Untuk pertama kalinya Lazuardi setelah datang di desa kecil itu. Ia bangun kesiangan. Ia mengerjap, kepalanya terasa benar-benar berat membuatnya menggumam serapah dalam Bahasa Spanyol. Sekuat tenaga menarik dirinya agar duduk di tepi ranjang baru yang dibawa oleh kedua pegawai kantor Ruiz Tbk hari itu dan mendapati lantai sudah rapi dari bedcover dan selimut. Lazuardi mendongak untuk melihat jam yang tergantung di dinding. Mendesah lega karena menyadari ia tidak setelah yang ia sangka.
Tapi jelas tidak seperti seorang anak laki-laki yang muncul dengan seragamnya sekarang. Menatap ke arahnya dari celah pintu yang terbuka.
“Saya kira Senor belum bangun,” katanya tidak lagi terdengar malu-malu setelah Lazuardi mengajaknya mengobrol sejak dua malam lalu sebelum mereka berdua tertidur.
“Sudah, gracias. Tapi biarkan aku di sini sejenak. Aku butuh mengumpulkan nyawaku dulu.” Lazuardi sambil merogoh mencari ponselnya di bawah bantal.
Putra Galuh itu mengangguk sebelum menutup pintu. Meninggalkan Lazuardi menelepon seseorang.
“Senor Lazuardi. Apa hal yang membuat Anda menelepon pagi-pagi seperti ini?” Sang Sekretaris berkata dengan nada paling datar.
Butuh waktu lama Lazuardi menyadari kalau ada perbedaan waktu sejam lebih lambat antara ibukota dan tempatnya berada saat ini. “Dios, ini terlalu pagi ya?”
“Untukku, iya. Tapi untukmu ini mungkin sudah jam kerja.”
“Perdon, maafkan aku. Tapi aku hanya ingin memastikan apa kau sudah menerima pesanku semalam?”
“Tentu saja. Siapa yang tidak ingat pesan sepanjang kertas kertas A4 dan tanpa spasi itu. Tapi saya baru bisa memberikan jawaban nanti kalau saya sudah berada di kantor.”
“Baiklah. Aku tahu. Salahku.” Lazuardi menyeringai sambil memijat kelopak matanya. “Jika pekerjaanmu selama ini tidak bagus. Mungkin aku sudah menggantimu sejak bertahun-tahun yang lalu.”
“Tidak mungkin,” pungkas Sang Sekretaris diujung sana. Sama sekali tidak melembutkan nada bicaranya. “Tidak ada yang bisa menyimpan rahasia lebih baik dariku.” Dan sambungan telepon itu diputus secara sepihak. Membuat Lazuardi terkesiap namun entah kenapa tidak terkejut.
Ia kemudian meraih jurnal dengan sampul kulit di di nakas. Memeriksa coretan tangan yang dibuatnya semalam sebelum ia tidur. Hari ini Lazuardi berencana untuk meminta seluruh pegawai satu shift dengan Sang Chief yang terluka itu untuk bertemu dengannya. Ia memang tidak ingin memberitahu mereka sebelumnya untuk kesan kejutan.
Karena di dalam kepala Lazuardi ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk.
Pria berumur itu menghela napas sekarang, menyelipkan jurnalnya kembali ke dalam tas sebelum bergerak merapikan ranjang. Semalam ia ingat sambil ia mengerjakan tugasnya sendiri putra Galuh juga meminta bantuannya untuk memeriksa teks pidato dalam Bahasa Inggris-nya sebagai tugas sekolah.
“Anak-anak di kelas sudah tahu Anda tinggal dengan saya, Senor. Mereka tahu kalau saya akan memenangkan ini.”
“Bagaimana mereka bisa seyakin itu? Kan, bisa saja aku adalah atasan congkak yang sama sekali tidak ingin bergaul dengan anak bawahannya,” goda Lazuardi sambil mencoret-coret teks pidato milik anak lelaki remaja itu dengan santai.
“Kalau memang Senor seperti itu. Senor tidak akan mau tinggal di sini bersama kami.”
Lazuardi tertawa. “Kau benar. Dan jangan mengira – seperti kebanyakan orang Indonesia ada umumnya – semua orang bule itu kaya raya, ya?”
Karena memang seperti. Lazuardi pernah hidup di daerah paling kumuh di Madrid sebelum ia menjadi seperti ini. Bergantung pada beasiswa ketika di sekolah menengah dan universitas. Sebelum lulus dengan nilai gemilang dan mendapatkan pekerjaan di Ruiz Tbk. dari jabatan menengah hingga saat ini….
Lazuardi yang sudah segar itu baru sampai di meja makan rumah Galuh Ketika ketiganya sudah memulai sarapan tanpa menunggunya.
“Katanya, seorang tamu tidak disebut sebagai tamu lagi jika sudah berada di rumah seseorang lebih dari tiga hari,” jelas Galuh ketika Lazuardi menarik kursi di sebelah putranya.
“Aku tahu. Dan maafkan aku karena kesiangan hari ini.”
“Tidak masalah. Kami paham. Apalagi setelah apa yang terjadi kemarin.” Galuh ringan.
Karena memang benar. Lazuardi menghabiskan waktunya untuk mengawasi sendiri pemasangan tiang-tiang lampu baru di lokasi tambang tempat sang Chief kecelakaan itu hingga jauh malam. Setelah itu membantu putra Galuh dengan pidato Bahasa Inggris-nya (dan memberi banyak tips.)
“Mungkin karena aku sudah tidak muda lagi,” sambung Lazuardi terkekeh lalu mengucap terimakasih setelah disorongkan piring oleh sang putra
“Dan ada banyak gadis ini dengan senang hati melemparkan diri pada Anda, Pak Lazuardi.” Itu sang istri yang membuat para pria di meja makan langsung berhenti dengan kegiatan mereka untuk memandangnya lekat-lekat. “Atau begitulah yang aku dengar dari ara tetangga.”
Seakan-akan sudah di rencanakan sebelumnya seseorang berteriak mengucapkan salam dari pintu depan. Sang anak-lah yang bergerak untuk melihat siapa itu. Lazuardi yang tenang mengambil semua lauk (tanpa nasi) ke piringnya sebelum ia mendengar suara langkah kaki dan melihat sang putra datang dengan dua piring kue dengan wajah kebingungan.
‘Wah, seseorang sudah mencuri langkah,” Galuh tergelak begitu menyadari isinya adalah kue tradisional yang masih mengepulkan uap hangat. “Kue-kue ini biasanya baru ada ketika hari raya, Pak Lazuardi. Anggap saja mereka bena-benar menyukai Anda.”
Lazuardi menyelesaikan sapaannya dulu sebelum ia mencoba satu kue yang disebut sang putra bernama “amparan tatak”. Kue itu sangat manis dengan santan dan potongan halus buah nangka di dalamnya. Setelah semuanya selesai sarapan mereka memakan kue itu sebagai pencuci mulut. Hanya Lazuardi yang makan kue itu dengan piring dan sendok, alih-alih dengan tangan seperti keluarga Galuh.
“Siapa yang mengantar ini?”
Sang putra dengan mulut penuh kue itu menyebutkan sebuah nama yang membuat Galuh menaikkan alis tinggi-tinggi.
“Mereka punya anak gadis berusia akhir dua puluhan yang belu menikah. Tentu saja mereka melakukan ini lebih dulu.”
Karena komentarnya itu Galuh mendapatkan cubitan keras di lengan atasnya oleh istrinya yang mendelik tajam. “Aduh, untuk apa itu?” Galuh meringis sambil menggosok-gosok lengan atasnya.
“Karena kau memberikan komentar yang tidak perlu.”
“Tapi memang benar, kan?” Galuh sekarang mengangkat lengan kemejanya itu untuk memeriksa bekas cubitan yang memerah di kulitnya yang kecoklatan.
“Tapi bukan berarti kau bisa berasumsi begitu. Kau tahu ibunya adalah tukang masak paling pandai se-desa.”
Mata Galuh yang berbinar itu sekarang menatapp Lazuardi. “Nah, nilai plus!”
Lazuardi yang baru saja menyelesaikan potongan kuenya itu terkekeh. “Katakan kepada semua orang yang bertanya pada kalian ke depanya untuk berkata mereka tidak prlu bersusah-payah begitu. Ada seseorang yang menunggu saya di ibukota sana.”
“Wow! Itu akan mematahkan banyak hati.” Galuh menyeringai jail. “Tapi biarkan orang-orang teta berasumsi begitu.” Galuh sekarang mengangkat tangan kirinya di samping wajah untuk menunjuk jari manisnya yang bercincin ke arah Lazuardi. “Karena jelas Bapak sedang tidak memakai ini sekarang.”
Lazuardi melemparkan senyum tipis ke arah Galuh sebelum ia sendiri menunduk memandang tangannya. Pernah ada cincin di sana, namun sudah ia lepaskan sejak bertahun-tahun lalu. Tepat pada kepindahannya ke Indonesia…
Sang istri membungkus kue itu ke dalam dua kotak berbeda dan memberi kepada mereka sebelum keduanya berangkat bekerja. Lazuardi memilih diam selama perjalanan mereka ke kantor utama tambang. Kedatangan Lazuardi masih selalu membuat suasana kantor tersebut menjadi sibuk mendadak. Lazuardi yang sudah hapal di mana ruangan, siapa itu sekarang tengah berjalan cepat ke bagian operasional. Bertemu dengan seorang pemuda yang mejanya berada tepat di depan ruangan manajer operasional dengan kaca gelap itu. Pemuda itu terlihat menciut di datangi oleh Lazuardi, namun cukup tegar untuk tetap berada di mejanya.
“Berikan aku semua kontak pegawai satu shift dengan Sang Chief yang kecelakaan itu sekarang. Dana aku akan tetap di sini selama kau mencarinya.”
Pemuda itu langsung mengangguk cepat. Sebelah tangannya memegang kursor dengan cepat. Lazuardi berbalik badan dan mendapati semua orang jelas menghindari dari bertemu mata dengannya.
Tidak butuh waktu lama suara printer di dekat pemuda itu terdengar. Lazuardi Kembali berbalik ke arahnya. Pemuda itu menyerahkan kertas itu sambil sekarang sambil berdiri.
Ada enam nama di sana, termasuk dengan nama sang Chief lengkap dengan alamat dan nomor telepon mereka. Lazuardi tidak lupa mengucap terimakasih, sebelum dengan cepat mengetik pesan untuk kelima pria itu agar datang ke ruangannya – ruang rapat yang sama hari itu – pada waktu yang telah ia tentukan untuk masing-masing pria itu…