“Apa-apaan kamu!!” Dameer memegang erat pergelangan tangan Yasmin kemudian menampar pipi mulus perempuan itu hingga jatuh tersungkur.
Entah kenapa, Yasmin kurang berhati-hati dalam melangkah, sehingga kopi panas yang sudah diseduhnya tumpah ke sebuah map biru milik Dameer.
“Istri sialan! Bangun kamu!” Lelaki itu memaksanya untuk bangkit sambil meremat kuat kedua lengannya, hingga meninggalkan bekas berwarna biru. Yasmin memejamkan mata menahan sakit.
Lalu Dameer membuka map dan memeriksanya. Sayang, air kopi itu telah menembus ke lembaran putih di dalamnya.
“Aaarghh!!” Dameer menggasak rambutnya dengan kasar.
“Lihat ini! Lihat!! Bisa-bisa aku gagal meeting nanti, karena gak mungkin bawa-bawa map kotor ini! Kamu gak tau kan, ini dokumen asli, bukan foto kopian!” Bentak Dameer.
“Maaf Dam. Sebenarnya, aku lagi meriang, kepalaku juga sangat pusing. Jadi gak fokus jalan tadi,” ucap Yasmin bergetar.
Setelah kehujanan, lalu berenang malam hari ditambah harus melayani Dameer saat laki-laki itu mabuk, membuatnya lelah hingga kondisi kesehatannya menurun.
Tapi, apa pedulinya Dameer, ia hanya mendecih dan merapikan map yang kotor itu lalu keluar dari apartemen.
Yasmin pun terduduk lemas di sofa sambil mengusap pipinya yang terasa perih.
‘Bukan ... bukan pernikahan ini yang aku impikan. Jika menikah semenderita ini, alangkah lebih baik jika aku menjadi perawan tua saja,’ batinnya.
Entah rumah tangga seperti apa yang tengah dijalani. Hampir setiap hari, sikap Dameer begitu ketus dan kasar padanya, bahkan kesalahan sedikit saja bisa membuat lelaki itu murka.
****
Jika seseorang merasa dirinya paling menderita, paling banyak diuji dan merasa terbuang. Maka Yasmin pun merasa demikian saat ini.
Dalam kesendiriannya, ia hanya berkubang dalam kesedihan tak berujung. Terbersit ingatannya tentang nasehat Lilis, jika sedih mengadulah pada Allah. Hanya Allah sebaik-baiknya penolong.
Matanya melirik ke sebuah lemari baju miliknya yang berwarna putih dengan sentuhan sedikit warna emas. Ia bangkit dan membukanya. Di bagian pojok bawah, ada mukena berwarna putih tulang terlipat rapi, Yasmin meraihnya dan mencium aroma kain yang terkesan apek karena nyaris tak pernah dipakai selama ini. Bahkan, terakhir dipakai jauh sebelum menikah, saat Lilis masih ada.
‘Astagfirullah ....’
Dengan kondisi masih demam dan menggigil, ia bangkit mengambil wudu. Jam menunjukkan pukul 03.35 sore, samar terdengar suara azan ashar tengah berkumandang.
Takbir pertama ia ucapkan setelah sekian lama bibir mungilnya tidak pernah terucap. Ada getaran tak biasa di d**a, membuatnya terasa sesak. Bahkan semakin sesak hingga menumpahkan air mata saat ia ruku.
Lalu tubuhnya luruh untuk sujud, di situlah puncaknya menangis hingga sesenggukkan. Ia ingat, bahwa doa bisa terkabul saat sujud dalam salat. Maka Yasmin pun memanjatkan doa sebanyak-banyaknya, walau rasa malu pada Tuhannya menggunung akibat semua dosa-dosanya.
****
Menjelang magrib, ponselnya berdering.
Yasmin seketika bangun, ia rupanya ketiduran di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena.
“Halo?” tanyanya dengan suara serak.
“Assalamu’alaikum, Yasmin. Ini Cici.”
“Waalaikum salam. Eh, Ci apa kabar?”
“Baik alhamdulillah. Kamu lagi sakit? Kok suaramu serak gitu.”
“Agak meriang dikit.”
“Oh, tadinya mau ngabarin soal kerjaan. Kalau gitu istirahat aja dulu deh, nanti aku telepon lagi.”
Beberapa waktu lalu, Yasmin sempat bertanya pada Cici perihal lowongan pekerjaan untuknya. Dameer telah mencukupi semua kebutuhannya, tapi kesepian dan kesedihan selalu menghiasi hari-hari, membuatnya memilih mencari kesibukan.
“Nggak apa-apa. Ngomong aja Ci.”
“Kamu tau toko DV Bakery gak?”
“DV Bakery?” Alih-alih mengingat-ingat sebuah toko roti, ia malah teringat inisial DV yang dulu kerap diam-diam memberinya hadiah misterius.
“Iya. Toko kue dan roti yang cukup terkenal dan punya beberapa cabang. Denger-denger sih, pemiliknya laki-laki dan masih muda.”
“Kayaknya aku kudet, baru denger sih. Emang kenapa?” Yasmin kembali bertanya.
“Jadi gini, pas aku mau ke kantin deket kantor, ada yang samperin aku seorang pemuda yang mengaku pegawai khusus DV Bakery. Dia kayak tau kalau kita temenan, terus minta bantuanku buat masukin kamu jadi pegawai toko itu,” terang Cici di seberang telepon.
“Mencurigakan banget.”
“Dia juga bilang, kalau kamu mau kerja di sana, disuruh menghadap atasannya dulu.”
“Pemilik toko itu, siapa namanya?” tanya Yasmin kemudian.
“Nah, itu dia masalahnya. Pegawai itu sangat buru-buru dan cuma nyerahin kartu alamat toko.”
Alis Yasmin berkerut. Seingatnya, ia tak pernah kenal dengan pemilik bahkan pegawai toko itu. Rasa penasarannya ia tepis jauh-jauh, baginya justru ini kesempatan baik tanpa harus susah payah melamar pekerjaan.
“Kebetulan besok aku libur, bisa ketemuan gak? Biar bisa ngobrol-ngobrol lebih banyak,” tanya Cici.
Yasmin mengusap tengkuknya. Badannya masih terasa demam dan meriang, ia tak yakin besok sudah pulih. Tapi, sisi lain perempuan itu sangat butuh pekerjaan.
“Oke deh, moga besok kita bisa ketemu. Pagi-pagi aku kabari ya.”
“Siap. Ya udah, bentar lagi azan magrib nih, kamu jangan lupa salat ya Bep. Dan banyak istirahat biar besok udah sembuh.”
Yasmin tersenyum, matanya kembali berkaca-kaca. Hanya Cici satu-satu sahabatnya yang selalu mengingatkannya untuk beribadah.
“Pasti, insyaa Allah. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam.”
Yasmin menghela napas panjang. Kemudian melangkah ke kamar mandi untuk berwudu.
****
Pagi berikutnya, Yasmin kembali ke rutinitas membuat sarapan untuk Dameer. Sepiring oat meal dengan toping buah bery, apel dan stroberi di atasnya.
Tidur lebih awal membuat perempuan itu tidak tahu, kapan Dameer pulang dari kantor.
“Aku gagal meeting kemarin,” ucap lelaki berambut klimis itu.
Yasmin menunduk, ia yakin itu pasti karena ulahnya yang telah menumpahkan kopi ke map.
“Artinya, rencana bisnisku dengan PT Kelana tertunda. Aku harap, pihak mereka gak membatalkan semua yang udah dirancang susah payah. Kalau nggak, aku gak akan bisa maafin kamu,” terang Dameer dengan sikap dinginnya.
“Aku benar-benar minta maaf, Dam.” Rasa takut kembali menjalar, terbayang sikap kasar yang kerap Dameer lakukan.
Dameer menatapnya dengan rasa tidak suka.
“Kok bisa ya, aku dulu suka sama kamu. Istri pembawa sial! Jangan-jangan, kamu sengaja bikin ulah biar aku kesusahan ya?!” Tiba-tiba suara Dameer meninggi.
“Nggak, kok.”
“Bohong!” Dameer menggebrak meja makan dan mendekatinya.
Bukk!!
Lengan kekarnya mendarat di pelipis Yasmin, membuat perempuan itu kembali tersungkur.
“Pesta ulang tahun mama nyaris berantakan akibat ulahmu yang menumpahkan air ke baju tamu terhormat. Bayangkan betapa malunya aku, kalau mereka tau kamu istriku. Kejadian kemarin kembali terulang, saat kamu menumpahkan kopi ke dokumen pentingku. Terniat!” desisnya sambil menatapnya tajam.
“Tapi itu gak disengaja, maafin aku Dam.”
Dameer mendengkus kesal dan memutuskan segera menghabiskan sarapannya. Tepi matanya tertuju pada penampilan Yasmin yang tak biasa. Perempuan itu mengenakan t-shirt warna putih yang dipadukan dengan cardigan navy serta mom jeans berwarna cokelat terang.
“Tumben rapi. Mau ke mana?”
Sesaat, Yasmin terdiam. Bicara jujur tentang keinginannya mencari pekerjaan dalam kondisi lelaki itu emosi, hanya akan membuat suasana tambah keruh, akhirnya ia terpaksa berkata lain.
“Aku mau ketemuan sama Cici, kangen udah lama gak ketemu. Boleh kan?” tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Dameer kembali mendekat, sementara Yasmin menatapnya takut-takut.
'Ya Allah, jangan lagi ....' batin Yasmin merintih.
Sejurus kemudian, lelaki itu menarik kasar dagu Yasmin ke atas.
“Bagus! Aku lagi kesusahan kamu malah pergi!” bentak dameer.
“Kalau kamu gak mengizinkan. Aku gak jadi pergi,” ucap Yasmin pelan.
Dameer melepas kasar dagu lancipnya membuat leher Yasmin terasa sakit.
“Sudahlah. Aku capek! Terserah kamu mau melakukan apa aja.” Lelaki itu pergi keluar apartemen.
Senyum Yasmin mengembang sambil menarik napas lega.
‘Alhamdulillah. Makasih ya Allah.’
Entah bagaimana reaksi Dameer nanti, jika tahu Yasmin mencari pekerjaan.
‘Terserah nanti lah,’ batinnya pasrah, sambil meringis menahan sakit di pelipis dan dagunya.