Jakarta – 4 ½ tahun yang lalu
Lazuardi Moreno masih juga merasa bersalah dengan kencan pertama mereka yang berantakan itu. Jadi sedapat mungkin Lazuardi mengikuti seluruh keinginan Eris yang ia anggap sangat sederhana itu. Bahkan terbilang sangat murah – ketika pria itu dengan senang hati menghujani wanita itu dengan hadiah-hadiah mahal.
Tapi Lazuardi tidak berani menanyakan hal itu. Karena ia takut Eris akan tersinggung. Lazuardi, toh hanya belajar dari cerita-cerita yang biasa ia dengar ketika para petinggi Ruiz Tbk yang tengah berkumpul dan menceritakan para “pacar” mereka. Mengeluh dengan cengiran merendahkan ditambah dengan kepuasan terselubung. Tentang para pacar mereka yang meminta barang-barang bermerek keluaran terbaru, betapa antik, dan mudanya mereka.
Sedangkan Eris? Wanita itu hanya memintanya menemaninya menonton Captain America : Civil War. Mereka sekarang tengah menganteri tiket bersama dengan Eris. Satu tangan Eris melingkar di lengannya, satu lagi tengah sibuk dengan ponsel. Lazuardi sendiri sekarang tengah mengedarkan pandangan dari atas puncak kepala Eris. Mengamati setiap calon penonton yang bertebaran di dalam ruangan bernuansa cokelat dan hitam, berudara sejuk, dan berkarpet tebal itu.
Lama baru Lazuardi menyadari mungkin ia adalah yang tertua dalam lautan anak muda yang akan menonton film tersebut. Kalau ia mengecualikan dirinya dari para ayah yang membawa keluarganya menonton film yang sama. Lazuardi kemudian menghela napas panjang, menunduk dan secara besamaan saling tatap dengan Eris yang memberinya pandangan dengan dahi mengerut.
Jika seandainya mereka tidak sedang berada di keramaian. Lazuardi pasti akan mencium kerutandi dahi Eris itu.
“Ada apa? Lelah?” tanya Eris lalu mengerling ke arah kaki Lazuardi.
Sebelum Lazuardi menjawab, merek maju satu barisan terlebih dahulu. “Jangan menggodaku begitu.” Lazuardi lalu menunduk ke wajah Eris lagi dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat.
Eris memutar kedua bola matanya sebelum menimpali, “Aku benar-benar khawatir, kau tahu. Karena kau bilang beberapa hari ini kau lembur.”
Lazuardi menghela napas panjang sambil melepaskan tangan Eris di lengannya untuk melingkarkan lengannya di bahu wanita itu. Meremas lembut ujung pundaknya sebelum berkata, “Denganmu seluruh lelahku hilang begitu saja.”
Eris tidak menjawab. Selalu seperti itu setiap kali ia mengatakan hal seperti itu. Eris akan memutuskan pandangan mereka dan menatap ke arah lain. Walau begitu ia tidak pernah mengeluarkan protes apapun…
Lazuardi-lah yang menyuruh Eris untuk berbicara dengan nyaman dengannya setelah kencan kedua mereka. Lazuardi merasa panggilan “saya, anda, atau pak” hanya membuat jurang usia di antara mereka lebih terasa. Lazuardi kemudian berjinjit-jinjit sambil sesekali meremas lembut pundak Eris yang masih terus memandang ponselnya…
“Apa yang sedang kau lihat di ponselmu itu?”
“BTS performance,” katanya ringan dengan mata yang masih tertuju ke layar ponsel. Eris sekarang tengah menggigit bibirnya, seperti menahan jerit. Mereka lalu maju selangkah lagi.
“Apa mereka pria-pria muda yang menjadi wallpaper-mu itu?”
“Yep!” Eris mendongak lagi. “My daily doses happiness.” Senyumnya mengembang lebar.
Kali ini Lazuardi yang menghela napas panjang.
Akhirnya sampai juga giliran mereka untuk memesan tiket. Eris mengambil kursi di barisan tengah karena mereka tidak punya banyak pilihan lain. Eris dengan sangat cepat telah mengambil dompetnya sendiri dan membayar. Bahkan tidak sempat membuat Lazuardi berpikir.
“Carino!” Lazuardi berseru. Menyebut Eris dengan panggilan yang selama ini hanya ada dalam kepalanya.
Tapi Eris sudah menarik lengannya menjauh dari konter tiket agar pasangan yang ada di belakang mereka bisa menjauh. Menaruh satu telunjuk di bibir…
Lazuardi mengerang pelan. Ikut saja ditarik keluar dari pintu bioskop oleh Eris yang sekarang terlihat main-main.
“Aku yang mengajakmu menonton. Jadi aku yang bayar. Tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah kau berikan padaku selama ini.”
Lazuardi sudah siap membantah, tapi Eris sudah menggeleng kepalanya kuat-kuat.
“Ayo, Senor. Kita hanya punya sejam kurang sedikit untuk makan malam!”
Lazuardi masih tidak berkata apapun ketika Eris menarik lengannya lagi. Tapi ketika ia menjajarkan jalan mereka. Ia melepaskan tangan Eris agar ia bisa menautkan jemarinya di sana.
Dengan Eris-lah Lazuardi merasa santai luar biasa.
Mereka berpapasan dengan pasangan muda dengan pakaian modis dan Lazuardi sendiri menyadari busana mereka. Pria itu melepaskan jas dan dasinya. Jadi sekarang hanya memakai kmeja putih dengan kerah terbuka dan celana kain. Sedangkan Eris membiarkan rambutnya tergerai dengan jaket beresleting yang membalut seragam kerjanya. Make-up nya bahkan sudah tidak tampak lagi.
Lazuardi mengeratkan jemarinya, membuat Eris menoleh ke arahnya dengan dahi yang mengerut lagi…
Mereka memutuskan untuk makan udon malam itu. Lazuardi hanya bisa menatap ketika wanita itu menuang banyak potongan cabai rawit dalam mangkuk mie-nya. Lazuardi yang sudah terbiasa dengan betapa berantakannya wanita itu ketika makan. Tanpa kata Lazuardi emraih tisu dan mengelap mulut Eris dan memastikan kalau lengan atau siku Eris ketika wanita itu bergerak tidak menyambar gelas atau mangkuknya…
Selesai makan mereka kembali ke bioskop sepuluh menit lebih cepat dari jadwal. Eris bahkan masih sempat membeli paket popcorn couple untuk mereka. Lampu dalam teater masih terang-benderang ketika mereka masuk. Lazuardi yang tangannya penuh dengan minuman, justru meminta Eris untuk berhati-hati ketika mereka melewati beberapa kaki untuk sampai di tempat duduk mereka.
Lazuardi merasakan tatapan tajam dari pasangan muda yang juga mereka temui di konter tiket tadi…
***
“Jadi kau masih marah soal tiket tadi?” Eris jelas terdengar geli ketika mereka dalam perjalanan mengantar gadis itu pulang. Penunjuk jam di dasbor mobil Lazuardi menunjukkan sudah nyaris tengah malam.
“Tidak,” jawab Lazuardi saat itu juga.
“Jawaban itu sama sekali tidak meyakinkan.” Dan Eris masih terdengar geli.
Lazuardi memilih untuk tidak menanggapi. Ia malah bertanya. “Sudah terlalu malam. Aku akan mengantarmu tepat di depan pintu hari ini. Tidak boleh menolak.”
Ketika Lazuardi mengira ia akan mendengar suara protes, tapi ternyata tidak. Eris hanya menatap keluar jendela sambil menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama lagu dari radio. Mereka melewati sisa perjalanan itu dalam diam hingga Eris harus memberi arahan Lazuardi di mana ia bisa memarkirkan mobilnya di lorong sempit yang tampak gelap dan berbahaya.
Lazuardi merasa ia tidak boleh membiarkan Eris brjalan di sana sendirian.
Dan memang benar. Lorong itu sempit dan tidak mungkin mobil SUV Lazuardi yang besar itu masuk ke sana. Eris memimpin jalan dengan Lazuardi yang terus saja mengedarkan pandangan. Ia bahkan terbelalak ketika akhirnya Eris berhenti di depan satu pintu dari empat pintu rumah yang berimpitan itu.
“Kau tinggal di sini?” Lazuardi bertanya lamat-lamat. Teras ketiga tetangga Eris yang lain sedang penuh dengan jemuran yang tertinggal atau motor yang diparkir.
“Ya, cukup murah dan sangat dekat dari hotel dengan membayar beberapa rupiah untuk ojek online.”
Lazuardi tidak berkata apa-apa lagi. Karena Eris mengatakannya dengan cukup ceria. Saat ini gadis itu tengah sibuk membuka kunci pintu rumahnya.
“Biarkan aku melihat-lihat.” Lazuardi maju, tapi tidak lupa membuka sepatunya.
Kontrakan itu hanya terdiri dari tiga ruangan. Satu ruang tamu dengan karpet seadanya dan rak sepatu rendah. Ruang kedua adalah kamar tidur dengan meja rias, single spring bed, lemari tanpa pintu penuh dengan sesuatu yang sepertinya adalah marchendise, dan lemari pakaian. Dapur Eris lebih menyedihkan lagi. Kompor satu mata, dispenser, kulkas satu pintu dan meja makan sederhana. Ada mesin pencuci pakaian yang besebelahan dengan pintu kamar mandi yang untungnya adalah toliet duduk.
Lazuardi berbalik ke arah Eris dan wanita itu hanya mengedikkan bahu.
Pria itu memijat puncak tulang hidungnya sejenak sebelum berkata, “Sudah malam. Kau perlu beristirahat.”
Eris tidak menolak ketika Lazuardi mencium puncak kepala wanita itu sebagai salam perpisahan. Ia memastikan Eris mengunci pintu kontrakan itu sebelum ia sendiri berjalan menembus malam dengan pikirannya yang kalut…
Hingga ketika ia berada di dalam mobil kembali baru ia tahu, ia tidak harus memikirkan masalah tempat tinggal Eris terlalu lama…
** *