Hari ketiga Andaru bekerja membersihkan kaca jednela gedung apartemen “Eris” dan ia berencana untuk – paling tidak – bisa bertegur sapa dengan wanita itu.
Dan kenapa ia menetapkan seperti itu? Itu karena percakapannya semalam di warkop bersama Dane. Pria itu jelas mengejek Andaru ketika ia berkata,
“Dan cobalah untuk tidak mengacaukannya kali ini. Hilangkan sejenak kesan “pria macho” yang penuh kebohongan itu. Itupun jika Tuhan masih cukup baik untuk memberimu kesempatan mengenalnya.”
“Sudah lama aku tidak berbuat sesuatu yang dilarang Tuhan akhir-akhir ini dan Tuhan yang kutahu cukup berbelas kasih kepada hamba-Nya yang membutuhkan,” balas Andaru sama sengitnya.
“Tapi tetap saja. Tuhan punya hak memilih siapa hamba-Nya yang layak untuk dibelas-kasihi. Karena menurutku, kau jelas tidak.” Dane dari balik tubuhnya disusu disusul dengan suara seruput minuman lagi.
“Siapa kau yang berhak menghakimi, Dane?”
“Seseorang yang cukup alim untuk bisa menghakimimu.”
Jadi pagi itu ketika ia sekali lagi menjadi yang kedua yang datag setelah Dane, dengan sikap kekanak-kanakan ia sengaja menghindar Dane dan lebih bnayak diam. Seskeali ia menangkap raut geli yang dilemparkan Dane padanya. Tapi ia tidak peduli. Membuat sang partner menatap mereka dengan raut campuran ingin tahu dan kebingungan.
Andaru bekerja dalam diam, tapi terlalu sering menarik napas panjang sehingga membuat sang partner yang sabar itu akan kesal juga. Namun keduanya memilih untuk tidak berbicara hingga Dan berkata akan menarik mereka naik untuk makan siang. Dane yang sedang baik hati itu langsung membagi uang jatah makan siang mereka sejak mereka melepas harness. Andaru memandang uang yang ada di tangannya sebelum menyelipkannya ke dalam saku celana wearpack. Berada dalam barisan paling belakang rombongan yang menuruni tangga sebelum memasuki lift khusus karyawan. Kelima pria berbau matahari dan keringat itu menyebar ke setiap sudut, membuat ruang di tengah-tengah lift.
Andaru masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika ia tidak menyadari lift brhenti di lantai favoritnya. Lamunannya baru buyar ketika ia merasa seseorang menyikut rusuknya dengan keras, hingga membuatnya mengaduh...
“Eris” masuk. Kali ini tidak begitu tegang seperti hari pertama itu. Ia menyapukan pandangannya kepada setiap wajah pria dengan kulit terbakar matahari itu sebelum masuk dan berdiri di tengah-tengah mereka. Tidak lagi memegang tasnya erat-erat dan ikut mendongak menatap penunjuk nomor lantai yang terus berganti.
Andaru merasakan kembali rusuknya disikut dan melotot ke arah si pelaku, Dane yang tidak merasa bersalah itu. Kelakukan mereka diperhatikan oleh pria lainnya, namun tidak berani berkomentar. Andaru mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, sebelum akhirnya ia berkata memecah keheningan.
“Maaf Mbak Eris, benar?”
Wanita itu berbalik ke arahnya dengan dahi mengerut. Andaru baru saja mau memperkanalkan dirinya, namun mata wanita itu telah membulat dengan satu jari telunjuk menuding ke arah Andaru. “Mas yang membantu saya melakukan CPR kemarin, kan?”
Andaru mengatup mulutnya sebelum ia mengangguk pelan. “Ya, benar saya.”
“Istri pemilik warung mie ayam itu juga menanyakan keberdaan Mas...”
Pintu lift terbuka. Teman kerja Andaru langsung menyelip keluar dengan setengah berlari. Sang partner memberinya pandangan penuh arti sebelum pergi juga. Sedangkan Dane menjadi yang terakhir, mengedipkan sebelah mata ke arahnya.
“Jadi nama Mas siapa?”
Andaru tergagap. Eris-lah yang menanyakan namanya lebih dulu! “Andaru. Maaf, saya menyebut nama Mbak dulu tanpa...”
