Cool (3)

1109 Kata
"Ia memberitahuku untuk membawa sesuatu yang bisa dimakan untuk penjaga pasien? Kira-kira menurutmu apa?" Andaru bertanya kepada Dane yang baru saja selesai menutup resleting tas perlatanannya itu. Bersamaan dengan sang partner satu gandolanya yang meremas lembut lengan tasnya dan mengucap salam perpisahan. Andaru membalas salam itu tanpa melepaskan pandangan dari Dane yang sedang berjongkok itu dan mendongak ke arahnya dengan dahi mengerut dalam. "Dan kenapa kau bertanya padaku?" "Karena jelas kau lebih pandai untuk urusan seperti ini daripadaku." Andaru mengerang tidak sabar. Dane meringis. Ia kemudian bangkit berdiri sambil memegang lututnya. "Aku rasa makanan yang tidak butuh usaha keras untuk memakannya. Nasi padang kotakan? McDonald? KFC?" Andaru menggosok-gosok dagunya. "Aku rasa nasi padang kotakan cukup. Dan yang mahal, tapi." Andaru mengeluarkan ponselnya dan mengecek di mana cabang restoran nasi padang dengan merk terkenal itu dan mendesah lega begitu menyadari lokasinya tidak jauh dari rumah sakit yang ingin ditujunya itu. Dane mengangkat tasnya ke bahu sebelum menanggapi. "Buah, tentu saja. Anggap saja untuk pencuci mulut." Setelah itu keduanya menjadi yang terakhir meninggalkan rooftop ketika langit sudah mulai berubah gelap. Keduanya berpisah di depan pintu lift di lantai dasar dengan Dane yang memberinya jempol di puncak kepala. Andaru merasa ia butuh membersihkan dirinya lebih baik dan melepas wearpack yang ia pakai. Ia bersyukur ia memakai pakaian yang cukup layak untuk dipakai menjenguk seseorang di rumah sakit. Jadi ia mencuci wajah, mengusap kepalanya dengan air, dan memastikan kuku-kunya tidak gelap di toilet pria. Andaru bahkan mengambil cukup waktu untuk melipat wearpack-nya ke dalam tas. Memeriksa pantulannya sekali lagi di depan cermin sebelum meninggalkan toilet mewah itu. Biasanya ia akan mengambil sedikit waktu untuk menyalakan sebatang rokok sebelum pulang. Tapi kali ini ia harus menahan diri agar tubuhnya tidak kembali bau akibat asap rokok... Dan kalian tahu betapa besar pengorbanan yang harus ia lakukan itu. Letak cabang restoran nasi padang mahal itu hanya sekitar seratus meter dari rumah sakit dan untungnya lagi bersebelahan dengan pedagang buah-buahan yang Andaru cukup yakin tidak memoles buah-buahannya dengan lilin agar terlihat berkilau dan tahan lama. Ia memesan dua porsi nasi padang dengan lauk rendang dan sekilo jeruk mandarin. Memarkirkan motornya di antara lautan motor lainnya di halaman rumah sakit. SAmbil jalan memasuki pintu utama memeriksa kertas catatan yang diberikan Eris padandya sekali lagi sebelum bertanya kepada satpam. Andaru mengambil dua detik untuk membaca papan pengunjung bangsal ketika ia mendapati si pemilik warung mie ayam dirawat di bangsal kelas satu yang kamarnya hanya berisi dua pasien. Di rumah sakit swasta pula. Sudah pasti Eris turun tangan untuk masalah pembiayaan perawatan si pemilik warung mie ayam itu. Andaru menarik napas sebelum membuka pintu ruang rawat. Ia bersyukur orang-orang yang dicarinya mendapatkan posisi ranjang tepat di dekat pintu masuk yang ia lewati. Sang putri langsung berdiri menyambutnya begitu ia membuka pintu. "Mas Andaru benar? Mbak Eris memberitahuku kalau Mas akan datang sejak siang tadi." Si putri menyambutnya ketika ia menutup pintu dari belakang tubuhnya. Andaru mengangguk, mengucap salam. Si istri pemilik warung juga ikut berdiri di kursinya. Mengulurkan satu tangan dan memeluk Andaru yang kikuk... *** Dua jam setelah kedatangan Andaru ke rumah sakit itu, Eris baru menyusul kemudian. Wanita sempat ditahan oleh satpam karena waktu jenguk jelas tinggal sedikit lagi. Jadi setelah ia diberi izin, Eris berlari melewati setiap lorong yang sudah ia kenali dengan baik itu. Namun ia berhenti di tengah jalan karena