“Mbak, sendirian?” tanya sang sopir, menatapnya lewat kaca spion.
Suara husky itu membuyarkan lamunannya.
“Iya, Mas.” Yasmin masih menatap pemandangan kota di malam hari.
“Gak ada seseorang yang bisa mengantar ya? Jika bepergian, apalagi malam-malam begini, baiknya seorang perempuan ditemani mahromnya,” cetus sopir itu.
Yasmin mendelik. Ia tak suka jika orang asing terlalu ikut campur urusannya. Terlebih, mood-nya sangat kurang baik saat ini.
“Awalnya saya pergi sama suami, tapi dia gak bisa pulang bareng karena masih ada acara penting.”
“Ooh ... begitu.”
Suasana kembali hening.
“Oya, Mas. Saya mau nanya,” ucap Yasmin kemudian. Ia tak bisa menghalau rasa penasaran pada lelaki berhodie hitam itu.
“Iya, boleh Mbak.”
“Mas jujur sama saya ya. Kalau nggak, dosa akibatnya.”
Lelaki itu terkekeh pelan. “Mbak kok, bikin saya deg-degan aja ada ucapan dosa segala. Iya, saya akan berusaha berkata jujur.”
Yasmin memperbaiki tempat duduknya sambil menatap punggung sang sopir.
“Mas ini ... apakah orang yang sama saat beberapa bulan lalu ketemu di halte?”
“Halte?” Lelaki itu tampak berpikir keras.
“Iya. Waktu itu, Mas gak sengaja nabrak saya dan meminta maaf. Pas mau pergi, kamu mengucapkan do’a, semoga Allah melindungiku. Pokoknya, jika benar orang itu Mas, pasti ngeh deh maksud ucapanku ini,” cetus Yasmin. Ia penasaran apa yang akan diucapkan lelaki itu.
Sopir itu berdehem dan mengecilkan volume musik.
“Iya Mbak, benar itu saya.”
Deg!
Yasmin terpaku beberapa saat.
Mata sang sopir menyipit di balik spion, tengah tersenyum di balik wajahnya yang tertutup masker.
“Mas kenal saya nggak sih?” Yasmin kembali bertanya.
“Ng ... nggak juga sih, Mbak.”
‘Jangan-jangan, dia juga orang yang sama, yang pernah membuntuti aku malam-malam saat aku pulang dari nikahan teman,’ batinnya bertanya-tanya.
“Perasaanku mengatakan, kayaknya kita sering ketemu deh, Mas,” selidik Yasmin.
“Baru juga dua kali sama yang ini, Mbak.”
“Nggak ah, aku yakin lebih dari sekali. Sama pula, pakai hodie hitam dan masker.” Yasmin bersikukuh.
“Ah, itu pasti cuma kebetulan Mbak. Saya kan sering keluar rumah karena pekerjaan. Kayak sekarang, malam-malam masih berkeliaran nyari uang,” jelas lelaki itu.
Tidak ada respon dari Yasmin. Setelah itu, tidak ada suara lagi dari keduanya, mereka bergumul dengan pikiran masing-masing.
Mobil taksi masuk ke pelataran luas apartemen Amarylis, dan berhenti.
“Makasih ya udah diantar sampai ke tujuan,” ucap Yasmin.
“Sama-sama, hati-hati turunnya.”
“Nih, kembaliannya buat Mas aja.” Yasmin menyodorkan selembar uang berwarna merah.
“Wah, makasih banyak Mbak. Oya ....”
Yasmin kembali menoleh ke arahnya.
“Jangan lupa bahagia ya Mbak. Di luaran sana, pasti ada seseorang yang diam-diam mendoakan kebaikan dan kebahagiaanmu.”
Kembali kening Yasmin berkerut. Ia tidak menjawab, hanya senyum tipis lalu langsung berjalan cepat meninggalkan taksi itu.
‘Dasar orang aneh!’ batin Yasmin.
Lelaki berhodie itu berlalu meninggalkan apartemen dan kembali melajukan taksinya.
****
Byurr!
Yasmin mengayunkan kedua tangan dan kakinya secara bersamaan di kolam renang pribadi.
Sebenarnya malam itu cukup dingin, ditambah rintik gerimis yang turun. Namun rupanya tidak mampu membuat perasaannya terasa dingin dan nyaman, sehingga perlu membasahi tubuhnya dengan berenang.
Walau tampak santai tubuhnya meliuk dengan gemulai. Tapi hati dan pikirannya masih terngiang dengan kejadian memalukan. Bahkan Dameer ikut mempermalukannya di depan para tamu dan kedua mertuanya.
‘Dam, makin ke sini, kamu makin berubah aja,’ batinnya.
Cukup lama Yasmin membasahi tubuhnya, karena tahu Dameer pasti akan lama di acara ulang tahun Laili. Setelah selesai, ia menggamit bathrobe dan masuk ke kamar.
Tak berselang lama, bel apartemen terus dipencet berulang-ulang. Membuat Yasmin begitu terburu-buru untuk membukanya.
“Dameer, kamu pulang juga.”
“Heh! Ngapain sih lo, lama banget buka pintu!” bentak Dameer. Jika lelaki itu dalam kondisi emosi, sangat terbiasa bagi Yasmin dipanggil dengan sebutan ‘Lo’.
“Maaf, tadi habis mandi dan ganti baju.”
Dameer masuk sambil bersungut-sungut. Jalannya gontai tak tentu arah. Saat ia hendak jatuh, Yasmin sigap memegang tangan kekarnya, membuat tubuhnya hampir ikut terjatuh. Lengan Dameer ia letakkan di bahunya dan menggiring tubuh tinggi itu ke kamar. Sesekali Yasmin membuang muka, karena aroma minuman keras begitu menyengat hidungnya.
“Kamu pasti mabuk lagi ya, Dam?” tanya Yasmin saat mereka telah sampai di kamar, dan gadis itu menidurkan Dameer ke ranjang king size, dengan sedikit mendorongnya.
“Diam lo! Bawel!” ujar Dameer.
Yasmin terdiam sambil menahan rasa sesak yang tiba-tiba hadir. Ia membuka sepatu dan melonggarkan dasi. Jas hitam yang dipakai lelaki itu saat pesta ulang tahun Laili, entah ada di mana.
“Siapkan handuk. Aku mau mandi dengan air hangat!” titahnya dengan posisi telentang.
“Iya.”
Tapi, Dameer malah bangkit dan menggamit lengan Yasmin, membuat tubuh rampingnya menindih Dameer. Keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
Lelaki itu terkekeh sambil mengelus pipi mulus gadis itu.
“Cantiknya istriku.”
Chup.
Sedetik bibir keduanya beradu.
Netra Yasmin membulat dengan degup jantung yang tak beraturan. Bukan karena bahagia penuh cinta, melainkan rasa takut yang menjalar secara tiba-tiba.
“Buka bajumu sayang. Layani aku sekarang,” ucap Dameer.
Yasmin berusaha bangun dengan susah payah, karena cengkraman Dameer cukup kuat. Setelah mampu berdiri, gadis itu mematung sesaat.
“Tunggu apa lagi? Buka bajumu!” ujar Dameer dengan suara yang cukup keras.
“Bu-bukannya ... kamu mau mandi tadi?” ucap Yasmin takut-takut.
“Perempuan sialan! Banyak omong. Cepat buka bajumu, atau aku yang buka paksa! Kamu lupa, aku ini suamimu, hah?!”
Yasmin mengerjap ketakutan dan dengan cepat membuka kancing piyamanya. Seketika tawa Dameer meledak, membuat Yasmin bergidik entah kenapa.
Yasmin tak paham bagaimana perasaannya pada lelaki itu saat ini. Yang jelas, rasa kagum yang dulu ada, setiap harinya luruh akibat sikap kasar suaminya itu.
“Tolong bersikap lembutlah sedikit padaku, Dam,” pinta Yasmin dengan suara pelan.
“Mau apa lagi kamu? Jangan ngelunjak! Udah bagus kukasih tempat tinggal, baju bahkan makanan. Tugas kamu layani aku dengan baik, paham?”
Setelah menghela napas berat, terpaksa gadis itu pun mengangguk.
Yasmin telah selesai menanggalkan semua yang melekat di dirinya. Mata liar Dameer memindai tubuh mulus gadis itu dan seketika menarik serta menerkamnya. Seolah lelaki itu adalah singa yang tengah kelaparan memakan mangsanya. Dalam diam, Yasmin tidak sedikit pun menikmati. Hanya air mata yang keluar sebagai bukti, dari luka di hati yang terus tertoreh.
Tiba-tiba, terngiang di telinganya suara lelaki berhodie hitam, “Jangan lupa bahagia ya Mbak. Di luaran sana, pasti ada seseorang yang diam-diam mendoakan kebaikan dan kebahagiaanmu.”
‘Siapa lelaki berhodie itu sebenarnya?’ batin Yasmin bertanya-tanya.
Kembali air mata itu menetes. Sementara di saat bersamaan, Dameer terus meraup kenikmatan penuh keegoisan.