Andaru berhenti berbicara karena sekarang Eris sedang sibuk mengaduk-aduk tasnya. Mengeluarkan sebuh jurnal dan pena. Menulis sesuatu di sana sebelum mengeluarkan ponsel dan menulis lagi. “Ini. Alamat dan nomor kamar rawat si pemilik warung mie ayam itu. Dan nomor ponsel di sana adalah nomor ponsel istrinya. Saya harap Mas Andaru mau menjenguk mereka di sana malam ini. Saya juga akan datang, kok. Jadi tidak perlu khawatir.” Jelasnya sangat cepat. Dengan nada resmi sambil menyerahkan robekan kertas jurnalnya itu kepada Andaru yang masih tercengang.
“Ada apa? Apa Mas Andaru sibuk? Kalau sibuk..”
Andaru cepat-cepat menggeleng. “Tentu saja tidak. Saya akan datang. Tapi pekerjaan saya selesai sebelum petang. Kalau tidak keberatan.”
“Tidak masalah. Dan kalau ingin membawa makanan, bawakan untuk penjaga pasien, oke? Sang pemilik warung belum bisa makan yang bukan berasal dari luar rumah sakit soalnya,” jelas Eris sambil menyumbat buku jurnalnya kembali ke dalam tas.
“Ah, kita belum berkenalan secara resmi, benar?” Eris mengulurkan tangan. “Eris Rahmadi.”
Andaru cepat-cepat memindahkan kertas itu di tangan yang lain sebelum mengerling ke arah tangan yang terulur itu lalu ke wajah Eris sebelum kembali ke tangan wanita itu untuk membalas jabat tangannya. Lidahnya terasa kering ketika ia berkata, “Andaru Purnomo.”
Tangan Eris dingin, lembut dan mungil di dalam genggaman tangan Andaru yang besar, keras, dan kapalan. Dan Andaru tidak ingin yang menjadi yang pertama melepaskan...
Setelah itu Andaru memerhatikan Eris dari kejauhan hingga wanita itu naik ke goncengan motor ojek online.
Ini bukan pertama kalinya Andaru menyukai seorang wanita, demi Tuhan. Tapi ini kali pertama ia mejadi “pengagum rahasia”. Selama ini ia selalu bersama wanita yang sudah lama ia kenal atau dalam lingkungan kerja yang hanya memiliki jumlah wanita yang terbatas. Ia pernah mencoba berkencan dengan pegawai administrasi dari pria muda yang memberinya pekerjaan di offsshore beberapa hari lagi itu. Itupun karena mereka saling menggoda hingga akhrinya kedua nya merasa mereka lebih cocok untuk berteman saja.
Dan Pak HSE mereka yang sangat ketat itu...
Andaru sekali lagi menarik napas panjang bersamaan dengan ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Andaru melihat apapun itu sambil jalan dan mendapati Dane-lah yang mengiriminya pesan:
Ceritakan padaku apapun yang terjadi tadi. Sekarang.
Tidak lupa pria itu memberitahu di mana ia makan siang. Andaru merasa tidak ada ruginya jadi ia memutuskan untuk menyusul Fane di sebuah warteg bernuansa hijau yang selalu ramai itu. Pria itu sedang menyesap es teh dengan sedotan ketika Andaru mengambil duduk di sebelahnya. Warteg itu panas dengan lampu yang sangat terang dan orang yang terus berdatangan meneriakkan pesanan yang tidak ada habis-habisnya.
“Bagaimana? Kau berhasil memberitahunya namamu?” Dane lalu meletakkan gelasnya.
“Yep! Dan ia memberiku ini. Katanya pria yang kami selamatkan hari itu juga ingin bertemu denganku.” Andaru melambaikan kertas itu tepat di depan wajah Dane sebelum menyelipkannya ke dalam saku celana wearpack-nya.
“Jadi tidak ada alasan kau bersungut-sungut lagi denganku sekarang.” Dane menyeringai sebelum meraih sendok-garpunya lagi.
“Sehari lagi denganmu dan aku akan pergi.” Andaru lalu bangkit. Dengan cepat meneriakkan pesanannya ke arah pegawai di belakang etalase lauk.
“Berbaik-baiklah denganku sebelum aku berubah pikiran untuk memanggilmu lagi untuk memberishkan gedung apartemen ini setelah kau pulang.”
Andaru menaikakn dagunya dengan congkak. “Mungkin pada saati itu juga aku sudah cukup mengenalnya tanpa harus membersihkan jendela apartemennya lagi.”
Dane meliriknya sekilas sebelum menyuap sedikit nasi. “Oh, ya? Aku akhirnya ingat di mana aku pernah melihat seragam dibalik jaket hoodie-nya itu. Kalau begitu aku mungkin tidak akan memanggilmu ketika kami akan membersihkan jendela di hotel tempatnya bekerja juga...”
Andaru cepat-cepat berkata, “Dane, kau mau es teh lagi?”
***