Warm

1242 Kata
Setelah temu-wartawan mendadak dan satu kali rapat panjang (kali itu Lazuardi merasa ia tidak perlu menjadi “polisi baik” lagi. Jadi ia mengeluarkan semua apa yang ada dalam kepalanya. Tanpa filter.) Lazuardi memutuskan ia tidak ingin tinggal di mess kantor. Sudah pasti di sana ia akan dijamu dengan berlebihan yang membuatnya mual. Jadi ia meminta Galuh untuk kembali menampungnya selama ia berada di sana. “Saya hanya berharap jantung istrimu cukup kuat selama aku berada di rumahmu.” Lazuardi lalu terkekeh. Duduk melorot di jok belakang sambil menatap jauh ke luar jendela yang menampakkan pepohonan dan bayangan hitam yang tidak berujung. Merasa rileks untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kota itu. “Tenang saja, Pak,” Galuh menanggapi dari spion tengah. “Dia mengerti. Lagipula setelah apa yang terjadi hari ini. Saya sudah tahu kalau Bapak tidak akan tahan untuk tinggal di mess perusahaan.” “Dan kan saya pastikan aku tidak akan membebani kalian.” Hari sudah gelap ketika mereka sampai di rumah. Galuh menawarkan diri untuk mandi setelah Lazuardi dan pria itu sangat berterimakasih karenanya. Kamar mandi di rumah Galuh yang bergaya kampung itu sama sekali tidak membuat Lazuardi merasa ingin cepat-cepat keluar setelah ia berada di dalam. Siraman air dingin dengan gayung plastik itu membuatnya lebih segar dan semua kekesalannya luntur. Ia juga tidak lupa mencukur jambangnya pada cermin mungil yang tergantung di belakang pintu kamar mandi. Lazuardi tersenyum dengan pantulan dirinya di cermin sekarang. Eris tidak pernah menyukainya brewokan dan akan menolak semua jenis ciuman yang akan ia layangkan pada wanita itu. Kata Eris, ia tidak menyukai sensasi bakal janggut di kulit. Padahal Lazuardi sangat menyukai suara kekehan Eris ketika wanita itu kegelian... Kenangan itu membuatnya menghela napas panjang. Ketika ia keluar dari kamar mandi. Lazuardi mendapati Galuh sudah menunggu di depan pintu dengan handuk di tangan dan yang lebih buruk lagi karena pria muda itu tidak mengatakan apapun. Lazuardi hanya melemparkan senyum penuh permohonan maaf. Lazuardi mendapati istri Galuh sedang menata meja makan ketika ia menuju kamarnya, dibantu oleh sang putra. Setelah menaruh semua peralatan mandinya kembali ke dalam tas, ia memeriksa ponselnya. Nama Eris tertera paling atas. Ia mengirim Lazuardi banyak link artikel tentang temu-wartawan yang diadakan siang tadi di depan pagar kantor tambang... Dari tiga link yang dikirim oleh Eris. Lazuardi hanya membuka yang dikomentari gadis itu dengan emoticon “tertawa hingga mengeluarkan air mata.” Lazuardi membacanya dengan sangat cepat sebelum ia sendiri memutar bola mata... Ia – entah kenapa – bisa membayangkan bagaimana ekspresi Eris setelah membaca artikel yang lebih ke arah gosip artis itu dan sangat sedikit membahas tentang apa penyebab demo itu berlangsung. Ketika membaca artikel itu Lazuardi yakin wanita itu pasti langsung tertawa sampai memegangi perutnya. Karena dulu sekali kejadian serupa pernah terjadi. Keduanya berjalan berdua di mall. Lazuardi sedang diukur di toko tailor untuk mengepas setelan jas baru dan Eris yang bosan menunggu itu mulai membuka-buka majalah ketika dua pramuniaga wanita yang ternyata berbicara lebih keras dari seharusnya itu sedang menggosipinya. Bukan seperti yang dikatakan Galuh “seperti keluar dari telenovela.” Kedua wanita itu menyebut Lazuardi seperti keluar dari “sampul novel Herlequin.” Lazuardi tahu Eris mendengarnya juga. Karena wanita langsung menutup wajahnya dengan majalah yang terbuka diikuti seluruh tubuh yang bergetar akibat menahan tawa. Dan Eris benar-benar tertawa lepas begitu mereka keluar dari toko sambil memegang perut dan bersandar pada Lazuardi yang sabar menunggunya hingga selesai tertawa... Lazuardi baru saja ingin menelpon Eris, ketika Galuh muncul tidak lama kemduain dengan rambut yang basah yang belum disisir. Memanggilnya untuk ikut makan malam. Galuh menyadari senyum tipis di wajahnya yang cepat-cepat Lazuardi hilangkan itu sebelum mengiyakan ajakan itu. Dengan berat hati ia meletakkan ponselnya lagi. Toh, ia yang membuat aturan untuk tidak membawa ponsel ke meja makan. Galuh malah meninggalkannya berbelok ke kamarnya sendiri. Membuat Lazuardi merasa harus membuka sebuah percakapan ringan dengan putra mereka itu. “Jadi di man akau tidur selama aku pakai kamarmu?” Sang putra berjengit kecil sebelum menjawab Lazuardi dengan wajah malu-malu. “Tidur dengan Bapak dan Ibu. Di kasur lipat.” “Tidur denganku malam ini, kalau begitu. Aku tidak keberatan.” Putra Galuh saling pandang dengan ibunya sejenak sebelum Galuh-lah yang menjawab dengan rambut yang sudah tersisir rapi dan sikap yang sangat santai, “Tentu saja. Selama Pak Lazuardi tidak keberatan.” Setelah itu mereka makan malam dalam diam. Menunya sangat sederhana dan sangat sehat dengan ikan dan sayur-sayuran. Galuh memberinya tatapan lucu ketika Lazuardi makan tanpa nasi nasi sama sekali, tapi ia tidak mengatakan apapun. Lazuardi tidak lupa untuk membantu mereka untuk memberesi meja makan setelah semua selesai makan. Ketika semua sudh rapi barulah ia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ia memilih duduk di undakan teras rumah Galuh sebelum menelpon Eris. Wanita itu mengangkat teleponnya begitu deringan pertama. Terlalu bersemangat hingga Lazuardi harus menjauhkan ponsel sedikit dari telinga. “Alihkan perhatianku sekarang,” ucap Lazuardi setelah Eris selesai mengucap salam. “Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu hari ini.” Eris diam sejenak sebelum mulai bercerita. Lazuardi selalu senang mendengar Eris bercerita. Karena cerita wanita itu selalu tentang orang lain, bukan tentang dirinya. Apa yang terjadi di hotel tempatnya bekerja. Acara pernikahan yang ia tangani. Semua penjual makanan langganannya yang entah kenapa selalu menceritakan sesuatu yang personal padanya... Eris masih terus bercerita dengan Lazuardi yang sekarang tengah menatap langit malam yang bertabur bintang, menghela napas. Eris adalah tipe wanita yang selalu harus diawasi karena ia sangat ceroboh dan kikuk. Karena ia sering sekali melukai dirinya sendiri. Lazuardi bahkan bisa mengingat setiap luka kecil yang ada di tangan wanita itu, sanking seringnya ia menggenggam tangan itu. “Aku merindukanmu, carino.” Lazuardi tiba-tiba memotong perkataan wanita itu. Membuat seseorang yang diseberang sana terdiam sejenak. “Kau baru saja pergi semalam dan sudah seperti ini. Seberat itukah pekerjaan di sana?” Eris dengan suara yang sangat lembut. “Sangat. Dan tadi aku sudah meledak-ledak dengan semua yang ada di dalam kepalaku, kau tahu.” “Kau tidak pernah punya bakat untuk menjadi “polisi baik.” Kau tahu itu.” Lazuardi menyeringai. “Kau benar.” Lazuardi mengingat kenangan lain. Berbelas-belas tahun yang lalu. Ketika ia masih di Madrid. Bersama seseorang yang ia kira akan menemaninya hingga maut memisahkan. Ia kecewa dan menyalahkan diri sendiri cukup lama sebelum akhirnya ia membuka hati kepada dan disaat yang bersama bertemu dengan Eris. Jadi sekarang ia berdeham-deham. Menghilangkan bayangan kenangan menyedihkan itu jauh ke bagian belakang kepalanya. “Jadi pukul berapa shift-mu besok?” Eris kemudian memberitahunya yang ia jawab dengan, “Hati-hati kalau pulang malam, oke?” Walau sebenarnya ia masih ingin mendengar suara Eris lebih lama lagi, namun sebuah mobil berhenti di depan rumah Galuh membuatnya langsung bangkit berdiri. Ia kemudian memutus sambungan teleponnya bersama Eris dengan berat hati. Seorang pria turun dengan seragam safari putih berlogo Ruiz Tbk. Ekspresinya tampak tidak yakin ketika ia masuk ke pekarangan rumah dan mendatangi Lazuardi yang berdiri menunggu. “Pak Lazuardi, saya ditugaskan menjemput Bapak dan pindah ke mess.” Lazuardi memutar bola matanya. “Saya sudah bilang saya akan tinggal di sini selama penugasan saya. Galuh tidak keberatan. Tapi kalau kalian-lah yang merasa tidak enak, kalian bisa memberi ongkos penginapan saya kepada Galuh.” Walau Lazuardi merasa tidak sepatutnya ia seketus itu kepada pria yang jelas hanya suruhan namun ia tetap tidak ingin berada di mess bersama orang-orang yang memberinya senyum palsu atau terpaksa. Paling tidak Galuh adalah “teman seperjalanan” yang cukup jujur dan Lazuardi menyukai itu... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN