PESTA ULANG TAHUN MERTUA

1024 Kata
Yasmin cepat mengerjakan pekerjaan rumah. Nanti malam adalah acara pesta ulang tahun mertuanya, Laili. Kado sebagai hadiah pun telah disiapkan, dan jam dinding menunjukkan pukul enam sore. “Masih ada waktu dua jam. Sebaiknya aku mandi dan bersiap-siap, sambil menunggu Dameer pulang,” ucapnya bersenandika. Setelah mandi, ia memilih gaun terbaiknya dengan model empire waist berwarna ungu plum. Anting dan kalung mutiara putih dipilih sebagai pemanis. Namun hingga pukul tujuh, Dameer tak kunjung datang. Berkali-kali dihubungi pun lelaki itu tidak merespon. Karena khawatir membuat Laili kecewa, ia memutuskan berangkat sendiri menaiki taksi, setelah sebelumnya mengirimkan chat pada Dameer. ‘Mungkin Dameer sangat sibuk di kantor jadi akan terlambat datang,’ batinnya berusaha berprasangka baik. **** Taksi telah sampai di gerbang rumah yang menjulang tinggi. Kediaman Rudy yang berlantai empat itu memang rumah paling mewah dan besar dibanding rumah-rumah lain di perumahan itu. Baginya, ada benarnya ucapan Laili dan Rudy saat itu, bahwa jika tidak menikah dengan Dameer, Yasmin bukanlah siapa-siapa. Gadis itu menarik napas panjang dan masuk ke gerbang. Namun, security mendekatinya. “Maaf Mbak, silakan tunjukkan kartu undangannya,” ucap security itu. “Undangan?” Yasmin tak paham dengan ucapan itu. “Iya. Yang datang ke pesta ini, wajib membawa kartu undangan.” Yasmin tertegun. Ia sama sekali tidak memegang kartu undangan itu, karena Laili tidak memberikannya. Tokh, ia pikir wajar karena Yasmin menantunya. “Maaf, Pak saya ini ....” Ucapannya menggantung. Karena tiba-tiba ingat ucapan Laili, yang tidak boleh mengatakan pada orang lain kalau ia menantunya sekaligus istri Dameer. “Mbak, kok bengong?” Security itu melambaikan tangan ke wajahnya. “Oh, eh. Maaf Pak. Saya ... lupa gak bawa kartu undangannya. Tapi saya kenal baik kok, sama bu Laili dan juga pak Dameer.” “Itu saja tidak cukup Mbak. Tetap harus ikuti aturannya, bahwa wajib memperlihatkan kartu undangan, jika tidak maka tidak diperkenankan masuk.” Yasmin terdiam, bingung harus berkata apa. “Maaf Mbak, saya cuma menjalankan tugas.” Tin! Tin! Bunyi klakson membuat security beringsut hendak membuka gerbang. Sebuah mobil alphard putih hendak masuk. “Permisi Mbak, jangan berdiri di situ nanti ketabrak,” ujar security. Yasmin berjalan cepat ke pinggir dekat pos jaga, sementara mobil putih itu masuk dengan perlahan. Betapa terkejutnya ia karena di dalam mobil itu ada Dameer, dan .... ‘Gladys??’ batinnya bergemuruh. Mobil itu masuk dan terparkir di pelataran yang luas, Yasmin hendak mendekatinya. “Maaf Mbak, mau apa?” tanya security. “Saya izin ngobrol sebentar sama pak Dameer ya Pak, sebentar aja.” “Eh, tapi Mbak!” Yasmin mempercepat langkahnya mendekati Dameer dan Gladys yang baru saja keluar dari mobil. “Dameer!” panggil Yasmin. Lelaki itu menoleh. “Yasmin. Ngapain kamu di sini?” “Lho, kok tanya kenapa. Aku kan menghadiri acara ulang tahun mamamu. Tapi, aku gak dibolehin masuk.” Security mendekat. “Maaf Den, perempuan ini nerobos masuk tadi.” “Nggak apa-apa Mas, saya kenal kok.” “Baik, kalau begitu.” Security itu pun berlalu. Yasmin menatap ke arah Gladys. “Hai, Yas,” sapa Gladys tersenyum tipis. “Kamu ... kok bisa di dalam mobil Dameer?” tanya Yasmin heran. Ia jadi teringat pernah