Lazuardi akhirnya mendapatkan jawaban atas permintaannya dengan Sang Sekretaris dan sekarang tegah menatap laptopnya dengan dahi mengerut dalam. Sekali lagi walau ia tidak ingin mengakuinya., ia tidak terkejut dengan hasil tersebut. Ketika ia sedang sibuk membaca dari layar laptop, ponselnya berdering. Ia langsung mengangkat telepon itu tanpa membaca nama yang tertera di layar.
Dan begitu mengetahui si empunya suara yang baru saja mengucap salam padanya itu, ia langsung menyesalinya.
“Kau membuat geberakan di sana, Lazy.”
“Sir, saya belum mendapatkan apapun.”
“Tapi sudah jelas hasilnya, kan? Ceritakan padaku sekarang sudah berapa jauh temuanmu itu.”
Lazuardi menghela napas. Otaknya berputar untuk Menyusun kalimat kara semuanya terasa tumpang-tindih sekarang. Perlahan, ia mulai menceritakan segalanya dan tanpa menyadari ia memakai lebih banyak Bahasa Inggris daripada bahasa nasional negara tempat ia berada saat ini. Dan begitu ia sadar apa yang ia telah lakukan, Sang CEO sama sekali tidak menginterupsinya.
“Begitu?” Sang CEO berkata setelah Lazuardi selesai. “Dan apa saja yang sudah mereka katakan padamu?”
“Ada enam orang dalam shift itu, termasuk dengan Sang Chief. Aku sudah mewawancarai empat orang lainnya. Semuanya menceritakan hal yang sama. Hari itu hujan lebat pada saat loader mereka mogok dan Sang Chief bersikeras untuk memperbaiki saat itu juga. Karena mereka sudah terbiasa dengan kekeras-kepalaan Sang Chief mereka akhirnya memutuskan untuk berteduh di sebuah bangunan semi permanen yang ada di tambang, meninggalkan sang Chief sendirian. Nah, Ketika hujan semakin lebat dan Sang Chief tidak kunjung menyusul mereka. Satu-satunya yang termuda dari mereka – yang termuda dan yang menjadi yang belum saya wawancarai hari ini – memutuskan untuk menjemput beliau. Salah satu seniornya menanggapi panggilannya dari HT dan ketika salah satu dari seniornya itu datang. Sang Chief sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam pangkuannya.
“Kasihan. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana perasaannya saat itu.” Sang CEO menanggapi dengan suara yang sangat serius.
Lazuardi menarik kertas yang dapatkan dari sang sekretaris manager operasional itu dan menyebut nama sang pria muda. “Dan karena itulah saya ingin tahu, Sir.”
Lazuardi menoleh begitu ia mendengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan sementaranya itu. Menyembul sebuah wajah dari celah pintu dan menatapnya ragu. “Sir, pria terakhri itu sudah datang. Kalau Anda berkenan…”
“Oh, tidak masalah. Lakukan tugasmu dan aku akan meneleponmu lagi nanti.”
Lazuardi meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, memberi pria muda itu isyarat tangan untuk masuk. Lazuardi dengan cermat memerhatikan ekspresi wajah pria muda itu ketika memasuki ruangan dan duduk di tempat keempat rekannya yang lain duduk sebelumnya.
“Saya tidak akan mempermanis percakapan ini sama sekali.” Lazuardi menunduk ke depan meja dengan kedua tangan bertaut. “Tapi pertama-tama aku harus bertanya: “apakah kau baik-baik saja?””
Pria muda itu malah menunduk, memandang pangkuannya. Lazuardi memerhatikan pria muda itu memakai kemeja flannel lusuh dan celana cargo berwarna gelap. Kulitnya seperti semua orang desa berwarna gelap akibat terbakar matahari dengan bentuk wajah khas yang Lazuardi sekarang kenali sebagai iri khas dari daerah ini. Lazuardi tahu ia harus menunggu hingga pria muda itu, “Saya harus, Pak. Keluarga saya bergantung dengan pekerjaan ini.”
“Jawabanmu sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya.” Dan jawaban pria itu malah menjawab pertanyaan Lazuardi yang lain.
Pria itu menghela napas panjang. “Saya baik-baik saja, Pak.”
“Begitu?” Lazuardi diam selama dua detik sebelum melanjutkan, “Mungkin kau sudah menceritakan kisah itu beberapa kali sekarang. Tapi maukah kau, sekali lagi. Menceritakannya padaku?”
Pria muda itu dengan cepat menyanggupi. Dan seperti telah menghapalnya di luar kepala. Kata-kata pria muda itu keluar begitu saja dari mulutnya. Karena sangking cepatnya ia bercerita – seakan-akan ia ingin percakapan ini segera berakhir- Lazuardi mendengar pria muda itu menyerah dengan aksen daerahnya, alih-alih aksen ibukota yang ia coba lakukan tadi. Bagian pembuka ceritanya sama dengan keempat seniornya lainnya. Namun ketika sampai di bagian ketika ia menemukan Sang Chief, pria muda agak ragu dan ia tidak bersemangat seperti di bagian pertama.
“Jadi kau menemukannya dalam keadaan sadar?” Lazuardi terkejut. Karena tidak ada yang memberitahunya tentang itu.
“Lebih tepatnya beliau menemukan saya dalam keadaan sadar sebelum beliau ambruk dalam pelukan saya.” Pria muda itu mengoreksinya.
Lazuardi memijat pelupuk matanya sejenak sebelum berkata, “Bagaimana keadaannya saat itu?”
Pria muda sekarang mengangkat wajahnya, memandang Lazuardi dengan bingung. “Beliau sudah basah akibat hujan entah sudah berapa lama. Dan saya tidak punya banyak waktu untuk memerhatikan apapun ketika seseorang tidak sadarkan diri berada dalam pelukan saya.”
Lazuardi menggumam menyetujuinya. “Jadi setelah itu?”
Pria muda itu menyebut salah satu nama seniornya. “Beliau menjawab panggilan saya dari HT dan datang membawa pick-up untuk membawa Chief ke puskesmas.”
“Apa kau sempat melihat bagaimana Sang Chief selama di puskesmas?”
“Tidak. Tapi saya sempat melihat hingga Sang Chief di bawa ke ibukota provinsi untuk perawatan lebih lanjut. Sang Chief naik ke mobil ambulance dengan selang oksigen dan tiang infus.” Pria muda itu mengerutkan dahi karena tiba-tiba mengingat sesuatu. “Saat itu Sang Chief diantar dengan seorang sopir, petugas puskesmas, dan… Bahlawan.”
Untuk bagian itu Lazuardi tidak tahu sama sekali. “Oleh siapa?”
“Oh, maaf. Pak. Bahlawan. Teman SMA saya, seorang polisi. Ia juga ikut dalam rombongan mengantar Sang Chief…”
Percakapan Lazuardi dengan salah satu pegawai tambang itu terjadi bersamaan ketika Bahlawan tengah duduk sambil membaca koran (yang entah masih ada di kantor tambang ini walau koneksi internet di desa sudah bagus sejak ia masih SMA) ketika rekan-rekan sesama polisinya sibuk bermain UNO di dalam ruang satpam.
Mereka mendapatkan giliran menjaga kantor utama tambang hari ini dari para masyarakat yang masih marah itu. Walau kehadiran Lazuardi Moreno terbukti bisa meredakan sedikit kemarahan warga, namun beberapa hari terakhir ini Balawan mulai mendengarkan kembali dengung kemarahan yang samar-samar. Pekerjaan untuk membeton dan mengaspal jalanan desa mereka perlahan mulai dilakukan, begitu juga dengan perbaikan saran da prasarana umum lainnya. Kasus Sang Chief sepertinya malah tidak tersentuh, membuat warga memiliki kesan Ruiz Tbk. hanya berusaha mengambil hati mereka saja.
Para pria dengan seragam itu sekarang berseru riang ketika seseorang harus mengambil delapan kartu dari tumpukan yang ada di meja. Bahlawan hanya melirik ke meja sejenak, menyeringai geli lalu kembali pada korannya. Ia membalik halaman korannya dan mendapati berita tentang aksi demo di kantor tambang hari itu masuk di kolom cukup besar di rubrik daerah. Bahlawan tidak terkejut jika nama Lazuardi Moreno juga tersebut di sana, namun kali ini artikel tersebut memuat lebih banyak tentang apa yang terjadi pada hari itu dengan foto para pendemo yang terpampang jelas di sana…
Para poisi itu sekali lagi berseru, namun Bahlawan masih sibuk membaca korannya.. Hingga salah satu di antara mereka menyulut rokok, barulah Bahlawan bangkit, melirik mereka dengan keal lalu keluar dari ruangan tersebut dengan koran yang masih di tangan. Sambil bersandar di dinding dekat jendela ruang satpam itu Bahlawan membaca korannya sangat serius sehingga ia tidak tahu seseorang dengan pakaian yang tidak sama dengannya bersandar di dekatnya. Menunggu Bahlawan hingga menghadiri kehadirannya.
Dan begitu pria muda itu sadar, ia berjengit lalu diikuti sumpah serapah.
“Serius sekali,” goda pria itu dengan kemeja flannel dan celana cargo itu menyeringai. Rokok juga terslip di bibirnya.
“Sialan kau!” sumpah Bahlawan lagi kepada teman SMA-nya itu, memukulnya dengan koran yang ia pegang. Lama baru Bahlawan menyadari satu informasi tentang pria itu “Lho, bukannya kau selalu mengambil shift malam? Apa yang kau lakukan di sini sekarang?”
Pria itu menghela napas sambil menatap langit. Ia mengepulkan asap rokok tinggi-tinggi, membuat Bahlawan mengernyit tidak suka. “COO bule itu memanggilku datang. Begitu juga dengan para senior yang satu shift denganku hari itu pada saat Sang Chief kecelakaan!”
Sekarang Bahlawan menudingkan telunjuknya pada pria itu. “Kau ada di puskesmas hari itu! Aku ingat sekarang.”
“Well, seharusnya aku yang bertanya. “Apa urusanmu berada di sana?””
Bahlawan mengerjap.
“Kalau ini bukan kecelakaan biasa, kau tidak mungkin berada di sana, benar? Si COO bule itu tadi yang membuatku teringat akan kau…”
Bibir Bahlawan terkatup rapat.
“Nah, kan. Jadi bisa kau katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?”