ia mendapati Andaru dan si putri pemilik warung mie ayam yang berjalan ke arahnya ketika ia baru saja sampai di depan pintu bangsal. Si putri tersenyum lebar melihatnya dengan Andaru yang entah kenapa malah membuang muka itu. Eris memandang keduanya bergantian dengan napas terengah. "Maafkan aku. Entah kenapa tadi macet sekali." Ia mengerling ke arah Andaru lagi sebelum kembali kepada si anak perempuan. "Tunggu aku di sini. Paling tidak aku menyapa ibumu sebentar." Kali ini dengan langkah cepat Eris memasuki kamar rawat yang baru saja ditinggalkan oleh Andaru tadi. Jantungnya masih berdetak kencang ketika si istri pemilik warung memeluknya. Ia meminta maaf karena ia terlambat datang yang tentu saja dibantah oleh si istri pemilik warung. Wajah wanita berumur itu berseri-seri. Jelas senang dengan kedatangan Andaru yang tiba-tiba itu. "Pria baik. Sayang sekali jika orang-orang hanya melihatnya dari luar saja," komentar si istri pemilik warung dengan suara pelan karena si pasien saat ini tengah tertidur pulas. Setelah itu keduanya berbicara tentang bagaimana keadaan si pasien dan Eris - hanya untuk berjaga-jaga - apakah sang istri diributkan soal biaya oleh pihak rumah sakit. Karena jawabannya sesuai dengan apa yang Eris harapkan, wanita itu tidak menanyakannya lebih jauh. Karena ia tidak melihat air mata lagi atau mendengar janji untuk pergantian biaya yang jelas sebenarnya bukan berasal darinya. Lazuardi tidak berkomentar apa-apa lagi sejak Eris menceritakan lengkap kejadian semalam pada pria itu. Lengkap dengan rencana apa saja yang ia akan lakukan seharian ini. Di luar dari janjiannya yang tiba-tiba dengan Andaru, tentu saja. Eris hanya berkata ia menyambungkan tagihan rumah sakit itu ke kartu hitam yang ditinggalkan Lazuardi padanya tanpa tahu seberapa banyak uang yang sudah dipakai. Eris tahu ia harus "membayar" untuk itu. Keduanya berjengit ketika suara pengumuman berakhirnya jam jenguk dan cepat-cepat Eris memohon diri. Ia berjalan cukup tenang ketika ia mendapati kedua orang yang menunggu itu masih berada di tempat ia meninggalkan keduanya tadi. Tapi sekarang keduanya sedang bersandar di dinding, entah bercerita tentang apa karena sedang si putri tertawa kecil sekarang. "Kau masuklah dan temani ibumu. Kami bisa keluar sendiri." Eris berkata setelah dengan sabar menunggu tawa si anak perempuan mereda. Si putri mengiyakan dengan masih senyuman di wajahnya. Ia melambai ke arah keduanya sebelum masuk kembali ke bangsal. Keduanya berjalan bersisian dalam diam. Bersamaan dengan orang-orang yang jelas berpakaian bukan untuk menjaga pasien lainnya. Dan untuk memecahkan keheningan Eris-lah yang berkata, "Jadi apa saja yang beliau ceritakan pada Mas selama dua jam itu?" Karena Andaru menatap Eris dengan bingung, wanita itu cepat-cepat menambahkan, "Putri mereka tadi sempat mengirimiku foto kalian yang sedang bercakap-cakap tadi." "Oh," jawab pria itu ringan. "Hanya beberapa kali ucapan terimakasih. Bahkan untuk bagian yang aku mencuci piring itu dan keadaan suaminya. Aku bersyukur semuanya baik-baik saja." Eris mengangguk-angguk. Keduanya berhenti di depan pintu depan. Eris bersiap untuk mengucap selamat tinggal ketika ia malah mendengar. "Apa Mbak sudah makan malam?" Eris mengerjap. "Oh, kalau Mbak rasa..." Setelah apa yang terjadi di hotel tadi dan ketidakhadiran Lazuardi membuat Eris merasa ia memang tidak ingin makan malam sendirian. "Boleh saja. Mas mau membawa saya makan di mana?" Eris menunggu Andaru untuk tidak panik lagi. Geli rasanya karena pria itu jelas tidak yakin ia menerima begitu saja ajakan itu. "Err, ada rekomendasi?" Eris memutar bola matanya. "Suka pedas?" Andaru mengangguk sekali. "Kalau begitu ayo. Ada warung bakso mercon enak yang harus Mas coba..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN