Hurts

2236 Kata
Ada masa ketika Lazuardi sangat frustrasi dengan Eris karena wanita itu bisa bersikap sangat kekanakan. Ia rela membeli banyak BTS merchandise, daripada mengisi kulkas dan rak makanannya Atau bagaimana wanita itu rela berjam-jam menonton siaran streaming para member BTS hingga larut malam… Tapi jika dibandingkan dengan kesukaan wanita itu dengan makanan pedas ketika perutnya sudah tidak bisa menanggung makanan seperti itu lagi. Lazuardi seperti harus selalu mengawasi makanan apa yang dikonsumsi wanita itu akibat kegemarannya jajan sembarangan… Galuh tidak mengatakan apapun ketika ia meminta pria muda itu mengantarnya ke bandara secepat yang ia bisa. Lazuardi hanya yakin suaranya bergetar dan jelas ia nyaris memelas ketika mengatakan keinginannya itu. Lima jam. Lima jam yang dibutuhkan Galuh untuk sampai di bandara. Tidak ada percakapan bahkan ketika mereka singgah di pom bensin sejenak untuk mengisi bahan bakar dan untuk ke toilet. Galuh menawarinya untuk membeli sedikit makanan, tapi Lazuardi menolak… Sang Sekretaris telah datang menjemput Eris Bersama dengan sopirnya. Memberitahunya ia mendapati wanita itu merintih kesakitan ketika ia membuka pintu apartemennya. Sang sopir berhasil membopong Eris hingga mobil dan mereka membawa wanita itu ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat si pemilik warung mie ayam dirawat. Sekarang Eris sedang menjalani pemeriksaan… Lima tahun. Lima tahun sudah mereka bersama. Satu hari pernah Sang Sekretaris bertanya kenapa ia bisa bertahan bersama wanita yang sama selama itu ketika banyak petinggi Ruiz Tbk yang sudah berganti sugar baby semudah mereka mengganti mobil mereka. Lazuardi hanya berkata “kalau itu bukan gayanya.” Ia lebih memilih untuk tidak melibatkan diri dalam masalah baru. Toh, yang ia cari bukan hanya sekedar kemudaan dan kecantikan. Lazuardi butuh seorang pendamping tempat ia bisa menyadarkan kepalanya sejenak dan tertawa ketika ia membutuhkannya. Eris memberinya semua itu. Kenyamanan. Lebih dari yang ia harapkan sebelumnya. Walau Lazuardi masih terikat pernikahan dengan seseorang di Madrid sana. Pernikahan Lazuardi dengan wanita itu – Valaria Navarro, hanya berbeda tiga tahun darinya. Dari pernikahan itu mereka dikarunia seorang putri yang berusia tujuh tahun lebih muda dari Eris. Mereka menikah atas dasar tuntutan “pekerjaan.” Valaria, agar ia bisa lepas dari orangtuanya yang adalah pensiunan Ruiz Tbk di Spanyol yang menjadi salah satu keluarga terpandang di sana dan Lazuardi sebagai pria yang karirnya menanjak dengan cepat. Mereka adalah pasangan yang sangat dicemburui oleh siapapun. Tapi itu hanya tampak dari luar saja. Valaria terbiasa hidup bebas tanpa dikekang. Ketika Lazuardi ditugaskan pindah ke Indonesia, Valaria menolak ajakan Lazuardi untuk ikut dengannya. “Untuk apa? Bukannya inilah yang sudah kita tunggu-tunggu selama ini? Berpisah?” “Bukan karena kau tidak menyukai negara itu?” Lazuardi hari itu berusaha agar ia tidak terdengar menyedihkan. “Aku mungkin akan mempertimbangkannya jika kau pindah ke Bali. Tapi ke ibukota mereka sana?” Valaria berdecak “Mereka jelas tidak pandai berpesta.” Lazuardi ingat ada masa ketika ia menganggap Valaria adalah seseorang yang tidak akan pernah bisa ia capai. Wanita itu hidup bergelimang harta bahkan sejak ia lahir di dunia. Pada saat inipun Valaria masih berpesta di klub atau yatch ketika usianya sudah menginjak lima puluhan. Ada tiga akun yang tersambung pada akun kartu kreditnya. Valaia, putrinya, dan kartu yang ia berikan pada Eris pada saat wanita itu butuhkan saja. Seperti ketika Lazuardi harus keluar kota seperti ini atau ketika Eris berkata ia butuh membeli sesuatu (yang ternyata adalah BTS merch- lagi). Tapi Eris selalu mengembalikan kartu tersebut setelah memakainya. Lengkap dengan senyum lebar hingga mata menyipit dan ciuman basah di pipi dan yang akan memerahinya jika pada saat itu Lazuardi lupa bercukur. Lazuardi sekarang menghela napas panjang dengan pandangan matanya tertuju pada jendela. Perkotaan yang padat sudah mulai terlihat ketika langit sudah mulai menguning. Lazuardi kembali menelepon sang sekretaris yang langsung mengiriminya tiket saat itu juga. “Eris sedang dalam masa pemulihan dari operasi sekarang dan belum sadar.” Usus buntu, katanya. Itu penyebab kenapa perutnya sangat sakit hingga ia tidak bisa meluruskan tubuh untuk waktu yang lama. Sudah pasti karena kebiasaan wanita itu jajan sembarangan. Lazuardi tidak perlu mendengar penjelasan dokter untuk itu. Selama lima tahun bersama – setelah candle light dinner mereka yang berakhir buruk itu – Eris lebih sering mengajaknya makan makanan menengah. Sesekali mereka harus kecewa karena warung tersebut tidak mempunyai parkir untuk mobil Lazuardi yang besar dan kelewat mahal untuk diparkir di pinggir gang atau jalan. Lazuardi langsung melompat turun begitu Galuh memberhentikan mobilnya tepat di depan “pintu keberangkatan” di bandara yang lumayan sibuk itu. Ia mengambil sendiri dua tasnya dari bagasi mobil dan berkata cepat ke Galuh yang menyusulnya kemudian, “Tunggu saja kabar. Saya akan segera kembali.” Pria muda dengan beberapa lembar uban di bagian depan rambutnya itu mengangguk ketika Lazuardi meremas lembut pundaknya dan melambai sambil berjalan mundur… Eris terbangun dan hal pertama yang disadarinya adalah ruangan itu sangat terang dan berbau menyengat. Perlahan ia mendapatkan kembali ingatannya yang sempat mengabur akibat efek obat anastesi itu. Ia ingat ia mendapatkan telepon dari Lazuardi ketika ia hanya meringkuk di atas ranjang sambil memegang perutnya sejak kepulangannya dari makan bakso mercon semalam. Ia hanya sempat tertidur sedikit-sedikit disela kesakitannya itu sebelum seseorang menggedor pintu apartemennya sangat keras. Ia tertatih-tatih untuk membuka pintu tanpa berpikir untuk mengintip dari lubang intip dulu dan mendapati seorang wanita dengan kacamata yang sangat tebal dan seorang pria yang ia kenal sebagai sopir perusahaan Lazuardi berdiri di sana. Pria bertubuh ringkih dan berseragam safari berwarna hijau lumut itu langsung menangkapnya ketika ia nyaris terjatuh ke lantai. Eris tahu kalau wanita itu adalah sekretaris Lazuardi walau mereka tidak pernah bertemu seara resmi sebelumnya. Eris hanya pernah melihat wanita itu dari foto perusahaan yang pernah Lazuardi tunjukkan padanya. Wanita itu – sangat efisien. Ia diperiksa secara menyeluruh oleh dokter yang terlihat seperti sangat mahal itu sebelum akhirnya diputuskan untuk melakukan operasi. Sang Sekretaris selalu berdiri jauh dari ranjang Eris ketika ia berbicara dengan perawat atau dokter sehingga Eris tidak bisa mencuri dengar atau mungkin karena memang tidak ada yang butuh ia dengar. Eris mengerjap. Tubuhnya masih terasa sangat kaku, tapi perlahan ia bisa mendengar apa yang terjadi disekelilingnya lagi. Mesin EKG memberi peringatan akan kesadarannya pada siapapun yang berada di sana. “Ibu Eris, bagaimana keadaan Anda sekarang?” Seorang wanita dengan light pen datang menyinari kedua matanya. Eris hanya bisa mengerjap dua kali sebagai jawaban setelah petugas tersebut menarik light pen dari depan matanya. “Kami akan segera memindahkan Anda ke ruang rawat inap, oke? Setelah Anda dinyatakan cukup pulih.” Eris kembali mengerjap dua kali. Ruangan itu sangat senyap jika suara mesin EKG dan suara denging pendingin ruangan tidak masuk hitungan. Ia mulai merasa risih hanya dengan gaun operasi yang menutupi tubuhnya yang tanpa apa-apa di baliknya. Namun perlahan serangan kantuk datang lagi dan ia memilih untuk tidak melawan… Ketika ia terbangun lagi. Ia sudah berada di ruang rawat yang sangat luas dengan sofa penerima tamu dan meja makan. Sang sekretaris duduk di sofa tunggal dengan laptop dan beberapa bungkus makanan kecil di atas meja. Sudah tidak ada mesin EKG di dekatnya sehingga butuh waktu lama Sang Sekretaris untuk tahu kalau ia sudah sadar. Wanita itu hanya meliriknya datar sebelum kembali pada sesuatu pada laptop-nya. “Senor Lazuardi sebentar lagi akan sampai,” jelasnya sambil melirik ke arah jendela yang menampakkan pencakar langit itu Eris menyentakkan kepalanya lagi ke ranjang. Ia tahu ia sudah membuat masalah. Eris sedang sibuk dengan pikirnya sendiri ketika ia mendengar suara langkah kaki dan tiba-tiba ranjangnya terangkat dengan sendirinya. Ia sempat meringis akibat pergerakan tiba-tiba itu, namun wajah dingin Sang Sekretaris sama sekali tidak berubah ketika ia melakukannya. “Katanya kau harus minum sedikit air putih setelah operasi.” Sang Sekretaris memberinya gelas air putih dengan sedotan tepat di depan wajahnya. Eris menyesap minumannya sambil memerhatikan wajah Sang Sekretaris yang juga balas menatapnya, namun kali ini topeng keras itu perlahan melembut. Ketika Eris melepaskan sedotan dar jepitan bibirnya tepat ketika pintu ruang rawat menjebelak terbuka. Dan inilah… “Oh, Dios mio! Eris!” Eris mendengar erangan pelan dari wanita di sebelahnya sebelum ia menyadari Lazuardi benar-benar melempar kedua tasnya ke atas sofa untuk mendatangi ranjang Eris. Belum sempat mereka saling bersentuhan terdengar suara dehaman, “Ia baik-baik saja. Operasinya lancar,” jelas Sang Sekretaris bahkan ketika Lazuardi belum mengatakan apapun. “Tapi bersihkan diri Anda dulu, Senor. Anda baru saja menjalani perjalanan yang jauh.” Lazuardi memandangi mereka bergantian sebelum mengangguk. “Kau benar. Aku harus… Di sini bisa mandi, kan?” Sang Sekretaris yang menjawab. “Si, aku akan mandi.” Lazuardi kemudian menudingkan jari ke arah Eris “Tunggu di sini.” “Aku tidak akan ke mana-mana,” erang Eris memerhatikan Lazuardi menyambar salah satu tasnya lagi dan bergegas ke kamar mandi. “Well, saya akan meninggalkan kalian berdua.” Sang Sekretaris dengan cepat membereskan barang-barangnya lalu melanjutkan, “Katakan pada Senor Lazuardi kalau ia berutang dengan saya dan sopirnya.” Wanita itu telah menyampirkan tali atsnya di bahu dan bersiap keluar ketika Eris kmbali menemukan suaranya dan berkata lirih, “Terimakasih, Bu.” Sang Sekretaris menoleh ke arahnya memberinya senyum tipis. “Tidak perlu seformal itu. Kau jauh lebih muda dariku. Kau bisa memanggilku dengan “Mbak.”” Sang Sekretaris kemudian meninggalkan ruang rawat Eris, membuat wanita yang terbaring itu menghela napas panjang. Tidak berapa lama kemudian Lazuardi keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut masih basah dan wajah yang segar. Tapi Eris menyadari ia masih memakai pakaian yang sama. Lazuardi menyadari ke mana arah pandang Eris itu berkata dengan nada malu-malu, “Aku tidak sempat mengambil seluruh pakaianku tadi. Hanya barang-barang yang menyangkut pekerjaan.” Eris merasa ia tidak seharusnya senang Lazuardi langsung terbang menemuinya seperti ini. Dan sudah jelas Lazuardi-lah yang menelepon sekretarisnya untuk mengecek keadaan Eris. Menghirup aroma sabun yang asing menguar dari tubuh Lazuardi ketika pria itu berdiri tepat di sebelahnya itu membuat Eris menangis tanpa bisa ia tahan. “Carino, ada apa? Apa ada yang sakit?” Lazuardi menunduk kepada Eris yang terisak-isak itu Mengangkat tangannya yang tanpa selang infus untuk menutup wajahnya. “Aku takut… Takut sekali…” Eris teringat alasan kenapa ia tidak pernah pulang. Bahkan jauh sebelum ia mengenal Lazuardi. Ibunya yang tidak mempercayainya setelah ia berkata ayah tirinya berusaha memaksakan dirinya pada Eris karena “pria itu terlalu baik untuk melakukannya.” Tentang Eris-lah yang menggodanya. Tentang pria itu yang selalu mengetuk pintu kamarnya di tengah malam… Berbanding terbalik dengan Lazuardi yang memperlakukannya dengan sangat lembut dan menerima segala keanehannya. Pernah sekali ia meragukan perasaannya pada Lazuardi akibat perbedaan usia mereka yang nyaris dua puluh tahun itu… Lazuardi tetap di sana bahkan setelah ia menceritakan semua kenangan buruk itu. Ia tetap di sana, merengkuhnya. Tidak pergi sama sekali. Eris merasa ia nyaris mati ketika sakit di bawah perut sebelah kanannya itu menyerangnya semalam. Ia menyebut nama Lazuardi berulang-kali, berharap pria itu entah bagaimana bisa muncul dan menolongnya. Tapi sebagian dari dirinya berteriak ia tidak boleh mengganggu pria itu lebih banyak lagi. Ia tahu Lazuardi masih terikat dengan seseorang di Madrid sana. Walau sebanyak apapun hadiah yang diberikan pria itu padanya. Eris akhirnya mengulurkan tangannya, Lazuardi mendekat dan mereka berpelukan dengan kedua lengan Eris melingkar di leher pria itu. Wajah Eris tersembunyi di lekuk leher pria itu. “Aku di sini, carino. Aku di sini.” Lazuardi lembut sekali tepat di telinganya. Eris masih menangis cukup lama dan tidak membiarkan Lazuardi jauh darinya. Hingga wanita itu tertidur dengan tangan mereka yang masih bertaut… Di sisi lain ibukota, seseorang masih saja menunggu Eris untuk membalas pesannya. Bahkan ponsel yang memuat pesan itu nyaris jatuh dari ketinggian sepuluh lantai. Andaru memaki, namun cepat-cepat ia menyelipkan ponselnya kembali dalam sakunya sebelum Dane menyadari apa yang baru saja terjadi dari atas sana… Sag partner dengan baik tidak memberitahu hingga shift mereka selesai. Hari terakhir ia membersihkan gedung itu dan Andaru tidak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal dengan Eris… “Tenang, Bang. Itu berarti Bang Andaru masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Mbak itu di hari lain,” Sang partner berbisik ke arahnya ketika mereka berdua mendarat di rooftop Dane anehnya sama sekali tidak mengomentari apapun walau ia jelas melihat Andaru dan sang partner saling berbisik selama mereka memberesi perlengkapan kerja mereka lebih lama dari biasanya karena besok mereka tidak akan bekerja di sini lagi. Begitu juga dengan Andaru. Mereka sekali lagi berada dalam lift khusus pegawai itu. Andaru memaksa dirinya untuk tidak berharap entah bagaimana Eris muncul di hadapannya lagi. Namun ternyata kali ini lift melewati lantai apartemen Eris begitu saja, membuatnya menghela napas panjang… Andaru bersama para pekerja itu mengembalikan kartu pngenal mereka pada meja resepsionis sebelum keluar dari pintu belakang yang menghubungkan gedung dengan basement. Namun tiba-tiba Andaru merasa seseorang meraih lengannya hingga membuatnya nyaris terjungkal. Itu Dane dengan wajah sangat serius lengkap dengan lirikan ke kiri dan ke kanan. “Aku mencaritahu tentang gadismu itu dari satpam tadi siang setelah pulang dari makan siang. Sang satpam tersenyum lebar ketika aku menyebut namanya, namun langsung merengut. Ia memberitahuku kalau Eris tadi siang dibawa oleh dua orang dalam keadaan digotong. Sang satpam sempat membantu membawa Eris ke dalam mobil ketika itu terjadi. Ia kelihatan sangat kesakitan. Aku rasa wanitamu itu di bawa ke rumah sakit karenanya.” Andaru menyumpah saat itu juga. “Itu mungkin karena kami makan bakso mercon semalam!” Dane mengedikkan bahu sekali. “Mungkin saja.” “Di mana kira-kira rumah sakitnya?” Andaru bertanya. Dane mendengus. “Mana aku tahu? Tapi bisa saja di rumah sakit mahal yang tidak akan membiarkanmu menjenguk begitu saja.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN