persatu orang-orang yang dengan tubuh tegap dan kuligelap akibat terbkar matahari muncul dan saling menjabat satu sama lain. Jelas sama bingungnya dengan dirinya dengan jamuan mahal itu. Andaru bersyukur ia kenal sebgain besar dari dua puluh orang itu. Mereka saling merapatkan kursi dan berbisik-bisik satu sama lain.
“Kalian juga tinggal di sini?” tanya Andaru setelah menjabat tangan salah satu welder dengan rambut berminyak sebahu itu.
“Tentu tidak! Manager Lary, kan pelit? Kami dikumpukan dalam satu hotel kelas melati setengah kilo dari sini."
Abah Tambun dan Andaru terkekeh dengan suara tertahan.
“Tapi kita semua tetap di sini karena ia juga terkenal pemberi bonus yang hebat.” Abah Tambun menggeleng-geleng sambil melipat kedua tangannya di d**a.
“Ya, Abah benar. Semua orang punya kekurangannya masing-masing.”
Tidak berapa lama suara bisik-bisik it teredam dengan suara desis menyuruh diam. Lary muncul dengan Sang Manager dan Sang HSE Officer dan pria bule berkulit putih berbintik-bintik, berambut cokelat terang, dengan mata berwarna sama. Tingginya nyaris dua jengkal dari Lary.
Andaru merasa Lary melirik ke arahnya sebelum Sang Manager tersenyum selama Sang HSE Officer mereka sedang mempersilahkan Sang Site Manager untuk duduk di tengah-tengah mereka.
Ia memerhatikan para koleganya sedang memeriksa ponsel mereka yang Sudah pasti harus di-“senyapkan” selama meeting berlangsung. Jadi ia juga melakukannya. Walau ia mendapatkan berita tentang upah membersihkan jendela pencakar langit-nya dari Dane akan dikirim siang ini dan juga ucapan “semoga pekerjaannya berjalan lancar” dari ibu pemilik kontrakannya. Pesan yang ia kirim sejak kemarin masih saja belum mendapatkan balasan.
Bukannya Andaru tidak ingin menyusul ke rumah sakit dan mencaritahu sendiri jika Eris benar ada di sana apa tidak. Mereka masih belum sedekat itu. Ia harus bersabar jika ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jadi Andaru memutuskan untuk menunggu dan tentu saja – mengirim pesan kepada si anak perempuan pemilik warung mie ayam untuk bertanya tentang keadaan ayahnya. Dan tidak lupa menanyakan keadaan Eris darinya…