Untuk seseorang yang tidak mengira keberuntungan bisa datang secepat ini untuknya, Andaru membuat sebuah “kesalahan” dengan terlalu lama memproses apa yang tengah terjadi di hadapannya saat ini.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa mungkin karena ia telah terlalu banyak merokok.
Andaru mengerjap-ngerjap beberapa kali dan untungnya Eris masih berdiri di hadapannya. Kali ini dengan dahi mengerut dalam. Menunggunya memberi prsetujuan dengan ajakan itu.
“Tentu saja,” jawabnya terbata. “Mbak Eris tidak apa-apa dengan motor…”
Wanita itu meringis. “Mas Andaru benar-benar serius bertanya soal itu?”
Andaru mengerjap lagi. “Baiklah. Ayo, kalau begitu. Saya memarkirkan motor saya cukup jauh soalnya.”
Eris memberinya isyarat tangan untuk memimpin jalan. Jadi Andaru cepat-cepat melangkah melewati wanita itu. Mereka melewati daerah remang-remang dengan penerangan lampu kuning yang tinggi. Andaru menyumpah begitu menyadari ia tidak punya helm lain untuk dipakaikan ke Eris…
“Mbak, pakai helm saya saja.”
Eris tidak mengomentari perlakuannya itu dan dengan patuh mengambil helm miliknya (Walau sebelumnya Wanita itu mengendus dengan wajah mengerut bagian dalam helm miliknya.) Andaru hanya meyeringai mendapati Eris mengalas puncak kepalanya dengan tudung hoodie sebelum memakai helm miliknya.
“Karena saya tidak pakai helm, saya akan mengambil jalan melewati banyak lorong. Jadi apa Mbak Eris bisa memberitahu saya di mana lokasi warung bakso itu?” Andaru bertanya setelah Eris duduk di jok belakang motornya.
Dan Eris mejelaskan lokasi warung tersebut tepat di atas bahu Andaru yang letaknya sekali lag berada di lorong sempit di belakang gedung apartemen mewah wanita itu. Andaru mengumam mengerti dan sama-sama mereka meninggalkan rumah sakit itu.
Eris sesekali mendesis tidak setuju dengan kecepatan Andaru membawa motor, namun sekali lagi wanita itu tidak mengatakan apapun. Andaru mendengar gumam dalam Bahasa asing sewaktu mereka berada di dalam sebuah lorong sempit dan nyaris menabrak sebuah gerobak bakso yang tiba-tiba muncul di tikungan.
Andaru menebak sikap Eris itu akibat dari seringnya wanita itu bepergian dengan ojek online. Dan sebagai penumpang yang baik, ia memilih untuk tidak berkomentar. Atau mungkin Eris adalah tipe penumpang yang sangat sebal jika bertemu dengan sopir ojek online yang terlalu sering mengajaknya mengobrol.
Pertemuan mereka masih terlalu singkat untuk Andaru menebak-nebak bagaimana Eris yang sebenarnya.
Andaru menancap gas ketika mereka di jalan raya dan saat itu juga Eris meraih bahunya dan meremasnya erat. Saat itu juga Eris menurunkan keepatannya dan saat itu juga sentuhan itu terlepas…
Gedung apartemen itu terlihat dan Eris mulai memberi Andaru arahan dengan menunjuk-nunjuk di depan wajah pria itu. Warung bakso yang dimaksud Eris berdiri tepat di belakang pagar pembatas gedung apartemen dan saat ini hanya memiliki beberapa pengunjung dengan ampu putih yang sangat terang. Eris langsung melompat turun dari begitu Andaru memarkirkan motornya. Berjalan setengah melompat-lompat ke seorang pria setengah baya dengan tubuh kurus yang berada di balik gerobak di depan warung itu.
“Mbak Eris!” sapa pria itu dengan wajah sumringah. Dan ketika ia menyadari Andaru-lah yang datang menemani wanita itu, Pria itu hanya memberi lirikan penuh tanya sebelum Eris menjawab,
“Kawan,” jelas wanita itu cepat. “Pesananku seperti biasa, ya Bang?” Eris lalu berbalik ke arah Andaru, begitu dengan si pemilik warung bakso mercon.
“Saya yang level sedang saja.”
Eris memberinya pandangan lucu sejenak sebelum keduanya juga menyebukan minuman mereka. Eris lalu memimpin jalan menuju meja terdekat. Andaru duduk di seberang Eris yang saat ini sedang memangku dagunya dengan punggung tangan.
“Jadi, Mas Andaru. Bagaimana rasanya menjadi seorang pahlawan?”
Andaru menyeringai. “Tidak ada. Saya hanya menjalankan tugas sebagai seseorang yang tahu CPR itu saja.”
“Dan pekerjaan Mas adalah?”
“Seorang pemberisih jendela pencakar langit.”
Andaru sudah mengira Eris akan bereaksi dengan jawabannya itu dan ia benar. Wanita itu mendelik dengan senyum lebar. “Oh, ya? Keren sekali.”
Andaru mengusap tengkuknya.
“Karena saya takut ketinggian makanya pekerja itu terdengar sangat keren.”
Andaru merasa Eris memang sedang tidak menggodanya. Dengan sangat cool tanpa tedeng aling-aling. Namun saat itu mata pria iut langsng menyipit. “Apa Mbak Eris mengatakannya dengan bersungguh-sungguh?”
Eris membuka kancing jaketnya sedikit. Menampakkan logo hotel di dadanya sebelum menyeringai. “Aku bahkan tidak tahu lagi. Namun anggap saja demikian. Toh, tidak ada ruginya menerima pujian.”
Tidak berapa lama pesanan mereka datag. Bakso sebesar mangkuk dengan kuah merah menyala. Punya Andaru hanya sedikit pucat. Wajahnya wanita itu tampak bersinar Ketika ia membelah bakso yang mengeluarkan bakso yang lebih kecil dan beberapa butir telur puyuh…
Andaru lebih sibuk mengamati Eris yang makan dengan berisik itu daripada makannya sendiri (Makanannya memang enak, tapi ada pemandangan lain yang lebih menarik perhatiannya) Tangannya gatal ingin mengelap wajah Eris yang sekarang tengah belepotan dengan kuah. Belum lagi wanita itu telah menjatuhkan sendoknya dua kali.
Dan sekarang wajah Eris memerah dan Andaru tidak tahu itu karena makannya yang tampak sangat pedas atau karena sedari tadi ia tidak henti-hentinya mengucap maaf akibat kecerobohannya. Pada saat wanita itu terbatuk baru Andaru bisa menyerahkan tisu ke arahnya tanpa harus membuat alasan apapun. Bhkan Ketika tangannya yang terulur itu nyaris bisa mengelap wajah Eris sendiri. Tapi dengan susah payah ia menahan dirinya.
Andaru tahu ia tidak boleh mengatakan apapun dengan segala kehebohan itu dan ia melakukannya. Secara gantleman ia maju membayar makan malam mereka tanpa harus menunggu Eris. Wanita itu memberi lirikan yang entah apa artinya sebelum menguap terimakasih pada pemilik warung dengan heboh sekali. Andaru memerhatikan si pemilik warung bakso memerhatikan wjah Eris yang memerah dari atas motornya.
“Rumah saya tinggal sedikit jadi kita berpisah di sini saja.” Eris masih sambil mengelap hidungnya degan tisu, melambai sekali ke arahnya sebelum berbalik badan.
“Mbak Eris tunggu!” Andaru nyaris tersungkur jatuh akibat ia yang terburu-buru turun dari atas motor. Tepat ketika Eris membalik badan dengan alis yang terangkat tinggi.
“Apa saya bisa meminta nomor ponsel Mbak Eris?”
Eris menurunkan tisu dari hidungnya sebelum berkata dengan nada terlalu datar. “Untuk apa?”
Andaru dengan cepat memutar otaknya. “Agar saya bisa bertanya tentang perkembangan bapak pemilik warung mie ayam.”
“Saya sudah memberikan Mas Andaru nomor ponsel putri beliau.”
Andaru dengan segera menjawab. “Saya tidak mungkin bertukar pesan dengan anak di bawah umur, kan Mbak?”
Eris terdiam dan Andaru berharap dalam hati Eris menertawakan alasannya yang menyedihkan itu. Lama sekali Eris baru berkata, “Sini ponsel Mas.”
Andaru cepat-cepat merogoh sling bag-nya dan meyerahkan pada Eris. Wanita itu mengetik dengan cepat sebelum menyerahkan ponsel Andaru kembali. “Oh, ya. Terimakasih atas traktirannya.”
Setelah itu Eris berbalik pergi. Meninggalkan Andaru yang memandang nomor ponsel wanita itu lalu punggungnya yang menghilang di temaram lampu jalan di gang sempit itu…