Ketika matahari belum sepenuhnya muncul, maka sang awan dengan seksama menjadi penguasa langit. Membuat sang pemberi cahaya tak pernah berkata pada bumi, 'Kau berutang padaku.’
*
Seperti rutinitas sebelumnya, Yasmin membuatkan sarapan untuk Dameer. Sebuah kewajiban yang dulunya ia ikhlas melakukannya.
Mereka duduk satu meja, tanpa sebuah tatapan atau obrolan hangat. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Netra Yasmin fokus menatap makanannya yang ia masukkan sesuap demi sesuap. Tanpa disadari, Dameer menatapnya berkali-kali.
Hampir berbarengan mereka selesai sarapan. Keduanya pun beranjak, tampak Yasmin menggamit tas kecilnya di sudut sofa.
“Kamu mau ke mana?” tanya Dameer. Ia baru menyadari, istrinya sudah tampak rapi dengan tunik motif bunga dan celana jeans.
“Mau keluar aja, sekedar main.”
Dameer terdiam menatap kepergian Yasmin. Biasanya, ia akan mencegah bahkan memakinya, tapi kali ini bibirnya terasa kelu.
Selaksa harapan memiliki kebahagiaan, akan terus Yasmin jemput. Itulah yang tengah dijalani saat ini.
Segera ia melajukan motor matic untuk menjemput Cici.
“Ci, ini masih jam tujuh. Ada waktu buat keliling bentar,” ujar Yasmin.
“Oke. Tapi jangan sampe telat ya, soalnya ini hari pertama kita kerja.”
“Siap. Pake helmnya.”
Motor mulai berbelok ke arah jalan raya. Walau masih pagi, kendaraan banyak berlalu lalang dikarenakan jam masuk kerja.
“Bep. Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Cici heran. Angin tampak mengibarkan jilbab lebarnya.
Deru motor ditambah angin membuat ia setengah teriak berbicara.
“Ikut aja, nanti kamu tau. Anggap lagi jalan-jalan,” jawab Yasmin santai.
Cici mengerutkan dahi. Masih banyak pertanyaan di benaknya, namun kurang tepat jika menanyakannya saat tengah berkendara.
****
Lebih dari setengah jam mereka berkeliling, sesekali Yasmin menatap kanan dan kiri dengan jeli.
“Yas. Kamu harus jelasin ke aku nanti ya. Sebenernya, kamu tuh ngajak aku keliling, mau ngapain?”
Yasmin terkekeh. “Iya, Bep. Nanti kuceritakan, sekarang waktunya kerja, cuss!”
Mereka berdua pun langsung meluncur menuju toko DV Bakery.
“Aku bersyukur, kita satu kerjaan lagi Yas,” ucap Cici sambil melepas helm dan menyerahkannya pada Yasmin.
“Sama, aku juga. Selamat ya, kamu diterima di toko ini.”
“Thank’s, yuk masuk. Moga hari ini kita beruntung bisa ketemu pemilik toko ini,” ucap Cici di sela senyum.
Yasmin mendelik. “Emang mau ngapain?”
Cici terkekeh. “Entahlah. Aku makin penasaran aja, kayak gimana sosok DV itu.”
“Udahlah ... paling banter kayak si Luis yang gak mandi seminggu, gak mungkin mirip oppa-oppa Korea,” seloroh Yasmin.
“Dih, kamu tuh! Kalau DV denger, dia disamain sama kucingku si Luis, kamu bakalan dipecat saat ini juga,” ujar perempuan berjilbab itu mecucu. Yasmin kembali terkekeh, sok tak peduli. Padahal ia pun sama penasarannya dengan sahabatnya itu.
Sambil menarik napas panjang lalu mengucap basmalah. Yasmin memulai pekerjaannya. Ia tampak rapi dengan seragam paduan marun dan hitam, model kerah changi memanjang seperti tuxedo, terdapat saku dalam dan hiasan tali pada pinggang.
Setelah diberi arahan. Cici bekerja di bagian kasir, sementara Yasmin di bagian menata roti dan melayani pembeli.
“Ehem!” suara husky membuatnya terkejut. Yasmin tengah sibuk menata roti mini berdiameter sepuluh centi, di etalase kaca.
“Ya Mas?” tanya Yasmin. Ia menatap lelaki tegap dari atas hingga bawah.
“Anda menghalangi jalan,” ucap lelaki berhidung bangir itu.
Sadar telah menghalangi jalan, ia beringsut mundur. Namun, lelaki itu bergeming malah menatap ke wajah Yasmin.
“Anda mau beli kue atau roti kan? Mau beli model dan rasa apa, biar saya bantu?” tanya Yasmin yang merasa gemas karena lelaki itu masih terdiam.
“Hmmm.” Lelaki itu tampak berpikir sambil menepuk-nepuk halus dagunya.
“Ada roti berbentuk hati rasa cinta gak?”
“Hah?” Mata Yasmin membola.
“Roti rasa cinta, Mbak.” Lelaki itu mengulang ucapnnya sambil tersenyum.
“Anda bercanda ya?” Yasmin balik bertanya sambil mengerutkan dahinya.
'Apakah roti itu, ada di toko ini? Atau mungkin semacam varian baru?' batinnya bertanya-tanya.
“Serius. Kalau gak ada, saya mau cari di toko lain.”
Yasmin mengerjap. Di hari pertamanya kerja, ia tak mau membuat ulah dengan mengecewakan konsumen.
“Baik, Mas. Tunggu ya, saya tanya pegawai yang lain dulu.”
Dengan langkah cepat Yasmin mendekati pegawai laki-laki yang sibuk melap meja kaca.
“Kak, ada pembeli yang nanyain jenis roti.”
“Roti apa Kak?”
“Katanya bentuknya hati rasa cinta.”
“Hah?” Pegawai itu sama terkejutnya dengan Yasmin.
“Ada gak?”
“Bentuk hati banyak, tapi rasa cinta gak ada,” ujar lelaki itu terkekeh.
Yasmin kebingungan.
“Mana orang yang mau beli?” tanya pegawai itu kemudian.
“Tuuuh!” Yasmin menunjuk ke arah yang kira-kira sepuluh langkah darinya, tepat saat konsumen itu berdiri. Namun lelaki itu tiba-tiba menghilang.
“Lho, kok gak ada?!” Yasmin kebingungan. Ia celingak celinguk mencari sosok itu, namun nihil.
Huft!
'Rese! Kayaknya lelaki itu iseng mengerjaiku, awas kalau ketemu lagi!' batin yasmin kesal sambil meremat baju seragamnya.
“Kak Yasmin tadi gak sarapan dulu ya? Salah dengar jadi gak fokus deh, mana ada roti rasa cinta.” pegawai itu kembali terkekeh.
“Huh!” ujar Yasmin mecucu. Ia pun berlalu melangkah sambil menghentak-hentakkan kaki, kemudian melanjutkan pekerjaan.
Pikirannya masih pada kejadian barusan, ia yakin tak salah dengar jika lelaki itu menyebutkan roti rasa cinta.
****
“Kak Yasmin!” ujar seorang pegawai perempuan.
“Ya?” Yasmin sontak menoleh.
“Kemari sebentar.”
Yasmin mengangguk dan melepas sarung tangan plastik. Sementara pegawai itu menggiringnya ke arah dapur.
Mata hazelnya menyapu seisi dapur yang mengeluarkan aroma khas roti, membuat perutnya tiba-tiba berdemo tanpa permisi. Terlebih, adonan serta bahan-bahannya menggugah selera.
Seorang lelaki paruh baya mendekat, Yasmin yakin jika lelaki itu seorang koki, dilihat dari seragam yang dipakai dan kepiawaiannya dalam mengolah adonan.
“Nona, perkenalkan nama saya Brury. Executive chef di sini,” ucapnya sambil membawa piring sedang berwarna putih dengan aksen keemasan. Dalam piring itu terdapat sebuah roti berbentuk daun waru yang ditutupi tutupan dari kaca.
Seketika Yasmin menelan saliva karena tergiur. Ia yakin, lelaki paruh baya itu memanggilnya ke dapur, sebab akan diberi roti tersebut. Matanya langsung berbinar-binar, dan perutnya semakin menjerit-jerit.
“Nona?”panggil Brury.
Yasmin terperanjat. “Eh, i-iya chef. Salam kenal, saya Yasmin.”
Brury menganggukkan kepala. “Salam kenal juga, terima kasih.”
“Ini roti tester. Saya membuatnya atas permintaan pak Dava. Beliau ingin saya membuatkan roti varian baru,” imbuh lelaki itu.
Yasmin mengangguk paham. Ia teringat ucapan asisten Shena, kala Dava yang dimaksud adalah pemilik DV Bakery.
“Oke. Jadi, saya memintamu ke sini, untuk memberikan tester ini pada pak Dava. Jika rasanya sesuai keinginannya, roti ini akan segera diproduksi. Sebaliknya, kalau ada yang kurang akan diperbaiki. Nona yasmin bertugas juga untuk mencatatnya, nanti kasih laporannya ke saya ya.”
Mendengar rentetan kalimat itu, Yasmin memasang wajah kecewa, karena roti itu ternyata bukan untuknya.
Ia pun menerima roti tersebut beserta notebook, kemudian masuk ke lift menuju lantai tiga.