melihat gadis yang mirip Gladys masuk ke mobil mirip punya Dameer sebelum mereka menikah, tapi segera ia tepis karena mungkin saja itu bukan Gladys dan Dameer. Bahkan beberapa waktu lalu, saat ada janji bertemu dengan Cici, lagi-lagi ia melihat dua orang yang mirip mereka, kembali dugaan itu ia tepis. “Aku sengaja ajak dia ke mobilku, karena mobilnya sedang diservis. Kebetulan mama mengundangnya, karena papa Gladys salah satu pemegang saham perusahaan papaku,” ucap Dameer. Gladys hanya mengangguk-anggukkan kepala. Yasmin mengatup bibirnya rapat-rapat, ada rasa perih di hatinya. Saat ia dengan percaya diri menunggu suaminya, karena yakin akan dijemput. Kenyataannya, Yasmin harus datang sendiri bahkan tidak diizinkan masuk karena tidak memegang kartu undangan. Ditambah melihat suaminya malah semobil dengan wanita lain yang merupakan sahabatnya sendiri. Mengutarakan keberatannya akan hal ini, rasanya akan sia-sia dan mungkin akan menimbulkan keributan. Mengingat Yasmin telah mengetahui sifat asli Dameer yang keras. “Aku gak dibolehin masuk karena gak bawa kartu undangan, Dam,” ucap Yasmin. “Ya udah. Masuk aja barengan kita,” cetus Dameer kemudian. Seketika wajah Yasmin sumringah. “Yang bener? Makasih ya.” Yasmin hendak berdiri di samping Dameer. “Tapi syaratnya kamu gak lupa kan? Kalau kita pura-pura gak kenal, dan jangan pernah bilang ke orang-orang kalau kamu istriku,” ucap Dameer dengan nada tegas sambil merapikan jas non formalnya. Alis Gladys berkerut. “Lho, kok gitu Dam. Kamu jangan gitu sama istrimu,” ucap Gladys. “Bukan aku kok yang mau, tapi mama dan papa. Mereka takut kena malu punya menantu miskin.” Deg! Kalimat itu sukses membuat matanya berkaca-kaca. “Fix. Aku baru tau soal ini,” ucap Gladys di sela senyum. Entah kenapa Yasmin tak suka dengan senyuman itu. “Ya sudah. Kita udah lama di sini, mendingan masuk yuk! Dan kamu Yasmin, berjalanlah di belakang kami,” cetus Dameer kemudian. Tak ada pilihan lain, kecuali mengangguk mematuhi ucapan suaminya. Mereka mulai melangkah memasuki ruangan dengan nuansa dekor yang mewah. Awalnya Yasmin cukup takjub dengan dekor serta hidangan aneka makanan yang tersaji, tapi netranya tertuju pada banyaknya tamu undangan. Mereka datang dari kalangan atas, bahkan para pejabat-pejabat penting. Terlihat dari baju, tas, aksesoris dan sepatu yang mereka pakai, Yasmin bisa memperkirakan berapa budget-nya, harganya bisa mencapai puluhan hingga milyaran rupiah. Walau ia dari kalangan bawah, tapi Yasmin cukup tau jenis merek mahal dan edisi limit, karena kerap berselancar di media sosial. Dress yang dikenakan Gladys, hasil rancangan Georges Hobeika, ditambah perhiasan dari Bulgari. Belum lagi harga high heels-nya yang sukses membuat Yasmin berkunang-kunang dengan harganya yang mencapai ratusan juta. Seketika ia menatap gaun yang ia kenakan. Gaun yang tadinya, terlihat paling bagus di antara jejeran baju di lemarinya, malah terlihat tidak ada nilainya jika disandingkan dengan mereka, bahkan harganya saja tak lebih dari satu juta rupiah. Seketika Yasmin merasa insecure. “Aduh, bajuku!!” pekik seseorang. Yasmin rupanya tak sengaja menyenggol gelas berisi minuman dan tumpah ke gaun seorang wanita paruh baya. Semua mata tertuju pada Yasmin, membuat gadis itu menelan saliva dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN