Warm (2)

1149 Kata
Petang itu setelah semua pendemo bubar dan ekadaan sudah dipastikan aman terkendali. Para polisi itu perlahan membubarkan diri setelah Sang Kapolsek berbicara dengan salah satu manager. Hanya ada beberapa yang tinggal untuk berjaga (para senior dengan pangkat yang lebih tinggi) dan mereka berasal anggota dari polsek yang sama dengan Bahlawan. Begitu mereka kembali ke polsek Bahlawan mendapat tugas untuk mendata barang-barang yang mereka pakai berjaga tadi bersama dua orang polisi muda sepangkat denganya yang diberinya tugas untuk menata barang-barang itu kembali ke rak-raknya di gudang. Gudang itu panas dan entah kenapa berbau seperti keringat kering. Membuat mereka melakukan pekerjaan itu seceot yang mereka bisa. Bahlawan menunggu hingga seseorang berseru selesai sebelum ia sendiri yang mengunci pintu gudang dan menyerahkannya kepada polisi yang bertanggung-jawab. Suara gaduh terdengar di dalam polsek. Sepertinya semua sedang menikmati makan malam mereka yang berupa nasi bungkus, botol-botol kopi kemasan, dan air mineral gelas dingin. Ketika Bahlawan mendatangi gerombolan itu, seorang temannya menunjuk bagiannya dengan mulut berminyak dan tangan memegang sendok plastik. Ia hanya menyeringai, mengambil jatahnya lalu mengucap terimakasih. “Eh, aku tahu sekarang siapa nama bule tua yang ada di kantor tambang tadi!” Teriak seseorang yang duduk di kursi terjauh sambil melambaikan ponselnya di atas kepala. Semua orang memusatkan perhatiannya padanya dengan mulut penuh atau sedang menengak minuman “Namanya Lazuardi Moreno. COO Tuiz Tbk! Fotonya terpampang di website resmi mereka! Memakai jas dan sangat tampan.” Ia kemudian menatap layar ponselnya lagi sebelum menyeringai lebar. “Wow, matanya juga abu-abu! Aku rasa ia memang orang Spanyol.” “Hati-hatilah, kalian. Karena sepertinya semua wanita yang ikut demo tadi menaruh perhatian padanya!” Teriak entah siapa ketika Bahlawan sedang membuka bungkus nasinya. Polisi muda itu menyeringai diikuti oleh suara gelak tawa. “Tentu saja. Siapa yang tidak. Ia seperti... Kau tahu, pemain film Itali yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan itu...” Sahut seseorang yang dengan cepat dipotong, “Alah, jangan kau ceritakan film dewasa itu lagi. Kita sedang makan!” Gelak tawa yang lebih besar sekarang. Bahkan Bahlawan harus berhenti menyuap agar ia sendiri bisa menutup mulutnya agar tidak menyemburkan nasi. Tiba-tiba terdengar suara derit kaki kursi menggeser lantai diikuti dengan seruan “siap!”. Ternyata Sang Kapolsek telah kembali dengan ajudannya. Bahlawan juga ikut bangkit dengan tangannya yang kotor berminyak, memberi hormat. Seperti dengan polisi-polisi lain. Ia menyadari Sang Kapolsek yang bertubuh sangat tegap itu sekarang tampak lelah sekali dengan dahi yang mengerut dalam dan senyum yang dipaksakan. “Makanlah kalian. Saya hanya sebentar.” Sang Kapolsek setelah membalas hormat mereka. Ia lalu membawa dirinya ke salah satu dari dua ruangan yang ber-AC di kapolsek itu. Bahlawan secara tidak sengaja bertemu mata dengan sang ajudan sebelum menutup pintu di belakangnya. Setelah itu para polisi itu makan dalam diam dan tertib. Tidak banyak lagi percakapan yang terjadi selain ketika beberapa dari mereka mengingatkan satu sama lain untuk memberesi bekas makan masing-masing agar tidak membebani yang bertugas jaga malam, termasuk Bahlawan. Tidak berapa lama kemudian satu-persatu polisi itu membubarkan diri dengan gigi yang menggigit tusuk gigi. Mengucap salam kepada yang bertugas menjaga malam dan pulang. Sekali lagi Bahlawan bersama dua polisi muda lainnya bertugas untuk membersihkan lantai kotor bekas tapak kaki sepatu-sepatu boot dan nasi yang tidak sengaja tumpah. Pokoknya membuat keadaan polsek kembali bersih ke sedia kala. Masih terdengar dengung percakapan, namun sekarang dilakukan dengan suara rendah dan kekehan tertahan. Bahlawan sekarang tengah membungkuk, memunguti sampah yang bisa ia pungut dengan tangan. Ketika ia tanpa sadar berada tepat di depan pintu ruangan Sang Kapolsek dan berjengit ketika tiba-tiba pintu menjeblak terbuka “Istrinya mengamuk di rumahs akit siang tadi.” Itu Sang Ajudan, melalui celah pintu. “Butuh waktu lama untuk menenangkannya.” “Jika suamiku juga tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Tentu saja aku akan berteriak meminta penjelasan.” Sang Kapolsek menimpali dari dalam dengan tenang. “Pastikan saja kalau semua kebutuhannya terpenuhi di sana.” Bahlawan cepat-cepat bangkit. Kabur sebelum ia harus membri hormat lagi dengan tangannya yang kotor. Namun percakapan itu mengganggunya. Untuk apa Sang Kapolsek berusah-payah mengurusi kejadian yang menimpa Ruiz Tbk. itu? Bahlawan membuang sampah di tangannya di tong sampah yang ada di belakang gedung kapolsek. Setelah itu Bahlawan mengambil banyak waktu untuk menatap langit malam dan menghela napas. Ia memarahi diirnya sendiri untuk coba-coba terlibat dengan segala urusan itu.. Namun sebuah telepon masuk pada ponselnya, membuat lamunannya buyar. Nama ibunya berkedip-kedip di layar. Membuat Bahlawan saat itu juga memutar bola matanya. “Ada apa, Bu?” Bahlawan sambil menjepit ponselnya di antara dagu dan pipi agar ia mengelap kedua telapak tangannya di kain celananya. “Ibu tidak bis aikut demo tadi karena ayahmu melarang...” “Tentu saja ayah melarang, Bu. Tadi sempat ribut soalnya!”  Bahlawan dengan nada geli. “Itulah bagian serunya! Jadi bagaimana? Apakah ada yang terluka?” Polisi muda itu menghela napas panjang. “Untungnya tidak ada. Hanya sempat terjadi dorong-dorongan tadi.” “Jadi apakah benar? Itu karena ada bule tampan di sana?” Siapa tadi namanya? Bahlawan mengenang. “Pak Lazuardi Moreno, Bu.” “Lazu... Ah, susah sekali namanya. Katanya sekarang dia memilih tinggal dengan salah seorang sopir tambang, si Galuh itu. Alih-alih tinggal di mess. Bagaimana Bahasa Indonesia-nya? Apakah lancar? Apakah kami harus “yes-no yes-no” sama dia?” Ibu Nugraha mengatakan semua itu dalam satu tarikan napas. “Aku tidak tahu kalimat pertama itu Ibu itu adalah pertanyaan atau pernyataan. Dan aku tidak tahu apa kah ia bsia Bahasa Indonesia apa tidak. Aku tidak sempat mendengarnya berbicara tadi...” *** Sedangkan beberapa ratus meter dari kantor polsek itu Lazuardi sekarang tengah memandangi dua orang berseragam safari Ruiz Tbk sedang mondar-mandir membawa perlengkapan tidur yang masih berplastik masuk ke rumah Galuh. “Saya benar-benar minta maaf. Kalau kalian keberatan saya bisa pindah...” Lazuardi menatap Galuh dan istrinya bergantian. Sedari tadi istri Galuh hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tapi tidak mengatakan satu katapun. “Tidak. Sekarang saya malah takut kalau Bapak tinggal di mess. Siapa tahu mereka...” Galuh menghela napas. Langsung berbisik ke telinga Lazuardi. “Memutuskan untuk meracun Bapak atau menusuk Bapak di tengah malam.” Lazuardi terkekeh. “Kalau memang demikian. Paling tidak itu bisa menjadi judul artikel yang bagus daripada artikel seperti gosip artis yang mereka tulis atas-namaku itu” “Jadi Pak Lazuardi sudah baca?” Itu sang istri yang berseru. Membuat kedua pria itu menatapnya dengan ekspresi beragam. “Maaf, seseorang membagikannya pada saya. Saya tidak mungkin tidak membacanya.” Lazuardi terkekeh, sedangkan Galuh jelas memutar bola matanya terang-terangan. Namun selama percakapan itu berlangsung. Tidak ada tanda-tanda dari kedua karyawan tambang itu berhenti memasukkan barang ke ruang tamu Galuh. Hingga membuat Galuh berseru dengan nada tinggi, “Harus berapa banyak lagi barang yang mereka bawa ini?” “Ah, mereka bahkan membawakan kita belanjaan dapur.” Lazuardi sambil menunjuk kedua pegawai itu membawa dua tas belanjaan masing-masing di tangan. “Jadi jangan takut, Galuh. Aku tidak akan menghabiskan belanjaan bulananmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN