Keesokan paginya Eris terbangun ketika langit masih dalam keadaan gelap dan dalam keadaan mata terasa pedas dan wajah bengkak. Eris menunduk dan menyadari Lazuardi tertidur di sebelahnya, dengan berbantalkan lengan di sisi tubuhnya yang tidak sakit. Sebuah laptop berlayar gelap terbuka di nakas dan begitu juga dengan sebuah buku jurnal yang terbuka Eris tahu selalu di bawa Lazuadi ke manapun pria itu pergi.
Eris bersyukur ia merasa lebih baik pagi ini. Ia bahkan bisa mengambil air putihnya sendiri dan perutnya sudah bisa merasakan lapar lagi. Ia juga belum sempat melihat bagaimana keadaan luka operasinya yang diperban itu akibat apa yang terjadi semalam…
Eris menunduk lagi. Ingin sekali ia membangunkan Lazuardi untuk menyuruh pria itu untuk tidur di sofa sana, tapi Eris juga tidak tega membangunkannya. Ia jadi menjulurkan tangan untuk menyapukan jemarinya di antara rambut Lazuardi yang tebal. Beberapa helai uban bermunculan di puncak kepalanya dan Eris tidak suka dengan Lazuardi yang terlihat lebih kurus dari biasanya itu. Padahal mereka baru berpisah sekitar tiga hari.
Seseorang mengetuk pintu dan seorang perawat wanita muncul dengan kotak stainless dan tangan bersarung tangan karet. Perawat itu memelankan jalannya begitu menyadari Lazuardi yang masih tertidur di sebelah Eris.
“Kita harus mengganti perban, Bu.” Sang Perawat memberinya pandangan permohonan maaf.
“Maaf sekali. Bisakah kita melakukannya dengan pelan-pelan. Saya benar tidak tega untuk membangunkan beliau.”
Jadi Sang Perawat membantu Eris untuk mengangkat gaun rumah sakitnya secara perlahan agar tidak membangunkan Lazuardi dan mereka berhasil. Sambil perbannya diganti, Eris memusatkan perhatiannya pada Lazuardi yang masih tidak bergerak itu. Bahkan ketika pekerjaan itu selesai dan kantung infusnya diganti. Sang Perawat mengucap salam ketika ia meninggalkan Eris kembali berdua dengan Eris dan begitu pintu menutup di belakang Sang Perawat, Eris mengguncang lembut tangan Lazuardi dan berkata,
“Kau akan sakit leher jika tidur seperti ini.”
Dengan sangat perlahan Lazuardi terbangun dengan matanya abu-abunya yang berkedip-kedip cepat dan pipi yang berbekas tidur. Ia menatap Eris sejenak sebelum ia sempoyongan bangkit, melepas sepatu dan ikut berbaring di sisi tubuh Eris yang tidak sakit. Sebelah tangan Lazuardi berada di bagian atas tulang rusuk Eris, dagu pria itu di atas pundaknya. Dalam semalam bakul janggut Lazuardi sudah tumbuh lagi dan ketika Eris menoleh ia bisa merasakan gesekan kasar dari pipi Lazuardi di pipinya sendiri…
Pelukan setengah sadar itu sangat ringan, namun menghangatkan suasana dingin di kamar inap itu. Eris menaruh lengannya sendiri di atas lengan Lazuardi di atas tubuhnya itu. Menikmati hangat kulit pria itu di kulitnya sendiri. Kali ini ia membiarkan dirinya menggosok pipinya di bakal janggut kecokelatan itu…
Suara dengkuran pelan Lazuardi membuat Eris merasa mengantuk lagi. Jadi ia kembali memejamkan mata…
Ketika Eris kembali terbangun, Lazuardi sudah tidak berada di sisinya dan ia tampak lebih segar dengan ujung rambut yang masih terlihat basah. Jelas pria itu telah mencuci wajah beberapa saat lalu itu menunduk di atas kepala Eris dengan senyum menggoda.
“Hola, carino. Apa kau mau sarapan?”
“Selama kau yang menyuapiku,” balas Eris dengan suaranya yang masih serak, khas bangun tidur.
Lazuardi menyeringai. “Tentu saja. Tapi kau jelas tidak suka dengan menunya. Mari berharap dengan wajahku bisa mengurangi sedikit kekecewaanmu.”
“Oh, biasanya aku lebih memilih melihat photocard abang-abang Bangtan. Tapi karena aku tidak punya pilihan lain sekarang…”
Kesukaannya akan BTS masih sangat mengganggu Lazuardi hingga dititik pria itu mencemburui para idol-nya itu. Dan Eris sangat senang menggoda Lazuardi karena itu. Reaksi pria itu benar-benar menggelikan.
“Dan aku akan memaafkanmu karena itu. Hanya karena kau sedang terbaring di sini.” Lazuardi lalu berjalan ke arah meja kopi di tengah-tengah sofa penerima tamu. Eris tidak melihat jelas apa saja yang ada di atas baki sarapannya itu dari ranjang rawatnya, tapi ia tetap mengawasi Lazuardi mengambil piring terbesar yang ada di sana.
“Oh, tidak. Apa itu bubur?” Eris mengerang, tidak terima.
“Hanya untuk hari ini dan besok. Selebihnya kau bisa makan apa saja. Dalam pengawasanku.” Lazuardi menaruh piring di atas nakas. Eris menyadari tidak ada lagi peralatan bekerja Lazuardi di atas nakas sana dan entah dipindahkan ke mana. Lazuardi menarik kursi dan duduk di dekat Eris yang perlahan menerima takdirnya itu.
“Seharusnya paling tidak ada kerupuk dan kuah santannya,” Eris dengan bibir mencebik sambil memerhatikan Lazuardi mengaduk bubur dengan telur rebus.
“Kalaupun ada. Aku tidak akan memberikannya padamu.” Lazuardi menjulurkan setengah sendok bubur langsung ke mulut Eris. Si wanita memberi lirikan tajam kepada pria yang menatapnya tidak bersalah itu sebelum membuka mulut dan mengecap bubur nyaris tanpa rasa itu.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu sendiri? Aku ingin dengar apa saja yang telah kau lakukan di Kalimantan sana.” Eris setelah suapan ketiga.
Eris memerhatikan bahu Lazuardi merosot saat itu juga. “Kau benar ingin mendengar cerita yang membosankan itu?”
Eris menyuap buburnya lagi sebelum menjawab, “Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan sekarang?” Karena kalimat itu membuat Lazuardi menghela napas panjang membuat Eris menambahkan buru-buru, “Kalau kau tidak ingin berbicara soal pekerjaan sekarang….”
Pria itu menggeleng-geleng. Ia menyuap Eris sekali lagi sebelum mulai bercerita. Eris harus mendengarnya dengan cermat karena ternyata apa yang terjadi di seberang pulau sana lebih rumit daripada yang ia sangka. Bukan hanya sekedar artikel “gosip” yang dimuat hari itu…
“Jadi bagaimana keadaan Sang Chief?” tanya Eris sambil memandangi Lazuardi menyendok suapan terakhir buburnya.
“Katanya sampai sejauh ini ia belum sadar. Informasi yang kudapat kepalanya terbentur cukup parah. Tapi aku sendiri belum sempat untuk menjenguknya.”
Pertama kali ketika mereka menjalin hubungan ini, Eris menyadari itu berarti ia harus mendengar keluh-kesah Lazuardi tentang pekerjaannya. Tapi ternyata justru sebaliknya. Eris-lah yang lebih banyak melakukannya. Karena pria itu berkata “pekerjaannya membosankan” dan Lazuardi lebih ingin “mendengar apa yang terjadi pada Eris karena apa yang selalu terjadi pada wanita itu selalu menyenangkan.”
Lazuardi menyorongkan gelas air putih dengan sedotan lagi. Eris meminumnya dengan patuh. Memerhatikan dalam diam Lazuardi yang mengambil keranjang kecil berisi obat-obatannya…
Tiba-tiba sebuah ide muncul dan tanpa pikir panjang Eris langsung mengatakannya. “Aku masih punya banyak jatah cuti yang belum kuambil. Dan aku tahu kau juga demikian. Bagaimana kalau kita berlibur?”
Lazuardi menatapnya dengan dahi mengerut.
“Berlibur. Apakah aku harus menjelaskan arti kata itu dalam Bahasa Inggris dengamu?” Eris berusaha keras menahan senyumnya.
“Tidak perlu. Aku tahu artinya apa. Aku hanya…” Lazuardi mengusap tengkuknya. “…Tidak pernah memikirnya. Kau benar.” Lalu Lazuardi tiba-tiba bergidik di kusinya, memelototinya.
“Hanya pada akhir pekan Tentu saja setelah aku sembuh. Tidak sekarang.” Eris meraih tangan Lazuardi untuk menautkan jemarinya di jemari pria itu. “Jadi aku harap kau setuju.”
Dua detik penuh sebelum Lazuardi menghela napas panjang dan mencium punggung tangan Eris lembut. “Si, carino. Apapun maumu.”