“Aduh, bajuku!!” pekik seseorang.
Yasmin rupanya tak sengaja menyenggol gelas berisi minuman dan tumpah ke gaun seorang wanita paruh baya. Semua mata tertuju pada Yasmin, membuat gadis itu menelan saliva dengan kasar.
‘Ya Tuhan ....’ lirihnya ketakutan.
“Ma-maaf Bu, saya gak sengaja,” ucapnya sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya.
Seorang pelayan sigap memberikan tissu pada wanita itu.
“Biar saya yang bantu lap,” imbuh Yasmin. Tapi wanita itu menepis tangannya.
“Jangan sentuh gaunku!!”
Yasmin seketika mundur beberapa langkah sambil menundukkan kepala.
“Yasmin! Kamu bukannya tadi sedang berada di belakangku, kenapa bisa menyenggol Bu Dharma?” tanya Dameer heran.
“Maaf tadi ....”
“Tadi, kulihat Yasmin matanya beredar lihat ke sana ke mari, mungkin takjub lihat dekor yang mewah, maklumin aja,” cetus Gladys. Gadis itu seolah tengah membela Yasmin, malah menjadi pancingan para tamu untuk menilai. Dan mulai terdengar bisik-bisik para tamu.
“Pantesan! Kok bisa sih, Bu Laili undang orang kayak gini?”
“Cewek kampung. Baru pertama lihat sesuatu yang mahal kali.”
“Iya, lihat aja bajunya juga norak.”
Dan serentetan ucapan-ucapan yang menyudutkan Yasmin, membuat gadis itu semakin menundukkan kepala.
“Kamu ini siapa? Pasti pelayan di pesta ini kan?” tanya Bu Dharma. Wanita itu adalah rekan bisnis perusahaan Rudy yang punya pengaruh besar bagi kelangsungan perusahaan.
“Iya, Bu. Maafkan atas kelalaian pelayan kami,” ucap Dameer. Seketika Yasmin menatap suaminya itu dengan rasa tak percaya, tidak menyangka Dameer akan mengucapkan kalimat itu.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Laili datang dengan tergesa ke tempat yang sedang berkerumun, diikuti Rudy di belakangnya.
“Lihatlah Bu Laili, gaun saya kena tumpahan sirup, jadi ada nodanya deh. Kesenggol sama pelayan Ibu yang itu.” Bu Dharma menunjuk ke arah Yasmin.
“Apa?” Laili menatap tajam menantunya itu dan mendekatinya.
“Kamu apa-apaan? Sengaja mau mengacaukan acara ulang tahunku?”
“Saya gak bermaksud begitu, Bu. Maaf, gak sengaja,” ucap Yasmin bergetar. Ia sangat berharap mertuanya mau mengerti.
“Alasan!” Tangan Laili melayang dan hendak mendaratkan pukulan ke pipi Yasmin, tapi Dameer menghalaunya.
“Jangan Ma. Kita jangan buang-buang waktu mengurusi pelayan ini, nanti pesta ulang tahunmu gak semarak lagi,” ujar Dameer tanpa menatap gadis itu.
Laili terdiam dengan napas memburu menahan emosi, sambil menatap tajam. Sementara Yasmin mulai meneteskan air mata.
“Sebagai ganti, bagaimana jika Anda saya traktir minuman keras khas Korea, yaitu baekseju. Minuman ini sangat spesial kami pesan langsung dari negeri ginseng,” ucap Dameer. Lelaki itu tahu, jika Bu Dharma gemar meminum minuman asal Korea.
“Kamu memang tau bagaimana cara membeli hati saya anak muda. Baiklah,” ucap Bu Dharma. Wanita paruh baya itu sangat tahu, jika baekseju minuman yang paling mahal, harganya bisa mencapai ratusan juta perbotol jika dirupiahkan. Sebuah kebanggaan baginya, dan menurutnya ini bisa semakin menaikkan popularitasnya.
Laili dan Rudy bernapas lega. Karena jika Bu Dharma tetap marah, khawatir berimbas pada perusahaannya.
Laili mendekat ke arahnya, dan berbisik, “Bersyukurlah Bu Dharma gak memperpanjang masalah ini. Jika tidak, kami yang rugi, dan aku tak akan tinggal diam sekali pun kamu istri dari anakku!”
Air mata Yasmin semakin deras keluar.
Dameer memanggil salah satu karyawan.
“Tolong bawakan sebotol baekseju dan simpan di meja khusus sebelah sana. Berikan pelayanan terbaik untuk para tamu kehormatan.”
“Baik,” jawab pelayan.
Bu Dharma tersenyum bangga.
“Untuk para tamu yang lain pun telah kami sediakan bagi yang mau, yaitu Soju, sama-sama minuman khas Korea,” terang Dameer kemudian.
Semua tampak bahagia dan mulai berjalan ke meja masing-masing.
“Mari silakan Bu, minuman itu sangat cocok dimakan bersama beefsteak,” ucap Laili menggiring sopan wanita itu.
Dameer dan Gladys membiarkan para tamu untuk duduk terlebih dahulu. Lalu, Dameer mendekati Yasmin yang masih tertunduk.
“Aku menghalau mama gak menamparmu, bukan karena membela dirimu. Aku cuma khawatir pesta mama berantakan, dan itu akan berimbas pada bisnis kami. Tapi, ulahmu membuatku jengkel, jadi urusan kita belum selesai!” desis Dameer berbisik di telinga Yasmin.
Seketika hati Yasmin merasa tidak tenang. Ia khawatir Dameer akan murka dan melakukan hal buruk padanya seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
Dameer dan Gladys berjalan beriringan sambil melempar senyuman. Sudah lama, Yasmin tidak melihat Dameer tersenyum seteduh itu padanya.
‘Dam ... aku kangen kamu yang dulu.’
Kadang, Yasmin tidak paham kenapa Dameer bisa berubah drastis padanya, padahal ia telah berusaha melakukan yang terbaik.
Riuh para tamu dengan gelak tawa dan suara musik menyadarkan lamunannya. Semakin menatap mereka, semakin tak pantas ia berada di sana. Akhirnya, Yasmin memutuskan untuk pulang, karena jika tetap di sana, hanya akan jadi bulan-bulanan mereka, harga dirinya pun akan terinjak-injak.
Gadis itu teringat ucapan mamanya, Lilis.
“Nak, kita bukan orang kaya, gak punya harta yang melimpah. Tapi seenggaknya, kita harus punya harga diri.”
Yasmin menyeka air matanya dengan kasar. Ia berlalu tanpa seorang pun yang peduli.
****
Sebuah taksi berhenti tepat di depannya.
“Silakan Mbak,” ujar sang sopir.
Yasmin sempat heran, di perumahan elit itu tiba-tiba muncul taksi, bahkan dia belum mencegat bahkan memesannya. Walau sempat ragu, Yasmin pun masuk. Ia tak punya pilihan lain, karena hujan mulai turun.
“Kemana Mbak?” tanya sopir yang memakai masker dan hodie hitam.
‘Hodie hitam??’ Seketika tubuh Yasmin bergetar. Gadis itu teringat akan sosok misterius yang beberapa kali ditemui, bahkan suara husky-nya pun mirip.
Yasmin berharap, lelaki itu bukan orang yang sama dan bukan orang jahat.
“Maaf Mbak?”
“Oh, eh. I-iya, tadi tanya apa?” Yasmin tergagap.
“Alamatnya di mana?”
“Oya, di apertemen Amarylis.”
“Baik.”
Taksi itu mulai berjalan dengan kecepatan konstan. Sang sopir menyetel sebuah lagu. Sesekali ia mengikuti lirik lagu, yang bagi Yasmin cukup merdu suaranya.
Terbang mendalam pernikahan dari beda dunia
Meski kau terbiasa hidup tanpa perih
Namun kau ikhlas hidup bersahaja
Namun bahagia
Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku
Buat aku makin cinta
Tetapkan selalu janji awal kita bersatu
Bahagia sampai ke syurga.
**
Yasmin larut dalam alunan lembut dengan lirik yang mendalam. Ia menatap ke arah kaca mobil yang penuh dengan cahaya lampu malam yang dilewati.
Lirik lagu itu, ia dengarkan secara seksama.
‘Akhlak? Apa itu penting dalam sebuah rumah tangga?’
Matanya kembali berair, mengingat kembali perlakuan Dameer padanya. Dulu, yang ia utamakan dalam rumah tangga adalah cinta dan kemapanan. Tanpa peduli pesan Lilis, ibunya, bahwa akhlak itu yang utama untuk pondasi rumah tangga.
Tanpa sadar, Yasmin tersenyum getir. Baginya, sangat lucu mengharapkan lelaki baik, sementara ia sendiri pun begitu banyak kekurangan, terutama ilmu agama.
‘Nasi telah menjadi bubur, Yasmin! Telan saja, apa yang sudah kamu pilih!’ ujarnya bersenandika.