SURAT LAMARAN

945 Kata
Yasmin merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Cici. Sepatutnya, ia tak perlu merasa khawatir berlebihan. ‘Terima kasih ya Allah.’ Cici merapikan tempat duduknya dan menyingkap sedikit jilbab lebarnya. Ia seperti tengah menuliskan sesuatu, namun Yasmin belum berani bertanya. Netranya menyapu tiap sudut ruangan di rumah itu yang tampak sepi. “Naufal tidur ya, kok sepi?” Yasmin menanyakan anak lelaki Cici yang berusia dua setengah tahun. “Tadi sih, lagi main sama tantenya di kamar lantai atas,” ucap Cici yang masih sibuk menulis. “Iya, aku lihat tadi ada Icha. Trus, suamimu masih kerja ya?” “Hu’um. Dia pindah tugas di daerah Bandung, tinggal di mess sama temen-temennya, sebulan sekali pulang. Jadi, aku minta Icha nemenin aku sambil jagain si Naufal kalau pas suami gak ada di rumah. Kalau ada suami, barulah Icha pulang. Tokh, rumah ini sama rumah orang tuaku gak terlalu jauh,” cerocos Cici. Perempuan itu menegakkan tubuh dan menaruh pulpen di meja. “Walau jauh, aku dan suami setiap hari video call-an. Maklum lah, si Naufal kalau udah ngebet pengen nelepon papanya, gak bisa diganggu gugat,” imbuhnya di sela tawa. Mata Yasmin meredup. Ada rasa iri menyelimuti relung hatinya, sejenak ia berpikir ingin hidup bahagia seperti Cici. Punya suami setia, anak bahkan saudara yang baik. Tapi, kemudian ia yakin bahwa Allah pun punya rencana indah untuknya suatu saat nanti. “Lihat deh, aku nulis apa tadi,” ucap Cici menyodorkan selembar kertas berwarna putih. Yasmin mengerjap dari lamunan pendeknya, lalu menerima kertas itu. Ternyata sebuah biodata. Dan ia pun melihat lembaran foto kopi ijazah dan surat pengalaman kerja. “Punyamu kan?” tanya Yasmin dengan dahi berkerut. “Demi kamu, aku mau ikut melamar di toko roti itu. Itu pun kalau diterima, kalau nggak ya balik lagi ke kerjaan lama.” “Hah? Buat apa?” “Kerja di sana cuma dari jam delapan sampai jam tiga sore. Jadi, aku mau coba ngelamar di sana, sekalian nemenin kamu kerja.” Kembali netra hazel itu berkaca-kaca. “Ya Allah ... terbuat dari apa hatimu, Ci. Kamu baik banget, tapi please jangan mengorbankan karir yang udah kamu bangun sejak lama. Kerja di perusahaan Dameer itu, gajinya gede. Di toko roti, paling berapa sih,” terang Yasmin. Cici terkekeh. “Bep. Aku tuh kerja, bukan jadi tulang punggung, sekedar bantu suami doang. Gak kerja pun, insyaa Allah suami masih bisa mencukupi kebutuhan. Gak masalah buat itu.” “Tapi__” “Sssttt ... udah, mending besok kamu siapin berkas lamaran, karena hari rabu kita akan melamar di DV Bakery, oke?” “Aku ... masih ragu,” ucap Yasmin pelan. “Why?” “Takut Dameer tau, terus dia marah dan murka. Jujur, aku belum cerita soal ini.” Yasmin kembali menundukkan kepalanya. “Baiknya, dia jangan tau dulu. Lagian kalau kamu kerja di sana, bakalan duluan kamu pulangnya, jadi aman. Si Dameer jam berapa biasanya pulang dari kantor? Setauku, jam pulang kantor sekitar jam lima,” ucap Cici. “Kadang menjelang magrib kadang jam sebelas malam baru pulang,” cetus Yasmin sambil memainkan jemari lentiknya. Cici mendecih. “Dih! Jam sebelas malam baru pulang, ngayap ke mana dulu tuh?!” Yasmin hanya terdiam. Bukan tak pernah bertanya kenapa suaminya itu kerap pulang malam, tapi semenjak tamparan sebagai jawaban dari pertanyaannya. Ia sudah tak bertanya lagi. “Fix! Buang aja suami kayak gitu ke tong sampah!” geram perempuan berjilbab itu. “Udahlah Ci, gak usah bahas dia terus. Gak penting,” cetus Yasmin. “Wkwkwk ... iya juga ya. Ya udah, jadi gimana soal ini?” tanya Cici kemudian. Yasmin menghela napas panjang. “Jujur, ada beberapa hal yang merasa janggal. Kenapa sih, pihak DV Bakery ini memintaku buat kerja di sana. Secara aku gak kenal baik itu sama pemiliknya atau karyawannya? Ini kan aneh.” “Yakin kamu gak kenal?” Yasmin menggeleng kuat. Cici mengetuk-ngetuk dagunya, seolah tengah berpikir. “Iya juga sih. Tapi, apa yang kamu takutkan?” “Mungkin aja, ini semacam jebakan. Sindikat penipuan perdagangan manusia misalnya?” Cici tergelak. “Segitu horor kah?” Yasmin mengendikkan bahu. “Bisa aja kan?” “Yas. DV Bakery itu, toko kue sekaligus roti terkenal dan terbesar di kota ini. Bahkan punya cabang di Malaysia dan Singapura. Ngajak kamu untuk dijadikan sindikat apa itu tadi ... perdagangan manusia? Buat apa?” Yasmin menggigit bibirnya. Sementara Cici sibuk menepuk dahi berkali-kali, ia heran mengapa punya sahabat sepolos Yasmin. “Punya dua toko aja, keuntungannya cukup gede. Ngapain mesti jual kamu yang kurus kering gini, rugi laaah ....” Cici kembali tergelak, sementara Yasmin memajukan bibirnya lima centi. “Terus gimana? Kenapa pihak mereka ngajak aku kerja. Secara di zaman sekarang, lowongan kerja tuh, susahnya minta ampun. Sementara aku ditawari secara khusus, apa itu gak aneh.” Cici menganggukkan kepala. “Iya juga sih. Apa kamu pernah terkenal sebelumnya? Jadi artis misalnya?” Yasmin melotot lalu mencubit lengan Cici kuat-kuat. “Artis dari Hongkong!!” “Aaakkhh! Sakit ih!” Cici meringis sambil mengusap-ngusap lengannya. “Mana tau kan, ada seorang fans yang mengetahui kamu udah pensiun jadi artis. Trus ngasih bantuan penawaran kerja.” “Ngawur terooos!” ujar Yasmin mulai kesal. Cici lagi-lagi tertawa, kemudian menghela napas panjang. “Ya udah. Kita cari tau nanti, pasti kamu bakalan mendapatkan jawabannya,” cetus Cici. “Kamu kan gak libur kerja, pas hari rabu.” “Emang. Tapi kan, bisa libur dulu.” “Aku bilangin ke suamiku ah, kalau kamu bolos kerja,” seloroh Yasmin. Cici menjulurkan lidahnya. “Bilang aja. Emang kamu berani?” Yasmin terkekeh pelan. Ada rasa nyeri di ulu hatinya, mengingat kembali sikap Dameer yang tak sebaik saat mereka berdua bertemu.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN