Pagi ini setelah apa yang terjadi dengan keduanya semalam. Lazuardi memilih duduk di sebelah Galuh, alih-alih duduk di kursi belakang. Jalanan mereka lalui berbatu, becek dengan lumpur tanah merah. Sehingga Lazuardi harus berpegangan pada hand handle di atas kepalanya dengan kedua tangan. Ketika ia melirik ke arah pria muda itu. Galuh tampak biasa saja seakan-akan jalanan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.
“Jadi sebelum yang kemarin itu kapan terakhir kali warga menuntut hak mereka?”
Galuh yang masih memusatkan perhatian pada jalan itu menjawab cepat, “Satu-dua tahun yang lalu.”
Lazuardi mendelik bukan karena lubang di jalanan yang sangat besar yang baru saja dilewati Galuh begitu saja. Membrinya sensasi seperti nyawanya sempat terlepas dari tubuhnya. “Selama itu?”
“Karena kantor selalu merekrut para karyawan baru dari anak-anak berprestasi di setiap desa di sini. Walau untuk posisi yang sangat rendah dan hanya itu saja.”
“Tapi warga akhirnya menyadari kalau mereka telah rugi banyak. Apalagi setelah kejadian yang baru saja terjadi.” Lazuardi menyeringai diikuti sumpahan kecil dengan bahasa Spanyol ketika sekali lagi Galuh tidak bisa menghindari sebuah lubang besar di jalan.
Mereka dalam perjalanan menuju lokasi tambang tempat sang Chief kecelakaan hari itu. Dengan mobil Jeep milik sang manager dan petugas HSE di depan mereka memimpin jalan. Lazuardi memandang mobil itu dengan mencibir. Ia sebenarnya bisa saja meminta mobil yang sama untuk ia pakai selama ia berada di desa itu. Namun menyadari bagaimana cara dari Galuh membawa mobil SUV yang mereka pakai saat ini. Ia tidak yakin Galuh bisa mengendarai mobil seperti itu tanpa menabrak apapun di hadapannya. Karena sudah pasti ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengebut disetiap ada kesempatan...
Atau mungkin mereka mungkin bisa saja terbang.
Lazuardi akhirnya bernapas lega begitu ia melihat papan petunjuk tambang dari kejauhan. Mobil Jeep di depan mereka menunggu seseorang dengan seragam satpam membukakan gerbang besar berderit dengan kawat tajam melingkar di puncaknya itu. Mobil Jeep membunyikan klakson sebagai ucapan terimakasih, begitu juga dengan mobil Galuh. Jalanan yang penuh dengan batu bara lebih baik daripada jalanan berlumpur dan licin. Lazuardi langsung melompat turun begitu mobil berhenti di sebelah mobil Jeep. Sekali lagi ia bersyukur ia memakai sepatu dengan alas yang cukup keras untuk dipakai di lapangan. Salah satu pilihan Eris karena kesukaan aneh wanita itu dengan sepatu boot.
Terdengar suara pintu mobil dibanting lagi. Galuh muncul di sampingnya dengan helm dan jaket safety berwarna neon untuknya. “Sesuai dengan prosedur keselamatan.” Galuh berkomentar dengan senyum lebar.
Lazuardi menyeringai sambil memakai kedua alat keselamatan itu. Sang Manager Operasional dan Petugas HSE itu telah menunggu Lazuardi sebelum keduanya berdiri di sisi kanan-kirinya dan mulai menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Sang Chief shift malam itu.
“Di mana ia ditemukan?” Lazuardi memotong penjelasan itu, dingin. Memandang mereka bergantian. Hidungnya mulai berair akibat udara dingin yang menerpa wajahnya.
Keduanya saling pandang sebelum menunjuk ke arah danau bekas kerukan batu bara yang sekarang saja tampak mengerikan. Permukaan air itu bergerak sedikit akibat angin. Gelap dan terlalu tenang.
Tapi bagaimana jika dilihat pada malam hari?
Lazuardi kemudian mendongak sambil berjalan memutar. Ia menghitung berapa banyak tiang pancang lampu yang ada dan bagaimana keadaannya sekarang. Banyak dari tiang-tiang itu sekarang berdiri terlalu miring dan jelas bisa saja menjatuhi seseorang walaupun cuaca sedang tidak hujan. Sedikit sekali penunjuk keselamatan yang dipasang dan yang lebih parahnya lagi tidak ada tanda peringatan yang dipasang untuk danau gelap itu, bahkan dari jarak dekat. Hanya ada tongkat sederhana dengan pita keselamatan berwarna kuning-hitam yang juga sudah putus dan diterbangkan angin.
Tiba-tiba Lazuardi merasa ia butuh minuman keras yang ia tahu tidak ada tersedia di sini. (mungkin secara legal) dan jika Eris tahu. Wanita itu jelas akan memarahinya dengan “tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan minuman.” Jadi sekarang Lazuardi hanya mampu memencet puncak hidungnya keras-keras sambil menahan erangan frustrasi yang tersangkut di pangkal tenggorokan.
Lazuardi dengan cepat keluar dari kungkungan kedua karyawan tersebut. Berjalan sendiri ke tepi danau hitam itu dan menunduk rendah sabil memegang kedua lututnya. Sama sekali menghiraukan teriakan penuh peringatan yang ia dengar di belakang.
“Cukup satu dorongan dan sebuah nyawa akan melayang.” Lazuardi kemudian berdiri tegak.Tanpa ekspresi, menoleh dari atas pundaknya. Ke arah keuda karyawan itu yang sekarang saling pandang ngeri. Sang Manager jelas-jelas menelan ludah. “Jadi lasan seperti apa yang ingin kalian sampaikan untuk semua ini ini?”
Kedua pria itu sekarang menyibukkan diri dengan mulai mengambil ponsel lalu menelepon entah siapa...
Dengan cepat perhatian Lazuardi berpindah ke Galuh yang hanya berdiri mengawasi dari kejauhan. Satu tangan pria muda itu berada di bawah dagu. Menahan apapun ekspresi yang sebenarnya ingin ia tunjukkan pada Lazuadi.
Lazuardi yang malah makin kesal itu akhirnya berbalik badan ke arah danau lagi. Menyadari betul jika ia mungkin tidak akan bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan sang Chief itu dengan mudah. Apapun bukti yang tertinggal mungkin saja sudah terbawa hujan yang terjadi malam itu....
Ia memijat dahinya sekilas, mengerang pelan dan kembali berbalik badan ke arah dua karyawan itu yang kali ini mengerjap terkejut dengan kelakukan dramatis Lazuardi. Dengan kedua tangan di pinggang Lazuardi berseru, “Kumpulkan padaku semua anggota tim sang Chief malam itu. Aku yang akan berbicara dengan mereka sendiri.”
Setelah itu Lazuardi berjalan menyentak melewati keduanya menuju ke arah Galuh yang masih dengan posisi berdiri yang sama. Ia sedang menggumamkan sumpah serapah dalam Bahasa Spanyol, melewati Galuh juga dengan pria muda itu cepat-cepat menyusulnya di belakang. Begitu juga dengan dua orang karyawan tambang jauh di belakang mereka. Dari balik tubuhnya Galuh membuka kunci mobil dengan remote, membuat Lazuardi langsung melompat masuk dan membanting pintu. Ia bisa merasakan tatapan penuh tanya Galuh selama ia membuka alat-alat safety dari tubuhnya dan melemparkannya ke kursi penumpang di belakang.
Lazuardi bersyukur selama mereka kembali ke kantor utama Galuh memilih untuk diam. Namun Lazuardi memberi Galuh pandangan bertanya ketika pria muda itu malah berbelok ke arah lain.
“Makan siang. Istri saya tadi memberi saya pesan ia memasak makanan spesial dan ingin memamerkannya pada Anda.”
Pernyataan sederhana itu membuat Lazuardi mendesah panjang, lalu mengulum senyum. Eris benar,
Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan minuman.