"Profesional itu bukan berarti lo jauhin gue, Fei." Terngiang ngiang ucapan Jemima saat bermalam di Kala Senja. Malam yang seharusnya indah itu justru jadi malam panjang yang menyiksa bagi Fei. Berulang kali lelaki itu ingin mengutarakan, berulang kali pula Fei mengurungkan niatnya. Pemilik rambut hitam itu hanya bisa mencuri pandang, kala gadis pujaannya tertawa di depan api unggun. "Hayoloh ketauan stalk." Suara Wirda mengagetkan Fei, hampir saja pria itu menjatuhkan ponselnya. "Muslim yang baik masuk rumah itu ngucap salam. Bukan ngagetin orang kayak begitu. Kalo gue sawan, Lo mau tanggung jawab?" "Heleh, cari pembenaran. Assalamualaikum, Fei, mengapa engkau Stalking akun bos sendiri wahai pak Editor?" Fei buru buru menyimpan ponselnya, dia melihat jam. Sudah pukul delapan, teng.

