Nervous (3)

1295 Kata
Beberapa jam yang lalu di ibukota, Andaru datang kerja dengan senyum mengembang dan sekantung minuman kopi kemasan dingin dan roti yang dibelinya di mini market. Ini kali kedua dalam empat hari berturut-turut, membuat Dane hanya memberinya tatapan tajam sambil mengunyah roti. Andaru masih terus saja tersenyum bahkan ketika ia melepas lengan wearpack di pinggul untuk memakainya dengan benar sebelum ia memungut harness di dekat kaki Dane. Ia sengaja memakai harness sangat dekat dengan Dane yang masih memeriksa tali pada setiap gandola yang sebenarnya terlihat sebal itu. “Jadi apa yang harus aku dengar sekarang?” Dane tanpa melihat ke arahnya karena masih sibuk dengan pekerjaannya. “Eris memberiku nomor ponselnya semalam!” Andaru menunduk, memperbaiki letak harness-nya sambil menahan senyum. “Oh, ya? Selamat.” Nada bicara Dane masih sama datarnya. “Tapi ia tidak membuat status apapun di w******p-nya.” Dane berhenti dari kegiatannya untuk berbalik kea rah Andaru dengan pandangan tidak percaya. “Bukannya untuk itu kau ia juga harus punya nomormu?” Butuh waktu lama untuk Andaru menyadari kalimat itu. Ia menyentakkan kaki. “Astaga! Kau benar.” Dane berdecak-decak lalu menyeringai. “Jadi kau harus mengiriminya pesan untuk mmberitahunya kalau itu kau. Dan setelah itulah kau baru bisa mengetahui status w******p-nya. Atau mungkin mencari akun i********:-nya?” Pundak Andaru merosot ketika berkata, “Aku sudah mendapakannya. Tapi ia sudah tidak mengunggah apapun selama tiga tahun terakhir. Makanya aku berharap ia memperbaharui satus w******p-nya. Lagipula sepertinya semua orang lebih sering membuat status di sana sekarang.” Atau paling tidak teman-teman offshore-nya begitu, selain di i********: tentu saja. Bapak-bapak itu lebih nyaman mmbagikan momen hidup mereka di dua aplikasi milik Mark Zuckerberg itu sekarang. Tapi sepertinya Eris lebih tertutup daripada ia duga. Walau ia tampak sangat terbuka dengan semua pemilik warung pinggir jalan langganannya itu. “Ini kesempatanmu untuk memberinya ucapan selamat pagi. Kau tahu itu, kan? Apalagi setlah apa yang terjadi dengan kalian semalam.” “Yah, ia makan bakso mercon semalam. Aku rasa aku punya cukup alasan untuk menanyakan keadaannya.” Andaru mengangguk-angguk, ia memungut kembali sling bag-nya yang ia taruh di lantai untuk mengambil ponselnya. “Butuh bantuan untuk menyusun kalimatnya?” Dane berteriak, membuat Andaru langsung memutar tubuh memunggungi pria itu selama ia mengetik pesannya. Andaru mengetik dan menghapus entah sudah berapa kali sebelum ia puas dengan pesannya bersamaan dengan Dane yang berteriak pada seluruh tim untuk secepat mungkin selesai memakai alat keselamatan mereka. Andaru bahkan tidak bergerak ketika Dane memakaikannya helm dan menampar bagian belakang helm-nya dengan keras. Andaru memandangi pesan yang ia kirim cukup lama, begitu juga dengan dua centang yang masih hitam itu, Sebelum akhirnya Dane merampok ponsel dari tangannya dan menyelipkannya ke saku d**a wearpack Andaru, alih-alih mengambilnya dari tangan Andaru. Begitu juga dengan walkie talkie yang Dane dorong ke dalam pelukannya, “Aku tahu kau lebih tidak konsentrasi jika aku mengambilnya. Jadi jangan bicara lagi.” Dane berkata sambil memasang carbiner Andaru sudah berada di dalam gandola bersama partner-nya dan alat-alat kebersihan yang mereka butuhkan. Perlahan Dne menurunkan mereka sejauh dua meter dan begitu gandola berhenti bergerak, sang partner bertanya “Apa maksud Dane itu?” “Ia memberiku izin membawa ponsel karena aku menunggu pesan penting.” Andaru sengaja menghindari tatapan tajam dari sang partner dengan menyiapkan semprotan dan wiper bergagang panjangnya sambil memunggunginya. “Ah? Tumben.” Tidak ada nada iri dalam suara sang partner. Ia murni tercengang dengan informasi itu. “Karena aku mungkin akan merecokinya terus dengan ini.” Andaru bangkit berdiri, menunjuk walkie-talkie yang menggantung di bagian luar kantong d**a wearpack-nya. “Berhenti bicara dan mulai bekerja!” Keduanya serentak mendongak memandang ke atas. Dane menunduk untuk mendelik, membalas tatapan mereka dengan walkie-talkie di tangan. “Ayo kita selesaikan pekerjaan terakhir kita di gedung ini dengan Dane yang masih cukup menyukai kita untuk memanggil kita bekerja dengannya lagi.” Andaru lalu menyemprot jendela dan mulai bekerja. Sang partner tertawa dan mulai ikut bekerja. Dan percakapan antara Andaru dan Dane setelah itu hanya untuk memintanya untuk menurunkan gandola mereka lagi. Di sisi ini Andaru mendapatkan kesempatan untuk melambai ke beberapa binatang peliharaan, balita-balita yang melambai ke arahnya, atau para dewasa yang tersenyum sopan. Sang partner terlihat lebih menikmati setiap momen itu daripada dirinya… Andaru hanya berharap mereka tidak mendapati dua orang telanjang tengah berguling di dalam selimut tanpa menutup gorden mereka lagi. Dan doanya untuk itu terkabul. Tidak banyak hal aneh yang ia lihat hari ini selain balita laki-laki tanpa pakaian menatapnya dengan tertarik ketika ia bekerja sambil berusaha dipujuk oleh ibunya untuk memakai pakaian… Sedangkan ponselnya malah tidak bergetar sama sekali bahkan ketika sampai di waktu makan siang. Dan bukan berarti tidak ada kesempatan Andaru memeriksa ponselnya setiap kali ada kesempatan. Ekspresi kecewanya bahkan disadari oleh sang partner dan Dane. “Well, sepertinya tidak semua hal yang kita inginkan. Bisa terjadi dalam satu waktu, ya?” Dane ringan, membuat Andaru mendelik ke arahnya. Andaru masih memandangi layar ponselnya intens, bahkan ketika mereka sudah berada dalam lift. Dan sekali lagi lift itu berhenti di lantai yang ia kenali. Baik Dane dan sang partner ikut memasang sikap tubuh penuh antisiapsi bgitu ointu ganda itu terbuka. Suara erangan peuh kekecewaan terdengar lebih dari satu mulut ketika yang muncul di hadapan mereka adala seorang petugas kebersihan paruh baya dengan peralatan kebersihannya. Kedua centang itu masih sama hitamnya dengan yang terakhir kali ia lihat, ia bahkan membuat sang partner menyeletuk, “Mungkin ia bisa sja telah mematikan centang birunya dan ia sudah membaca pesanmu itu dan memutuskan untuk tidak menjawabnya?” Pertanyaan itu membuat Dane mendengus keras sekali sebelum terbahak-bahak hingga menggetarkan seluruh lift. Pada saat itu Andaru merasa ia tidak pernah ingin mencekik orangnya sebesar ini sebelumnya... Lazuardi membutuhkan banyak waktu untuk ia bisa sepenuhnya pulih dari informasi yang ia terima itu. Seorang polisi menemani Sang Chief hingga ke rumah sakit di ibukota provinsi sana. Dan kemungkinan Sang Chief masih ditemani oleh polisi tanpa seragam hingga saat ini. Berarti kasus yang terjadi pada Sang Chief lebih rumit dari hanya sekedar kecelakaan kerja. Lazuardi sekarang menerawang memandang ke luar jendela sambil mengunyah kue yang menjadi bekalnya tadi pagi. Anehnya tidak ada yang bertanya lebih jauh tentang kenapa Sang Chief harus ditemani oleh seorang polisi seperti itu. Mengingat posisinya di perusahaan tidak cukup tinggi untuk mendapatkan untuk perlakuan seperti itu. Lazuardi bahkan ragu jika ialah yang mengalami kecelakaan serupa. Ia tidak akan mendapatkan perlakuan seperti itu… Setelah berhenti mengunyah, ia meraih botol minum dan menegaknya sedikit. Tidak sengaja ia membaca penunjuk jam di layar laptop-nya dan menyadari ia belum menghubungi Eris seharian ini. Wanita itu mungkin sedang bersiap pergi bekerja sekarang mengingat perbedaan waktu mereka. Lagipula Lazuardi butuh “asupan Eris” agar ia bisa tetap bekerja tanpa kehilangan kewarasannya. Walau wanita juga sesekali menjadi alasan kepalanya menjadi sakit. Dalam artian kiasan. Jadi ia menelepon Eris. Biasanya wanita itu akan mengangkat teleponnya sesegera mungkin, tapi kali ini Lazuardi butuh menelepon nomornya hingga dua kali… “Eris, astaga! Di mana kau?” Lazuardi menggeram begitu Eris mengangkat teleponya. Namun wanita itu tidak langsung menjawabnya. Hanya terdengar suara erangan dan geraman. Membuat Lazuardi langsung berdiri “Perutku. Sakit. Sejak semalam.,” erang Eris di ujung sana. “Aku tadi baru dari kamar mandi…” Lazuardi menutup sambungan teleponnya untuk menghubungi orang lain. Satu-satunya orang yang ia pikir bisa membantunya lagi. “Saya harus membantu simpanan Anda juga sekarang, Senor?” “Ayolah, untuk kali ini.” Lazuardi dari loudspeaker karena ia sedang sibuk mengumpulkan barang-barangnya. “Eris tidak punya siapa-siapa selain aku!” Diam sejenak. “Baiklah. Saya tahu alamatnya. Saya ke sana sekarang.” Setelah Lazuardi menelepon Galuh untuk bersiap untuk mengantarnya ke bandara. Walau LAzadi tahu ia tidak akan sampai di ibukota tepat waktu untuk menyelamatkan Eris dari apapun yang terjadi dengan wanita itu sekarang…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN