Cici menghela napas panjang sebelum akhirnya mengetuk ruangan Dameer.
“Masuk!” ujar lelaki bersuara bariton itu.
“Siang, Pak,” sapa Cici.
Dameer membalikkan tubuhnya yang tengah menghadap lemari, berisi buku-buku yang berjejer rapi.
“Siang. Ada apa?”
“Ada hal yang mau saya bicarakan Pak.”
Lelaki berhidung bangir itu mempersilakannya untuk duduk. Ya, seperti itulah Dameer di mata semua karyawannya. Baik, ramah dan berkarisma. Siapa pun yang pertama kali melihatnya akan takjub dengan attitude dan penampilannya.
Perempuan berjilbab itu, memberanikan diri menatap atasannya itu.
“Saya mau tanya soal kehidupan pribadi Anda.”
Seketika raut wajah Dameer berubah.
“Tanya pribadi? Buat apa?”
“Sekedar ingin tau keadaan sahabat saya, Pak. Yasmin.”
Dameer melepas beberapa kancing jas dan duduk tepat di hadapannya yang terhalang meja kaca.
“Kamu saya persilakan masuk dan duduk, karena hanya boleh membicarakan hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Bukan masalah pribadiku,” ucap Dameer.
“Maaf. Tapi ... Ini cukup mengganjal pikiranku Pak. Jadi, saat saya ketemu beberapa waktu lalu sama dia, saya cukup kaget karena Yasmin tampak kurus dengan mata yang sendu dan lelah.”
Dameer menautkan kedua alisnya. “Ke mana arah bicaramu ini?”
“Hanya mau tau Pak. Apakah dia sakit?”
“Nggak. Dia baik-baik aja, emangnya kalian ngobrolin apa aja?” Dameer balik bertanya.
“Hanya temu kangen, gak ngomongin hal-hal lain. Saya cuma khawatir aja dengan kondisi fisiknya. Bapak memperlakukan dia dengan baik kan?”
Lelaki itu menggelengkan kepala atas karyawannya yang begitu lancang berbicara perihal pribadinya.
“Kalimatmu menandakan seolah kamu tengah curiga padaku atas apa yang terjadi pada Yasmin. Dengarkan saya baik-baik, ini bukan ranah kamu. Lagian kalian cuma berteman, gak ada hubungan keluarga. Jadi tolong jangan ikut campur rumah tangga kami.” ucap Dameer dengan nada penekanan. Cici menelan saliva, saat sikap asli lelaki itu keluar.
Tak terbayang olehnya, hari-hari yang dijalani oleh Yasmin. Pasti penuh rasa takut dan patuh pada lelaki yang berpostur tinggi tegap itu.
Langkahnya tak akan berhenti. Perempuan itu sudah siap jika harus dipecat saat itu juga. Tokh, ia memang sudah muak dengan lelaki yang sudah menyakiti sahabatnya.
“Bapak memang berhak sepenuhnya atas Yasmin. Tapi bukan berarti Anda bisa seenaknya memperlakukan dia dengan buruk. Diam-diam, saya melihat area mata dan lengannya lebam-lebam. Jika terbukti ada kekerasan fisik pada Yasmin, Anda bisa saya laporkan ke pihak perlindungan perempuan jika ternyata terbukti ada kekerasan dalam rumah tangga!” tegas Cici.
Brakk!!
Dameer bangkit sambil menggebrak meja, sementara netranya memerah, karena amarah.
“Kamu mengancamku?!”
“Nggak. Inikan soal keadilan Pak. Kalau memang rumah tangga kalian baik-baik aja, Bapak gak perlu dong marah begini, biasa aja. Kan cuma tanya atas kecurigaan saya.”
Cici tak gentar. Ia cukup berani mengutarakan semuanya, karena Dameer termasuk sungkan pada ayah Cici yang merupakan salah satu pemegang perusahaannya.
“Jangan mentang-mentang ayahmu ikut andil dalam perusahaan, kamu bisa seenaknya. Saya gak takut, bahkan saya berhak memecatmu sekarang juga,” ujar Dameer.
Cici mendecih lalu merapikan jilbabnya. Sejurus kemudian, dia meletakkan sebuah map yang sedari tadi dipegang.
“Sebelum Anda memecatku, saya sudah terlebih dahulu membuat surat pengunduran diri. Ini suratnya,” ucap Cici meletakkan map itu di meja kacanya.
Dameer menatapnya dengan nyalang. Tapi perempuan itu tak bergeming, ia berusaha tetap tenang.
Ia memang sudah bulat untuk resign, walau pun belum menemukan pekerjaan baru. Bekerja atau tidak baginya sama saja, karena mencari uang bukan hal utama baginya.
“Bagus! Sehingga berkuranglah karyawan yang toxic,” desis Dameer tanpa menatap Cici lagi.
“Baik, terima kasih. Selama hampir tiga tahun bekerja, sejujurnya saya senang. Mohon maaf, apabila selama bekerja untuk perusahaan ini, saya banyak kekurangan.”
Dameer terdiam dan masih membuang muka.
“Satu hal yang ingin saya sampaikan. Yasmin itu memang polos, lemah dan sederhana, tapi dia seperti mutiara dalam lumpur. Kecantikannya terpancar dari kebaikan dan ketulusan, yang jarang dimiliki gadis mana pun yang Anda kenal. Jangan pernah menyia-nyiakan cintanya, Pak. Atau Anda akan menyesal.”
Deg!
Kata-kata itu seolah menghujam jantungnya. Seketika rahang Dameer mengeras.
“Cepat keluar dari ruanganku!” ujarnya tegas.
“Baik. Itu saja yang mau saya katakan, permisi,” ucap Cici kemudian ia keluar dari ruangan dengan senyum dan napas yang terasa lapang.
‘Alhamdulillah ....’ batinnya lega.
****
Yasmin menyisir rambut panjangnya, ia mematut di cermin dengan polesan make up yang sederhana. Benar kata Cici, ia tampak sangat kurus sehingga memakai apa pun terlihat kurang pas.
Tapi ia tak gentar, hanya karena penampilan kurang maksimal. Yasmin tetap semangat penuh senyum mempersiapkan segala sesuatunya.
Sambil menunggu Cici menjemputnya, ia merapikan baju yang dikenakan, yaitu sweater panjang berwana hitam dipadu rok khaki panjang berwarna mocca.
Tak lama bel apartemen berbunyi, ia bergegas membukanya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam. Masuk Yuk.” Yasmin menggamit lembut lengan sahabatnya dan memintanya untuk duduk.
“Sorry telat Bep, tadi aku ketemu suamimu dulu,” ucap Cici santai.
Yasmin yang tengah mendekati mini bar sontak membalikkan tubuhnya.
“Hah? Ngapain?”
“Ngasih surat pengunduran diri.”
“Apa?” Mata Yasmin membola dan urung membuatkan minuman, lalu melangkah mendekati Cici.
“Ini gak sesuai sama kesepakatan awal lho. Kan aku udah bilang, kamu jangan resign dulu dari kerjaan sekarang sebelum dapat yang baru. Belum tentu kamu diterima kerja di toko itu,” cerocos Yasmin membuat Cici terkekeh.
“Eh, Marisol! Emang aku kayak kamu dulu, kerja rodi jadi tulang punggung keluarga. Aku kan beda. Kerja gak kerja, insyaa Allah kebutuhanku udah tercukupi. Lagian, aku udah muak kerja sama si Dameer, kan mending nyari yang lain,” terang Cici lalu menyambar kue nastar yang berada di dalam toples kaca.
Yasmin hanya menggelengkan kepala, dengan tingkah perempuan yang dua tahun lebih tua darinya.
“Minta minum dong. Haus nih!” ucap Cici sambil mengurut lehernya.
“Oh, iya. Bentar.”
“Es jeruk ya,” ucap Cici menyeringai. Yasmin bangkit sambil mencebik.
****
Jam tangan Yasmin menunjukkan jam sepuluh pagi.
“Kita kesiangan gak ya?” tanya Yasmin saat mereka sudah berada di pelataran toko DV Bakery.
Kedua perempuan itu melepas helm dan masing-masing lalu merapikan bajunya.
Suasana toko dengan spot yang elegan, mewah namun terkesan nyaman, sangat cocok dijadikan tempat mengambil foto untuk diposting di media sosial. Ada beberapa bingkai lukisan pemandangan di bagian depan.
Bagi Yasmin, pemilik toko ini memiliki jiwa seni yang tinggi.
“Kita bukan mau diinterview Bep. Tapi mau dipertemukan sama atasannya,” ucap Cici santai. Perempuan itu sibuk merapikan make up di balik kaca spion.
“Oya? Sama pemiliknya langsung?”
“Ho’oh. Ayo buruan kita masuk!”
Dengan langkah cepat, Cici masuk diiringi Yasmin di belakangnya. Tampak dua pegawai laki-laki muda menyambut mereka, dan diminta untuk naik ke lantai dua.
Keduanya pun naik anak tangga, ditemani aroma khas roti yang menguar.
“Wangi banget ya Ci,” ucap Yasmin sambil menatap lemari kaca yang berjejer aneka roti.
“Gila! Pegawainya ganteng-ganteng banget! Kayak oppa Korea,” bisik Cici, tanpa peduli ucapan Yasmin.
Yasmin sontak menyenggol sikutnya.
“Stt ... jangan bikin malu!”
“Tapi bener kan?”
“Istighfar. Kamu udah punya suami dan anak.”
“Ah, kaku banget sih kamu, kayak kanebo!” ujar Cici mecucu. Yasmin hanya mengulas senyum.
Mereka telah sampai di depan pintu yang penuh ukiran klasik moderen.
“Yas. Aku yakin banget, kalau pemiliknya muda dan ganteng kaya pegawai-pegawai tadi,” bisik Cici antusias.
“Gimana kalau ternyata udah tua dan kepalanya botak hayooo,” seloroh Yasmin.
“Yah, punahlah harapan,” cetus Cici dengan raut wajah sendu.
Yasmin terkekeh. “Dasar tukang halu. Ayo cepet, kamu aja yang ketuk pintunya.”
Cici mengangguk dan mengetuk pintu tiga kali.
“Assalamu’alaikum.”
Ceklek!
Pintu itu perlahan terbuka. Degup jantung Yasmin tiba-tiba saja memburu, dan ....
“Waalaikumsalam. Selamat pagi menjelang siang. Mari masuk.”
Cici dan Yasmin saling berpandangan setelah menatap orang itu.