Sedangkan salah seorang yang melakukan aksi heroik yang sama siang tadi sekarang baru saja selesai mengumpulkan kertas-kertas administrasi dari pasien yang ia selamatkan siang tadi.
Dan wanita itu tahu, setiap kali ia melakukan satu gesekan pada kartu hitam itu. Sebuah email notifikasi masuk di ponsel pria yang sekarang tengah berjarak satu lautan dengannya. Namun sekarang tidak lagi telepon tiba-tiba yang meminta kejelasan. Karena wanita itu tahu semua pembayaran rumah sakit ini tidak ada artinya untuk pria itu.
Karena wanita itu – Eris – pernah membeli marchendise konser BTS jauh lebih banyak dari itu.
Setelah selesai Eris mengucap terimakasih kepada petugas administrasi dibalik meja. Ia kemudian melihat jam di dinding dan teringat kalau ia belum makan malam. Mereka terlalu sibuk dan tidak punya cukup selera makan selama sang pemilik warung tengah ditangani oleh dokter. Sekarang ia dalam pengawasan dokter. Walau masih belum sadarkan diri, keadaan pria berumur itu sudah cukup stabil.
Dengan map bening di tangan, Eris merasa sebaiknya ia pulang. Lagipula tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Jadi ia kembali ke ruang rawat dan sudah menyusun kalimat perpisahannya, namun ternyata sang anak perempuan yang masih berseragam sekolah itu menghampirinya dengan senyum merekah di wajah.
“Bapak sudah siuman, Mbak!”
Eris mengerjap sebelum mengucap syukur. Jadi anak perempuan itu menarik pergelangan tangan Eris bersamanya untuk masuk ke kamar inap. Ia mendapati sang pemilik warung memang telah sadar, namun masih terlihat lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Pria itu perlahan menoleh ke arah Eris. Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak mampu mengatakan apapun...
Eris berdeham untuk mengusir rasa sakit di pangkal lehernya sendiri. Sambil menghilangkan bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. “Jangan pikirkan apa-apa. Bapak akan baik-baik saja.” Setelah itu ia menyerahkan bukti bayar kepada sang istri yang langsung memeluknya erat itu.
Setelah semua drama itu Eris benar-benar pamit pergi dengan ucapan terimakasih yang ia dengar berkali-kali, tanpa putus. Sang anak perempuan menawarinya untuk mengantar hingga pintu depan rumah sakit, namun Eris menolak. Memberi alasan tentang mereka yang sudah terlalu lelah, begitu juga dengan dirinya.
Itu kali pertama Eris menghabiskan banyak waktu dengan orang selain Lazuardi selama entah sudah berapa lama.
Eris merindukan Lazuardi, tentu saja. Sebelum pertemuan mereka yang kemarin itu, keduanya juga belum bertemu selama sepekan. Dan ternyata kebersamaan mereka kembali direnggut dengan pekerjaan...
Eris ingin mengeluh, tapi ia tidak tahu ia tidak bisa.
Taxi online yang dipesan Eris sampai bahkan sebelum ia sampai di pintu depan. Membuat Eris mempercepat langkahnya. Ia tidak tahu betapa lelahnya ia sampai punggungnya akhirnya menempel di jok kursi penumpang mobil SUV itu. Ia hanya bersyukur besok ia mendapatkan shift siang yang lengkap dengan satu acara pernikahan di petang harinya...
Ketika ia sibuk memandang ke luar jendela, Eris akhirnya kembali membuka ponselnya. Begitu ia menulis “Ruiz Tbk” di mesin pencari, ada banyak artikel yang bahkan masih berusia beberapa jam lalu muncu di feed-nya. Tapi ada beberapa judul berita yang malan membuat dahinya mengerut dalam.
Para Pendemo Tambang Ruiz Tbk. Salah Fokus dengan Pria Ini
Eris bahkan harus duduk tegak untuk membaca isi artikel itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan diri agar tidak mengikik. Karena artikel itu jelas lebih fokus pada sosok Lazuardi dan apa yang pria itu sebabkan pada para pendemo daripada kejadian menyedihkan yang baru saja terjadi di sana.
Ternyata Lazuardi bisa menjadi pengalih-isu yang efektif.
Eris yang sibuk membaca setiap artikel yang membahas Lazuardi itu sampai tidak sadar kalau ia sudah sampai di depan gedung apartemennya. Ia mengucap maaf kepada sang sopir yang sudah sabar menunggu itu. Eris masih harus menahan tawanya hingga ia berada di dalam lift karena jelas artikel seperti itu tidak hanya satu saja.
Ia masih membaca artikel yang baru sambil memencet password pintu apartemennya dan nyaris terjatuh dengan kakinya sendiri ketika berusaha membuka membuka sepatunya. Makin banyak artikel yang dibuka, semakin geli Eris dibuatnya....
Dengan masih sambil menahan tawanya, Eris cepat-cepat membersihkan diri sebelum berani baik ke atas ranjang. Sudah kebiasaannya selama bersama Lazuardi untuk selalu disiplin dan bersih. Kakinya terasa pegal itu ia coba pijat-pijat sendiri selama ia mengirim link artikel itu pada Lazuardi dan kembali membaca artikel lain yang masih membahas soal kejadian di tambang batu bara terbesar Ruiz Tbk itu, namun kali ini artikelnya lebih serius. Membahas tentang kealpaan perusahaan terhadap hak warga sekitar.
Baru sedetik Eris selesai membaca artikel itu, nama Lazuardi berkedip-kedip di layar ponselnya....
***
Sedangkan percakapan yang terjadi di warkop berlanjt dengan alis mata Andaru yang naik saat tinggi itu kepada Dane, supervisor-nya yang mengedikkan bahu sekali.
“Dan jika seandainya aku memberitahumu itu – apa kau akan langsung percaya, alih-alih menuduhku membuat-buat alasan?” Andaru menggeleng-geleng, menyulur rokok yang lain.
“Kau tahu, kan aku bisa menilai orang dalam sekali pandang?” Dane menunduk memandang gelas kopinya lalu kembali mendongak ke arah Andaru. “Akulah yang memilih siapa yang bisa berpasangan dengan siapa pada setiap gandola.”
Andaru menyesap rokoknya dalam-dalam. “Apa kau mengatakannya agar aku berterimakasih padamu karena mendapatkan seorang partner yang tidak banyak bicara?”
Sekarang Dane menatap Andaru leka-lekat. “Karena hanay dengan cara itulah agar kau tida memakai headset di atas sana, Andaru. Dan kau tahu betapa bahayanya itu.”
Andaru memilih untuk tidak menjawab. Ia malah menyesap minumannya banyak-banyak dan berniat untuk berbalik badan ketika Dane berkata,
“Jadi siapa nama wanita itu lagi? “Eris”?
Puncak telinga Andaru langsung naik begitu nama “Eris” disebut. Namun tubuhnya mengkhianatinya lebih baik dari usahanya untuk menutupinya. Karena Andaru telah memperbaiki letak duduknya menghadap Dane, namun sengaja menatap ke arah lain.
“Jadi bagaimana wanita itu tanpa ada kaca yang memisahkan kalian?” Dane setelah berdeham keras sekali.
Andaru berusaha keras untuk menahan senyum. Jadi ia menggembungkan pipinya. Namun ketika ia tidak tahan lagi. Ia malah menjedutkan dahi ke atas satu lengan, ketika tangan yang lain masih sibuk memegang rokok yang menyala di tepi meja.
“Dia sangat manis. Astaga!” Lalu tiba-tiba ia mengangkat wajahnya ke arah Dane yang menjauhkan diri darinya. “Dan wajah penuh tekadnya ketika melakukan CPR?! Dia tahu apa yang ia lakukan!”
Lama baru Andaru baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Dan pada saat itulah ia bersumpah-serapah. Bersamaan ketika Dane terbahak-bahak. Andaru kali ini benar-benar memutar badan dan menghadap e jalan.
“Astaga, Andaru! Aku tidak tahu kalau menyukainya sebesar itu.”
Andaru tidak menagggapi. Karena wajahnya sekarang terasa terbakar.
Dane berdeham-deham lagi. “Lagipula seharusnya kau masih punya cukup waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Well, sebelum kau harus onboard lagi.”
Andaru menjauhkan rokok yang baru akan ia isap itu dan menghela napas.
“Dan cobalah untuk tidak mengacaukannya kali ini. Hilangkan sejenak kesan “pria macho” yang penuh kebohongan itu. Itupun jika Tuhan masih cukup baik untuk memberimu kesempatan mengenalnya.”
***