Adara banyak memikirkan hal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan. Sampai ia tidak bisa tidur. Ia hanya terus mengubah posisi berbaringnya supaya tidak pegal. Kadang ia menatap langit-langit kamar ketika terlentang. Ketika miring ke kanan, ia terus menatap ke arah jam dinding. Sementara jika ia miring ke arah kiri, yang ia lihat adalah sosok ranjang yang kosong. Membuat napasnya seketika sesak, sebab ketika menatap sisi ranjang yang kosong ini, ia selalu ingat dengan Hasbi. Membayangkan jika saat ini Hasbi memang benar sedang tidur di sampingnya, dan memeluknya dengan erat. Bahkan hingga detik ini pun, mengingat Hasbi adalah sesuatu yang sangat membuat Adara sedih. Tak terasa air matanya menetes. Terlebih kali ini ia juga merasakan yang namanya rasa bersalah. Iya, rasa bersalah. Sebab .

