Tak lama setelah Dameer berangkat, Yasmin pun keluar dari apartemen.
Motor matic ungu melaju, menuju kediaman Cici. Yasmin menolak bertemu di sebuah kafe karena ingin lebih lama bertemu dengan sahabatnya itu.
Sengaja ia membuka kaca helm, membiarkan angin menyapu wajah putih itu. Sementara pikirannya masih menerawang pada seseorang yang diam-diam suka memberinya hadiah.
Sebelum menikah, orang yang selalu menuliskan namanya DV itu kerap memberikan macam-macam hadiah. Namun saat Yasmin telah menikah, orang itu tidak lagi mengirim apa pun lagi.
‘Ah, benar-benar misterius.’
****
Yasmin memencet bel rumah Cici sambil beruluk salam.
“Silakan masuk Kak, nanti saya panggilkan kak Cici,” ucap Icha, adiknya.
“Makasih ya Cha. Kamu apa kabar? Udah gede ya sekarang,” cetus Yasmin sambil mengulas senyum.
Ia digiring ke ruang tamu dan duduk di sofa.
“Alhamdulillah baik Kak. Iya, sekarang kelas dua SMA.”
“Keren nih. Moga dimudahkan belajarnya ya.”
“Aamiin. Makasih ya Kak. Oya, Kak Yasmin mau minum apa?”
“Apa aja deh, terserah kamu.”
Icha merapikan jilbabnya. “Oke.”
Tiba-tiba saja, ia merasa insecure pada gadis remaja itu. Icha yang masih remaja, sudah berjilbab rapat, sementara ia yang usianya telah mencapai 28 tahun masih belum menutup auratnya.
Tak lama Cici datang.
“Bep!!! Kangeeen,” ujar Cici. Yasmin tersenyum lalu bangkit dan meraih kedua tangannya. Mereka pun duduk berdampingan setelah saling bersalaman dan ‘cipika-cipiki’.
“Kalau tau bakalan ketemuan di rumah. Udah aja aku yang main ke apartemenmu, Yas. Kasian kamu lagi sakit kan,” ujar Cici.
“Aku udah enakan kok, gak apa-apa.”
Sejurus kemudian, Cici memindai Yasmin dari atas hingga bawah. Netranya tertohok pada luka lebam di pelipis dan lengan sebelah kanan, terlebih fisik Yasmin benar-benar berubah.
“Yas, aku pangling lihat kamu. Kurang seger dan kurusan, maaf ya aku emang suka ceplas ceplos. Kamu ... gak apa-apa kan?” tanya Cici khawatir. Ia ingin menanyakan luka lebam itu, namun diurungkan.
“Nggak Ci. Mungkin habis sakit kemarin-kemarin.”
“Sakit apa emang sampe kurus gini?”
“Kehujanan sama berenang berjam-jam.”
Cici mendengkus halus. “Cari penyakit aja!”
Yasmin hanya terkekeh.
“Emang sakit sehari bisa langsung kurus gini?” tanyanya kemudian.
Sahabatnya itu menatap wajah Yasmin dengan intens. Ia yakin, bukan soal sakit fisik - tubuhnya menjadi kurus. Ia pun merengkuh jemari Yasmin.
“Yas ... kita kan sahabatan udah lama. Tolong jujur, ada apa denganmu, ini bukan Yasmin yang kukenal.”
Yasmin sudah menduga, jika Cici akan curiga dengan kondisi fisiknya. Ia pun tak ingin lagi menutupi semuanya sendiri.
Air mata pun tumpah tak tertahankan. Lalu Cici menarik tangannya untuk ia peluk tubuh perempuan berhidung bangir itu.
“Allah sudah menghukumku Ci. Aku banyak salah dengan menyakiti mama, udah melakukan perbuatan dosa atas nama cinta yang semu.”
Yasmin menangis di bahu Cici, lalu mereka perlahan melepas pelukan.
“Jangan bilang begitu. Allah itu tergantung prasangka hambanya. Kalau kamu menduga ini adalah sebuah hukuman, ya itulah yang akan terjadi. Tapi kumohon, berpikirlah positif, dan yakinlah ini hanya ujian untuk menaikkan derajatmu,” terang Cici berusaha menenangkan Yasmin yang masih berlinang air mata.
“Iya, Ci. Astagfirullah, makasih udah kamu ingatkan. Aku emang merasa putus asa, jadi kadang pikiran tuh, udah ke mana-mana.”
“Jangan putus asa dari rahmat Allah. Kalau merasa sendiri, berdoalah padaNya, karena Dia-lah sebaik-baik penolong. Dan ... jangan sungkan cerita ke aku juga ya?”
Yasmin mengangguk. Cici mengambilkan minuman di meja.
“Minumlah. Kalau udah tenang, kamu bisa cerita apa yang terjadi selama ini sama kamu,” imbuh Cici.
Yasmin meneguk minuman itu walau sedikit.
Suasana hening sesaat, Cici sengaja memberikan ruang bagi Yasmin untuk menenangkan diri, karena ia paham psikologis seseorang itu tidak sama. Bisa jadi ada yang lebih kuat menghadapi ujian ada yang sebaliknya.
“Dameer ... tak sebaik kelihatannya, pun sama dengan kedua orang tuanya. Mereka kompak membenciku. Aku telah salah memilihnya menjadi pendamping hidup,” ucap Yasmin dengan suara bergetar.
Mata Cici membola, tapi masih mendengar penuturan perempuan itu.
“Entah apa maksudnya, dia memperlakukanku begitu buruk. Apa yang kulakukan, selalu salah. Ujung-ujungnya makian, hinaan bahkan pukulan yang diberikan. Bukan hanya fisikku yang sakit tapi juga psikis ....” Air mata itu kembali tumpah, Yasmin menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara netra Cici mulai berkaca-kaca.
“Ya Allah. Segitu besarkah cintamu buat dia, sampai rela diperlakukan begini?” tanya Cici.
Yasmin menggeleng sambil tersenyum getir. “Bahkan cintaku udah menguap entah ke mana.”
“Kalau begitu, kenapa kamu masih bertahan? Tinggalkan aja lelaki gak berguna itu!” geram gadis berjilbab lebar itu.
Seketika Yasmin menundukkan kepala dalam-dalam.
“Jawab, Yas!” ujar Cici, sambil mengguncang halus tubuh kurus Yasmin.
“Aku pikir, diri ini gak punya siapa-siapa lagi. Misal cerai, akan sama siapa selain Dameer? Kedua orang tuaku udah gak ada, saudara gak punya, kerabat pun bahkan gak tau ada di mana. Aku sebatang kara ....”
Kembali Cici menarik tubuhnya, dan membiarkan perempuan bermata hazel itu menangis di pundaknya. Ingin rasanya ia memaki Yasmin, betapa bodohnya sahabatnya itu, tapi itu bukan solusi terbaik.
“Menangislah ... keluarkan semua beban yang ada dalam dirimu,” ucap Cici kemudian.
Dalam diam, gadis berjilbab lebar itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia sangat marah pada lelaki bernama Dameer, tak peduli orang itu atasannya di kantor atau bukan.
‘Aku harus buat perhitungan dengan lelaki b******k itu!’ batinnya bergemuruh.
“Yas ....”
Yasmin melepas pelukan sambil menyeka air matanya. Ia menatap sahabatnya dengan intens.
“Jangan pernah mikir kalau hidupmu sendirian ya. Kan ada aku yang sayang sama kamu. Kapan aja butuh sesuatu, jangan sungkan.”
Yasmin mengangguk sambil mendengarkan.
“Mulai hari ini, aku akan sering menghubungi dan mengunjungimu,” imbuhnya sambil mengusap rambut panjang milik Yasmin.
“Makasih Ci. Maaf, aku selalu merepotkanmu.”
Cici terkekeh berusaha mencairkan suasana.
“Nggak lah ... aku sayang sama kamu, jangan pernah merasa membebaniku. Dan keputusanmu untuk cari pekerjaan adalah hal yang tepat! Aku mau kamu jadi perempuan yang mandiri dan kuat. Jangan ada lagi Yasmin si cewek lemah. Are you ready?!” ucap Cici sambil mengepalkan tangan ke atas, membuat Yasmin tertawa kecil.
“Yes! I’m ready!” ujarnya.
“Gitu dong. Itu baru sahabatku.”
Mereka tertawa bersama. Yasmin merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Cici.
‘Terima kasih ya Allah.’