Malam dilalui dengan gelisah. Netranya tak kunjung terpejam, berharap Dameer segera pulang untuk mengatakan perihal obrolannya dengan Laili.
Benar ia telah menderita dengan pernikahan ini. Tapi sangat besar harapannya untuk bisa mempertahankan rumah tangga, karena baginya pernikahan itu sakral dan sekali seumur hidup. Maka ia masih berharap suatu saat nanti Dameer berubah seperti dulu, bisa menyayangi dan mencintainya.
Suara pintu ruang tamu terbuka. Yasmin bergegas keluar dari kamarnya, dan mendapati Dameer tengah duduk sambil memijat pangkal hidungnya.
“Mau kubuatkan minuman hangat?” tanya Yasmin.
Dameer menatap Yasmin lekat-lekat. Sebuah tatapan yang sulit diartikan.
“Gak usah. Duduklah.”
Sudah lama, Yasmin tidak mendengarnya berbicara dengan nada rendah, membuat banyak pertanyaan di benak perempuan itu.
Yasmin duduk di sampingnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
“Mendekatlah,” ucap Dameer kemudian. Yasmin pun bergeser.
“Aku semenakutkan itu kah?” tanya lelaki itu.
“Ng-nggak.” Yasmin tergagap.
“Kalau begitu, sini lebih dekat lagi.”
Yasmin menelan salivanya kemudian ia kembali bergeser hingga tubuhnya sedikit bersentuhan dengan lelaki itu.
Keheningan kembali menyelimuti. Yasmin tak tahu harus bersikap apa, ia hanya bisa melihat dari sudut matanya kalau suaminya itu terus mengusap wajahnya.
Sementara Dameer, pikirannya terus mengingat apa yang diucapkan Cici.
“Satu hal yang ingin saya sampaikan. Yasmin itu memang polos, lemah dan sederhana, tapi dia seperti mutiara dalam lumpur. Kecantikannya terpancar dari kebaikan dan ketulusannya, jarang dimiliki gadis mana pun yang Anda kenal. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan cintanya, Pak. Atau Anda akan menyesal.”
Seketika Dameer menggasak rambutnya seolah tengah sedikit stress memikirkan semuanya.
Yasmin memberanikan diri mengeluarkan suara. “Ada yang bisa kubantu?”
Dameer tersadar dari lamunan lalu ia merengkuh bahu Yasmin, dan kembali menatapnya lekat-lekat.
“Tolong jujur padaku. Kamu ....”
Dameer merapatkan bibir dan menarik napas berat.
“Apa?”
“Ka-kamu, masih cinta gak sama aku?” tanya lelaki itu sedikit terbata.
“Apa yang membuatmu tiba-tiba bicara begitu?” Yasmin mencoba memancing dengan pertanyaan. Sesungguhnya rengkuhan tangan kekar itu membuatnya tidak leluasa, bahkan deru napas mereka terdengar satu sama lain.
“Aku hanya ingin tau perasaanmu.”
“Akan kujawab. Tapi, aku punya syarat,” ucap Yasmin sambil melepaskan tangan Dameer.
“Syarat?”
Perempuan itu mengangguk.
“Apa syaratnya?” tanya Dameer tak sabar.
“Apa pun yang kukatakan, kamu jangan menyakitiku baik fisik atau psikisku. Janji?”
Deg!
Seketika Dameer tertegun. Ia bertanya dalam hatinya, sekejam itukah ia, sampai istrinya begitu takut padanya? Untuk menjawab pertanyaan saja, perempuan itu sampai memberikannya syarat.
“Ya. Aku janji gak akan nyakitin kamu, sekarang jawab cepat pertanyaanku.”
Perempuan itu tersenyum mendengar penuturan suaminya.
“Jujur, perasaanku padamu gak bisa lagi kayak dulu, dan gak tau sejak kapan. Mungkin, akan tetap sama kalau aja kamu dan kedua orang tuamu bersikap baik.”
Dameer terdiam mendengar ucapan Yasmin. Entah kenapa, ada yang terasa sakit di ulu hatinya. Padahal, perubahan perasaan istrinya itu akibat ulahnya sendiri.
“Aku paham, maafkan aku ya.”
Yasmin terdiam. Ada sesuatu yang dingin di dadanya, mungkin karena lelaki itu akhirnya meminta maaf. Sebuah ucapan yang ia harapkan sejak lama dari lelaki itu.
Dameer kembali menarik napas panjang.
“Pertanyaanku barusan ada hubungannya dengan kedatangan mama,” ucap Dameer kemudian. Kalimat itu membuat Yasmin seketika menatapnya.
“Aku tau mama datang ke sini tadi siang kan?” imbuh Dameer.
Yasmin hanya mengangguk pelan.
“Maaf jika mamaku mengucapkan kalimat yang menyakitimu. Dan, apa yang mama ucapkan akan kupertimbangkan.”
“Maksudmu?” tanya Yasmin.
“Itu ....” Dameer tak dapat melanjutkan obrolan. Suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
Yasmin berusaha menyelami hatinya, bahwa memang cintanya untuk Dameer menguap tak bersisa, namun besar harapannya agar suaminya berubah hingga cinta yang mati kembali bertunas. Sesederhana itu harapannya.
“Maksudnya ... kamu setuju usulan mama kalau aku harus pergi dari sini?” Yasmin mendesak dengan kembali menanyakannya.
“Gak sepenuhnya. Aku tengah mempertimbangkannya. Beri aku waktu seminggu.”
Yasmin mendecih. “Sudah kuduga, kamu memang gak bisa tegas. Padahal, urusan rumah tangga kita lah yang jalani, tapi masih saja mau diatur orang tuamu. Cukup sudah, capek. Aku manusia yang patut dihargai, walau gak punya harta seperti kalian,” ucap Yasmin dengan nada bergetar, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
“Yasmin ....” lirih Dameer.
Parempuan itu mengisyaratkan Dameer untuk diam dengan mengangkat sebelah tangannya.
“Obrolan kita sudah selesai, aku mau istirahat,” ucap Yasmin berusaha tenang, lalu masuk ke kamar lain tanpa peduli seperti apa raut wajah Dameer.
Semenjak perlakuan kasar suaminya itu, ia tak pernah lagi sekamar kecuali jika Dameer memaksanya untuk melakukan kewajibannya sebagai istri.
Ia kunci pintu itu, lalu seketika tubuhnya terduduk lemas diiringi bulir air mata yang tak kuasa dibendung. Sesekali ia menepuk dadanya yang sakit berkali-kali.
Setelah puas menangis, netranya tertuju pada benda pipih yang tergeletak di nakas. Yasmin berusaha bangkit sambil menyeka air matanya dengan kasar.
“Halo assalamu'alaikum,” ucap seseorang dari seberang telepon.
Yasmin beringsut ke tepi ranjang.
“Waalaikum salam, Cici. Sory ganggu malam-malam. Besok sebelum kita kerja, anterin aku ya?” tanyanya sedikit berbisik pada sahabatnya, Cici.
“Hoaaammm ... ke mana Bep?” Cici balik bertanya. Ia memang tengah terlelap tidur saat Yasmin meneleponnya.
“Besok aja kuceritakan. Tapi mau ya?”
“Ya boleh.”
“Asyiik. Makasih, jam tujuh tepat kamu harus sudah siap, nanti kujemput. Met bobok Cinta, bye bye!”
Bip!
Yasmin segera menutup sambungan telepon sepihak, kemudian Ia menarik napas panjang.
'Aku sedikit lega. Mulai hari ini, aku gak mau jadi cewek lemah lagi,' batinnya. Perempuan itu beranjak dari ranjang dan ke kamar yang ada di dalam kamarnya, untuk berwudu.
Sementara Dameer, masih terduduk di sofa tanpa berniat beranjak sedikit pun. Ia mengira, ucapannya itu akan membuat Yasmin menolak mentah-mentah, namun yang ada malah sebaliknya. Kini, hatinya dirundung kegalauan luar biasa.