Cool (2)

1361 Kata
Pada pulau seberang tempat ibukota Indonesia berada. Eris sedang sibuk dengan persiapan resepsi acara pernikahan seorang anak pejabat yang telah dilakukan sejak ia datang tadi. Seribu undangan dengan menu makan mewah, lokal dan internasional. Eris telah keluar rmasuk kitchen dan ballroom entah sudah berapa kali. Dengan wajah serius dengan secarik kertas berisi rundown dari wedding organizer dan permintan tambahan dari si punya acara. Sebelah tangannya memegang walkit-talkie. Sekarang Eris tengah mendiskusikan sesuatu dengan sang chef. Sebuah senyum terukir di wajahnya ketika sang chef mengatakan tentang betapa ketat dan detailnya ia sehingga membuat banyak dari asisten chef yang selalu gugup jika ia berada di dalam kitchen. Eris tersenyum sebelum memutar bola matanya. Sang chef, seorang pria yang munghanya beberapa tahun lebih muda dari Lazuardi adalah seorang duda yang terkenal playboy dan suka memacari atau mendekati para pegawai kitchen baru atau para mahasiswi magang. Walau begitu pria itu tetap seseorang yang menyenangkan dengan segudang lelucon yang salah tempat. Dan bukan Eri tidak tahu kalau sang chef juga berusaha mendekatinya. Lebih karena sebuah taruhan aneh yang tidak sengaja ia dengar dari kumpulan pegawai pria yang mengira ia bisa luluh begitu saja dengan semua perilaku baik yang tiba-tiba pria itu katakan padanya Ketika di masa lain ia mendengar mereka menyebutnya sebagai “jalang perawan tua.” Sekarang Eris sekarang menghitung kue-kue kecil berbagai warna berada dalam nampan besi. Lauk dalam kotak-kotak stainelss. Setelah itu Eris memohon diri kembali ke ballroom untuk mengawasi karyawan hotel yang memasang dekorasi bersama petugas wedding organizer. Ketika ia tengah menunjuk sebuah kain dekorasi yang miring ketika ia mendengar seorang memanggil namanya dengan suara lirih. Ia berbalik, menyahuti panggila itu dan terkejut mendapati sang pengantin wanita yang ada di sana dengan sikap takut-takut. Tanpa make-up. Kelihatan aneh di lautan orang berseragam rapi dengan jaket hoodie, celana trainning, dan sandal jepit. Saat itu juga Eris mengedarkan pandangan. Insting pertama yang muncul di dalam kepalanya adalah membawa wanita itu sejauh mungkin dari pandangan orang-orang. Jadi Eris meraih pergelangan tangan wanita mungil itu, menuntunnya ke tepi kolam renang yang letaknya hanya satu pintu dari ballroom pesanan mereka itu. Suara ribut teredam begitu Eris menutup pintu dibalik kain penutup. Terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang dikejauhan dan riak air kolam yang memantulkan cahaya. Menundukkan wanita itu pada salah satu kursi malas dengan Eris yang duduk di seberangnya. Eris tidak ingin menjadi yang pertama membuka percakapan. “Aku tadi mengira Mbak Eris akan membawa saya kembali ke kamar saya.” Waita itu akhrinay berkata sambil membuka penutup kepala hoodie-nya. Wajah wnaita itu sembab, Jelas baru saja habis menangis sebelum bertemu dengan Eris. “Kalau saya melakukannya saya hanya memperunyam masalah.” Eris tenang. “Saya...” Wanita itu menarik napas. “Tidak pernah suka keramaian. Suami saya –astaga – saya belum terbiasa memanggilnya seperti itu. Tahu kalau saya tidak menyukainya, begitu juga dengan ibu dan ayahnya yang sangat baik hati. Namun karena orangtuaku adalah pejabat. Jadi kami terpaksa melakukan ini. Berdiri di depan orang-orang.” Ia kemudian menatap langit-langit sebelum berkata. “Saya bahkan tidak pernah ikut satupun kampanye mereka dulu.” Eris mengamatai kepsresi wanita itu lekat-lekat. Mengamati kedua tangan wanita muda itu yang terpilin di pangkuan lengkap dengan kilat keringat “Seharusnya saya tidak mengatakan ini, Miss. Tapi... Anda bia pergi kala Anda mau.” Wanita itu langsung mengangkat wajahnya, menatap Eris bingung. “Well, acara ini dibayar oleh orangtua Anda. Orangtua Anda yang membuat acara ini demi kepentingan mereka. Orang-orang hanya perlu tahu kalau Anda sudah menikah, kan? Pengumuman di sosial media juga sudah bisa.  ” Wanita itu mengerjap. Jelas ide itu tidak pernah muncul di dalam kepalanya sebelumnya. Namun yang paling mengejutkan adalah seorang pria yang tiba-tiba muncul. Namun dengan setelan jas lengkap, tanpa make-up, dan wajah yang tersenyum lebar. “Kita bisa melakukannya! Aku yakin orangtuaku bisa membantu kita!”    Eris geli luar biasa, tapi ia sudah mengangguk-angguk memberi semangat kepada wanita yang terlihat masih berkonflik dengan dirinya sendiri itu. “Apa kau yakin?” Si pria dengan senyum penuh persekongkolan itu mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang saat itu juga “Hello, Ma. Iya, kami memutuskan untuk tidak hadiri di resepsi. Apa Mama dan Papa bisa bantu?” Perlahan senyum itu berubah menjadi seringai lebar. Sang pria berjingkat. Menjawab apapun yang dikatakan oleh orangtuanya diseberang sana sebelum berkata, “Mama bilang Papa tengah mengambil sesuatu di mobil di basement. Beliau aan menunggu kita di sana untuk mengambil kunci! Ayo!” Si Pengantin Pria mengulurkan tangan, menarik pengantinnya bangkit bersamanya. “Tapi pakaianku? Pakaianmu?” “Tidak perlu cemas. Tidak ada orang di rumah, kau ingat?” Dengan tangan mereka yang saling bertaut, Sang Pengantin Pria beralih kepada Eris yang langsung berdiri bangun dengan sikap berdiri siap sesuai standar kebijakan hotel ketika mendengar permintaan costumer. “Dan saya harap Mbak Eris mau bekerja-sama.” “Ada request selain itu, Pak?” “Bersikaplah kalau semua ini terjadi bukan karena ide Mbak.” Pria itu mengedipkan sebelah mata ke arah Eris yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus geli. Keduanya berlari melalui jalan berlawanan arah. Eris sendiri membutuhkan waktu untuk memperbaiki ekspresinya kembali netral sebelum masuk ke dalam ballroom dan melanjutkan pekerjaannya. Eris telah bertemu dengan dua pasang orangtua itu dan tahu mana yang tampak santai dan mana yang kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Eris tetap bertahan dengan pekerjaannya, bahkan ketika ibu pengantin pria dengan sengaja mengedip ke arahnya ketika besannya membagi perasan frustrasi mereka kepadanya. Dan waktu resepsi itu datang dan tidak terelakkan. Ditengah-tengah kesibukannya mengatur resepsi itu berlangsung dengan baik dan tanpa cela. Eris menikmati setiap komentar yang ia tidak sengaja ia dengar diucapkan oleh para tamu akibat ketidakhadiran pasangan pengantin baru di atas panggung itu. Itu kali pertama Eris benar-benar melepaskan diri pada saat ia sedang bekerja. Dalam beberapa kesempatan, ia menutup mulutnya akibat komentar-komentar lucu yang diuucapkan oleh para tamu. Dan ketika Eris tidak sengaja bertemu pandang dengan salah satu bawahannya, ia kembali memasang ekspresi serius. Dari semua yang terjadi dan yang paling membuatnya tercengang adalah betapa baik kedua orangtua pengantin wanita bersikap setiap kali orang bertanya ke mana perginya pengantin yang kabur itu di atas panggung sana. Lebih baik daripada orangtua pengantin pria... Kedua keluarga itu jelas bertolak-belakang. Eris menghela napas panjang. Menunduk menyibukkan diri membantu salah satu pegawai kitchen mengumpulkan piring-piring kotor yang ditinggalkan para tamu ke meja dorong.... Resepsi itu hanya berlangsung dua jam dengan begitu banyak tamu dan piring kotor yang berserakan. Setelah semua tamu sudah pulang, kedua keluarga duduk di booth khusus keluarga. Keluarga pengantin wanita tampak lesu, sedangkan pengantin pria tampak riang gembira. Setelah keadaan sudah cukup tenang barulah sang mama memberitahu besannya apa yang sebenarnya terjadi. Eris yang sengaja membenahi piring di meja terdekat agar bisa tetap mencuri dengar itu berusaha keras menahan tawanya ketika kedua orangtua pengantin wanita mulai berbicara dengan cepat kepada sang mama.    “Kenapa kau membiarkan mereka...” Sang Ibu Pengantin Wanita menatap besannya dengan pandangan tidak percaya. “Kerena ini pesta. Dan tidak seharusnya ada orang yang memberengut dalam pesta.” Sang Mama Pengantin Pria sambil mengedikkan bahu. “Dan semua orang berhak untuk tidak menghadirinya. Apalagi pesta tersebut bukan tentang dirinya.” Kalimat terakhir itu membuat senyum Eris menghilang saat itu juga dari wajahnya... Pekerjan Eris hanya sampai begitu pemilik pesta juga meninggalkan ballroom. Ia berbicara dengan sang chef yang juga mendengar tentang apa yang terjadi dan Eris menjelaskan sesingkat yang ia bisa dengan sang chef yang menggeleng-geleng takjub. “Wah, jika seandainya orangtua seperti itu semua...” Eris hanya menyeringai. Shift-nya berakhir bersamaan dengan berakhirnya resepsi pernikahan itu. Ketika ia melihat arlojinya Eris hanya berharap ia masih diperbolehkan untuk menjenguk si pemilik warung mie ayam walau hanya sebentar. Sejak sejam yang lalu sang putri pemilik warung mengabari jika salah seorang dari penyelamat hidup bapaknya itu datang dengn berbagai macam makan malam untuk penunggu orang sakit lengkap dengan fotonya. Pada foto itu tampak Andaru – si pria penyelamat - yang mengajak istri pemilik warung mengobrol. Eris yang buru-buru tadi siang tidak begitu memerhatikan wajah pria itu dan sekarang ia memandanginya cukup lama hingga ia menyadari kulit pria itu yang terbakar matahari dengan senyum tulus menampakkan bagian atas giginya yang putih... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN