Ponsel Yasmin berdering. Jam dinding menunjukkan pukul satu siang.
“Halo,” ujarnya.
“Assalamu’alaikum,” ucap suara perempuan di seberang telepon.
“Wa’alaikumsalam. Maaf siapa?” tanya Yasmin.
“Aku Cici, temen kerjamu dulu. Apa kabarnya?”
“Eh, Ci. Baik, kamu gimana?”
“Baik juga alhamdulillah. Susah nemuin nomormu yang baru.”
Yasmin hanya terkekeh.
“Eh, sibuk gak?”
“Nggak sih. Aku ....”
Kalimatnya terhenti. Dia lupa, kalau tak ada satu orang pun yang tau soal pernikahanya dengan Dameer.
“Kenapa Yas?”
“Nggak. Emang ada apa?”
“Ketemuan di Kafe Ria yuk, kangen!”
Yasmin kembali terkekeh.
“Kirain gak ada yang kangen sama aku.”
“Buktinya ada. Lagian kamu parah banget sih, langsung ngilang kayak ditelan bumi, nomor hp ganti, tau-tau resign aja. Tega, gak bilang-bilang aku!” ujar Cici sedikit kesal.
“Maaf Beb, aku gak sempet cerita.”
“Ya udah deh, dimaafin. Gimana, bisa gak ketemu sekarang?”
Yasmin melirik jam.
“Oke. Aku ganti baju dulu ya.”
“Sip. Kutunggu di kafe. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Senyum terukir di bibir Yasmin. Entah sejak kapan, dia sudah jarang tersenyum bahkan tertawa.
****
Gadis itu memutuskan pergi menaiki motor matic kesayangannya, kendaraan yang dimiliki sebelum menikah.
Mobil porsche metalik hadiah dari Dameer dia abaikan, bukan tidak suka tapi dia tak ingin selalu dituduh memanfaatkan harta suami.
Di tengah perjalanan, dia memutuskan untuk mengisi bahan bakar di SPBU. Tak sengaja, netra hazelnya menatap punggung lelaki yang dikenalnya – tangan kekarnya tengah memeluk pinggang ramping seorang perempuan.
‘Dameer? Ah, gak mungkin. Lagi pula, mobilnya gak ada di situ,’ batinnya berusaha menenangkan diri.
Kedua orang itu masuk ke sebuah salon kecantikkan tepat berada di seberang jalan. Rasa penasaran di hatinya tiba-tiba muncul. Ingin dia cek ke sana, tapi teringat akan janjinya dengan Cici.
Tarikan napasnya terasa berat, Yasmin tak bisa membohongi diri, kalau ada rasa khawatir di hatinya. Matahari kian terik, cahayanya mampu menembus kemeja merah jambu yang dipakainya. Namun, tak sepanas hatinya yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.
Sesampainya di Cafe Ria, dia langsung mencari Cici. Perempuan berjilbab panjang itu melambaikan tangan. Yasmin melangkah dan duduk di hadapannya.
“Sorry, Ci aku telat,” ucap Yasmin dan meletakkan pouch-nya di meja.
“Ah, udah biasa. Kamu kan suka begitu,” ucap Cici mencebik.
Yasmin terkekeh.
“Ayo, kamu pesen dulu. Aku yang traktir,” ujar Cici kemudian.
“Mantap. Baru gajian nih, kayaknya.”
“Gajian baru minggu depan, Marimar!”
Yasmin kembali terkekeh mendengar Cici yang mudah ‘nyolot.’
Gadis itu hanya memesan nachos dan es lemon.
“Yas. Kamu tau aku gak suka basa basi, dan kuminta kamu jujur.”
“Kamu bikin aku deg-degan deh, Ci. Soal apa?”
Cici menghela napas panjang.
“Aku denger gosip di kantor, kalau kamu udah nikah sama Pak Dameer.”
Yasmin menelan saliva dengan kasar.
“Apa-apa, kamu pasti cerita ke aku, gak mungkin hal penting kayak gitu gak bilang, iya kan?” imbuhnya lalu menyeruput es jeruk miliknya.
Gadis itu menatap sahabatnya lekat-lekat. Dia tiba-tiba merasa bersalah, menutupi pernikahannya.
“Itu ....” Yasmin merasa kesulitan, kalimatnya tercekat di tenggorokan.
Cici menautkan alisnya. “Yas. Apa jangan-jangan kamu beneran udah nikah?”
“Iya ... maaf, ya Ci. Aku gak cerita ke kamu.”
Cici menyilangkan kedua tangannya di d**a sambil berdecak kesal.
“Hubunganku gak direstui orang tua Dameer, makanya kami terpaksa kawin lari. Jangankan ke kamu, ke mendiang mamaku aja gak bilang. Karena, mamaku juga melarang aku terus berhubungan sama dia akibat hinaan keluarganya.”
“Astagfirullah. Kenapa perempuan cerdas berpredikat cumlaude semasa kuliah, mendadak jadi bodoh begini!” pekik Cici, membuat pengunjung kafe menoleh ke arah mereka.
“Pelan-pelan Ci!” ujar Yasmin.
“Dan kamu bilang mendiang mama. Kapan bu Lilis meninggal? Hal sepenting itu pun, kamu gak kasih tau aku. Ya Allah ... bener-bener ya kamu!” geram Cici, giginya bergemeletuk.
“Enam bulan lalu beliau meninggal, tak lama setelah aku nikah.”
“Innaalillahi wa innaa ilaihi rooji’uun ....” lirih Cici, dia menatap dalam-dalam wajah sahabatnya yang tengah tertunduk.
“Demi apa kamu nikah, aku tanya?”
Yasmin masih bergeming dan menunduk.
“Karena kekejar usia takut disebut perawan tua? Atau saking kesengsem sama wajah pak Dameer yang ganteng itu? Gak mungkin kamu nikah sama dia karena Allah,” cecarnya.
“Cici! Jangan asal nuduh.” Yasmin menatap tajam ke arah Cici.
“Kenapa? Aku gak salah kan. Kalau kamu nikah karena Allah, gak mungkin bertindak seenaknya, kawin lari bahkan tega bikin mamamu sakit hati.”
Ucapan Cici sukses membuatnya sakit hati, bukan persoalan tersinggung. Tapi kembali teringat wajah teduh ibunya yang tega dia khianati.
“Selamat ya atas pernikahanmu. Pasti sekarang bahagia banget, karena gak ada lagi penghalang kebahagiaan kalian!” Cici beranjak dari tempat duduknya.
“Ci, mau ke mana?” Yasmin menggamit pergelangan tangannya.
“Pulang. Makasih ya atas kejujuranmu. Tadinya mau temu kangen, berharap kita bisa main, bercanda kayak dulu.”
“Maafin aku ....”
“Gak perlu minta maaf. Aku dari dulu cuma ingin kamu jadi perempuan yang baik, taat sama Allah. Karena ....”
Yasmin menunggu kalimat selanjutnya.
“Inget gak sih, aku suka bawel ingetin kamu solat? Terlepas dari aku sahabat kamu, tapi bu Lilis lah yang memintaku supaya kamu mau menjalankan ibadah yang lima waktu saat kerja di kantor.”
Entah sejak kapan, netra Yasmin berkaca-kaca.
“Aku gak kecewa kamu gak ngasih tau aku soal kawin lari itu, hak kamu kok. Tapi aku sedih kamu ngecewain mamamu. Beliau udah kuanggap seperti ibuku sendiri,” ucap Cici dengan bibir gemetar menahan tangis.
“Satu lagi. Tolong kirimkan alamat, di mana bu Lilis di makamkan. Aku mau ziarah.”
Tanpa menunggu jawaban Yasmin, perempuan berjilbab lebar itu berlalu meninggalkan Yasmin yang tengah menangis.
Semua ucapan Cici menghujam jantungnya. Menikah untuk meraih kebahagiaan, hanyalah mimpi. Mungkin benar, pernikahan itu tidak didasari karena Allah, sayangnya Yasmin telat menyadari. Kini dia terduduk sendiri diiringi air mata yang terus mengalir.
. “Siapa yang menikah karena kemuliaan, maka ia akan diuji dengan kehinaan. Siapa yang menikah karena harta, ia akan diuji dengan kemiskinan. Dan siapa yang menikah dengan pertimbangan agama (yang baik), niscaya Allah akan mengumpulkan baginya, agama, harta dan kemuliaan.” (Sufyan Bin Uyainah Rahimahullah)
****
Lukisan jingga di langit menandakan hari telah senja. Yasmin kembali menaiki motor matic-nya menuju apartemen.
Dia membiarkan angin mengusap wajahnya yang sendu. Harapannya bertemu dengan sahabatnya bisa membuat harinya bahagia, malah sebaliknya. Ditambah sosok lelaki yang mirip Dameer dengan wanita lain, masih menari-nari di benaknya.