SABAR TAK BERBATAS

1084 Kata
Pintu perlahan terbuka. Degup jantung Yasmin tiba-tiba saja memburu, dan .... “Waalaikumsalam. Selamat pagi menjelang siang. Mari masuk.” Cici dan Yasmin saling berpandangan setelah menatap orang itu. Tanpa diduga, yang membuka pintu adalah seorang perempuan muda, cantik dan berjilbab. Mereka berdua berjalan mengekor perempuan yang tampak anggun memakai blazer dan rok panjang berwarna merah muda. “Silakan duduk.” Yasmin dan Cici duduk. Lalu tak lama office boy datang menyuguhkan minuman. “Perkenalkan, saya Shena. Dan saya asisten pribadinya Pak Dava.” “Pak Dava itu siapa?” tanya Cici. Sementara Yasmin reflek mengerutkan alis mendengar nama itu. ‘Terasa asing, tapi gak asing. Kenapa ya ....’ batinnya bertanya-tanya. “Pak Dava itu atasan kami, pemilik DV Bakery. Huruf DV diambil dari namanya sendiri,” ucap Shena. Mereka berdua mengangguk paham. “Jadi, mana yang namanya Yasmin?” tanya Shena kemudian. Cici menoleh ke arah sahabatnya itu. “Ini, Mbak. Yasmin Innara.” Shena mengangguk dan tersenyum. “To the point aja. Maaf, pak Dava mendadak ada urusan, padahal dia sangat ingin langsung bertemu untuk membicarakan pekerjaan ini. Akhirnya, dia mewakili saya untuk bertemu denganmu,” jelas Shena. Yasmin masih merespon dengan anggukkan. Ia hanya yakin satu hal dalam benaknya, bahwa lelaki yang bernama Dava tidak ia kenal. “Jadi bagaimana, Anda terima penawaran kami untuk bekerja di sini?” tanya Shena kemudian. Yasmin menatap Cici, lalu Cici menganggukkan kepala. “Jujur, saya belum paham kenapa secara pribadi diajak bekerja di sini. Sementara orang lain mungkin melewati surat lamaran dan serangkaian interview terlebih dahulu,” ucap Yasmin. Cici menepuk dahinya. ‘Ni, anak! Ngapain nanya-nanya itu, kenapa gak terima aja langsung. Ribet!’ batinnya kesal. Shena tersenyum. “Oh, itu. Atasan saya memang pribadi yang unik, tapi percayalah dia orang yang baik. Saya yakin, nanti juga kamu paham apa maksudnya.” Yasmin dapat menebak, jika Shena sangat mengenal Deva dengan baik. “Kalau begitu, insyaa Allah saya terima.” “Alhamdulillah,” ucap Shena diikuti Cici. Shena pun menyodorkan sebuah berkas. “Ini info jabatan kamu, rincian gaji serta apa pekerjaanmu nanti. Silakan dipelajari, jika sudah kapan pun kamu boleh mulai bekerja.” “Baik. Terima kasih banyak. Oh ya, sahabat saya ini pun mau melamar pekerjaan di sini kalau boleh,” ucap Yasmin kemudian. “Tentu boleh. Kebetulan masih ada lowongan, tapi tentu untuk mbak Cici mesti melewati prosedur yang semestinya ya.” “Siap. Ini Mbak, surat lamaran saya,” cetus Cici. “Oke. Pasti kamu diterima kok, nanti segera saya kabari.” Setelah berterima kasih dan saling berjabat tangan. Yasmin dan Cici pulang dengan perasaan lega. Sementara Yasmin, masih terus memikirkan siapa lelaki bernama Dava itu.  **** Setelah ashar, suara bel apartemen berbunyi. Yasmin tengah melipat mukena dan bergegas keluar kamar untuk membuka pintu. Saat melangkah, ia sibuk berpikir siapa yang datang, karena Dameer biasa pulang menjelang magrib. Mata dengan bulu lentik itu membulat, saat tahu siapa yang ada di hadapannya. “Oh, Ma eh, Ibu. Masuklah.” Debaran jantungnya berpacu lebih cepat. Padahal bukan rentenir yang datang, melainkan mertuanya sendiri. Wanita peruh baya itu melenggang melewatinya lalu duduk di sofa berwarna abu terang. “Ibu mau dibuatkan minuman apa?” tanya Yasmin membuka obrolan. “Teh lemon hangat aja. Jangan lupa, kasih madu,” jawab Laili. “Iya, Bu. Ditunggu.” Sambil membuatkan minuman, Yasmin bertanya-tanya untuk apa Laili datang ke apartemen. Kalau sekadar main, rasanya tidak mungkin. Perempuan itu, menyimpan segelas teh lemon hangat di meja. Kemudian duduk di depan mertuanya itu. Tampak Laili menyeruput teh, kemudian kembali menaruhnya. “Yasmin. Udah berapa kamu nikah sama Dameer?” tanya Laili. Yasmin memutar bola matanya berpikir. “Sekitar tujuh bulan, Bu.” Laili menganggukkan kepala. “Cukup lah ya, bagimu untuk menikmati fasilitas mewah selama ini. Kalau bayar di hotel, bisa habis puluhan atau ratusan juta dengan kurun waktu segitu. Berterima kasihlah.” Yasmin mengernyitkan kening, berusaha mencerna ucapan Laili. “Dameer itu anak tunggal, artinya dia harapan kami satu-satunya. Jujur, saya dan suami menginginkan seorang cucu sebagai penerus untuk perusahaan.” Yasmin melengkungkan bibirnya, ia yakin mertuanya itu akan berubah seandainya dia hamil dan memberikan cucu. “Iya Bu. Saya paham, kami memang sengaja menunda punya momongan dikarenakan keinginan Dameer. Mulai hari ini, saya akan coba bicara padanya soal keinginan Ibu,” ucap Yasmin bersemangat. Laili tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Kamu salah paham. Maksudku, bukan anak dari kamu. Tapi dari keturunan yang berkualitas alias darah biru. Saya senang, selama menikah, kamu belum hamil. Kalau nggak, bisa-bisa rusaklah keturunanku dengan memiliki cucu dari rahim seorang gadis miskin.” Deg! Yasmin tak habis pikir, betapa dangkalnya pikiran mertuanya. Bahkan menilai kualitas seseorang dari harta. “Lalu apa maksud Ibu bicara begitu?” tanya Yasmin kemudian. “Sebelum semuanya terlambat ....” Laili menghentikan ucapannya sambil merogoh sesuatu dari tas hitamnya. Yasmin menelan salivanya dengan susah payah, berusaha menguatkan hati dan mental atas apa yang akan diucapkan Laili. Kemudian, mertuanya itu menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. “Ambillah! Uang ini cukup untuk modal usaha kecil-kecilan, bahkan bisa untuk sewa rumah beberapa bulan ke depan.” Deg! “Cukup sudah kamu menikmati harta kami secara cuma-cuma, dan udah waktunya kamu menjalani hidup tanpa mengganggu anakku. Tolong mulai besok, tinggalkan Dameer selama-lamanya, karena dia akan dicarikan seorang pedamping yang sepadan derajatnya.” Yasmin mematung, bibirnya mengatup rapat-rapat. “Ma-maksud Ibu apa?” tanya Yasmin. “Maksud saya. Kalian harus bercerai.” Gadis itu bangkit sambil menggeleng kuat. “Nggak, Bu. Saya gak akan pergi kalau bukan Dameer yang meminta,” ucap Yasmin cukup lantang, membuat Laili melotot tajam ke arahnya. “Jangan ngeyel kamu! Apa lagi yang dicari dari anakku?” “Aku istrinya Bu.” Laili mendecih. “Dasar perempuan gak tau diri! Kamu itu parasit, yang bisanya cuma memanfaatkan anakku saja, seenaknya hongkang-hongkang kaki, bak tuan putri!” bentak Laili. “Terserah Ibu bicara apa. Yang jelas, saya gak akan pergi dari sini kalau bukan Dameer yang minta,” tegasnya. Laili menghela napas kasar sambil menggamit tasnya. “Baik kalau itu maumu. Tapi baiknya kamu berkemas dari sekarang, karena sudah jelas Dameer berpihak pada kami, selaku orang tuanya!” Yasmin terdiam menunggu Laili keluar. Ia tidak ingin lagi menjawab ucapan wanita itu, walau bagaimana pun Laili adalah mertuanya yang wajib dihormati. Sebelum membuka pintu, Laili menoleh ke arahnya. “Sadarlah. Kamu itu istri yang terbuang, Dameer gak pernah mencintaimu.” Bukk!! Laili menutup pintu dengan keras, membuat Yasmin reflek mengelus dadanya. ‘Ya Allah, sabarkan aku ....’ bulir bening menetes di kedua netranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN